Penyejuk Imani Katolik bulan April 2011

Baca selengkapnya....

"Aku datang untuk menggenapi hukum Taurat" (Ul 4:1.5-9; Mzm 147:12-13.15-16.19-20; Mat 5:17-19)

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga." (Mat 5:17-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Keunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam tindakan atau perilaku bukan omongan, diskusi atau wacana, sebagaimana dilakukan oleh Yesus. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya", demikian sabda Yesus. Mayoritas waktu dan tenaga atau anggota-angota tubuh kita kiranya untuk bergerak, berjalan atau bepergian, maka baiklah gerakan anggota tubuh kita macam apapun hendaknya merupakan perwujudan kehendak atau perintah Tuhan, antara lain perintah untuk saling mengasihi. Hemat saya inti seluruh hukum, aturan atau tata tertib adalah cintakasih, maka jika setiap gerakan anggota tubuh kita merupakan perwujudan kasih berarti kita melaksanakan aturan atau tata tertib dengan baik sesuai tujuan atau arah aturan dan tata tertib diberlakukan. Tanda baik gerakan anggota tubuh kita merupakan wujud kasih antara lain menghasilkan buah yang membahagiakan dan menyelamatkan. Setiap gerakan anggota tubuh kita menggairahkan, mempesona dan menarik orang lain untuk semakin berbakti sepenuhnya kepada Tuhan, alias semakin beriman, semakin baik cara hidup dan cara bertindaknya. Omongan atau bicara kita menarik, mempesona dan memikat, sehingga banyak orang dengan senang dan bergairah mendengarkannya, demikian juga gerakan kaki dan tangan kita. Cirikhas mengasihi antara lain melayani dengan rendah hati, maka marilah kita saling melayani dengan rendah hati satu sama lain dimanapun kita berada.

· "Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi." (Ul 4:5-6), demikian peringatan Tuhan kepada bangsa terpilih dalam perjalanannya menuju tanah terjanji. Hidup kita adalah perjalanan, perjalanan menuju hidup mulia selamanya di sorga setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Maka marilah kita berjalan sesuai dengan aturan atau tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing agar nanti kita selamat sampai tujuan. Jauhkan dan berantas aneka cara hidup dan cara bertindak yang hanya mengikuti keinginan atau kemauan pribadi tanpa memperhatikan lingkungan hidup atau kepentingan umum. Biarlah kata-kata "memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi" menjadi kenyataan dalam hidup kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memang untuk itu antara lain pendidikan anak-anak atau bangsa kita harus memperoleh perhatian yang memadai sesuai dengan tuntutan atau perkembangan zaman, sehingga mereka tumbuh berkembang menjadi umat yang bijaksana dan berakal budi. "Human investment" harus lebih diutamakan daripada 'material investment'; hidup baik, bijaksana dan berakal budi lebih utama dari tubuh dan tubuh lebih utama daripada pakaian serta makanan. Kita semua juga dipanggil untuk setia dengan sepenuh hati dalam menghayati janji-janji yang pernah kita ikrarkan, karena pelaksanaan janji yang telah kita ikrarkan merupakan kebijaksanaan dan tanda berakal budi. Sebagai warganergara Indonesia, marilah kita hayati Pancasila, yang telah dicanangkan atau diproklamirkan oleh para pendiri bangsa ini sebagai dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu" (Mzm 147:12-13.15-16)

Jakarta, 30 Maret 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Buletin Pelegrina Purbayan Edisi Maret 2011 Sahabat Dalam Perjalanan



Telah terbit buletin Pelegrina edisi Maret 2011.

Pastor Paroki Menyapa: Menghayati Masa Pra Paskah 2011

Liputan Utama: "Salib: Ekspresi Kepedulian Yesus"

Fokus Gereja: Surat Gembala Pra Paskah 2011 KAS"

Inspirasi: "Kisah Seorang Gadis Desa Berjubah"

Ruang OMK: "Do Your Best & Let God DO The Rest"

Ruang Keluarga: "Spiritualitas dalam Keluarga"

Liputan Paroki: "Geliat Panitia Ultah 95 th St. Antonius Purbayan"

Liputan PelegrinaRia

Rehat: "Katarak"

Kesaksian: "Pertolongan Tuhan dalam Iman dan Kuasa Doa"

dan lain-lain.

Segera dapatkan!

Baca selengkapnya....

Liturgi Jumat Agung

Liturgi Jumat Agung dirangkai dalam tiga acara:


1. Liturgi Sabda: mendengarkan Sabda Tuhan, menyelami misteri penyelamatan.

2. Penghormatan Salib: dengan menerima dan memeluk salib, kita menghayati misteri penderitaan; sekaligus menegaskan komitmen kita sebagai murid Yesus. Bagi kita salib adalah kekuatan dan tanda kemenangan.

3. Komuni: tanda nyata kesatuan hati dan budi antara Tuhan Sang Juruselamat dan kita para murid-Nya yang mengambil bagian dalam tugas perutusan-Nya.

Passio pada Hari Jumat Agung (juga Minggu Palma), tidak boleh diganti dengan peragaan, dramatisasi, dll. Passio adalah Sabda Tuhan, dan untuk Hari Jumat diambil dari Injil Yohanes, maka kalau didramakan, tidak ada bedanya itu drama Injil Yohanes atau Injil Sinoptik lain.

Sabda Tuhan tidak boleh digantikan oleh bacaan atau pun bentuk ekspresi lain.

Lihat PEDOMAN UMUM MISALE ROMAWI / Institutio Generalis Missalis Romawi (PUMR) :

24. Untuk sebagian besar, penyerasian-penyerasian itu terbatas pada pemilihan ritus atau teks, yakni pemilihan nyanyian, bacaan, doa, ajakan, dan tata gerak yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kesiapan, dan kekhasan jemaat. Pemilihan-pemilihan seperti itu dipercayakan kepada imam yang memimpin perayaan Ekaristi. Namun, imam harus ingat bahwa dia adalah pelayan liturgi kudus, dan bahwa ia sendiri tidak diizinkan menambah, mengurangi, atau mengubah sesuatu dalam perayaan Misa atas kemauannya sendiri.

29. Bila Alkitab dibacakan dalam gereja, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus sendiri mewartakan kabar gembira, sebab Ia hadir dalam sabda itu. Oleh karena itu, pembacaan Sabda Allah merupakan unsur yang sangat penting dalam liturgi. Umat wajib mendengarkannya dengan penuh hormat.

55. Bacaan-bacaan dari Alkitab dan nyanyian-nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dari Liturgi Sabda, sedangkan homili, syahadat, dan doa umat memperdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sebab dalam bacaan, yang diuraikan dalam homili, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya.

Redemptionis Sacramentum (RS):
[62.] It is also illicit to omit or to substitute the prescribed biblical readings on one’s own initiative, and especially “to substitute other, non-biblical texts for the readings and responsorial Psalm, which contain the word of God”.

Hal lain yang perlu diperhatikan, bahaya drama masuk dalam liturgi, karena orang akhirnya tergoda untuk memperhatikan tokoh pemeran itu siapa dll, dan juga fokus umat tidak lagi kepada hal liturgis, tetapi seperti sedang "pause" dan nonton "panggung". Hal ini sebenarnya termasuk "pelecehan" liturgi yang tidak perlu terjadi. Drama dilakukan di balai paroki (hall) atau di tempat lain, silahkan, tetapi untuk diperagakan di atas panti imam, rasanya kurang pas dan membantu pemahaman litrugi yang baik dan benar.

Kalau dinyanyikan terlalu panjang, boleh juga dibacakan dengan baik. Boleh dibawakan oleh 3 orang, dan peran Yesus dibawakan oleh imam.

Passio yang panjang, bisa dipersingkat. Dalam bacaan resmi yang tersedia biasanya juga disediakan dua alternatif, yakni versi lengkap (= panjang) atau versi singkat. Tetapi tetap mengambil passio hari bersangkutan.

Yang pokok dan utama: Sabda Tuhan harus diwartakan, dan tidak digantikan atau ditiadakan

Sesudah penghormatan salib, dilanjutkan komuni, pada saat hendak mulai Bapa Kami dan Sakramen Mahakudus yang akan dibagikan diletakkan di altar, altar diberi taplak putih dahulu Taplak putih dan lilin tersebut ditempatkan dalam kaitannya dengan kehadiran 'Tubuh Kristus' yang akan dibagikan ke umat.

Sumber: Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis (Surat Edaran tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya), Kongregasi Ibadat Ilahi, Roma, 1988.
seputarliturgimisa.blogspot.com

Baca selengkapnya....

“Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” (Dan 3:25.34-43; Mzm 25:4bc-5ab.6-7bc.8-9; Mat 18:21-35)

“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18:21-22),demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (=Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan), demikian pesan Hari Perdamaian Sedunia Paus Yohanes Paulus II memasuki Millenium ketiga. Kehadiran atau kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia, merupakan wujud kasih pengampunan Allah kepada umat manusia di dunia, agar terjadi perdamaian di dunia. Maka kita yang beriman kepada-Nya dipanggil untuk meneladan-Nya dengan menjadi saksi dan penyalur kasih pengampunan dimanapun kita berada atau kemanapun kita pergi. Jika kita mawas diri dengan jujur dan benar kiranya masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita yang telah memperhatikan dan mengasihi kita dengan aneka cara atau bentuk. Maka panggilan untuk menjadi saksi atau penyalur kasih pengampunan hemat saya mudah jika kita tidak pelit alias bermurah hati. Menanggapi pertanyaan Petrus perihal berapa kali harus mengampuni mereka yang bersalah, Yesus menjawab “tujuh puluh kali tujuh kali”, yang berarti terus menerus , tak kenal batas. Kasih pengampunan adalah wujud dari kasih dan kasih memang tak terbatas, tak dapat dibatasi oleh usia, SARA dst.. Kami berharap di dalam komunitas basis, seperti di dalam keluarga atau rukun tetangga sungguh terjadi kasih pengampunan antar anggota atau warganya, sehingga pengalaman yang telah diperoleh dalam komunitas basis ini dapat menjadi modal dan kekuatan dalam hidup bersama yang lebih luas, untuk menjadi saksi dan penyalur kasih pengampunan. Marilah kita jauhkan dan berantas aneka macam bentuk balas dendam, dan kita imani bahwa kasih pengampunan pasti mampu mengalahkan balas dendam dan kebencian.

