Social Icons

HOMILI: Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Yeh 34:11-12.15-17; Mzm 23:1-2a.2b-3.5-6; 1Kor 15:20-26a.28; Mat 25:31-46

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

Bapak teko, awake dewe poso” (= Bapak berkunjung, kita semua berpuasa), demikian keluh kesah atau gerutu para pedagang kaki lima dan tukang becak di wilayah kota Semarang ketika Presiden Soeharto berkunjung ke Semarang guna membuka Kongres Bahasa Jawa di sebuah hotel beberapa tahun lalu. Mengapa para pedagang kali lima dan tukang becak menggerutu dan merasa harus berpuasa, karena selama dua hari mereka ‘tidak boleh bekerja’ alias tidak boleh berdagang dan ‘mbecak’, demi kebersihan jalan-jalan kota Semarang yang mendapat kunjungan Presiden. Tidak bekerja berarti tak ada masukan sedikitpun bagi mereka, maka benarlah bahwa mereka mengatakan harus berpuasa. Pada tahun yang sama secara kebetulan Paus Yohanes Paulus II berkunjnng ke Indonesia, antara lain ke Yogyakarta bagi umat wilayah Keuskupan Agung Semarang. Pada peristiwa kunjungan Paus di Yogyakarta ini baik pedagang kaki lima maupun tukang becak sungguh diuntungkan, karena banyak orang yang memakai jasa mereka. Dan memang Paus pun juga minta agar diundang 20 tamu VVIP dalam kunjungannya, dan yang dimaksudkan dengan tamu VVIP tidak lain adalah mereka yang sakit, cacat, lansia, bayi dst.. . Pemimpin dunia memang berbeda dengan pemimpin agama, menejemen bernegara memang berbeda dengan manejemen menggereja. Pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam hari ini kita diajak untuk mengenangkan dan merefleksikan makna ‘raja’ serta fungsinya sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, maka marilah kita renungkan isi Warta Gembira hari ini.

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40)

Yesus, Raja Semesta Alam, datang dan melayani dalam kesederhanaan dan kemiskinan-Nya serta berpihak pada/bersama dengan yang miskin dan berkekurangan atau ‘yang paling hina’. Sebagai umat beriman atau beragama, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil untuk meneladan-Nya, khususnya mereka yang berfungsi sebagai pemimpin maupun yang berpartisipasi dalam kepemimpinannya. Paus, pemimpin Gereja Katolik senantiasa menyatakan diri sebagai ‘hamba dari para hamba yang hina dina’, sedangkan para uskup menyatakan diri sebagai ‘hamba yang hina dina’.

“Preferential option for/with the poor” = Keberpihakan kepada/bersama yang miskin, itulah salah satu prinsip hidup menggereja sebagai paguyuban umat beriman, yang harus kita hayati dan sebarluaskan. Untuk itu kita sendiri hendaknya hidup dan bertindak secara sederhana serta memiliki sifat-sifat sebagaimana dihayati oleh orang-orang miskin yang baik dan berbudi pekerti luhur. Maka baiklah di akhir tahun Liturgi ini kita mawas diri: apakah kita semakin tumbuh berkembang dalam iman sehingga semakin meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, yang sederhana dan miskin serta datang untuk memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan dengan rendah hati. Orang-orang miskin dan hina baik secara material maupun spiritual kiranya ada di sekitar kita, berada di lingkungan hidup maupun kerja kita, maka marilah kita perhatikan mereka dengan penuh pelayanan dan kerendahan hati. Ciri khas orang miskin yang baik dan berbudi pekerti luhur, antara lain: bekerja keras dan senantiasa siap sedia untuk mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya.

