HOMILI: Sabtu-Minggu, 16-17 April 2011 - Hari Minggu Palma

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"

Mulai hari ini kita memasuki Minggu Suci, diawali dengan Minggu Palma dan diakhiri dengan Malam Paskah. Setelah sejak Rabu Abu kita berparitisipasi dalam matiraga dengan berpuasa, berpantang serta dalam aneka Aksi Puasa Pembangunan, entah yang bersifat phisik atau spiritual, kiranya kita semakin mengenal diri kita sendiri, lingkungan hidup, sesama kita serta Yesus yang kita imani. Maka kami berharap kita semua tergerak untuk semakin mengenal dan mengikuti cara hidup dan cara bertindak Yesus, sebagaimana disarankan oleh Paulus kepada umat di Filipi: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Fil 2:5-7)

"Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesus pun naik ke atasnya." (Mat 21:7)

Dalam rangka memenuhi tugas pengutusan-Nya untuk mempersembahkan diri dengan wafat di kayu salib, Yesus harus memasuki kota Yerusalem kembali. Yesus adalah Raja Abadi, dan Ia memasuki kota Yerusalem dengan naik keledai, dan mungkin pada saat itu keledai merupakan salah satu bantuan transportasi yang sering digunakan, apakah hal itu tergolong mewah atau sederhana tergantung cara memandang dan menyikapinya. Hemat kami Ia dengan kesederhanaan memasuki kota Yerusalem dan umat yang percaya kepadaNya dengan sederhana pula mengelu-elukan, apa adanya dan tidak bermewah-mewah atau bersandiwara. Marilah kita masuki Minggu Suci dengan sederhana, apa adanya, sesuai dengan keberadaan atau jati diri kita.

Jati diri kita yang benar dan mendasar adalah sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah. "Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan.Karena itu manusia harus mempergunakannya sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut sejauh itu merintangi dirinya.Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan. Maka dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan" (St Ignatius Loyola: LR no 23)

Umat ada yang melepaskan pakaian mereka untuk mengelu-elukan Yesus memasuki kota Yerusalem, hal itu menunjukkan bahwa mereka sungguh lepas bebas terhadap apa yang mereka miliki, kuasai dan nikmati saat ini serta menghayatinya sebagai anugerah Allah guna memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan Allah. Maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak anda sekalian dalam memasuki Minggu Suci ini sungguh dalam keadaan lepas bebas, agar dapat "menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus", memiliki budaya Yesus: cara melihat->cara merasa->cara berpikir-> cara bersikap -> cara bertindak Yesus. Lepas bebas berarti tidak memiliki kelekatan teratur terhadap ciptaan-ciptaan Allah lainnya di bumi serta serta hasil karya atau ciptaan manusia.

Memasuki Minggu Suci ini mungkin kita juga dapat membayangkan bahwa tak lama lagi kita akan dipanggil Tuhan alias meninggal dunia. Bukankah jika kita tahu tidak lama lagi akan dipanggil Tuhan akan tergerak untuk mawas diri secara mendalam, mengumpulkan sanak-saudara untuk mohon doa dan kasih pengampunan kepada mereka? Bukahkah kita tergerak untuk menelanjangi diri, dengan besar hati melepaskan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai saat ini? Dengan kata lain memasuki Minggu Suci ini marilah memasuki Minggu Suci dengan semangat rendah hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataanya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24)

"Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi" (Yes 50:4-6)

Kutipan dari Kitab Yesaya di atas ini kiranya menggambarkan semangat Yesus dalam memahkotai tugas pengutusan-Nya dengan wafat di kayu salib, yang hendaknya juga menjiwai semangat kita dalam memasuki Minggu Suci Kerendahan hati dan ketaatan itulah semangat atau jiwa yang harus kita hayati dalam memasuki Minggu Suci; kerendahan hati dan ketaatan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan, orang yang rendah hati pada umumnya taat dan sebaliknya orang yang taat juga rendah hati. Perihal kerendahan hati sudah saya angkat di atas, maka perkenankan disini saya mengangkat ketaatan untuk kita refleksikan.

Refleksi atau belajar perihal ketaatan antara lain kita dapat bercermin pada anggota-anggota tubuh kita. Bukankah anggota-anggota tubuh kita saling taat satu sama lain? Perhatikan sebagai contoh: mata melihat makanan, hidung mencium bau makanan, yang kemudian secara otomatis ada perintah kepada tangan untuk mengambil makanan, tanganpun segera mengirimkannya ke mulut, mulut mengunyah seperlunya dan langsung diteruskan ke usus/perut melalui leher. Yang paling taat dan rendah hati hemat saya adalah leher, termasuk tidak korupsi sedikitpun. Makanan ada kemungkinan ada yang tersisa atau tertinggal di tangan, di mulut, tetapi tak mungkin tertinggal di leher. Saling taat dan rendah hati satu sama lain dalam melaksanakan satu tugas makan itulah yang terjadi demi kesehatan atau kebugaran seluruh tubuh. Maka kami berharap kita saling taat satu sama lain dalam hidup dan kerja bersama, dengan kata lain masing-masing tidak mengikuti selera atau keinginan pribadi. Jika kita dapat saling taat satu sama lain, kiranya aneka tata tertib tidak akan menjadi beban bagi kita melainkan menjadi kebutuhan. Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam kehidupan dan kerja bersama dapat menjadi teladan penghayatan ketaatan dan kerendahan hati. Orang yang taat dan rendah hati ketika diejek atau dilecehkan orang lain pada umumnya juga tak akan marah atau mengeluh, bahkan ejekan atau pelecehan tersebut semakin membuat taat dan rendah hati.

"Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: "Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?" (Mzm 22;8-9)

Jakarta, 17 April 2011



Romo Ignatius Sumarya, SJ