· “Demikianlah hendaknya korban kami di hadapan-Mu pada hari ini berkenan seluruhnya kepada-Mu. Sebab tidak dikecewakanlah mereka yang percaya pada-Mu. Kini kami mengikuti Engkau dengan segenap jiwa dan dengan takut kepada-Mu, dan wajah-Mu kami cari. Janganlah kami Kaupermalukan, melainkan perlakukankanlah kami sesuai dengan kemurahan-Mu dan menurut besarnya belas kasihan-Mu. Lepaskanlah kami sesuai dengan perbuatan-Mu yang ajaib, dan nyatakanlah kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan.” (Dan 3:40-43), demikian doa Daniel. Marilah doa ini juga kita jadikan doa kita, antara lain kata-kata ini yang hendaknya menjadi pedoman hidup kita, yaitu: “Kami mengikuti Engkau dengan segenap hati dan dengan takut kepada-Mu, dan wajah-Mu kami cari”. Mengikuti Tuhan berarti senantiasa mendengarkan dan mengikuti bisikan atau suara Roh-Nya melalui ciptaan-ciptaan-Nya, terutama dalam diri manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Bisikan atau suara Roh dalam diri manusia/kita antara lain berupa kehendak baik, maka kita dengarkan dan ikuti kehendak baik saudara-saudari kita. Ada kemungkinan perbedaan kehendak baik di antara kita, maka baiklah kita saling mendengarkan dan mengolah bersama kehendak-kehendak baik kita, sehingga ada satu kehendak baik yang kita pegang atau menjadi pedoman kita. Perwujudan kehendak baik juga dapat berbeda satu sama lain, tergantung dari situasi dan kondisi dimana kita hidup atau berada. Pendek kata buah perbuatan baik yang kita lakukan adalah keselamatan jiwa manusia, maka strategi atau kegiatan yang kita lakukan dapat berbeda satu sama lain. Bisikan atau suara Roh juga menggejala dalam ciptaan-ciptaan lainnya seperti binatang atau tanaman, maka hendaknya kita rawat binatang maupun tanaman sehingga dapat membantu kita dalam mengejar atau mengusahakan tujuan kita diciptakan, yaitu keselamatan jiwa manusia. Dengan kata lain marilah kita kelola lingkungan hidup kita sedemikian rupa sehingga kita dapat hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan alias hidup dan berbudi yang baik, berbudi pekerti luhur, bermoral. Hendaknya kita juga tidak serakah menggunakan ciptaan-ciptaan lainnya, binatang atau tanaman; keserakahan dalam menggunakan binatang maupun tanaman akan menjadi ‘senjata makan tuan’, artinya kita dan anak-cucu kita akan menderita.

“Ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati” (Mzm 25:7b-9).


Jakarta,
Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

“Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”. (2Raj 5:1-15a; Mzm 42:2.3; 43:3.4; Luk 4:24-30)




“Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Luar negeri minded” itulah motto kebanyakan orang. Memang dalam kenyataan apa yang diproduki di dalam negeri kalah mutunya jika dibandingkan apa yang diproduksi dari luar negeri. Sebagai contoh adalah pendidikan, dimana mereka yang berduit atau orang-orang kaya lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri daripada di dalam negeri. Demikian juga orang begitu menaruh hormat kepada orang asing, sedangkan kepada saudara-saudari yang setiap hari hidup atau bekerja bersamanya kurang dihormati atau dihargai atau bahkan dilecehkan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua agar kita lebih mengasihi mereka yang dekat dengan kita daripada mengasihi mereka yang jauh dari kita. Jika kita mampu mengasihi mereka yang dekat dengan kita maka kepada orang lain/asing berarti kita menghormati sepenuh hati, bukan sekedar sopan santun atau cari muka saja, bahkan melayani; sebaliknya ketika kita tak dapat mengasihi mereka yang dekat dengan kita, pada umumnya sikap terhadap yang lain sebenarnya menindas atau melecehkan, meskipun nampak di luar penuh hormat. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk lebih mengasihi apa atau mereka yang dekat dengan kita, entah itu manusia, harta benda/aneka macam produksi, dst.. Sebagai contoh adalah pakaian: batik telah diakui oleh dunia sebagai produk asli Indonesia, maka baiklah dalam berbagai kesempatan formal atau resmi sebaiknya pakai batik saja daripada dengan jas dan dasi, yang sebenarnya merupakan kebiasaan mereka yang tinggal di daerah dingin, seperti di Eropa. Marilah kita tingkatkan kwalitas pendidikan di negeri kita, pelayanan karya kesehatan di rumah sakit kita dst… agar saudara-saudari kita kemudian lebih suka belajar atau berobat di dalam negeri daripada di luar negeri.

· “Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu” (2Raj 5:14-15a), demikian warta gembira perihal Naaman yang melaksanakan perintah nabi. Pengalaman Naaman ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita: marilah kita taati dan laksanakan semua perintah nabi. Nabi adalah utusan Allah, orang yang penuh Roh Kudus, yang senantiasa menyuarakan kehendak dan perintah Allah. Kami percaya sebagai orang beriman kita semua juga memiliki sifat kenabian, antara lain menggeja dalam aneka kehendak baik, maka baiklah kita saling mendengarkan dan menanggapi kehendak baik saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun, tanpa pandang bulu atau SARA. Kita belajar dari Naaman yang tidak malu melakukan tugas yang sederhana, maka baiklah meskipun kehendak baik saudara-saudari kita hendaknya segera ditanggapi secara positif. Dengan kata lain kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak malu melakukan tugas atau pekerjaan yang sederhana, misalnya menyapu atau mengepel lantai, mencuci pakaian sendiri, mengatur kamar tidur sendiri, dst.. Kami percaya ketika kita terbiasa dan terampil mengerjakan apa yang sederhana tersebut, maka kita memiliki modal atau kekuatan untuk melakukan apa yang sulit dan berbelit-belit. Ingatlah dan sadari bahwa apa yang sulit dan berbelit-belit sebenarnya belajar dari apa yang sederhana, misalnya pesawat terbang meniru dan belajar dari burung yang terbang, maka pesawat terbang sering disebut burung baja. Kami berharap hendaknya anak-anak di dalam keluarga dibiasakan dan dididik untuk melakukan apa yang sederhana, yang menjadi kebutuhan hidup sehari-hari, dan tentu saja dengan teladan konkret dari orangtua/bapak-ibu.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah” (Mzm 42:2-3)



Jakarta, 28 Maret 2011

Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Menghayati Masa Prapaskah 2011



Masa prapaska telah kita mulai dengan Rabu Abu pada 9 Maret 2011. Kita ditandai dengan abu yang mengingatkan kita berasal dari debu dan akan menjadi ke debu. Kita juga diingatkan ketika nabi Yunus memaklumkan pertobatan Ninive, raja kota Ninive menanggalkan jubahnya, mengenakan kain kabung dan duduk di atas abu sebagai tanda pertobatan (Yun 3:6. Paroki kita, Santo Antonius Purbayan, mengadakan misa 5 kali pada hari Rabu Abu ini: jam 05.30, 06.30, 12.00, 16.30 dan 18.00. Setiap kali misa gereja penuh dengan umat yang hadir. Hujan lebat yang terus mengguyur pada sore hari tidak menjadi halangan bagi mereka. Ini pertanda umat peduli terhadap awal masa puasa dan pertobatan ini dan peduli terhadap masa prapaska.

Tempa prapaska dan Aksi Puasa Pembangunan (APP) di Keuskupan kita tahun ini: "Inilah Orang Katolik Sejati". Tema ini sejalan dengan tema APP Nasional: Kesejatian Hidup dalam Perwujudan Diri. Dengan tema "Inilah Orang Katolik Sejati" kita hendak mewujudkan diri menuju kesejatian hidup. Kesejatian hidupkita adalah menjadi orang Katolik sesuai cita-cita Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang: mengembangkan habitus baru dengan semangat Injil dengan beriman mendalam dan tangguh serta ambil bagian mewujudkan kesejahteraan umum. Bagian-bagian uraian Arah Dasar menjadi bahan yang menyatu dalam Panduan APP Umat Lingkungan 2011.

Bapak Uskup Mgr. J. Pujasumarta mengirim surat gembala Prapaska yang dibacakan di gereja-gereja seluruh keuskupan kita pada Sabtu-Minggu 5-6 Maret 2011 dengan judul: Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa. Dalam surat tersebut Bapak Uskup menebut tradisi Gereja menjadikan masa Prapaska untuk "retret agung". Sebab dalam masa ini kita diajak untuk menjalani pertobatan dan pemurnian diri dari dosa-dosa. Kita juga diajak untuk mengenal Yesus semakin mendalam, mencintainya semakin mesra dan mengikutinya semakin dekat. Ini bisa kita jalankan dengan doa pribadi, membaca dan merenungkan kitab suci, mengikuti misa harian, mendengarkan dan mengikuti siaran-siaran rohani dari radio dan TV, mengikuti sarasehan di lingkungan-lingkungan dan jalan salib di gereja pada setiap hari Jumat.

Masa Prapaskah di paroki kita tahun ini bertepatan dengan menyongsong perayaan 95 tahun Gereja yang berpuncak pada pesta Santo Antonius, pelindung kita, 13 Juni 2011. Kita dukung panitia yang sedang merancang acaranya. Semoga Tuhan memberkati kita semua dalam menyongsong Paskah, Kebangkitan Tuhan 2011 dan menyongsong lustrum 19 atau perayaan 95 tahun Gereja kita tercinta agar kita mendapatkan pencerahan dari peristiwa-peristiwa ini.

