1 Januari: Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

dari: “My Way of Life” by St. Thomas

“Kebijaksanaan Tuhan sungguh agung luhur luar biasa. Kebijaksanaan-Nya mengatur segala sesuatu dengan indahnya. Segala sesuatu mendapatkan tempatnya masing-masing dalam pola penyelenggaraan ilahi. Tuhan menyelaraskan segala sesuatu dan tiap-tiap orang di tempatnya masing-masing sesuai rencana-Nya bagi dunia. Ketika Allah Bapa memutuskan untuk mengutus Putra Tunggal-Nya ke dalam dunia ini dan dilahirkan dari seorang perempuan, Ia menciptakan seorang perempuan agar layak menjadi Bunda dari Putra yang begitu agung.

Ketika kita menjumpai seorang anak yang sangat baik, pada umumnya kita berkata, `Pastilah ia mempunyai seorang ibunda yang sangat baik.' Kita menjabarkan kebaikan anak itu dengan kebaikan ibundanya. Kita percaya bahwa kebaikan ibundanyalah yang telah membentuk anak itu menjadi baik. Tetapi, dalam Misteri Inkarnasi, yang sesungguhnya terjadi adalah kebalikannya. Maria dari Nazaret adalah Bunda Allah yang sempurna karena Putranya, Yang adalah Allah, telah membentuknya demikian. Karena Putra Allah sepenuhnya kudus dan sempurna, Bunda Maria, Bunda-Nya menurut daging, haruslah kudus dan sempurna. Tuhan tidak melayangkan pandangan-Nya kepada segenap perempuan di seluruh penjuru dunia dan mencari-cari guna menemukan seorang yang paling sesuai menjadi Bunda Putra-Nya. Bunda Maria tidak dipilih Tuhan karena Ia mendapatinya sebagai yang paling sempurna di antara perempuan. Melainkan, Ia menjadikannya perempuan yang sempurna, sebab Ia telah memilihnya untuk menjadi Bunda Putra-Nya.”

Sumber/terjemahan: yesaya.indocell.net

Baca selengkapnya....

HOMILI: Hari Raya SP Maria Bunda Allah (Bil 6:22-27; Mzm 67:2-3.5-6; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21)

“Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.”

Pertama-tama kami ucapkan ‘SELAMAT TAHUN BARU 2012’, Selamat menelusuri tahun baru dan semoga dengan semangat baru juga kita mengarungi tahun 2012 ini. Hari ini tepat delapan hari setelah kelahiran Penyelamat Dunia, dan menurut tradisi pada hari ke delapan ini Sang Bayi Penyelamat Dunia harus diberi nama, “ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya”. Hari ini selain Hari raya SP Maria Bunda Allah juga merupakan Hari Perdamaian Sedunia, dan bagi anggota Serikat Yesus juga merupakan hari Pesta Nama Serikat. Bunda Maria juga sering disebut sebagai Ratu Perdamaian, maka baiklah di awal tahun ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal perdamaian yang menjadi dambaan semua orang di dunia ini, dan untuk itu pertama-tama marilah kita bercermin pada Bunda Maria.

Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19)

Di dalam masyarakat kita masa kini dalam hidup dan kerja bersama kiranya cukup banyak perkara yang muncul, ada perkara yang ringan , sedang dan berat. Di dalam pergaulan sehari-hari kita sering menghadapi hal-hal yang tidak enak, tidak sesuai dengan selera atau keinginan pribadi, yang pada umumnya membuat kita akan marah, menggerutu atau mengeluh. Marah, menggerutu atau mengeluh hemat saya merupakan bentuk permusuhan yang lembut alias kebalikan dari damai atau perdamaian. Maka kami berharap kepada anda sekalian untuk meneladan semangat Bunda Maria, ketika menghadapi sesuatu yang kurang jelas baginya atau perkara maka ia “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya”, yang berarti mempersembahkan perkara itu kepada Tuhan untuk mohon penccrahan dan bimbingan dalam menghadapinya.

Kami percaya kita semua menghadapi banyak perkara di dalam hidup sehari-hari, entah besar atau kecil. Meneladan Bunda Maria serta menjadi saksi dan pewarta perdamaian berarti menjadi perkara tersebut bahan doa atau permenungan di hadapan Tuhan. Dalam doa atau permenungan kami yakin bahwa kita akan menerima pencerahan dari Tuhan, yaitu agar kita dengan semangat kasih pengampunan menghadapi atau menyelesaikan perkara tersebut. “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (=Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa pengampunan), demikian tema pesan Perdamaian Sedunia dari Paus Yohanes Paulus II memasuki Millenium ketiga ini, 1 Januari 2000. Kiranya pesan tersebut masih up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan.

Kami percaya para ibu memiliki pengalaman menghayati kasih pengampunan tersebut, yaitu ketika sedang merawat dan mengasuh bayinya atau anak balitanya: bukankah ketika sang bayi rewel atau mengganggu anda sebagai ibunya, anda tidak mengeluh, menggerutu atau marah, melainkan dengan kasih pengampunan menimang, memeluk dan mencium sang bayi? Hendaknya pengalaman tersebut diperdalam dan diteguhkan dalam hidup sehari-hari serta disebarluaskan kepada saudara-saudarinya dalam berbagai kesempatan dan kemungkinan. Ingat akan lagu “Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Dengan kata lain kepada rekan-rekan perempuan, khususnya para ibu kami harapkan dapat menjadi teladan perdamaian yang dijiwai oleh kasih pengampunan atau kerahiman. Ingatlah bahwa anda sebagai perempuan memiliki rahim dan di dalam rahimlah tumbuh berkembang yang terkasih dalam kasih pengampunan atau kerahiman. Selanjutnya kepada kita semua kami ajak untuk merenungkan perihal pemberian nama kepada Sang Bayi Penyelamat dunia, nama Yesus, sebagaimana dikatakan oleh malaikat sebelum Ia dikandung dan dilahirkan oleh Bunda Maria.

“Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya” (Luk 2:21)

Nama Yesus kurang lebih berarti Allah menyelamatkan, maka Sang Bayi yang baru saja lahir diberi nama Yesus karena Ia adalah Penyelamat dunia. Hari ini bagi kami, anggota Serikat Yesus, merayakan pesta nama Serikat Yesus, maka dengan ini kami mengajak rekan-rekan Yesuit untuk menghayati diri sebagai sahabat-sahabat Yesus, yang berarti berpartisipasi dalam Penyelamatan Dunia. Pada masa kini, setelah pembelajaran kurang lebih selama satu tahun, Provinsi Serkat Yesus Indonesia mencanangkan opsi pelayanan dalam tiga bidang atau masalah, yaitu : kemiskinan, lingkungan hidup dan persaudaraan sejati. Jika kita cermati kemiskinan di Indonesia masih menjadi keprihatinan, demikian juga lingkungan hidup yang terus menerus dirusak oleh orang-orang yang serakah, serta persaudaraan sejati yang dirongrong oleh sekelompok ekstrimis di Indonesia ini.

“Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” (Gal 4:6-7). Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Galatia di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi untuk berpartisipasi dalam gerakan-gerakan pemberantasan kemiskinan, pelestarian lingkungan hidup maupun pemba-ngunan dan pemantapan persaudaraan sejati. Kita semua sama-sama ahli waris, dengan kata lain kita sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang sama, meskipun kita berbeda satu sama lain. Kita sama-sama anak, maka selayaknya kita hidup saling mengasihi, memperhatikan dan menghormati, sehingga ketika ada saudara kita yang miskin kita entaskan, ketika ada yang merusak lingkungan hidup kita tegor dan ingatkan dengan rendah hati, dan ketika ada yang merongrong persaudaraan atau persahabatan sejati kita dekat dalam dan dengan kasih serta rendah hati dan lemah lembut.

Sebagai anak atau ahli waris kita memiliki Roh yang sama, semangat yang sama, yang menjadi nyata dalam keutamaan-keutamaan seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23). Dalam rangka mengatasi kemiskinan, lingkungan hidup yang semakin rusak dan persaudaraan yang dirongrong, hemat saya keutamaan ‘penguasaan diri’ memadai untuk kita hayati dan sebarluaskan. Karena ada orang-orang yang tidak dapat menguasai diri sehingga terjadi kemiskinan, perusakan lingkungan hidup maupun perongrongan persaudaraan sejati. Menguasai diri memang tidak mudah, tetapi siapapun yang dapat menguasai diri pada umumnya tidak serakah serta sikap hidup terhadap orang lain senantiasa melayani, menghormati dan memuliakan. Sebaliknya orang yang tak dapat menguasai diri maka sikap terhadap orang lain akan menindas atau menyengsarakan.

