“Seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”. (Kis 11:19-26; Mzm 87:1-4; Yoh 10:22-30)


“Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kesatuan Yesus sebagai Gembala yang baik dengan Bapa yang mengutus-Nya juga dihayati dalam kesatuan-Nya dengan mereka yang percaya kepada-Nya. Siapapun yang percaya kepada-Nya tak akan mungkin jatuh ke tangan orang jahat atau berbuat jahat, melakukan tindakan-tindakan amoral. Dalam situasi dan kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun mereka yang percaya kepada Tuhan alias sungguh beriman tak akan berbuat jahat, tahan terhadap aneka godaan atau rayuan setan untuk melakukan kejahatan. Memang untuk itu sebagai umat beriman atau beragama kita harus sungguh bersatu padu. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, demikian kata sebuah pepatah. Marilah sebagai umat beriman atau beragama masing-masing dari kita memberi kesaksian bahwa kita sungguh bersatu dengan Tuhan yang menjadi nyata atau konkret dalam kesatuan dengan sesama umat beriman atau beragama. Kami berharap kepada para pemimpin atau petinggi dalam kehidupan bersama yang mengaku diri sebagai yang beragama juga sungguh beriman, sehingga dapat menjadi teladan dalam kesatuan atau persahabatan. Semoga para politisi tidak dengan licik memecah belah umat atau warganegara demi kepentingan pribadi atau golongannya sendiri. Hendaknya kesatuan suami-isteri juga menjadi kekuatan untuk membangun kesatuan dengan sesamanya, sehingga dalam kehidupan bersama di masyarakat terjadi kesatuan sejati, dan tiada orang jahat satupun.

· “Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan”(Kis 11:19-20), demikian sekilas info perihal kehidupan umat perdana. “Bless in disguised” = rahmat terselubung, itulah yang terjadi: penganiayaan menimbulkan penyebararan sehingga Injil atau Kabar Baik juga disebarluaskan. Apa yang terjadi di lingkungan umat perdana ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Marilah aneka penganiyaan atau penderitaan yang lahir karena kesetiaan pada iman, panggilan dan tugas pengutusan kita hayati sebagai kesempatan emas untuk menyebar. Dengan kata lain kepada rekan-rekan umat yang merasa sendirian, entah di tempat tinggal atau tempat kerja, kami harapkan menghayatinya sebagai kesempatan emas untuk mewartakan Kabar Baik, memberi kesaksian sebagai umat beriman. Kita hayati aneka tantangan, masalah atau hambatan bagaikan ‘api yang membakar emas murni’, sehingga semakin ditantang, dihambat atau dipermasalahkan berarti semakin beriman, semakin setia kepada Tuhan, semakin setia pada panggilan dan tugas pengutusan. Marilah kita hayati semangat kemartiran iman kita dalam aneka tantangan, hambatan atau masalah. Kita juga dapat belajar dari umat perdana, yaitu ketika tak mungkin menghadapi tantangan, masalah atau hambatan yang ada, baiknya untuk sementara menyingkir atau mengundurkan diri untuk mengusahakan kemungkinan-kemungkinan bersama dengan Tuhan dalam mengatasi masalah, tantangan atau hambatan tersebut, sebagai bentuk penghayatan bahwa kita senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, karena Tuhan tak pernah mungkin dibatasi oleh ruang dan waktu.

“Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah. Aku menyebut Rahab dan Babel di antara orang-orang yang mengenal Aku, bahkan Filistea, Tirus dan Etiopia: "Ini dilahirkan di sana." (Mzm 87:1-4)


17 Mei 2011

Romo Ignatius Sumarya, SJ