Pada 5 Maret Fr Vincentius Haryanto Soedjatimika, SJ yang sejak 1 April 2010 bertugas pastoral di Paroki St. Antonius Purbayan meninggalkan kita untuk menjalani tugas studi Mandarin dan kelanjutan persiapan imamat di Taiwan. Kita ucapkan terima kasih atas pelayanan Frater untuk paroki kita selama hampir satu tahun ini dan selamat jalan. Kita doakan semoga sukses di tanah seberang.

Kita menerima Romo baru, Laurentius Priyo Poedjiyono, SJ (53th), yang diberi tugas oleh Romo Provinsial membantu tugas pelayanan pastoral di paroki St. Antonius Purbayan mulai 1 Maret 2011. Beliau datang pada 18 Maret, setelah menyelesaikan tugas di Srilangka membimbing tersiat, bulan-bulan kerohanian bagi para Yesuit setelah berpengalaman karya beberapa tahun. Kita ucapkan selamat datang dan selamat berkaya pada Romo Priyo. Akhirnya, semoga Tuhan memberkati kita semua.

Purbayan, 10 Maret 2011


Rm. Antonius Puja Harsana, SJ


Buletin Pelegrina
Edisi Maret 2011

Baca selengkapnya....

Jadwal Penerimaan Sakramen Tobat Prapaskah 2011

Baca selengkapnya....

Warta Paroki: 26-27 Maret 2011

PERAYAAN EKARISTI JUMAT PERTAMA

Jumat, 1 April 2011 Jumat Pertama dalam bulan April 2011. Perayaan Ekaristi pukul 05.30 dan 06.15.


BAPTISAN BAYI


Minggu, 3 April 2011 ada Baptisan Bayi di Gereja. Sebelumnya akan diadakan pertemuan bagi orang tua/wali baptis pada hari Jumat, 1 April 2011 pukul 18.00. Bagi orang tua yang hendak membaptiskan bayinya silahkan mendaftar pada sekretariat paroki.


MISA WILAYAH


Selama Masa Prapaskah, Misa Wilayah ditiadakan. Kegiatan misa di wilayah dapat diganti dengan pertemuan Prapaskah atau pertemuan lain seturut kebutuhan masing-masing wilayah/lingkungan.

PAGUYUBAN BILANSIA

Para ibu dan bapak yang berusia 56 tahun ke atas, anda diundang untuk hadir dalam misa bulanan lansia (setiap Kamis, menjelang Jumat Pertama). Misa akan dimulai 7 April 2011 pukul 15.30 di Gereja.

RETRET LANSIA

Bagi anda yang berusia lanjut dan berminat disegarkan dalam hidup rohani, anda diundang untuk mengikuti retret lansia pad tanggal 1-3 April 2011 di Rumah Retret Sangkalputung, Klaten dengan tema "Yang berahmat dan berdaya pikat" bersama Rm. W. Kastowo, SJ. Pendaftaran: Sekretariat Paroki San Inigo, Dirjodipuran.

PAGUYUBAN PANGGILAN

Anda pemuda-pemudi, kelas III SLTA (SMU/SMK), semester akhir perguruan tinggi, lulus perguruan tinggi, dan sekarang bekerja? Anda tertarik untuk mengetahui arti, makna, dan penghayatan panggilan khusus di dalam Gereja, sebagai imam, biarawan, biarawati? Datanglah pada pertemuan peminat: "Seminari di luar tembok"


Hari/Tanggal: Minggu, 3 April 2011
Pukul: 10.00 WIB
Acara: Seluk Beluk Panggilan Khusus
Pembicara: Rm. A. Mangunhardjana, SJ



Pertemuan dimaksudkan hanya untuk menyampaikan informasi, bukan untuk membujuk dan memikat-mikat anda agar menjadi imam, biarawan, atau biarawati. Dengan demikian anda mengetahui betul-betul arti dan makna panggilan khusus. Jika bukan untuk anda, paling sedikit anda mengetahui apa sejatinya panggilan itu. Jika tidak tertarik, anda mengetahui alasan-alasannya, dan tidak menyesal di kemudian hari.

DONOR DARAH

Minggu, 10 April 2011 ada Donor Darah bertempat di SD Kanisius Keprabon II dimulai pukul 08.00. Saudara diundang untuk berpartisipasi.


RETRET DOA


Bagi umat yang tertarik untuk mengetahui rahasia hidup doa, anda dapat mengikuti Retret "Mutiara di balik doa" bersama Rm. Jusuf Halim, SVD pada tanggal 15-17 April 2011 di Rumah Retret St. Maria Tawangmangu. Pendaftaran Novi (7552250), Maria (721997).


KOLEKTE KEDUA


Kolekte kedua minggu ini untuk: Paroki Sukorejo

TUGAS PARKIR

Minggu ini 26-27 Maret 2011: Wilayah Ignatius 17
Minggu depan 2-3 April 2011: WIlayah Kampung Sewu.

PENGUMUMAN PERKAWINAN
Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan:

A. Pengumuman Pertama


1. Mikale Budi Sutrisno dari Pucangsawit dengan Eleonora Yucke Adiningsih dari Setabelan.

Bagi umat yang mengetahui adanya halangan pernikahan bagi masing-masing pasangan tersebut dimohon segera memberitahu Pastor Paroki.






BACAAN LITURGI

Senin, 28 Maret 2011: Hari Biasa Pekan III Prapaskah
2Raj 5:1-15a; Mzm 42:2-3- 43:3-4; Luk 4:24-30.

Selasa, 29 Maret 2011: Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Dan 3:25.34-43; Mzm 25:4bc-5ab.6-7bc.8-9; Mat 18:21-35.

Rabu, 30 Maret 2011: Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Ul 4:1.5-9; Mzm 147:12-13.15-16.19-20; Mat 5:17-19.

Kamis, 31 Maret 2011: Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Yer 7:23-28; Mzm 95:1-2.6-9; Luk 11:14-23.

Jumat, 01 April 2011: Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Hos 14:2-10; Mzm 81:6c-8abc-11ab.14.17; Mrk 12:28b-34.

Sabtu, 02 April 2011: Hari Biasa Pekan III Prapaskah
Hos 6:1-6; Mzm 51:3-4.18-21ab; Luk 18:9-14.

Minggu, 03 April 2011: Hari Minggu Prapaskah IV
1Sam 16:1b.6-7.10-13a; Mzm 23:1-6; Ef 5:8-14; Yoh 9:1-41 (Yoh 9:1.6-9.13-17.34-38).

Bulan April 2011:

Ujud Umum:
Melalui pewartaan Injil yang mengena, semoga kepada orang muda Gereja mampu memberikan semangat baru dan keberanian untuk memaknai hidup

Ujud Misi:
Melalui pewartaan Injil dan kesaksian hidup, semoga para misionaris dibuat mampu membawa Kristus kepada mereka yang belum mengenalnya

Ujud Gereja Indonesia:
Semoga Hari Bumi (22 April) turut menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam memelihara ibu-bumi agar tetap layak huni.

Baca selengkapnya....

Hari Minggu Prapaskah IV: Minggu Laetare

Minggu Laetare, nama ini diambil dari Proprium Introit (pembukaan) pada perayaan hari Minggu Prapaskah IV: Laetare Ierusalem (Bersukacitalah Yerusalem). Introit ini diambil dari Yesaya 166:10,11 dengan ayat dari Mazmur 121.

Karena nuansa kegembiraan ini ditengah Prapaskah, dan bahwa setengah masa puasa sudah dilewati, kesuraman Liturgis prapaskah dikurangi sedikit. Karena itu, dipakai busana Liturgi warna Rose (pink), sedikit bunga dan iringan musik.

Pada masa Adven ada hari yang sama dimana warna liturgi Rose juga digunakan. Yaitu Minggu Adven III yang dikenal dengan nama Minggu Gaudete. Sekali lagi nama hari ini diambil dari Proprium Introit Misa hari ini: Gaudete in Domine semper (Bersukacitalah dalam Tuhan senantiasa). Introit ini diambil dari Filipi 4:4,5 dengan ayat dari Mazmur 84.

Baca selengkapnya....

HOMILI Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011: Hari Minggu Prapaskah III

Bacaan I: Kel. 17:3–7
Mazmur : 95:1–2,6–7,8–9; R: 8
Bacaan II : Rm. 5:1–2,5–8
Bacaan Injil : Yoh. 4:5–42
(Yoh. 4:5–15,19b–26,39a,40–42)



"Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."


Pak Anton (samaran) adalah seorang guru sebuah yayasan pendidikan katolik milik Keuskupan yang mengelola cukup banyak sekolah bagi orang-orang miskin. Dengan demikian kiranya dapat dimengerti bahwa gaji atau imbal jasa guru di yayasan tersebut pas-pasan, sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu PGPS (Peraturan Gaji Pegawai Sipil). Gaji sesuai dengan PGPS di kota besar seperti Jakarta kiranya tidak menjanjikan untuk menjadi kaya. Pada suatu hari Anton memperoleh tawaran untuk bekerja disebuah yayasan yang kaya dengan gaji kurang lebih 3 kali dari gaji yang ia peroleh pada saat ini. Setelah berbicara dengan Direktur yayasan akhirnya Anton mengundurkan diri dari tempat dimana ia bekerja/mengajar dan pindah ke yayasan baru tersebut. Dengan gembira Anton bekerja di yayasan baru karena memperoleh gaji yang cukup besar. Namun seiring dengan perjalanan waktu Anton merasa tidak krasan bekerja di tempat yang baru tersebut, ia merasa suasana kerja tidak manusiawi. Maka ia berminat mengundurkan diri, tetapi mau kembali ke yayasan yang lama merasa malu. Ia mengundurkan diri dan kemudian pindah bekerja di sebuah perusahaan, bukan bidang pendidikan, dan ternyata di perusahaan tersebut ia hanya bertahan satu tahun dan pindah ke tempat kerja yang lain, dst.. Hampir setiap tahun Anton pindah tempat bekerja, maka pada suatu saat ia merasa kecewa dan lelah ketika melihat dan memperhatikan rekan-rekan guru di yayasan milik keuskupan yang ia tinggalkan: rekan-rekannya nampak hidup damai sejahtera dan tenang meskipun tidak kaya, sementara ia sendiri merasa bagaikan benalu yang tidak menentu masa depannya. Ya begitulah kisah pengalaman orang yang bermental materialistis dan tidak setia pada panggilan atau niat semula yang bagus dan indah, yaitu bekerja melayani anak-anak sebagai pendidik atau guru. Ia bekerja tidak sesuai dengan bakat atau kemampuan yang ada padanya melainkan serakah mengikuti nafsu materialistisnya. Memang setia pada tugas atau panggilan utama atau pokok sarat dengan tantangan dan godaan, sehingga dengan mudah orang menyeleweng, bagaikan perempuan Samaria yang bergonta-ganti suami, sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini, merasa selalu ‘haus’ dalam hidupnya.



“Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini."Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar” (Yoh4:15-18)



“Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini, jika engkau ingin tidak haus lagi”, demikian sabda Yesus kepada perempuan Samaria yang sudah mempunyai lima suami. Perempuan itupun menjawab bahwa ia tidak bersuami lagi, dan memang yang ada sekarang bukan suaminya melainkan ‘simpanan’nya. “Panggillah suamimu” berarti kembalilah pada tugas, panggilan atau pekerjaan utama/ pokok serta tinggalkan tugas dan pekerjaan sampingan sebagai pelarian tanggungjawab atau pemuasan pribadi sesaat. Memang setia pada tugas, panggilan atau pekerjaan utama/pokok sering harus menghadapi aneka tantangan dan masalah yang menuntut pengorbanan dan perjuangan.



Kita semua kiranya mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera sejati, maka marilah kita setia pada tugas, panggilan dan pekerjaan utama kita; setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan ketika memasuki atau memeluk tugas, panggilan dan pekerjaan tersebut. Segala macam bentuk penyelewengan atau ketidaksetiaan pada tugas, panggilan dan pekerjaan utama akan membawa orang ke ketidak-puasan serta hidup kering, gersang, tidak damai dan tenteram. Maka baiklah siapapun yang telah menyeleweng atau tidak setia kami ajak untuk ‘back to basic’, kembali ke tugas, panggilan dan pekerjaan semula, yang utama dan pokok. Para suami-isteri hendaknya setia pada pasangannya masing-masing serta tidak tergoda untuk menyeleweng, para imam, bruder atau suster hendaknya setia pada janji imamat maupun kaul-kaulnya, para pelajar atau mahasiswa setia pada tugas belajar, para pekerja atau pegawai setia pada tugas dan tidak bercengkerama atau omong-omong selama waktu kerja/dinas dst… Yang tidak kalah penting kiranya masalah korupsi, maka kami berharap para pegawai, pekerja atau pejabat tidak korupsi; para pembuat proyek tidak membuat mark-up. Rasanya godaan paling kuat untuk menyeleweng adalah dalam hal keuangan, anggaran belanja atau pendapatan, maka hendaknya jujur dan transparan dalam hal pengelolaan uang, Jika orang tidak mampu mengurus apa yang kelihatan: harta benda atau uang apalagi mengurus yang tidak kelihatan yaitu hal-hal spiritual. Marilah kita renungkan sapaan Paulus kepada umat di Roma di bawah ini.



“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Rm5:1-2)



Kita semua telah menerima anugerah iman dan kasih karunia dari Allah serta ‘jalan’ atau pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Hendaknya anugerah, kasih karunia dan pengharapan tersebut jangan disia-siakan, dan marilah kita hayati atau wujudkan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari sesuai dengan tugas pekerjaan dan panggilan kita masing-masing. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan secara konkret senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan di dalam hidup sehari-hari.



Sesuai dengan tugas perutusan atau panggilan kita masing-masing, kita diutus untuk melakukan sesuatu dan percayalah bahwa jika Tuhan mengutus Ia juga menganugerahi kasih karunia atau kekuatan untuk melaksanakan tugas perutusan tersebut. Secara umum kita semua diutus untuk setia pada panggilan dan tugas perutusan yang memang dalam penghayatan konkret akan menghadapi aneka tantangan dan masalah, maka hadapilah tantangan dan masalah tersebut dengan atau bersama kasih karunia Tuhan, sehingga kita tetap bergairah atau penuh pengharapan dalam menghadapi tantangan dan hambatan. Tantangan dan hambatan yang lahir dari kesetiaan atas panggilan dan tugas perutusan adalah jalan menuju kemuliaan Allah yang akan dianugerahkan kepada kita, ‘penderitaan dan salib’ menuju ke kebangkitan dan hidup menurut Roh Kudus. Hadapilah aneka tantangan dan hambatan dengan gairah dan gembira alias penuh pengharapan, “pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Rm5:5-6). Ketika dalam menghadapi tantangan dan hambatan merasa diri semakin lemah dan tak berdaya, bukalah hati, jiwa, akal budi dan tubuh anda akan kasih karunia Allah, dan biarkanlah kasih karunia-Nya bekerja di dalam kelamahan dan ketidak-berdayaan kita. Kita adalah orang-orang berdosa, lemah dan rapuh yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi meneruskan atau mewartakan kasih karunia-Nya kepada sesama atau orang lain.



“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku” (Mzm95:6-9)



Jakarta,


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Berdoa Ampuh Redakan Amarah

Orang bisa marah atas sebab apa saja seperti mendapat kritikan, ada komentar yang tidak baik atau masalah dalam kehidupan sosial. Jika mengalaminya cobalah untuk berdoa, karena studi menemukan doa bisa mengurangi amarah.

Studi baru yang dilakukan oleh para peneliti dari Amerika Serikat dan Belanda menunjukkan bahwa berdoa dapat membantu meredakan kemarahan, menurunkan sifat agresif dan mengurangi dampak dari provokasi.

Brad Bushman, seorang profesor komunikasi dan psikologi dari Ohio State University dan juga penulis penelitian mengungkapkan bahwa orang sering beralih ke doa ketika ia merasakan emosi negatif, termasuk marah.

"Kami menemukan bahwa doa bisa membantu seseorang mengatasi kemarahannya, kemungkinan dengan membantunya mengubah cara pandang dalam melihat suatu peristiwa yang membuatnya emosional," ujar Bushman, seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (25/3/2011).

Dalam penelitian yang hasilnya dipublikasikan secara online di Personality and Social Psychology Bulletin menemukan bahwa berdoa dapat membantu seseorang mengontrol kemarahannya, terlepas dari apapun agama dan tingkat keimanannya.

"Dampak yang kami temukan dalam percobaan ini cukup besar, hasilnya menunjukkan doa benar-benar bisa menjadi cara yang efektif untuk menenangkan kemarahan dan agresi," ujar Bushman.

Ketika seseorang menghadapi kemarahannya mungkin bisa mempertimbangkan nasihat lama untuk berdoa dibandingkan memikirkan musuhnya. Hal ini akan membantu seseorang mengatasi emosi negatifnya.

Saat berdoa biasanya orang akan menjadi lebih tenang dan bernapas dengan teratur, kondisi ini bisa membuat seseorang menjadi lebih rileks sehingga bisa mengendalikan amarahnya.

Ketika kemarahan muncul, maka otot-otot menjadi tegang dan otak melepaskan zat kimia yang dapat menyebabkan ledakan energi. Kondisi ini memicu jantung untuk berdetak lebih cepat, meningkatkan tekanan darah, napas menjadi lebih cepat, aliran darah meningkat ke lengan, kaki dan wajah yang membuatnya menjadi memerah.

Pada beberapa orang tertentu kemarahan yang muncul seringkali diikuti dengan rasa sakit kepala baik tension headache (sakit kepala seperti ada yang mengikat kepala dengan ketat) atau migrain (hanya terjadi di satu bagian kepala saja) yang disebabkan oleh perubahan fisiologis yang terjadi di dalam tubuh. (Vera Farah Bararah, detikHealth)

Baca selengkapnya....

HOMILI: Hari Raya Kabar Sukacita (Yes 7:10-14; 8:10; Mzm 40:7-8a.8b-9.10.11; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38)


"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

"Atas pengumuman bahwa ia, oleh kuasa Roh Kudus akan melahirkan `Putera yang mahatinggi', tanpa mempunyai suami, Maria menjawab dalam `ketaatan iman' (Rm 1:5) dalam kepastian bahwa `untuk Allah tidak ada sesuatu pun yang mustahil': `Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu' (Luk 1:37-38). Dengan memberikan persetujuannya kepada Sabda Allah, Maria menjadi Bunda Yesus. Dengan segenap hati, ia menerima kehendak Allah yang menyelamatkan, tanpa dihalangi satu dosa pun, dan menyerahkan diri seutuhnya sebagai abdi Tuhan kepada pribadi dan karya Puteranya. Di bawah Dia dan bersama Dia dengan rahmat Allah yang mahakuasa, ia melayani misteri penebusan" (Katekismus Gereja Katolik, no 494). Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah sebagai umat beriman pada pesta "Kabar Sukacita" ini kita mawas diri perihal keimanan kita dengan cermin Bunda Maria.