Buah penguasaan diri adalah lembah lembut, sabar dan rendah hati dan dari hatinya bersuara TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bil 6:24-26). Kami berharap keutamaan penguasaan diri ini sedini mungkin dididikkan dan dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan dan melalui teladan orangtua atau bapak-ibu.

“Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.”

(Mzm 67:2-3.5-6)

‘SELAMAT TAHUN BARU 2012, DAN MARILAH HIDUP BARU SESUAI DENGAN KARISMA ATAU VISI-MISI KITA MASING-MASING”

Minggu, 1 Januari 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya tetapi dunia tidak mengenal-Nya” (1Yoh 2:18-21; Mzm 96:11-13; Yoh 1:1-18)

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. ” (Yoh 1:1-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yesus, Penyelamat Dunia, telah mendunia, hadir di tengah-tengah kita, Allah menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Namun sebagaimana diwartakan oleh penginjil Yohanes tidak semua orang mengenal-Nya atau bahkan juga ada yang menolak-Nya, karena Ia tidak sebagaimana mereka impikan atau dambakan. Kiranya cukup banyak orang yang mendambakan bahwa Ia datang dengan kebesaran-Nya, namun Ia datang dalam kemiskinan dan kesederhanaanNya dan dengan demikian hanya mereka yang berjiwa miskin dan sederhana mampu menerima dan mengenal-Nya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk hidup berjiwa miskin dan sederhana dalam hidup sehari-hari kapan pun dan dimana pun. Berjiwa miskin dan sederhana antara lain berarti senantiasa dengan rendah hati terbuka terhadap segala kemungkinan dan kesempatan. Maka kami mengajak anda sekalian marilah di tahun yang akan datang ini kita dengan rendah hati terbuka terhadap segala kemungkinan dan kesempatan, terutama terbuka terhadap Penyelenggaraan Ilahi. Dengan kata lain kami berharap semoga di tahun baru yang akan datang kita sungguh hidup baru, yang ditandai oleh “penuh kasih karunia dan kebenaran”.

· “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita” (1Yoh 2:18-19). Kutipan ini mengingatkan kita agar dalam menempuh tahun 2012 yang akan datang kita sungguh hati-hati dan peka terhadap aneka godaan atau rayuan yang mengajak kita untuk berbuat jahat atau melakukan dosa. Cermati bahwa akan muncul orang-orang yang tak beriman yang berkehendak menggerogoti iman kita dengan dan melalui tawaran seperti uang/harta benda, kedudukan/jabatan atau kehormatan duniawi. Orang-orang yang bersikap mental materialistis pada umumnya dengan lembut dan halus merayu kita agar mengikuti cara hidup dan cara bertindaknya yang materialistis. Sekali lagi saya mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah kita berjiwa miskin dan sederhana agar tidak mudah jatuh ke dalam dosa, mengikuti keinginan mereka yang bersikap mental materialistis. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita diciptakan oleh Allah untuk memuji, menghormati, melayani dan memuliakanNya demi keselamatan jiwa kita. Dengan kata lain marilah kita lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia daripada apa-apa yang bersifat phisik dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Hendaknya memfungsikan apa-apa yang bersifat phisik seperti harta benda/uang, jabatan/kedudukan dan kehormatan duniawi sebagai bantuan atau wahana untuk lebih memuliakan, mengabdi, menghormati dan melayani Allah alias agar semakin suci, semakin beriman, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia.

“Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.” (Mzm 96:11-13)

Sabtu, 31 Desember 2011

Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

HOMILI: Pesta Keluarga Kudus “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat” (Kej 15:1-6 – 21:1-3; Mzm 105:1b-6.8-9; Ibr 11:8.11-12.17-19; Luk 2:22-40)

“Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk 2:36-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Keluarga Kudus hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Keluarga adalah dasar hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beriman serta menggereja, maka ketika keluarga sungguh kuat, dalam arti damai sejahtera dan selamat oleh ikatan kasih, hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara, beriman dan menggereja akan dalam keadaan damai sejahtera dan selamat juga. Kanak-kanak Yesus di dalam keluarga kudus di Nasareth karena asuhan ‘orangtua’-Nya telah “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada pada-Nya”. Maka dengan ini kami berharap keluarga-keluarga dapat meneladan Keluarga Kudus, Yesus, Maria dan Yosef. Kami berharap anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah kepada orangtua/ bapak-ibu dididik dan dibersarkan dalam cintakasih dan kebebasan Injili. Dalam cintakasih berarti bapak-ibu sungguh memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya, sedangkan dalam kebebasan Injili berarti bapak-ibu berfungsi sebagai penyiram sedangkan Allah-lah yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan. Dengan kata lain orangtua tidak dapat memaksa anak-anak hanya mengikuti kehendak dan keinginan orangtuanya bagi masa depan mereka, melainkan biarlah Allah sendiri yang menyentuh dan memanggilnya untuk jadi apa masa depan anak-anak. Agar anak-anak bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada mereka, hendaknya masa balita anak-anak sungguh memperoleh kasih dan perhatian orangtua yang memadai. Hendaknya tidak dengan mudah menyerahkan anak-anak balita kepada para pembantu atau kakek-neneknya, karena ada kecenderungan untuk dimanja dan dengan demikian anak-anak tidak akan tumbuh berkembang sebagaimana dikehendaki oleh Allah.

· “TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Kej 15:5-6). Abram/Abraham adalah teladan umat beriman, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman untuk meneladan bapa Abraham, yaitu percaya kepada firmanNya. Percaya atau beriman kepada firmanNya berarti senantiasa menghayati firman-firmanNya dalam hidup sehari-hari alias membaktikan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi. Dengan kata lain hendaknya kita tidak begitu percaya diri alias sombong, melainkan rendah hati. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya”. (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Tak jemu-jemunya saya mengutip makna rendah hati, karena rendah hati merupakan keutamaan yang utama dan pertama harus kita hayati dan sebarluaskan. Para orangtua hendaknya menjadi teladan rendah hati bagi anak-anaknya serta mendidik dan membesarkan anak-anak untuk hidup dan bertindak rendah hati. Kita juga dapat meneladan Yosef dan Maria yang rendah hati dalam mendampingi kanak-kanak Yesus. Ingatlah dan sadari bahwa anda yang berkeluarga dan dianugerahi anak-anak akan memiliki keturunan yang banyak, yang sulit anda bayangkan, maka semoga keturunan anda kelak juga hidup dan bertindak dengan rendah hati, karena mengenangkan anda yang rendah hati. Biarlah anda nanti dikenang oleh keturunan anda, sebagaimana orang mengenang bapa Abraham maupun Yosef dan Maria. Secara khusus kepada mereka yang mengenakan nama Yosef atau Maria untuk meneladan Keluarga Kudus.

”Serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!” (Mzm 105:1b-6)

Jumat, 30 Desember 2011.


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Peta Car Free Night


klik gambar untuk memperbesar

Baca selengkapnya....