Berinspirasi pada Warta Gembira hari ini kita diharapkan memperhatikan mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, terpenjara dan sakit, entah secara material maupun spiritual. Untuk itu kita memang harus siap sedia berjuang dan berkorban. Memperhatikan secara material berarti siap sedia untuk mengorbankan sebagian kekayaan atau harta benda/uang kita bagi mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, terpenjara atau sakit. Sedangkan secara spiritual antara lain kita harus dengan suka rela dan jiwa besar berani memboroskan waktu dan tenaga kita bagi mereka yang ‘terasing, terpejara dan sakit’ maupun ‘lapar, haus dan telanjang’ secara spiritual alias mereka yang kurang diperhatikan alias yang paling hina. Kunjungan bersama kepada mereka yang sedang dipenjara, yang diasuh di aneka panti asuhan kiranya juga merupakan salah satu bentuk penghayatan iman kepada Yesus, Raja Semesta Alam, yang berpihak pada/bersama yang miskin dan berkekurangan. Selanjutnya marilah kita renungkan sapaan Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.

Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1Kor 15:22)

Kutipan di atas ini kiranya mengingatkan kita semua perihal janji baptis, yaitu ketika dibaptis kita berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan’. Maka baiklah pada Hari Minggu Terakhir tahun Liturgi atau Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam hari ini kita mawas diri perihal perkembangan penghayatan janji baptis, yang telah kita ikrarkan dengan bangga dan gembira ketika dibaptis.

Pertama-tama marilah kita mawas diri perihal ‘mati dalam persekutuan dengan Adam’ atau janji menolak semua godaan setan: apakah kita senantiasa menolak godaan setan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Godaan setan dalam menggejala dalam bentuk tawaran atau rayuan untuk ‘gila terhadap harta benda/uang, jabatan/pangkat/kedudukan atau kehormatan duniawi’. Yang paling menggoda pada masa kini kiranya harta benda atau uang sebagaimana telah menguasai para koruptor, karena dengan uang orang dapat hidup dan bertindak menurut kemauannya sendiri, meskipun untuk itu akhirnya akan menderita selamanya. Orang yang dirajai atau dikuasai oleh uang ketika tidak memiliki uang lagi pasti akan gila atau sinthing. Harta benda atau uang adalah ‘jalan ke neraka atau jalan ke sorga’, maka marilah sebagai umat beriman kita hayati uang sebagai ‘jalan ke sorga’, yang berarti semakin kaya akan uang hendaknya semakin suci, berbakti sepenuhnya kepada Tuhan.

“Mengabdi Tuhan Allah” berarti menjadikan Allah adalah Raja kita dan kita dikuasai atau dirajai oleh-Nya. Kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah-Nya, dan kiranya semua perintah atau kehendak-Nya dalam dipadatkan ke dalam perintah untuk ‘saling mengasihi satu sama lain sebagaimana Allah telah mengasihi’ kita. Allah telah mengasihi kita secara total sehingga kita dapat hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Saling mengasihi berarti saling memboroskan waktu dan tenaga satu sama lain, maka marilah kita saling memboroskan waktu dan tenaga alias saling memperhatikan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tenaga. Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi berarti kita sungguh mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam.

Jikalau Aku membuat binatang buas berkeliaran di negeri itu, yang memunahkan penduduknya, sehingga negeri itu menjadi sunyi sepi, dan tidak seorang pun berani melintasinya karena binatang buas itu, dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan; hanya mereka sendiri akan diselamatkan, tetapi negeri itu akan menjadi sunyi sepi. Atau jikalau Aku membawa pedang atas negeri itu dan Aku berfirman: Hai pedang, jelajahilah negeri itu!, dan Aku melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang”(Yeh 14:15-17). Kutipan dari Kitab Yehiskiel di atas ini kiranya menunjukkan betapa maha kuasanya Allah. Mereka yang tidak beriman kepada-Nya pasti akan segera dimusnahkan atau dihancurkan. Dengan kata lain kehancuran serta aneka macam musibah dan bencana alam yang sering terjadi masa kini antara lain karena kejahatan atau keserakahan manusia, buah ketidak-taatan manusia kepada Allah, Raja Semesta Alam.

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya “(Mzm 23:1-3)

Minggu, 20 November 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