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38)

"Ketaatan iman" itulah kiranya yang pertama-tama baik kita renungkan. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, demikian juga taat juga berarti mempersembahkan diri kepada mereka atau siapapun yang memberi perintah, nasihat atau saran, maka ketaatan iman berarti senantiasa mempersembahkan waktu dan tenaga kepada kehendak atau perintah Tuhan. Agar kita dapat taat kepada kehendak atau perintah Tuhan, hemat saya pertama-tama kita hendaknya taat pada aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita: suatu perintah yang cukup jelas. Maka baiklah kita senantiasa mentaati atau melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

Tuhan adalah maha kuasa atau maha segalanya, maka ketika kita berada di hadirat Tuhan mau tak mau pasti harus mentaati kehendak atau perintah-Nya. Kehendak atau perintah Tuhan antara lain dapat menggejala dalam kehendak baik, harapan, dambaan, seruan, teriakan, permintaan dst..dari saudara-saudari atau dalam aneka kebutuhan dan tuntutan ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya baik dalam binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Maka marilah kita dengarkan dengan rendah hati kehendak baik, harapan, dambaan, seruan, teriakan dan permintaan saudara-saudari kita serta kemudian kita tanggapi sesuai dengan kemungkinan dan kesempatan yang kita miliki, tentu saja juga perlu disertai dengan pengorbanan. Aneka tanaman dan binatang diciptakan oleh Tuhan untuk membantu manusia dalam mengejar tujuan diciptakan yaitu keselamatan jiwa manusia, maka hendaknya aneka tanaman dan binatang kita pelihara atau rawat dengan baik sesuai dengan ciri atau sifat masing-masing. Memang aneka tanaman dan binatang juga menjadi `konsumsi' kita, maka hendaknya tidak dengan serakah mengkomsumsinya agar tidak menimbulkan celaka bagi jiwa kita sendiri maupun jiwa orang lain atau anak-cucu kita di masa depan.

Kesanggupan Maria atas panggilan Tuhan untuk menjadi Bunda Penyelamat Dunia, hamil karena Roh Kudus bukan karena hubungan seksual dengan laki-laki, pasangan hidupnya, kiranya sungguh merupakan bentuk pengorbanan yang luar biasa. Anda rekan-rekan perempuan atau gadis dapat membayangkan betapa besar penderitaan atau pengorbanan yang akan dialami ketika mengandung di luar perkawinan atau nikah: aneka cemoohan atau ejekan akan dialami, dengan kata lain akan menanggung malu besar sekali. Dalam dan bersama Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin, dan kita tahu dampak kesanggupan Maria juga tak terlepas dari aneka derita, namun hasilnya luar biasa, yaitu karya penyelamatan dunia seisinya segera menjadi nyata atau terwujud, karena yang dikandung dalam rahimnya dan dilahirkan adalah Penyelamat Dunia. Marilah kita meneladan ketaatan atau kesanggupan Maria, artinya ketika kita menerima tugas berat dan mulia, hendaknya tidak takut dan gentar bahwa akan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin. Hadapi dan sikapi aneka tantangan, masalah atau hambatan yang lahir dari kesetiaan atau ketaatan pada kehendak Tuhan sebagai jalan atau wahana penyelamatan jiwa.

"Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibr 10:9-10)


Persembahan tubuh Yesus Kristus terjadi di kayu salib dan setiap kali kita kenangkan atau rayakan di dalam Perayaan Ekaristi, dimana kita juga diberi kesempatan untuk menerima tubuhNya, komuni suci, yang berarti kita disatukan dengan-Nya. Dengan kata lain setiap kali kita menerima komuni kuci kita diingatkan dan diperbaharui persembahan diri kita ketika dibaptis, yaitu hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Dengan pembapisan masing-masing dari kita telah dikuduskan, maka baiklah kita menghayati ini :"Aku datang untuk melakukan kehendak Mu".

Kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada hendaknya senantiasa melakukan kehendak Tuhan bukan keinginan atau kemauan pribadi. Maka hendaknya kita hidup dan bertindak tidak `semau gue', seenaknya sendiri, mengikuti selera atau minat pribadi. Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu agar dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam "datang untuk melakukan kehendak Tuhan'. Kami percaya bahwa dari anda masing-masing, baik suami maupun isteri atau laki-laki maupun perempuan, saling tertarik dan mendatangi dan kemudian menjadi suami-isteri diimani sebagai kehendak atau rahmat Tuhan. Dengan kata lain suami atau isteri memiliki pengalaman `datang untuk melakukan kehendak Tuhan', maka hendaknya pengalaman di masa pacaran atau tunangan tersebut terus diperdalam dan diperkuat selama menjadi suami-isteri sampai mati.

Bunda Maria kedatangan atau keberadaannya telah menjadi perwujudan janji atau kehendak Tuhan, sebagaimana diramalkan oleh nabi Yesaya : "Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." (Yes 7:14), dengan demikian kedatangan atau keberadaannya di dunia sungguh menjadi `kabar gembira'. Kita semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria, yaitu kedatangan atau kehadiran serta keberadaan kita dimanapun dan kapanpun hendaknya menjadi `kabar gembira' artinya menggembirakan atau menyelamatkan orang lain, terutama dan pertama-tama keselamatan jiwanya. Jika kita semua dapat menghayati panggilan ini, maka kehidupan bersama kita dimanapun dan kapanpun sungguh menggembirakan, menarik dan mempesona serta kita semua selamat, damai sejahtera baik jiwa maupun raga, phisik maupun spiritual.

"Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN. Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar." (Mzm 40:7-11)



Jakarta, 25 Maret 2011



Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

25 Maret: Hari Raya Kabar Sukacita

BACAAN I: Yes 7:10-14 – 8:10
MAZMUR TANGGAPAN: Mzm 40:7-8a.8b-9.10.11
BACAAN II: Ibr 10:4-10
BACAAN INJIL: Luk 1:26-38.

Kabar Sukacita adalah warta akan kedatangan Sang Penebus, Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam keseluruhan sejarah umat manusia, kedatangan Tuhan memang telah dinanti-nantikan. Maria, seorang gadis desa yang bersahaja dipilih oleh Allah untuk menjadi Bunda Sang Penebus. Injil Hari Raya Kabar Sukacita (Luk 1:26-38) mengisahkan bagaimana warta ini disampaikan kepada Maria. Kisahnya serba mengejutkan bagi Maria. Apa yang sedang terjadi sepertinya di luar pemahaman dan jangkauan pikiran Maria. Misalnya, Maria harus mengandung padahal ia belum bersuami. Anak yang dikandungnya akan disebut Putra Allah yang mahatinggi, apa pula ini? Malaikat Gabriel menantikan jawaban Maria. Syukur kepada Allah, Maria menjadi "YA" atas panggilan dan pilihan ini. Itu berarti, Maria memenuhi nubuat nabi Yesaya pada bacaan pertama hari raya Kabar Sukacita (Yes 7:10-14;8:10.

Di sebuah desa kecil, Nazaret, dimulai sesuatu yang teramat besar. Dari seorang gadis desa yang bersahaja, lahir seorang tokoh puncak segala bangsa dan semua orang: Tuhan Yesus Kristus. Kita diundang untuk bersyukur bagaimana Allah memulai yang besar justru mulai dari yang kecil, sederhana dan yang tidak berarti bagi dunia. Namun, inilah misteri iman yang kita rayakan pada Hari Raya Kabar Sukacita. Marilah kita tidak menghindari orang-orang, acara serta kegiatan yang kecil-kecil, sederhana, dan yang tampak tidak populer. Ingatlah, Allah bisa sedang memulai sesuatu yang besar disana!

Menarik untuk memperhatikan seorang ibu atau ayah mendidik putra-putrinya untuk berterima kasih. Pada umumnya - kalau saya salah, saya senang - seorang anak tidak serta-merta mengucapkan terima kasih kalau ia menerima sesuatu dari orang lain. Ibu atau Bapak atau orang yang dewasalah yang membantu anak itu untuk mengucapkan terima kasih kali si anak menerima sesuatu. Pelan-pelan, sampai pada waktunya, walaupun tidak ada yang menyuruh lagi, si anak akan mengucapkan terima kasih dari dirinya sendiri.

Pembinaan sendiri itu kiranya juga dialami oleh Bunda Maria dalam hal hidup beriman. Sedemikian sehingga ketika dihadapkan pada pilihan yang sulit Bunda Maria berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk 1:38). Bunda Maria hidup di lingkungan komunitas yang sering disebut "kaum miskin Allah". Spiritualitas dasar komunitas ini terungkap dalam Mzm 40:8 yang dikutip dalam Ibr 10:7, "Sungguh aku datang.... untuk melakukan kehendak-Mu." Spiritual inilah yang membentuk pribadi Bunda Maria."

Semoga devosi kita kepada Bunda Maria juga mendorong kita untuk membiarkan diri kita dididik oleh Sabda Tuhan yang telah membentuk pribadi Bunda Maria.

Silahkan mengucapkan doa ini berulang-ulang: "Sungguh aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku." (bdk. Ibr 10:7; bdk. Mzm 40:8-9)

Sumber: renungan E. Martasudjita, Pr dan Mgr. I. Suharyo pada buku Inspirasi Batin

Baca selengkapnya....

"Engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu" (Yer 17:5-10; Mzm 1:1-3; Luk 16:19-31)


"Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Luk 16:24-31), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Apa yang telah kita nikmati selama hidup di dunia ini? Apa yang telah kita nikmati di dunia nanti ketika meninggal dunia alias hidup di akhirat tidak akan dapat menikmati lagi dan hanya boleh menikmati apa yang belum pernah kita nikmati selama hidup di dunia ini. Dengan kata lain apa yang akan dapat kita nikmati di akhirat nanti adalah kebalikan dari apa yang telah kita nikmati di dunia ini. Misalnya: ketika di dunia ini kita hidup disiplin, maka di akhirat dapat hidup seenaknya, semau gue, sebaliknya ketika di dunia kita tidak disiplin, maka di akhirat nanti terus menerus dilatih hidup disiplin; di dunia ini kita tidak jujur, maka di akhirat dilatih jujur, dst.. Maka baiklah kami mengajak anda sekalian selama hidup di dunia ini untuk hidup baik dan berbudi pekerti luhur alias sungguh menghayati keutamaan iman, harapan dan cinta. Dari ketiga keutamaan ini yang terbesar adalah cinta, maka marilah selama hidup di dunia kita saling mencintai satu sama lain, tanpa pandang bulu/SARA. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah `yang terkasih' atau `buah kasih', hanya dapat hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya saat ini karena cintakasih. Jika selama di dunia ini kita saling mengasihi satu sama lain, maka di akhirat nanti kita dapat hidup seenaknya. Mengasihi berarti memboroskan waktu dan tenaga bagi yang dikasihi.

"Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yer 17:5-7), demikian firman Tuhan melalui nabi Yeremia. Marilah kita renungkan apa yang difirmankan oleh Tuhan ini. Kita diharapkan untuk `mengandalkan Tuhan, menaruh harapan pada Tuhan, bukan mengandalkan manusia atau kekuatan diri sendiri'. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan pada Tuhan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa diri kita maupun aneka kekuatan yang kita miliki saat ini adalah anugerah Tuhan, tanpa Tuhan kita tidak dapat hidup serta memiliki semuanya itu. Dengan kata lain hendaknya menyikapi sesama manusia maupun aneka kekuatan manusia sebagai `sarana' untuk semakin beriman atau berbakti kepada Tuhan, yang utama adalah Tuhan bukan sarananya. Maka kepada orang kaya, pandai, cerdas, berkedudukan, tampan, cantik, dst.. kami harapkan tidak menjadi sombong, melainkan rendah hati: ketika anda menerima pujian dan sorak-sorai dari banyak orang hendaknya dihayati sebagai `tangan-tangan Tuhan' yang menuntun anda untuk semakin rendah hati atau berbakti kepada Tuhan. Kita semua dipanggil sampai tingkat spiritual, tidak hanya manusiawi apalagi hartawi. Memang ketika kita manusia maka ada kemungkinan atau kemudahan untuk meningkat ke spiritual, maka kepada mereka yang masih bersifat materialistis kami harapkan segera meningkatkan diri ke manusiawi. Marilah di masa Prapaskah ini kita perdalam dan tingkatkan hidup spiritual atau keimanan kita, sehingga dengan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mzm 1:1-3)

Jakarta, 24 Maret 2011

Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

9 orang kaya

Thin 1923, sebuah pertemuan, diadakan di hotel Edgewater Beach, Chicago. Pesertanya 9 orang paling sukses di dunia Kevin waged it. Marcia Adele orang2 yang menemukan rahasia cara gampang menumpuk kekayaan.

Namun, apa yg terjadi puluhan tahun kemudian:

1. Charles Schawab, direktur perusahaan baja, meninggal dalam kebangkrutan. 5 tahun sebelum kematiannya, dia hidup dililit hutang.

2. Samuel Insuli, direktur perusahaan alat rumah tangga, mati sebagai buronan hukum dan hidup miskin di luar negeri.

3. Howard Hopson, direktur perusahaan gas terbesar, menjadi gila.

4. Arthur Cotton. pedagang tepung gandum, mati di luar negeri dalam keadaan pailit.

5. Richard Whitney, direktur bursa saham New York, menghabiskan waktu di penjara Sing-sing yang terkenal.

6. Albert Fall, anggota kabinet Presiden akhirnya dibebaskan dari penjara supaya bisa meninggal di rumah.

7. Jesse Livemore, "Beruang" terbesar di wall street, mati bunuh diri.

8. Ivan Kruger, pemegang monopoli, mati bunuh diri.

9. Leon Fraser, direktur bank Internasional settlements, mati bunuh diri. (sumber: Billy Rose, Pitching Horse hoes, 1948)


Sembilan orang itu tahu cara mengumpulkan uang, tetapi tidak tahu bagaimana harus hidup. Banyak orang mencari kebahagiaan dalam uang, harta, pernikahan, karir dan lainnya.

Kita sering menyembah "pemberian", bukannya menyembah sang Pemberi. Jika Anda punya berkat berlebih, jangan melupakan orang-orang yang kekurangan... Percayalah, di sana anda akan bertemu Tuhan... Gbu .

Oleh: Yohanes Wijaya

Baca selengkapnya....

"Anak Manusia datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Yer 18:18-20; Mzm 31:14-16; Mat 20:17-28)


Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat 20:21-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

"Datang untuk melayani dan memberikan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang" , inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Maka baiklah apapun tugas pekerjaan atau fungsi kita dalam hidup bersama, marilah kita hidup dan bertindak meneladan semangat Yesus tersebut. Untuk itu pertama-tama hendaknya apapun yang menjadi tugas pekerjaan atau kewajiban kita secara pribadi kita kerjakan sebaik mungkin, dengan kata lain bekerja keras dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan sesuatu" (Prof Dr Edi Setyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 10). Jika kita bekerja keras dalam melasknakan tugas atau kewajiban maka buah cara hidup dan cara bertindak kita akan membahagiakan atau menyelamatkan diri kita sendiri maupun mereka yang ikut menikmati buah kerja keras kita. Itulah kiranya artinya menjadi tebusan bagi banyak orang. Ketika kita semua bekerja keras dalam melaksanakan tugas atau kewajiban, maka kita semua secara otomatis tertebus, selamat dan damai sejahtera baik lahir maupun batin, jasmani maupun rohani. Para suami-isteri kiranya memiliki pengalaman konkret dalam melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi orang lain, yaitu pasangan hidupnya, maka baiklah mereka membagikan pengalaman tersebut kepada anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka.

"Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku! Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka" (Yer 18:19-20), demikian doa keluh kesah Yeremia ketika ia memperoleh ancaman untuk disingkirkan atau dibunuh dalam menghayati panggilan kenabiannya. Hidup beriman juga memiliki dimensi kenabian, yaitu panggilan untuk menjadi saksi iman dengan berbuat baik, hidup jujur, disiplin dst.. Dalam menghayati panggilan kenabian ini ada kemungkinan kita memperoleh ancaman untuk disingkirkan atau dibunuh, sebagaimana pernah terjadi dalam diri Munir, pejuang dan penegak hak asasi, kebenaran dan kejujuran. Baiklah ketika memperoleh ancaman macam itu segera kita persembahkan kepada Tuhan apa yang kita rasakan, atau takutkan. Percayalah dalam lindungan Tuhan kita dapat mengatasi ancaman, dan seandainya kita sendiri sungguh disingkirkan atau dibunuh, maka akan muncullah pengganti-pengganti kita yang lebih handal dan tangguh. Maka kami berharap kepada kita semua orang beriman untuk tidak takut dan tidak gentar menjadi saksi iman dalam hidup sehari-hari, antara lain dengan hidup baik, jujur dan disiplin. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur , Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Orang jujur akan hancur untuk sementara, namun akan mulia dan bahagia serta damai sejahtera untuk selamanya.

"Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, -- ada kegentaran dari segala pihak! -- mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!" (Mzm 31:14-16)

Jakarta, 23 Maret 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

INFO BUKU: Pendidikan Agama Katolik SMP - Remaja Menemukan Tuhan Dalam Hidup Nyata



Melalui buku pelajaran agama "Remaja Menemukan Tuhan Dalam Hidup Nyata 1-3, siswa diajak untuk mendalami seluruh pengalaman hidup mereka sehari-hari dan seluruh relasi yang mereka bangun bersama orang lain sebagai bagian dari kehidupan umat beriman.

Semoga para siswa dapat membuat hidup ini menjadi lebih bermakna bagi ...sesama maupun Tuhan melalui segala sikap maupun prilaku hidup sehari-hari.

Temukanlah Tuhan dalam hidup sehari-hari dan mengalami betapa Tuhan yang begitu pengasih, sangat mencintai kita dan menghendaki semua orang mengalami keselamatan.

* * *

Remaja Menemukan Tuhan dalam Hidup Nyata
Pendidikan Agama Katolik SMP
Penyusun: Dra. Liria Tjahaja, M.Si. ; Y.M. Seto Marsunu, S.S., M.Th; C. Iman Sukmana, S.Pd.Lic.Th.
@ Rp 30.000,-
dapat dipesan melalui http://www.obormedia.com/?q=content/pengajaran-agama-katolik

Baca selengkapnya....

INFO BUKU: Yesuskah yang disalibkan? (antara film the Messiah, Injil, dan Data Sejarah)


Siapakah yang sebenarnya disalibkan itu?

Yesus dari Nazaret ataukah orang lain? Masak sih Tuhan tega membiarkan utusan-Nya yang saleh dan telah banyak berbuat baik itu mati ternista di kayu salib? Demikianlah rentetan pertanyaan yang mau diusung oleh film The Messiah yang telah dirilis di Iran (2008).

Film ini menampilkan Yesus yang berbeda dengan kesaksin Injil Kanonik, bahkan menampilkan figur Yudas Iskariot yang telah “diserupakan” dengan Yesus dan akhirnya tersalibkan. Darimanakah sumber “imajinasi” film ini dan apakah itu bisa dipercaya? Bagaimanakah kesaksian data-data sejarahsekuler sebagai “pihak ketiga” tentang fakta penyaliban Yesus dari Nazaret?

Buku kecil ini bermaksud memberikan pencerahan untuk mencari solusi atas kontroversi yang telah dihembuskan oleh film The Messiah. Sebuah buku yang patut dimiliki oleh mereka yang ingin mempertanggungjawabkan imannya akan Yesus Kristus.

* * *

SEGERA TERBIT
Yesuskah Yang Disalibkan?
Antara Film The Messiah, Injil, dan Data Sejarah
F.X. Didik Bagiyowinadi Pr
Buku dapat dipesan melalui http://www.obormedia.com/?q=content/pengajaran-agama-katolik

Kisah tentang Yesus tidak akan pernah habis untuk diceritakan… (bdk. Yoh.21:25)

Baca selengkapnya....