Perayaan Ekaristi: Sabtu Sore/Malam-Minggu, 31 Desember 2011 - 1 Januari 2012


HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA
SABTU Sore/Malam-MINGGU, 31 Desember 2011 - 1 Januari 2011


RITUS PEMBUKA

LAGU PEMBUKA (PS 458)

TANDA SALIB DAN SALAM
I. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U. Amin
I. Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus bersamamu
U. Dan bersama rohmu


PENGANTAR
I. --Hari ini (Petang-malam ini*)-- kita bersama seluruh Gereja --mengawali tahun 2012 (mengakhiri tahun 2011*)-- dengan merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Bunda Maria menjadi teladan bagi kita bagaimana dia menanggapi rahmat Allah dengan hati terbuka dan kooperatif, bekerjasama dengan Allah. Bunda Maria tidak membiarkan rahmat itu berlalu dengan sia-sia kendati dia tahu konsekuensi yang harus ditanggungnya atau dihadapinya sungguh tidak mudah dan tidak ringan. Selanjutnya, kejadian demi kejadian membentuk Bunda Maria untuk menimba kekuatan hanya di dalam Tuhan: saat ia harus melahirkan Yesus di kandang hewan karena tak ada yang mau memberikan tempat baginya dan Yusuf; saat ia melihat kemuliaan Tuhan di dalam kemiskinan yang ekstrim; saat para malaikat dan para gembala menyembah bayi Yesus; saat ia mendengar nubuat nabi Simeon, akan penderitaan yang harus dialaminya; saat ia bersama Yusuf dan bayi Yesus harus mengungsi ke Mesir. Maria menyimpan perkara di dalam hatinya, juga saat hari demi hari ia melihat Yesus bertambah besar. Ya, betapa Maria menyadari, bahwa meskipun Yesus adalah anaknya, namun Yesus tidaklah menjadi ‘milik’nya. Hari demi hari Maria melihat Tuhan yang Maha Besar mau merendahkan diri dan mau tinggal bersamanya sebagai anak yang menghormatinya. Ia adalah Sang Sabda yang menjadi manusia, dan tinggal satu atap dengannya. Kehidupan Maria adalah permenungan tanpa henti akan Sabda Tuhan yang hidup!

SERUAN TOBAT (Cara 4)

I. Saudara-saudari, marilah kita menyatakan tobat kita pada awal perayaan ekaristi dengan mengenangkan peristiwa pembaptisan dengan menerima percikan air suci.

Percikilah aku, ya Tuhan dengan hisop, maka aku pasti bersih; cucilah aku, tentu aku lebih putih daripada salju.
S. Kasihanilah aku, ya Allah,
U. Menurut belas kasih-Mu yang besar
S. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U. Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

I. Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U. Amin.

KEMULIAAN

DOA PEMBUKA
I. Marilah kita berdoa:
(hening sejenak)
I. Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, Engkau telah menganugerahi umat manusia keselamatan kekal dengan perantaraan Santa Maria, Perawan dan Bunda. Kami mohon, semoga kami pun Kauperkenankan menikmati doa dan perlindungannya, sebab ia telah melahirkan bagi kami Putra-Mu, pemberi hidup, yakni Yesus Kristus Tuhan dan Pengantara kami.
U. Amin.

LITURGI SABDA

BACAAN I (Bil 6:22-27)


"Mereka harus meletakkan nama-Ku atas orang Israel: maka Aku akan memberkati mereka."


L. Pembacaan dari Kitab Bilangan:
Sekali peristiwa Tuhan berfirman kepada Musa, "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah kamu harus memberkati orang Israel: Katakanlah kepada mereka: Tuhan memberkati dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah mereka harus meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN (PS 809)
Refren: Berbelaskasihlah Tuhan dan adil Allah kami adalah rahim.
Mazmur:
1. Kiranya Allah mengasihani dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya. Kiranya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.
2. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku di atas bumi.
3. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takwa kepada-Nya!

BACAAN II (Gal 4:4-7)

"Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan."

L. Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia:
Saudara-saudara, setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "Abba, ya Bapa!" Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; kalau kamu anak, maka kamu juga menjadi ahli-ahli waris oleh karena Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

BAIT PENGANTAR INJIL (PS 960)
Refren. Alleluya, Alleluya, Alleluya.
Ayat. Dahulu Allah berkata kepada leluhur kita dengan perantaraan para nabi; kini Ia bersabda kepada kita dengan perantaraan Putera-Nya.

BACAAN INJIL (Luk 2:16-21)

"Mereka mendapati Maria, Yusuf, dan si Bayi. Pada hari kedelapan Ia diberi nama Yesus."

I. Tuhan bersamamu
U. Dan bersama rohmu
I. Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas
U. Dimuliakanlah Tuhan.
I. Setelah mendengar berita kelahiran penyelamat dunia, para gembala cepat-cepat berangkat ke Betlehem, dan mendapati Maria dan Yusuf serta Bayi yang terbaring di dalam palungan. Ketika melihat Bayi itu, para gembala memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Ketika genap delapan hari umurnya, Anak itu disunatkan, dan Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

I: Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U: Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

HOMILI

AKU PERCAYA (NICEA KONSTANTINOPEL PS 2/MB 115)
(Umat berdiri, kata-kata yang dicetak miring diucapkan sambil berlutut -masa Natal-)

I + U. Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan;
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat. Amin.

DOA UMAT

I. Allah kita bukanlah Allah yang jauh. Kita diperkenankan menyapa-Nya: Allah - Bapa. Tahun yang baru ini kita serahkan kepada-Nya dalam doa kita.

L. Bagi Gereja:
Ya Bapa, jadikanlah kiranya Gereja-Mu ibu bagi siapa pun yang menghadapi kesulitan dan tidak tahu jalan keluarnya, serta menjadi pelabuhan yang aman sentosa bagi mereka yang tersesat. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L. Bagi nusa dan bangsa:
Ya Bapa, berkatilah nusa dan bangsa kami agar selama tahun baru ini dapat berhasil dalam mengusahakan keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan umum. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L. Bagi anak-anak kita:
Ya Bapa, dampingilah anak-anak kami agar mengalami masa muda yang tenang dan segar serta menggembirakan orang tua mereka. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L. Bagi kita semua:
Ya Bapa, dampingilah kiranya kami agar dalam tahun ini berhasil maju dalam menaruh belas kasih kepada sesama dan tidak menuntut yang lebih berat kepada orang lain melebihi tuntutan kepada diri sendiri. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

I. Allah Bapa kami, kami mohon agar Bunda Maria yang Kauperkenankan mengandung Allah manusia, merestui dan mengantar permohonan kami kepada-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin.

LITURGI EKARISTI


A. PERSIAPAN PERSEMBAHAN


LAGU PERSIAPAN PERSEMBAHAN (PS 460)

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN
I. Berdoalah, Saudara-saudari, supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang mahakuasa.
U. Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus.
I. Allah Bapa yang mahakuasa, segala sesuatu yang baik Engkaulah yang memulai dan menyelesaikannya pula. Dengan gembira hati kami merayakan Santa Maria Bunda Allah, pada pembukaan tahun baru 2012 ini. Engkau telah memulai karya-Mu dengan rahmat. Kini kami mohon, selesaikanlah kiranya karya-Mu itu sehingga kami dapat memperoleh kebahagiaan yang bersumber pada-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin.

B. DOA SYUKUR AGUNG


PREFASI
I. Tuhan bersamamu
U. Dan bersama rohmu
I. Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan
U. Sudah kami arahkan
I. Marilah bersyukur kepada Tuhan Allah kita
U. Sudah layak dan sepantasnya
I. Sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus, Allah yang kekal dan kuasa, bahwa di mana pun juga kami senantiasa bersyukur kepada-Mu. Khususnya pada hari raya Santa Perawan Maria Bunda Allah ini, pantaslah kami memuji dan memuliakan Dikau. Sebab ia telah mengandung Putra Tunggal-Mu karena kuasa Roh Kudus. Dia yang tetap perawan mulia memancarkan terang abadi bagi dunia, yakni Yesus Kristus, Tuhan kami. Dengan pengantaraan Kristus itu pula, para malaikat memuji keagungan-Mu bersama segenap kuasa surga. Kami pun ingin memadu suara dengan mereka, dan melambungkan pujian dengan bernyanyi:

KUDUS

DOA SYUKUR AGUNG


C. KOMUNI


BAPA KAMI
(Konvenas)

I. Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa
I+U. Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

I. Ya Bapa, bebaskanlah kami dari segala kemalangan dan berilah kami damai-Mu. Kasihanilah dan bantulah kami, supaya selalu bersih dari noda dosa dan terhindar dari segala gangguan, sehingga kami dapat hidup dengan tenteram sambil mengharapkan kedatangan Penyelamat kami, Yesus Kristus.
U. Sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya.

DOA DAMAI
I. Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa.
U. Amin.
I. Damai Tuhan bersamamu
U. Dan bersama rohmu

ANAK DOMBA ALLAH

PERSIAPAN KOMUNI

KOMUNI

DOA SESUDAH KOMUNI
I. Marilah kita berdoa:
I. Allah Bapa yang mahamurah, kami bersyukur karena dengan gembira hati kami telah menyambut Sakramen surgawi. Kami mohon, semoga Santa Maria tetap perawan, yang kami imani sebagai Bunda Putra-Mu dan Bunda Gereja, merestui kami dalam perjalanan menuju hidup kekal di bawah bimbingan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin.

