"Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat." (1Sam 16:1-13; Mzm 89:20-22; Mrk 2:23-28)

“Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk 2:23-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan peringatan St. Antonius, Abas, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Berbagai jenis peraturan pada umumnya menimbulkan aneka masalah. Proses pembuatan peraturan pada umumnya juga disertai perdebatan dan diskusi panas dan berkepanjangan, sedangkan dalam pelaksanaan peraturan juga sering terjadi saling tarik-ulur dalam penafsiran, dst.. Maklum berbagai peraturan sering hanya dibuat dan disikapi demi kepentingan diri sendiri atau golongan sendiri, bukan demi manusia atau rakyat pada umumnya. Warta Gembira hari ini mengingatkan kita bahwa peraturan demi manusia bukan manusia demi peraturan, peraturan demi persatuan dan kebersamaan bukan persatuan dan kebersamaan demi peraturan. Semakin banyak peraturan, entah dalam hal jumlah aturan, pasal atau ayat-ayat pada umumnya juga menunjukkan makin banyak adanya penyelewengan atau pelanggaran aturan. Marilah kita lihat, sikap dan hayati aneka macam aturan dalam dan oleh semangat cinta kasih serta demi keselamatan jiwa manusia, jika kita mendambakan bahwa aneka aturan sungguh menjadi sarana persatuan dan kebersamaan. Hal ini hemat saya perlu dibiasakan atau dididikkan sedini mungkin kepada anak-anak di dalam keluarga maupun sekolah dengan teladan konkret dari orangtua maupun para guru. Di dalam keluarga kiranya pada umumnya tidak ada peraturan yang tertulis, melainkan lisan, namun demikian ditaati dan dilaksanakan dengan baik: masing-masing anggota tanggap akan kebutuhan yang lain maupun tuntutan situasi dan lingkungan hidup, demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Semoga pengalaman dalam keluarga ini tumbuh berkembang dalam pergaulan yang lebih luas: dalam tempat kerja/tugas maupun masyarakat pada umumnya.

· "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam 16:7), demikian firman Tuhan kepada Samuel. Kutipan ini sungguh bagus untuk kita renungkan, refleksikan dan hayati. Memang kebanyakan dari kita melihat sesamanya ‘apa yang di depan mata’ saja dan tidak sampai ‘melihat hati’, maka banyak orang hidup dengan penuh sandiwara, kebohongan dan kepalsuan. Pemalsuan di Indonesia dalam berbagai hal rasanya cukup marak, dan hal itu dilakukan untuk mencari keuntungan diri sendiri. Dampak dari berbagai pemalsuan adalah penderitaan manusia atau perpecahan , apalagi jika pemalsuan terjadi dalam aneka kebutuhan hidup manusia setiap hari seperti makanan, minuman, sarana kecantikan, peralatan listrik, dst.. Demi keselamatan dan kebahagiaan pribadi kita sendiri maupun saudara-saudari atau sesama, kita dipanggil untuk ‘melihat hati’. Dari kedalaman hati setiap orang kiranya ada dambaan atau kerinduan untuk hidup bahagia dan damai sejahtera lahir batin, jasmani dan rohani; maka untuk saling mengenal dan mengetahui isi hati kita masing-masing, marilah kita ‘curhat’ atau sharing, kita saling memberikan dan mendengakan isi hati kita. Ketika kita terbiasa untuk curhat atau sharing, kiranya lama kelamaan akan mahir ‘melihat hati’, dan dengan demikian kita tidak mudah tertipu atau terjebak oleh aneka macam rayuan dan godaan dari kepalsuan-kepalsuan dan kebohongan-kebohongan yang marak masa kini. Ada orang tergiur harga mobil murah, padahal belum melihat barangnya, ketika ada orang menawari langsung dibayar; ada orang tergiur jutaan rupiah melalui tawaran SMS, dst.., padahal semuanya itu adalah tipuan belaka. Salah satu cara untuk mendukung kemahiran ‘melihat hati’ adalah hidup dan bertindak sederhana.. Percayalah jika kita hidup sederhana tidak akan tertipu oleh aneka macam kebohongan dan pemalsuan. Dari anak-anak yang diajukan Samuel, akhirnya yang terpilih adalah Daud, yang masih kekanak-kanakan dan kurang terpandang.

“Pernah Engkau berbicara dalam penglihatan kepada orang-orang yang Kaukasihi, kata-Mu: "Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan, telah Kutinggikan seorang pilihan dari antara bangsa itu. Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus, maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia” (Mzm 89:20-22)


Selasa, 17 Januari 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