"Barangsiapa terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Yes 1:10.16-20; Mzm 50:8-9; Mat 23:1-12)


"Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Mat 23:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Cukup banyak mereka yang terbesar dalam kehidupan bersama, entah menjadi besar karena kekayaan, kepandaian/kecerdasan, fungsi/jabatan/kedudukan dst.. sering menjadi sombong, senang memerintah bawahannya, bahkan tanpa sadar di manapun berada mereka juga dengan seenaknya memerintah dan minta dilayani. Sudah dilayani dengan baikpun mereka sering tetap rewel, mengeluh dan menuntut. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu". Menghayati sabda Yesus ini baiklah pertama-tama marilah kita sadari dan hayati bahwa segala sesuatu yang kita miliki, kuasai serta nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita atau melayani kita tanpa kenal lelah. Jika kita berani menyadari dan menghayati hal itu, maka kita akan tergerak untuk hidup penuh syukur dan terima kasih serta kemudian mewujudkan syukur dan terima kasih tersebut dengan melayani siapapun yang setiap hari hidup dan bekerja bersama kita. Kami berharap dan mendesak mereka yang `terbesar' atau paling berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama untuk senantiasa bersikap dan bertindak melayani. Jika anda menjadi pemimpin atau atasan hendaknya menghayati kepemimpinan partisipatif, antara lain dengan rendah hati mendengarkan keluh-keluh, dambaan, kesulitan, harapan dst, dari yang dipimpin, dan kemudian merenungkan apa yang didengarkan untuk selanjutnya diambil langkah atau tindakan yang menyelamatkan atau membahagiakan yang dipimpin, terutama dan pertama-tama adalah keselamatan atau kebahagiaan jiwa.
"Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang." Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya" (Yes 1:18-20), demikian Firman Tuhan melalui nabi Yesaya. Menjadi `penurut dan pendengar yang baik' itulah panggilan dan tugas pengutusan kita sebagai orang beriman kepada Allah. Marilah kita sadari dan hayati bahwa indera pendengaran merupakan indera yang pertama kali berfungsi dalam diri kita, serta perkembangan atau pertumbuhan kepribadian dan iman kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita dengarkan. Maka hendaknya pertama-tama kita dengarkan kehendak atau perintah Allah, antara lain tertulis di dalam Kitab Suci dan diusahakan untuk lebih operasional ke dalam aneka tata tertib hidup dan berkarya bersama. Firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci pertama-tama dan terutama untuk dibacakan dan didengarkan, maka baiklah setiap hari di dalam keluarga dibacakan dan didengarkan Firman Allah (mungkin perikop yang setiap hari saya kutip dapat digunakan). Untuk belajar menjadi `penurut atau pendengar yang baik' antara lain kita dapat mentaati dan melaksanakan tata tertib sekecil apapun yang terkait dengan hidup dan tugas pengutusan kita. Tentu saja kita sendiri harus dapat menertibkan atau mengatur diri sendiri dengan baik: makan dan minum teratur, istirahat/tidur teratur, bekerja atau belajar teratur dst.. Orang yang dapat mengatur diri serta melayani sesamanya sungguh dibutuhkan dalam kehidupan dan kerja bersama masa kini.

"Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu" (Mzm 50:8-9)

Jakarta, 22 Maret 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Misa arwah dalam rangka ceng beng

Dalam rangka ceng beng, Gereja Kristus Raja Solo Baru akan mengadakan Misa Arwah.

Jumat, 1 April 2011 pukul 17.30 bersama Rm Vincentius Bondhan Prima Kumbara, Pr bertempat di Gereja Kristus Raja Solo Baru.
Minggu, 3 April 2011 pukul 13.00 bersama Rm YC Heru Purnomo, Pr bertempat di Krematorium Delingan, Karanganyar.

Bagi anda yang ingin mengirimkan ujud doa dapat menghubungi Sekretariat Gereja Kristus Raja Solo Baru 0271 622334, atau Radio Metta FM 0271 665065.

Baca selengkapnya....

"Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Dan 9:4b-10; Mzm 79:8-9.11.13; Luk 6:36-38)

"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Luk 6:36-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• "Murah hati" secara harafiah kiranya dapat diartikan `hatinya dijual murah' alias memberi perhatian kepada siapapun dan dimanapun tanpa pandang bulu, sebagaimana Allah juga memperhatikan semua ciptaan-Nya di bumi ini. Masing-masing dari kita kiranya telah menerima perhatian dari Allah secara melimpah ruah melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita, memperhatikan kita dengan atau melalui aneka cara dan bentuk. Entah telah berapa ribu orang yang telah memperhatikan kita, kita tak sempat atau tak mampu menghitung atau mengingatnya., maka selayaknya kita memperhatikan semua orang alias meneruskan kemurahan hati tersebut kepada saudara-saudari atau sesama kita. Maka baiklah kita perhatikan lebih-lebih atau terutama mereka yang kurang menerima perhatian, misalnya yang miskin dan menderita, sakit, terasing atau terpenjara atau tinggal di daerah terpencil, yang kesepian, dst.. Jika mungkin pertama-tama kita kurbankan waktu dan tenaga kita untuk mendatangi mereka yang harus diperhatikan, dan ketika melihat apa yang mereka butuhkan untuk hidup sehat dan sejahtera, baiklah kita menyisihkan sebagian harta benda atau uang kita guna membantu mereka. Namun jika tak mungkin memberi perhatian secara phisik, baiklah di masa Prapaskah ini kita mendoakan mereka yang harus atau minta kita doakan. Kami berharap keutamaan `bermurah hati' ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan contoh atau teladan dari para orangtua, dan kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah. Tidak bermurah hati berarti tidak beriman atau tidak percaya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Para pemuka agama atau masyarakat dan Negara kami harapkan juga dapat menjadi teladan bermurah hati serta membina warganya untuk bermurah hati.

"Ya TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau. Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia, dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya"(Dan 9:8-10), demikian pengakuan dosa Daniel. Masa Prapaskah adalah masa mawas diri, menyadari kelemahan, kerapuhan dan dosa serta kasih karunia atau pengampunan Allah. "Dengan kata `dosa' dimaksudkan bahwa yang diganggu adalah hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah yang `seharusnya' ada, ternyata tidak ada. Itu bisa kesalahan manusia sendiri, atau kesalahan oran lain" (KWI: IMAN KATOLIK: Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 282). Manusia sebagai ciptaan Allah tidak ada hubungan dengan Allah berarti berdosa, atau hubungan dengan Allah tidak mulus atau lancar. Memang kemesraan hubungan dengan Allah hemat saya juga menjadi nyata dalam kemesraan hubungan dengan sesama manusia. Dengan kata lain mengakui diri sebagai orang beriman, yang berhubungan dengan Allah, seharusnya senantiasa berhubungan mesra dengan siapapun, alias tidak memusuhi orang lain, meskipun dirinya dimusuhi. Maka baiklah di masa Prapaskah ini kita mawas diri: apakah kita memusuhi orang lain dengan bentuk atau cara apapun. Jika kita memusuhi orang lain marilah dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita serta mohon kasih pengampunannya. Pada masa Prapaskah ini kiranya kita juga baik jika mawas diri perihal sikap kita terhadap
aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan atau pekerjaan kita. Ingatlah dan sadarilah bahwa aneka macam tata tertib merupakan sarana bagi kita semua agar tetap setia berhubungan mesra dengan Allah maupun sesama atau saudara-saudari kita.

"Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu! Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh! Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun " (Mzm 79:8-9.11.13) .

Jakarta, 21 Maret 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Warta Paroki: 19-20 Maret 2011

SARASEHAN KITAB SUCI

Minggu, 20 Maret 2011, pukul 10.00 Saudara diundang untuk hadir dalam Pertemuan Paguyuban Pecinta Kitab Suci dengan tema: Sorga: Apa yang ada dan kita alami di sana? Dimohon membawa Kitab Suci. Bersama Rm. A. Mangunhardjana, SJ

RAPAT PANITIA 95 TAHUN GEREJA PURBAYAN

Senin, 21 Maret 2011 pukul 18.30 Rapat Panitia 95 Tahun Gereja Purbayan bertempat di Aula Atas Gedung Paroki.

SAKRAMEN TOBAT

Selama Masa Prapaskah Sakramen Tobat pribadi dilayani sesudah Misa Harian Pagi atau sesudah Misa Sabtu Sore. Untuk Jadwal Sakramen Tobat umum akan diberitahukan lebih lanjut.

BUKU PANDUAN DOA JALAN SALIB

Tersedia buku panduan untuk doa Jalan Salib dengan harga Rp 3000 (tiga ribu rupiah). Saudara yang berminat dapat membeli di Sekretariat Paroki Purbayan.

DOA JALAN SALIB

Selama Masa Prapaskah, setiap Jumat akan diadakan Doa Jalan Salib dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi mulai pukul 17.00.

MISA WILAYAH

Selama Masa Prapaskah, Misa Wilayah ditiadakan. Kegiatan misa di wilayah dapat diganti dengan pertemuan Prapaskah atau pertemuan lain seturut kebutuhan masing-masing wilayah/lingkungan.

PAGUYUBAN KATEKIS

Rabu, 23 Maret 2011, pukul 18.00 Pertemuan Paguyuban Katekis, dengan tema: "Penghakiman orang mati: kapan dan siapa yang menghakimi dan dihakimi?". Bersama Rm. A. Mangunhardjana, SJ

PAGUYUBAN PRODIAKON

Jumat, 25 Maret 2011, pukul 18.30 pertemuan Prodiakon bersama Rm. A. Mangunhardjana, SJ dengan tema: Khotbah dan Homili serta Sakramen dan Sakramentali.

RETRET LANSIA

Bagi anda yang berusia lanjut dan berminat disegarkan dalam hidup rohani, anda diundang untuk mengikuti retret lansia pad tanggal 1-3 April 20
11 di Rumah Retret Sangkalputung, Klaten dengan tema "Yang berahmat dan berdaya pikat" bersama Rm. W. Kastowo, SJ. Pendaftaran: Sekretariat Paroki San Inigo, Dirjodipuran.