RITUS PENUTUP


PENGUMUMAN

BERKAT
PENGUTUSAN

LAGU PENUTUP (PS 463)


***

* Jika dirayakan pada hari Sabtu sore/malam, 31 Desember 2011.
Catatan: Sabtu pagi-siang hari Gereja merayakan Hari Ketujuh dalam Oktaf Natal

Baca selengkapnya....

"Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang “ (1Yoh 2:3-11; Mzm 96:1-3; Luk 2:22-35)

“Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk 2:22-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hari ini ditampilkan kepada kita tokoh Simeon, “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan”, maka ketika ia melihat Sang Penghibur Sejati, Sang Bayi Penyelamat Dunia, yang dipersembahkan di bait Allah, ia merasa berbahagia sekali dan siap sedia untuk dipanggil Tuhan karena telah bertatap muka dengan Penyelamat Dunia. Ia pun meramalkan bahwa Sang Bayi Penyelamat Dunia ini ‘ditentukan untuk menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang”, artinya kedatanganNya akan mengajak semua orang untuk berbalik kepada Tuhan. Baiklah saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri sebagai orang beriman: apakah cara hidup dan cara bertindak kita benar dan saleh seperti Simeon, sehingga juga dipanggil untuk mengajak semua orang berbalik kepada Tuhan alias bertobat, meninggalkan cara hidup dan cara bertindaknya yang amoral atau jahat. Orang benar dan saleh pasti tak takut dan tak gentar menghadapi aneka macam bentuk ketegangan atau perbantahan, karena ia akan mampu melihat karya Tuhan di dalamnya, sehingga mampu mengatasi ketegangan dan perbantahan, serta dengan demikian semua orang hidup dalam damai dan tenteram sehingga juga siap sedia berkata seperti Simeon "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu”, siap sedia dipanggil Tuhan kapan saja dan dimana saja.

· “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:4-6). Kutipan dari surat Yohanes di atas ini menegaskan cara hidup dan cara bertindak orang benar dan saleh, yaitu “menuruti firman-Nya, sempurna kasih Allah dan hidup seperti Kristus”, alias menjadi ’alter Christi’. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita akan mengakui bahwa kita masih jauh dari itu semuanya, maka marilah dengan rendah hati kita bersama-sama mengusahakannya. Dalam kebersamaan kiranya kita akan lebih mampu menuruti firman Allah, sempurna dalam kasih Allah serta hidup seperti Yesus Kristus. Semua firman atau sabdaNya kiranya dapat dipadatkan kedalam perintah untuk saling mengasihi satu sama lain sebagaimana Allah telah mengasihi kita. Pada masa kini hemat saya yang sulit adalah dikasihi bukan mengasihi. Dikasihi artinya siap sedia diberitahu, dituntun, dikritik, ditegor, dicela, dst..,pendek kata diperkembangkan dan ditumbuhkan terus-menerus agar semakin suci dan bersahabat dengan Tuhan dan sesamanya, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Marilah dengan rendah hati kita tanggapi dan sikapi aneka macam sapaan, sentuhan, perlakuan, ajakan dst.. dari saudara-saudari kita sebagai perwujudan kasih Tuhan kepada kita. Tak mungkin orang mengritik, mengejek dan menegor kita dengan keras jika mereka tak mengasihi kita, maka hayatilah aneka kritik, ejekan dan tegoran keras sebagai kasih, kerena dengan demikian kita juga akan semakin benar dan saleh.

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.” (Mzm 96:1-3)

Kamis, 29 Desember 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

“Ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya” (1Yoh 1:5-2:2; Mzm 124:2-5; Mat 2:13-18)

“Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi." (Mat 2:13-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Kanak-Kanak Suci, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Pejabat atau pemimpin yang gila akan kuasa, harta benda dan kehormatan duniawi pada umumnya tidak mau turun jabatan sebelum mati, atau bahkan ia mendewakan dirinya, memandang dirinya sebagai titisan dewa. Maka ketika mendengar katanya akan muncul tokoh baru yang akan menyingkirkannya, ia segera berusaha menghabisinya. Itulah yang terjadi dalam diri Herodes, yang ‘menyuruh membunuh semua anak di Betlekem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah’, ketika mendengar bahwa di Betlekem telah lahir ‘Seorang Anak’ yang diberitakan sebagai Mesias, Sang Raja yang akan lebih berkuasa daripadanya. Kebrutalan Herodes merajalela: semua anak usia dibawah dua tahun menjadi korban kerakusan dan keserakahannya. Anak-anak kecil yang tak berdosa telah menjadi saksi Penyelamat Dunia, itulah yang akhirnya terjadi. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan kanak-kanak suci, para martir, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk lebih menghormati, menjunjung tinggi dan mengasihi anak-anak kecil. Ingatlah dan sadari bahwa anak-anak kecil lebih suci daripada kita, orang-orang dewasa/tua, dan dalam rangka hidup beriman atau menggereja yang lebih sucilah yang hendaknya lebih dihormati, dijunjung tinggi dan dilayani. Hendaknya kita dengan rendah hati dan kerelaan serta ketulusan hati berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak sebagai bukti kasih dan perhatian kita kepada mereka. Wujud kasih yang paling utama adalah pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih, maka para orangtua maupun orang dewasa kami harapkan berani berkorban bagi anak-anak.

· “Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1Yoh 1:6-7). Kita baru saja merayakan kelahiran Yesus bersama-sama, maka kiranya kita semua “hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang”. Marilah kita hayati dan wujudkan bahwa kita hidup di dalam terang, yang berarti kita senantiasa dalam keadaan baik serta berusaha menyucikan diri terus-menerus alias lebih baik dari saat ini. Dengan kata lain hendaknya kita memiliki semangat ‘magis’, yaitu semangat untuk senantiasa mengatasi atau mengungguli diri sendiri, mengalahkan diri terus-menerus, sehingga kita sungguh dalam terang Tuhan, senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan. Kita diharapkan senantiasa melakukan apa yang baik dan benar; apa yang disebut dan benar senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja. Hidup di dalam terang juga berarti senantiasa terbuka pada yang lain, tiada sesuatu pun yang ditutupi dari diri kita, dengan kata lain kita siap sedia untuk menelanjangi diri. Ingat bahwa suami dan isteri yang saling mengasihi berarti hidup dalam terang, sehingga mereka berani saling telanjang satu sama lain tanpa malu sedikitpun. Semoga pengalaman saling terbuka satu sama lain dalam ketelanjangan ketika sedang memadu kasih juga dihayati dalam cara hidup dan cara bertindak lainnya, tentu saja tidak telanjang secara phisik, melainkan telanjang secara social dan spiritual. Marilah kita saling jujur, terbuka satu sama lain, sehingga terjadilah persekutuan atau persaudaraan sejati antar kita didalam kehidupan bersama.

“Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu” (Mzm 124:2-5)

Rabu, 28 Desember 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Misa Malam Natal Gereja St Antonius Purbayan

Suasana Perayaan Ekaristi Malam Natal II yang dimulai pukul 19.30 di Gereja St Antonius Purbayan Surakarta:






Misa I, Ekaristi dipersembahkan Romo Augustinus Mangunhardjana, SJ; Misa II, Ekaristi dipersembahkan Romo Joannes Moerti Yoedho Koesoemo, SJ dan Romo Laurentius Priyo Poedjiono,SJ




Sumber Foto: www.solopos.com /JIBI Photo

Baca selengkapnya....

“Murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus ” (1Yoh 1:1-4; Mzm 97:1-2.5-6; Yoh 20:2-8)

“Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.” (Yoh 20:2-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St. Yohanes, rasul dan pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Setelah St.S tefanus, martir pertama, hari ini kita diajak untuk mengenangkan St. Yohanes, rasul dan pengarang Injil serta juga dikenal sebagai murid terkasih Yesus. Sebagai murid terkasih berarti telah menerima kasih lebih besar daripada para rasul/murid lainnya, dengan kata lain Yohanes sungguh berlimpah akan kasih. Kasih merupakan kekuatan luar biasa dalam perjalanan hidup dan panggilan kita. Orang yang sungguh merasa dikasihi pada umumnya akan hidup dengan penuh syukur dan terima kasih, serta kemudian akan lebih tanggap dan cekatan dalam menghadapi aneka masalah atau tantangan, seperti Yohanes yang berlari lebih cepat daripada Petrus menuju ke kubur, tempat dimana Yesus dimakamkan, ketika mereka mendengar bahwa Yesus tidak ada lagi di tempat/makam. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri: bukankah kita telah menerima kasih dari Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita, entah itu berupa perhatian, sapaan, sentuhan, saran, nasihat, kritik, harta benda/uang dst..yang kiranya juga masih kita terima sampai kini? Marilah kita menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, agar kita pun juga cekatan dan sigap dalam menanggapi apa yang terjadi di lingkungan hidup kita. Dari Yohanes dan injilnya kita kenal kata-kata yang sering muncul yaitu “melihat dan kemudian percaya”. Marilah kita melihat dengan cermat dan teliti apa yang terjadi di lingkungan hidup kita, dan kemudian menjadi ‘percaya’, artinya membaktikan diri sepenuhnya demi keselamatan dan kebahagiaan lingkungan hidup di sekitar kita.

· “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.” (1Yoh 1:3-4). “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga”, kata-kata inilah yang kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Sebagai yang terkasih kiranya kita tidak akan tutup mulut terhadap apa yang kita lihat dan dengar dalam lingkungan hidup kita masing-masing. Tentu saja ketika kita melihat dan mendengar apa yang baik kemudian memuji atas apa yang terjadi, sedangkan ketika melihat dan mendengar apa yang tidak baik segera tergerak untuk memperbaiki dan ketika tak mampu memperbaiki sendiri kemudian minta bantuan orang lain. Dengan kata lain apa yang kita lihat dan dengar merupakan wahana untuk membangun dan memperdalam persekutuan hidup bersama yang dijiwai oleh cintakasih. Kami berharap keutamaan melihat dan mendengarkan serta kemudian mewartakan kepada orang lain apa yang dilihat dan didengar tersebut sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan para orangtua. Semoga segenap anggota keluarga membangun dan memperdalam persekutuan sejati, mengingat dan memperhatikan bahwa keluarga dibentuk dan dibangun oleh dan berdasarkan cintakasih. Demikian juga kami berharap kepada komunitas imam, bruder dan suster agar dapat menjadi teladan persekutuan sejati bagi komunitas-komunitas lainnya. Persekutuan atau persahabatan sejati pada masa kini mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, lebih-lebih di kota-kota besar seperti Jakarta yang masih marak dengan tawuran antar pelajar, yang menandakan kegagalan orangtua dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya.

“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.” (Mzm 97:1-2.5-6)

Selasa, 27 Desember 2011

Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Misa Natal Anak di Gereja Santo Antonius Purbayan

Siswa SD Pangudi Luhur, Keprabon, Surakarta, mengiringi paduan suara dalam Misa Natal Anak di Gereja Santo Antonius, Purbayan, Surakarta, Jawa Tengah, Minggu (25/12/2011).

Sumber:
Kompas/Wisnu Widiantoro
http://regional.kompas.com/read/2011/12/25/12004554/Pianika.dan.Angklung.Iringi.Misa.Natal

Baca selengkapnya....

“Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku” (Kis 6:8-10; 7:54-59; Mzm 31:3-4.6; Mat 10:17-22)

“Waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:17-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St Stefanus, martir pertama, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Secara manusiawi kiranya kita boleh berkata bahwa kelahiran Penyelamat Dunia merupakan tanda atau petunjuk bahwa setia kepada panggilan atau tugas pengutusan memang tak akan terlepas dari aneka macam penderitaan dan ancaman (Ia dilahirkan dalam kekelaman dan kesepian serta kurang diperhatikan oleh saudara-saudari-Nya). Hari pertama setelah Natal kita kenangkan St Stefanus, martir pertama, yang ‘dibenci semua orang oleh karena nama-Ku’. Stefanus karena bersama dan bersatu dengan Penyelamat Dunia alias menjadi sahabat Penyelamat Dunia harus menghadapi ancaman dan akhirnya memang dibunuh karena imannya. Kami percaya setelah hari Natal ini kiranya cukup banyak dari antara kita yang merayakan Natal dalam lingkungan keluarga, maka kami berharap dalam perjumpaan dengan anggota keluarga tidak hanya makan dan minum serta bercanda-ria saja, tetapi hendaknya juga saling curhat dalam hal iman/pengalaman iman sesuai dengan pekerjaan maupun tempat tinggal masing-masing. Sebagai bantuan curhat saya ajukan pertanyaan: Masihkah kami setia pada nasihat, saran, petuah dan pesan orangtua sebelum kami ‘disebarkan untuk bekerja dan berkeluarga’? Apakah kami semakin beriman, berbakti kepada Tuhan dengan berpartisipasi dalam menyelamatkan lingkungan hidup dan kerja kita? Bagi yang sedang atau masih belajar: apakah kami setia dalam tugas belajar dan dengan demikian semakin terampil dalam belajar? Penghayatan rahmat kemartiran masa kini antara lain dapat kita wujudkan dalam kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

· "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 7:59), demikian doa Stefanus ketika dilempari batu serta dicemooh oleh musuh-musuhnya, menjelang kematiannya. Stefanus tidak mengeluh kesakitan, apalagi marah terhadap mereka yang membencinya, melainkan mempersembahkan diri kepada Yesus, sahabatnya. Karena kesetiaan pada iman, panggilan dan tugas pengutusan, yang mungkin pada masa kini berarti hidup dan bertindak jujur, ada kemungkinan akan mengalami kehancuran untuk sementara. Bukankah ada rumor “jujur akan hancur”, tetapi hemat saya memang akan hancur untuk sementara namun akan mulia selamanya. Semakin jujur pada masa kini rasanya memang semakin hancur secara phisik, tetapi semakin tangguh dan handal secara spiritual karena aneka macam ancaman, hambatan, pelecehan dst.. dihayati sebagai wahana pendewasaan diri terus-menerus.
Doa Stefanus di atas juga mengingatkan kita semua akan pentingnya pembinaan iman, moral atau spiritual bagi kita semua, maka kami berharap anak-anak sedini mungkin dididik dalam hal iman, moral dan spiritual alias agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur. Hendaknya di sekolah-sekolah juga lebih diutamakan tujuan atau cita-cita agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur. Kami percaya jika kita semua memiliki bekal atau kekuatan iman atau spiritual yang kuat, tangguh dan handal, maka kita tak akan mudah jatuh ke dalam dosa atau tindakan-tindakan amoral. Roh adalah jiwa, semangat, cita-cita atau harapan, maka apakah jiwa, semangat, cita-cita atau harapan kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

“Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.”

(Mzm 31:3-4.6)

Senin, 26 Desember 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Selamat Natal 2011


Para Romo dan Dewan Paroki Santo Antonius Purbayan Solo mengucapkan

"SELAMAT NATAL 2011"
"Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar" (Yesaya 9:1a)

Semoga Sang Terang yang telah datang ke dunia ini selalu menerangilangkah perjalanan hidup kita dan damai & sukacita Natal tinggal di dalam hati kita masing-masing.

SELAMAT NATAL....
DAMAI NATAL SELALU MENYERTAI KITA....

Salam, doa, dan Berkah Dalem,

☼ Romo Joannes Moerti Yoedho Koesoemo,SJ
☼ Romo Paulus Suradibrata,SJ
☼ Romo Augustinus Mangunhardjana,SJ
☼ Romo Laurentius Priyo Poedjiono,SJ

˜”*°☆☆☆°*”˜Gereja Santo Antonius Purbayan Solo˜”*°☆☆☆°*”˜
★Semakin Menggereja, Semakin Memasyarakat★



Foto: Facebook Gereja St Antonius a.k.a Purbayan

Baca selengkapnya....

Warta Paroki: 24 - 25 Desember 2011

KALENDER 2012 GEREJA ST ANTONIUS PURBAYAN


Kalender Gereja Santo Antonius Purbayan tahun 2012 sudah dapat diperoleh di Toko Buku Purbayan setiap hari jam kerja (Selasa - Jumat) dan pada misa Sabtu Minggu dengan mengganti ongkos cetak seharga Rp. 12.000,-

BAPTISAN BAYI

Rekoleksi bagi bapak/ibu yang ingin membaptiskan putra-putrinya akan diadakan pada hari Jumat, 6 Januari 2012, pkl 18.00, di Gedung Paroki. Rekoleksi wajib diikuti oleh orang tua bayi dan wali baptis (tidak boleh diwakilkan). Formulir pendaftaran dapat diperoleh di Sekretariat Paroki pada jam kerja. Penerimaan Sakramen Baptis akan dilaksanakan pada hari Minggu, 8 Januari 2012, pkl 10.00 di Gereja.

DEPO BABE


Diberitahukan kepada seluruh umat bahwa Paroki St Antonius Purbayan tidak ada kegiatan dalam bentuk apapun sebagai pengganti dari Depo Babe sampai ada pemberitahuan atau pengumuman dari Gereja St Antonius Purbayan

SARASEHAN KITAB SUCI


Sarasehan Kitab Suci pada bulan Desember 2011 ditiadakan. Untuk sarasehan berikutnya menunggu pengumuman dari Gereja Santo Antonius Purbayan Solo. Terima kasih

PEMBERITAHUAN

Diberitahukan kepada Wilayah-wilayah di Paroki St. Antonius Purbayan bahwa pada tanggal 1 Januari 2012 untuk Misa jam 09.00 kelompok koor PD. Antonius tidak bisa mengisi/bertugas, maka mohon bantuan dari wilayah-wilayah untuk bisa mengisi kekosongan tersebut.

RETRET AKBAR ISKS


Akan diadakan Retret Akbar ISKS besok pada hari Selasa-Kamis, 27-29 Desember 2011, informasi selengkapnya dapat dibaca pada papan pengumuman depan gereja.

NATAL BERSAMA PDKK OMK MISSIO DEI


Teman – teman PDKK OMK Missio Dei Purbayan mengundang kaum muda untuk bergabung bersama dalam acara Natal “Catholic Worship Celebration” pada hari Rabu, 28 Desember 2011 jam 18.45 WIB betempat di Aula SD Kanisius Keprabon 2.

PELAJARAN AGAMA MAGANG BAPTIS

Kegiatan Pelajaran Agama di Gedung Paroki untuk sementara dliburkan. Pelajaran dimulai kembali hari Senin, 2 Januari 2012.

PERTEMUAN WKRI

Rapat WKRI Paroki Santo Antonius Purbayan Solo akan diadakan pada tanggal 5 Januari 2012 jam 16.00 WIB bertempat di Aula Bawah Gedung Paroki. Semua ketua WKRI diharap hadir.

PAGUYUBAN BILANSIA

Acara Natal Paguyuban Bilansia Paroki Santo Antonius Purbayan akan diadakan pada hari Minggu, 8 Januari 2012 jam 10.00 WIB bertempat di Aula Bawah Gedung Paroki. Semua anggota Bilansia dapat mendaftarkan pada ketua WKRI di wilayah masing – masing dengan kontribusi Rp. 7.000,-/orang paling lambat pendaftaran tanggal 5 Januari 2012.

TUGAS PARKIR

Sabtu, 24 Desember 2011: Misa Malam Natal.
Misa 1:
- Kampung Baru
- Purwodiningratan
-Ngrayapan
- Kronelan
- Sangkrah
- Keprabon
- Bangunharjo/Ignatius 17
- Kepatihan

Misa 2:
- Setabelan
- Sudiroprajan
- Gandekan
- Kebalen
- Ketelan
- Kedung Lumbu
- Kemlayan
- Kampung Sewu.

TEMPAT PARKIR :

- Motor: di halaman SD Pangudi Luhur
- Mobil: di halaman Balaikota, sepanjang Jl Arifin, sepanjang Jl Mgr. Soegijapranata

JADWAL PETUGAS KOOR DAN ORGANIS


MISA HARI RAYA NATAL
Sabtu, 24 Desember 2011

16.30 Kemlayan, Handoko/Beto
19.30 Gregorius, Gregorius
Minggu, 25 Desember 2011
07.00 Bangunharjo, Lingsih
09.00 SD Pangudi Luhur, SD Pangudi Luhur
17.00 Immaculata, Rini

MISA HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH
Tutup Tahun 2011 & Sambut Tahun Baru 2012

Sabtu, 31 Desember 2011
16.30 Kedunglumbu, Santoso
19.30 Albertus, Oeke
Minggu, 1 Januari 2012
07.00 Kampung Sewu, Marsono
09.00 ----------------, Rujito
17.00 Kebalen, Kebalen

INTENSI SETIAP MISA MINGGU PUKUL 07.00: Untuk kesejahteraan lahir dan batin seluruh umat Purbayan.


BACAAN LITURGI


Minggu, 25 Desember 2011 : HARI RAYA NATAL
Malam: Yes. 9:1-6; Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13; Tit. 2:11-14; Luk. 2:1-14

Fajar: Yes. 62:11-12; Mzm. 97:1,6,11-12; Tit. 3:4-7; Luk. 2:15-20
Siang: Yes. 52:7-10; Mzm.98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Ibr 1:l-6;Yoh. 1:1-18 (Yoh. 1:1-5,9-14)

Senin, 26 Desember 2011 : Pesta S. Stefanus, Martir Pertama
Kis. 6:8-10; 7:54-59; Mzm. 31:3cd-4,6,8ab,16bc,17; Mat. 10:17-22

Selasa, 27 Desember 2011 : Pesta S. Yohanes, Rasul dan Pengarang Injil
1Yoh. 1:1-4; Mzm. 97:1-2,5-6,11-12; Yoh. 20:2-8

Rabu, 28 Desember 2011 : Pesta Kanak-kanak Suci, Martir
1Yoh. 1:5 - 2:2; Mzm. 124:2-3,4-5,7b-8; Mat. 2:13-18

Kamis, 29 Desember 2011 : Hari kelima dalam Oktaf Natal
1Yoh. 2:3-11; Mzm. 96:1-2a,2b-3,56-6; Luk. 2:22-35.

Jumat, 30 Desember 2011 : PESTA KELUARGA KUDUS; YESUS, MARIA, YUSUF

Kej. 15:1-6; 21:1-3; Mzm 105:1b-2,3-4,5-6,8-9; Ibr. 11:8,11-12,17-19; Luk. 2:36-40 (Luk 2:22,39-40)

Sabtu, 31 Desember 2011 : Hari Ketujuh Dalam Oktaf Natal
1Yoh. 2:18-21; Mzm. 96:1-2,11-12,13; Yoh. 1:1-18

Minggu, 1 Januari 2011: HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH

Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3.5.6.8; Gal. 4:4-7; Luk 2:16-21



BAGI UMAT ALLAH GEREJA ST. ANTONIUS PURBAYAN:
- wajib menonaktifkan handphone selama perayaan Ekaristi,
-wajib menjaga kebersihan di dalam gedung dan di halaman gereja, serta di lingkungan sekitar gereja. Tisu atau apapun yang digunakan mohon dibuang pada tempat sampah.
- wajib mengembalikan lagi kursi plastik, teks misa, TPE, dan bantalan berlutut yang sudah selesai dipakai ke tempat semula.
- tas tidak ditinggal di tempat duduk sewaktu menerima komuni
- helm dikunci dan diletakkan di bawah jok sepeda motor.

DISARANKAN BAGI UMAT YANG MENGHADIRI MISA MALAM NATAL:
1. Tidak mengenakan atau membawa barang-barang berharga
2. Untuk mengurangi kemacetan, usahakan bilamana mungkin tidak membawa mobil.
3. Jagalah ketertiban dan ketenangan agar suasana penuh kekhusukan.
3. Tidak dibenarkan untuk pesan tempat / blocking. Datanglah sendiri langsung untuk mendapatkan tempat duduk. Petugas akan membantu anda.
4. Bawalah dan gunakan sebaik-baiknya Buku Panduan Misa.
5. Ikutilah jalannya Perayaan Ekaristi dengan baik dan penuh partisipatif.


Baca selengkapnya....