PAGUYUBAN PANGGILAN

Anda pemuda-pemudi, kelas III SLTA (SMU/SMK), semester akhir perguruan tinggi, lulus perguruan tinggi, dan sekarang bekerja? Anda tertarik untuk mengetahui arti, makna, dan penghayatan panggilan khusus di dalam Gereja, sebagai imam, biarawan, biarawati? Datanglah pada pertemuan peminat: "Seminari di luar tembok"

Hari/Tanggal: Minggu, 3 April 2011
Pukul: 10.00 WIB
Acara: Seluk Beluk Panggilan Khusus
Pembicara: Rm. A. Mangunhardjana, SJ

Pertemuan dimaksudkan hanya untuk menyampaikan informasi, bukan untuk membujuk dan memikat-mikat anda agar menjadi imam, biarawan, atau biarawati. Dengan demikian anda mengetahui betul-betul arti dan makna panggilan khusus. Jika bukan untuk anda, paling sedikit anda mengetahui apa sejatinya panggilan itu. Jika tidak tertarik, anda mengetahui alasan-alasannya, dan tidak menyesal di kemudian hari.

RETRET DOA

Bagi umat yang tertarik untuk mengetahui rahasia hidup doa, anda dapat mengikuti Retret "Mutiara di balik doa" bersama Rm. Jusuf Halim, SVD pada tanggal 15-17 April 2011 di Rumah Retret St. Maria Tawangmangu. Pendaftaran Novi (7552250), Maria (721997).

TUGAS PARKIR

Minggu ini 19-20 Maret 2011: Wilayah Ngrayapan
Minggu depan 26-27 Maret 2011: Wilayah Ignatius 17



PENGUMUMAN PERKAWINAN
Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan:

A. Pengumuman Ketiga


1. Oktafianus Tri Listianto dari Gombong dengan Chrisnaning Dyah Rahendra Sakti dari Keprabon

Bagi umat yang mengetahui adanya halangan pernikahan bagi masing-masing pasangan tersebut dimohon segera memberitahu Pastor Paroki.







BACAAN LITURGI

Senin, 21 Maret 2011: Hari Biasa Pekan II Prapaskah
Dan 9:4b-10; Mzm 79:8-9.11.13; Luk 6:36-38.

Selasa, 22 Maret 2011: Hari Biasa Pekan II Prapaskah
Yes 1:10.16-20; Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23; Mat 23:1-12

Rabu, 23 Maret 2011: Hari Biasa Pekan II Prapaskah
Yer 18:18-20; Mzm 31:5-6.14-16; Mat 20:17-28.

Kamis, 24 Maret 2011: Hari Biasa Pekan II Prapaskah
Yer 17:5-10; Mzm 1:1-4.6; Luk 16:19-31.

Jumat, 25 Maret 2011: HARI RAYA KABAR SUKACITA
Yes 7:10-14 – 8:10; Mzm 40:7-11; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38.

Sabtu, 26 Maret 2011: Hari Biasa Pekan II Prapaskah
Mi 7:14-15.18-20; Mzm 103:1-4.9-12; Luk 15:1-3.11-32.

Minggu, 27 Maret 2011: HARI MINGGU PRAPASKAH III
Kel 17:3-7; Mzm 95:1-2.6-9; Rm 5:1-2.5-8; Yoh 4:5-42 (Yoh 4:5-15.19b-26.39a.40-42).

Baca selengkapnya....

Sabtu-Minggu, 19-20 Maret 2011: Hari Minggu Prapaskah II

RITUS PEMBUKA

LAGU PEMBUKA

TANDA SALIB DAN SALAM

PENGANTAR

SERUAN TOBAT (TUHAN KASIHANILAH KAMI)
I. Saudara-saudari marilah mengakui bahwa kita telah berdosa supaya layak merayakan peristiwa penyelamatan ini.

I. Tuhan Yesus Kristus, Abraham telah diminta meninggalkan tanah air dan harta miliknya sebagai permulaan usaha penyelamatan oleh-Mu.
K. Tuhan, kasihanilah kami
U. Tuhan, kasihanilah kami.

I. Engkau telah menunjukkan jalan penderitaan sebagai jalan yang benar menuju kemuliaan sejati.
K. Kristus, kasihanilah kami
U. Kristus, kasihanilah kami.

I. Engkau telah menunjukkan salib sebagai cahaya kedamaian dan kebahagiaan.
K. Tuhan, kasihanilah kami
U. Tuhan, kasihanilah kami.

I. Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U. Amin.

TANPA KEMULIAAN

DOA PEMBUKA
I. Marilah berdoa
I. Allah Bapa kami yang mahamulia, di puncak gunung Engkau telah mewahyukan bahwa Yesus itu putera-Mu terkasih, bahwa Ia lebih agung dari pada nabi-nabi yang terbesar. Ajarilah kami mendengarkan dan menghayati sabda-Nya, berilah kami pengertian atas misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami yang bersama Dikau dan Roh Kudus hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa.
U. Amin.

LITURGI SABDA

BACAAN PERTAMA (Kej 12:1-4a)

"Panggilan Abraham, leluhur umat Allah."

Pembacaan dari Kitab Kejadian:
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN (PS 812)
Refr. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim dan belas kasih-Mu tak terhingga.
Ayat Mazmur:
1. Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; Bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
2. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut, dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

BACAAN KEDUA (2Tim 1:8b-10)

"Allah memanggil dan menerangi kita."

Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius:
Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus! Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Semua ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinya-takan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus. Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

BAIT PENGANTAR INJIL (PS 965)
Refr. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Solis. Dari dalam awan terdengarlah suara Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

BACAAN INJIL (Mat 17:1-9)

"Wajahnya bersinar bagaikan Matahari."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada suatu ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!" Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
I. Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

HOMILI

AKU PERCAYA

DOA UMAT

I. Allah mendengarkan doa Putera-Nya sendiri. Dengan perantaraan Yesus marilah kita berdoa kepada Bapa untuk kebutuhan-kebutuhan Gereja:

L. Bagi mereka yang merantau untuk bertugas di tempat yang jauh, dan bagi mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air, rumah, serta keluarga mereka karena kurang adanya cinta kasih di dunia kita ini: Ya Bapa, semoga di tempat kediaman yang baru mereka disambut dengan cinta kasih. Marilah kita berdoa kepada Tuhan:
U. Tuhan, semoga terang-Mu bercahaya atas umat-Mu.

L. Bagi semua keluarga disini: Ya Bapa, semoga semua keluarga di dunia ikut membangun dunia yang adil serta menampakkan cinta kasih Allah. Marilah berdoa kepada Tuhan.
U. Tuhan, semoga terang-Mu bercahaya atas umat-Mu.

L. Bagi para korban gempa dan tsunami di Jepang. Semoga Tuhan menerima mereka yang meninggal dunia dalam kedamaian abadi, dan bagi yang menderita berilah penghiburan dan bantuan yang memadai dalam semangat solidaritas kemanusiaan. Marilah berdoa kepada Tuhan:
U. Tuhan, semoga terang-Mu bercahaya atas umat-Mu.

L. Bagi mereka yang menghadapi kematian: Ya Bapa, semoga terang Allah menyinari mereka yang menghadapi saat-saat terakhir hidup mereka. Marilah berdoa kepada Tuhan:
U. Tuhan, semoga terang-Mu bercahaya atas umat-Mu.

L. Bagi mereka yang kehilangan iman kepada Tuhan dan yang kecewa dalam hidup ini: Ya Bapa, semoga perkataan dan perbuatan kami menunjukkan karya cinta kasih-Mu, sehingga dapat menyemangati mereka kembali. Marilah kita berdoa:
U. Tuhan, semoga terang-Mu bercahaya atas umat-Mu.

... hening sejenak ...

I. Allah Bapa kami, tolonglah kami untuk mendengarkan sabda Putera-Mu dan sudilah mendengarkan doa-Nya untuk kami. Sebab kami percaya kepada-Mu, Allah kami, untuk selama-lamanya.
U. Amin.

LITURGI EKARISTI

LAGU PERSIAPAN PERSEMBAHAN

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

I. Berdoalah, Saudara-saudari, supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang mahakuasa.
U. Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus.
I. Ya Bapa yang mahakudus, Yesus telah memberikan hidup-Nya bagi kami. Kesediaan untuk melaksanakan kehendak-Mu sampai tuntas, menjadikan-Nya sebagai kurban pepulih yang sempurna atas dosa-dosa kami. Sucikanlah diri kami, ya Bapa, berkat perjamuan kudus ini. Tegarkanlah niat kami untuk siap sedia dan setia menempuh jalan yang telah dirintis-Nya. Demi Kristus, Putera-Mu, Tuhan, dan pengantara kami.
U. Amin.

KUDUS
DOA SYUKUR AGUNG
BAPA KAMI

DOA DAMAI
I. Di depan mata para murid Kristus telah menampakkan kemuliaan-Nya dengan wajah bersinar seperti matahari dan pakaian putih gemerlapan. Kagum akan kedamaian yang dinikmatinya berserulah Petrus, “Guru, baiklah kita tinggal di sini.” Maka kami mohon Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa.
U. Amin.

ANAK DOMBA ALLAH
KOMUNI

DOA SESUDAH KOMUNI
I. Marilah berdoa:
I. Allah Bapa yang maharahim, Engkau menuntun umat-Mu melalui padang pasir, untuk Kau gembleng dengan cobaan-cobaan. Engkau telah menganugerahkan manna dari surga kepada mereka. Teguhkanlah kami juga dalam kesetiaan, berilah kami daya hidup baru, dan bimbinglah kami memasuki misteri Paskah Kristus, Tuhan, dan pengantara kami. Amin.
U. Amin.

RITUS PENUTUP

BERKAT

LAGU SYUKUR

Baca selengkapnya....