HOMILI: Hari Raya Natal

“Sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”

Pertama-tama kami ucapkan “SELAMAT NATAL”, selamat merayakan hari Kelahiran Penyelamat Dunia. Bagi orang yang sehat baik secara phisik maupun spiritual kelahiran seorang anak pada umumnya sungguh membahagiakan, membuat hidup lebih ceria, bergairah dan bergembira. Secara khusus ibunya atau orangtuanya pasti akan membaktikan diri sepenuhnya bagi anak yang baru saja dilahirkan, dan demikian demikian pasti akan memiliki cara hidup dan cara bertindak baru, lebih-lebih atau terutama bagi sang ibu. Kegembiraan dan kebahagiaan akan semakin besar ketika tahu bahwa anak yang telah dilahirkan menjanjikan sesuatu yang besar, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama jiwa manusia. Yang kita rayakan kelahiranNya adalah Penyelamat Dunia, suatu pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan seluruh dunia seisinya, maka selayaknya seluruh bangsa di dunia menyambut gembira. Marilah kita renungkan warta gembira Natal, sebagaimana diwartakan oleh para malaikat Allah.

"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:10-12)

Warta Gembira Natal pertama-tama disampaikan oleh para malaikat Allah kepada para gembala domba di padang rumput. Para gembala domba dalam tata susunan social atau kemasyarakatan pada masa itu termasuk kelompok yang tersingkirkan atau kurang memperoleh perhatian. Maka warta gembira Natal bagi mereka berarti suatu pengentasan atau pengangkatan mereka sebagai manusia atau warga untuk menjadi sejajar dengan manusia atau warga lainnya, dan hal itu sungguh merupakan ‘kesukaan besar’ bagi mereka. Allah yang menjadi Manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa merupakan wujud solidaritas dan empati Allah kepada semua umat manusia di bumi atau semua bangsa di dunia.

Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka siapapun beriman kepadaNya hendaknya tidak takut untuk mendunia. Berpartisipasi dalam seluk beluk atau hal-ihwal duniawi pada masa kini harus menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan, lebih-lebih ketika dalam mendunia harus jujur dan disiplin. Beriman kepada Penyelamat Dunia berarti berpartisipasi dalam menyelamatkan bagian dunia yang tidak selamat, dimana ada bagian dunia yang tidak selamat ke situlah dipanggil untuk menyelamatkannya. Maka marilah kita lihat dan cermati lingkungan hidup kita dimana kita hidup, bekerja atau berada, dan ketika melihat sesuatu yang tidak selamat, entah itu harta benda, binatang, tanaman atau manusia, hendaknya segera diselamatkan. Sesuatu tidak selamat berarti sesuatu yang tidak sesuai pada tempatnya atau tidak lagi menjadi citra atau gambar Allah dalam cara hidup dan cara bertindaknya.

Sang Penyelamat Dunia yang mendatangi kita lahir “ dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan”, dengan kata lain Ia dilahirkan dalam kesederhanaan atau kemiskinan, yang menandakan bahwa Ia juga akan hidup dalam kesederhanaan dan kemiskinan. Dengan hidup sederhana dan bersemangat miskin, terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan, kita akan mampu melihat bagian dunia lingkungan hidup kita yang harus kita selamatkan atau bahagiakan. Maka beriman kepadaNya berarti juga harus hidup sederhana dan bersemangat/berjiwa miskin. Maka selanjutnya marilah kita renungkan kutipan surat Paulus kepada Titus di bawah ini.

Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.” (Tit 2:12-14).

Keinginan-keinginan duniawi memang mengarah kepada penderitaan atau kesengsaraan selamanya, meskipun mengikuti keinginan dunia akan nikmat untuk sementara, tetapi akan menderita atau sengsara selamanya. Keinginan duniawi masa kini antara lain berupa gila akan harta benda/uang, gila akan jabatan/kedudukan dan gila akan kehormatan duniawi serta gila akan kenikmatan phisik misalnya kenikmatan seksual. Cukup memprihatinkan membaca informasi melalui internet bahwa cukup banyak PNS di Jawa Tengah yang selingkuh pada jam-jam kerja mereka. Para PNS yang seharusnya menjadi teladan baik ternyata malah menjadi batu sandungan dengan perilaku selingkuh, yang memang sungguh merusak hidup berkeluarga yang didasari cintakasih, dengan kata lain mereka melanggar atau melawan cintakasih sebagai hukum utama dan pertama dalam kehidupan bersama dimanapun.

Beriman kepada Penyelamat Dunia dipanggil untuk “meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan dunia dan supaya hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”. Maka dengan rendah hati kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama di dunia ini dapat menjadi teladan dalam menghayati ajakan di atas ini: tidak mengikuti keinginan-keinginan duniawi serta hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam hidup sehari-hari di dunia sekarang ini. Memang peran keluarga pada masa kini cukup penting dalam kehidupan bersama: hidup berkeluarga adalah dasar hidup bermasyarakat dan beragama atau beriman. Orang-orang atau pribadi-pribadi bijaksana, adil dan beribadah pada umumnya berasal dari keluarga-keluarga baik, beriman dan senantiasa dalam keadaan bahagia dan damai sejahtera.

Kelahiran seorang anak dalam keluarga berarti kedatangan pihak ketiga di antara suami dan isteri. Anak adalah anugerah Allah, maka kelahiran seorang anak juga berarti kelahiran atau kehadiran Allah dalam keluarga, dalam relasi antara suami dan isteri. Bagi suami dan isteri dengan kelahiran seorang anak pasti akan berkata seperti Yesaya ini, yaitu “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes 9:1). Sang Penyelamat Dunia telah lahir dan datang di tengah-tengah kita, maka selayaknya kita pun akan menghayati sapaan Yesaya di atas: Rtidak ada sesuatu pun yang dapat ditutupi atau disembunyikan. Maka kepada mereka yang masih hidup atau ‘berjalan di dalam kegelapan’ kami ajak untuk segera keluar dari kegelapan. Dengan kata lain mereka yang suka berbohong hendaknya segera hidup jujur, yang suka bersandiwara dalam kehidupan kami harapkan segera membuka topeng kehidupan tersebut dan menghadirkan diri apa adanya sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, dst..

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.” (Mzm 96:1-3.11-13)

SELAMAT NATAL DAN BERBAHAGIA BERSAMA”



Minggu , 25 Desember 2011



Romo Ignatius Sumarya, SJ

Note: Sabtu, 24 Desember 2011 saksikan Metro TV pk 19.05 wib (siaran sekitar Seminari Mertoyudan) - Film Satu Abad Seminari Mertoyudan -

Baca selengkapnya....

Natal dengan Semangat Sederhana

JAKARTA, - Umat Kristiani di Indonesia diimbau merayakan Natal dengan penuh semangat kesederhanaan, kebersamaan, dan perdamaian. Perayaan diharapkan berlangsung aman sehingga semakin memperkuat kehidupan harmonis di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Gumar Gultom dan Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Benny Soesetyo, di Jakarta, Jumat (23/12/2011).

Menurut kedua tokoh agama itu, hingga saat ini proses persiapan ibadah dan perayaan Natal di Indonesia berjalan aman dan lancar. Ibadah dan perayaan Natal, Sabtu ini dan Minggu (25/12/2011), akan berlangsung di sekitar 100.000 gereja Kristen di bawah PGI dan sekitar 1.500 gereja Katolik di bawah koordinasi KWI di seluruh Indonesia.

"Natal bukan pesta, melainkan bagian dari ibadah agama. Kami imbau kepada seluruh umat Kristiani untuk tidak merayakannya secara berlebihan. Rayakan dengan sederhana, sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Dengan begitu, semoga tidak memancing hal-hal yang tidak diinginkan," kata Gultom.

Romo Benny Soesetyo mengimbau agar Natal dirayakan dengan semangat kesederhanaan. Natal adalah kabar gembira dan pemberian harapan bagi semua orang. Ibadah ini merupakan kebaktian kepada sesama manusia dalam bentuk solidaritas. "Di Indonesia, Natal seyogianya menjadi ungkapan kebersamaan untuk semua manusia, apa pun latar belakangnya," katanya.

Universal

Pengajar pada Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Sylvana Apituley-Ranti, Jumat, mengatakan, pesan Natal, yang sejatinya ialah membawa kabar gembira kelahiran Yesus Kristus, semestinya bisa direfleksikan dalam kenyataan bangsa saat ini.

"Kabar gembira itu universal dan milik semua orang, tidak melihat apa pun agama dan kepercayaannya. Pesan Natal yang ingin membawa kedamaian serta keberpihakan kepada yang tertindas dan lemah tentu bukan hanya milik orang Kristiani semata," katanya.

Dalam konteks itu, menurut Sylvana yang juga komisioner Komisi Nasional Perempuan, semangat Natal harus menjiwai setiap upaya warga bangsa untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan memelihara semangat kebersamaan dalam wadah Bhinneka Tunggal Ika. Semangat itu juga jangan hanya hidup saat menjelang Natal.

Budayawan Romo Gregorius Budi Subanar SJ berharap pesta Natal bukan sebagai pesta material, melainkan sebagai pesta iman, spiritual, yang mengajak orang untuk masuk ke dalam semangat awal Natal.

Semangat awal Natal adalah semangat penjelmaan Yesus Kristus sebagai manusia. Semangat mengangkat harkat manusia karena Allah menghargai harkat manusia.

"Natal hendaknya menjadi momen rohani untuk masuk dan merenung, bagaimana saya bisa menghargai hidup saya sendiri yang ditempatkan bersama orang lain," ujar Romo Subanar.

Pesan Natal Bersama PGI dan KWI menyatakan bahwa semangat Natal adalah sederhana dan bersahaja, rajin dan giat, semangat tidak membeda-bedakan, serta semangat tidak mengotak- ngotakkan.

Pesan Natal bersama itu juga mencatat bahwa kekerasan masih menjadi bahasa yang digemari untuk menyelesaikan masalah relasi antarmanusia.(IAM/REK/WER/*)

Sumber: KOMPAS

Baca selengkapnya....

“Engkau akan disebut nabi Allah yang mahatinggi” (2Sam 7:1-5.8b-12.16; Mzm 89:2-5; Luk 1:67-79)

“Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera." (Luk 1:67-79), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Nubuat Zakharia di atas ini menjadi bagian Ibadat harian para anggota lembaga hidup bakti dan klerus sebagai Kidung Zakharia, yang didoakan dalam ibadat pagi. Nubuat Zakharia juga diwartakan hari menjelang hari raya Natal. Kelahiran Penyelamat Dunia, Allah yang “melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya”. Kidung Zakharia menjadi bagian dari doa/ibadat pagi kiranya merupakan suatu ajakan untuk menghayati bahwa selama sepanjang hari hendaknya kita percaya bahwa “Allah melawat umatNya dan membawa kelepasan”. Dengan kata lain hendaknya kita tidak takut memasuki atau mengarungi hari ini dalam menghadapi aneka tugas atau pekerjaan yang mungkin juga sarat dengan tantangan, hambatan dan masalah. Marilah kita imani dan hayati bahwa Allah “mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera”, yang berarti kita sikapi masa depan atau apa yang ada dihadapan kita dengan penuh harapan, ceria, gairah dan dinamis karena damai sejahtera ada di hadapan kita. Dari pihak kita memang juga dituntut kesediaan diri total untuk mau diarahkan oleh Allah dalam kondisi dan situasi apapun. Selain menghadapi hari ini dengan semangat kidung Zakharia kiranya kutipan dari Kitab Ratapan ini juga baik kita pegang teguh dalam memasuki hari baru , yaitu “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat 3:22-23). Tuhan setia pada janjiNya untuk mendatangi kita dengan menjadi manusia hina seperti kita kecuali dalam hal dosa untuk membebaskan kita semua dari penindasan setan atau kejahatan. Marilah kita tanggapi kesetiaan Tuhan dengan hidup setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, agar damai sejahtera menjadi nyata dalam diri kita maupun kehidupan bersama kita dimana pun dan kapan pun.

· "Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau." (2Sam 7:3), demikian kata nabi Natan kepada raja Daud. Apakah yang terkandung dalam hati kita masing-masing pada saat ini, saat menantikan pesta Natal yang akan segera tiba? Kami percaya dalam hati kita masing-masing terkandung dambaan suci akan hidup dalam damai sejahtera, maka marilah kita wujudkan dambaan tersebut dengan bantuan rahmat Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Dengan penyertaan atau pendampingan Tuhan kita pasti akan mampu mewujudkan damai sejahtera yang menjadi dambaan kita semua. Damai sejahtera sejati memang ada di dalam hati, jika hati kita sungguh dalam keadaan damai sejahtera maka secara otomatis lingkungan hidup kita juga akan damai sejahtera. Hati adalah pusat hidup dan jati diri manusia, sebagaimana dari Hati Yesus Yang Mahakudus ketika ditusuk tombak mengalir ‘air dan darah segar’, symbol kehidupan dan keselamatan, maka semoga dari hati kita pun juga keluar atau menghasilkan kehidupan dan keselamatan yang didambakan oleh semua orang. Dengan kata lain marilah kita berusaha dengan keras dan rendah hati dalam hidup dan bertindak agar cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan kehidupan dan keselamatan sejati, terutama kehidupan dan keselamatan jiwa manusia. “Tuhan menyertai engkau”, kata-kata inilah yang hendaknya senantiasa menjadi pegangan atau pedoman hidup kita, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita hanya melakukan kehendak dan perintah Tuhan.

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.” (Mzm 89:2-5)

Sabtu, 24 Desember 2011

Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

“Namanya adalah Yohanes” (Mal 3:1-4; 4:5-6; Mzm 25:8-10; Luk 1:57-66)

“Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.” (Luk 1:57-66), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catataan sederhana sebagai berikut:

· Waarta Gembira hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua akan pentingnya merubah gaya hidup demi keselamatan atau kebahagiaan kita. Kita semua dapat merubah atau memperbaharui gaya hidup kita dengan merubah pikiran kita. Dalan tradisi anak laki-laki yang baru saja dilahirkan harus diberi nama seperti nama ayahnya, demikian seharusnya anak yang dilahirkan oleh Elisabeth harus diberi nama Zakharias seperti ayahnya, sebagaimana juga berlaku di suku-suku tertentu di Indonesia. Namun ternyata sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan ia tidak diberi nama Zakharias, melainkan Yohanes. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal nama yang dikenakan kepada kita, lebih-lebih atau terutama yang telah mengganti nama, entah itu imam, bruder, suster atau suami-isteri. Kami percaya nama baru yang kita kenakan tidak datang begitu saja, tetapi cukup lama dipikirkan dan direnungkan serta kemudian diputuskan. “Menjadi apakah anak ini nanti”, demikian pertanyaan banyak orang terhadap nama anak yang baru saja dilahirkan Elisabeth. “Tangan Tuhan menyertai dia”, maka anak itu akan tumbuh berkembang sesuai dengan kehendak atau panggilan Tuhan. Kami percaya sebagai orang beriman kita juga disertai oleh Tuhan, maka marilah kita konsekwen atau konsisteen perihal nama yang dikenakan pada kita masing-masing. Hendaknya kita hidup dan bertindak sesuai dengan dambaan, harapan atau impian yang muncul menjelang nama dikenakan pada diri kita masing-masing. Mungkin sebagai anak kita hanya sekedar menerima nama dari orangtua kita masing-masing, maka marilah dengan rendah hati kita bertanya kepada orangtua kita perihal dambaan, kerinduan dan impian terhadap diri kita masing-masing.

· “ Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam” (Mal 3:1). Kutipan ini kiranya dapat kita kenakan pada diri kita masing-masing. Seperti Yohanes dilahirkan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Penyelamat Dunia, demikian juga kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus, Penyelamat Dunia. Persiapan merupakan sesuatu yang penting, jika kita mendambakan kesuksesan segala sesuatu yang kita impikan, cita-citakan, dambakan dan rencanakan , hendaknya kita sungguh mempersiapkan semuanya dengan sebaik dan seoptimal mungkin. Hidup ini adalah suatu persiapan untuk dipanggil Tuhan, dimana kita akan berhadapan dengan Tuhan secara pribadi; kita siap untuk dipanggil Tuhan jika kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Dalam keadaan, kondisi dan situasi apapun kita hendaknya senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, senantiasa berkehendak dan melakukan apa yang benar, mulia, luhur dan baik. Dengan kata lain hendaknya kita setia pada dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh janji yang pernah kita ikrarkan. Para pelajar atau mahasiswa hendaknya setia belajar, para pekerja hendaknya setia bekerja, yang sedang mencinta hendaknya setia saling mencintai dst.. Secara khusus kami mengingatkan anda semua: siapkah kita untuk merayakan pesta kelahiran Penyelamat Dunia yang segera akan tiba? Siapkah kita didatangi oleh Tuhan kapan pun dan dimana saja?

“TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm 25:8-10)

Jumat, 23 Desember 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....