Social Icons

HOMILI: Hari Minggu Biasa III (Yes 8:23b-9:3; Mzm 27:13-14; 1Kor 1:10-13.17; Mat 4:12-23)

"Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."

Pelaksanaan aneka aturan, tata tertib dan hukum di Indonesia sungguh memprihatinkan: amburadul. Yang membuat amburadul tidak lain adalah uang: uang sungguh menjadi raja, yang dengan penuh kuasa dapat mengacaukan atau memutar-balikkan pelaksanaan aneka aturan, tata tertib dan hukum di negeri tercinta Indonesia ini. Kasus Bank Century, joki napi, bandar narkoba di penjara/bui, Gayus yang dapat bepergian seenaknya padahal menjadi tahanan, dst. membuat semakin gelap pelaksanaan aturan, tata tertib dan hukum di negeri kita. Maka sedikit banyak boleh dikatakan bahwa `bangsa ini diam dalam kegelapan', dan jika tidak segera muncul `Terang' ada bahaya rakyat akan menjadi penegak pelaksanaan aturan, tata tertib dan hukum dengan secara langsung mengadili para koruptor di negeri ini. Suara-suara kritis sebagai `Terang' telah muncul di sana-sini, maka semoga mereka tidak jemu-jemu untuk terus menyampaikan kritiknya agar bangsa ini segera diam dalam terang, bebas dari aneka macam bentuk korupsi, kebohongan dan ke-amburadulan pelaksanaan aturan, tata tertib maupun hukum. Maka marilah kita renungkan atau refleksikan suara dari `Terang Sejati' di bawah ini.

"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 4:17)

Kerajaan Sorga berarti Sorga atau Allah yang meraja dan menguasai. Wujud penguasaan atau meraja antara lain menjadi nyata dalam manusia yang berkehendak baik, tanpa pandang bulu atau SARA. Kehendak baik tersebut antara lain disampaikan melalui lisan maupun tertulis: secara lisan misalnya dalam aneka macam diskusi atau pidato politik, sedangkan secara tertulis misalnya dalam aneka media cetak dalam bentuk karangan ilmiah, yang berusaha mewartakan kebenaran-kebenaran. Dengan kata lain benarlah bahwa "Kerajaan Sorga sudah dekat", maka `Bertobatlah'.

Bertobat berarti memperbaharui diri dengan meninggalkan apa yang jahat atau jelek dan kemudian mengusahakan apa yang benar atau baik. Untuk itu orang harus siap sedia dan rela berubah. Ingat dan hayati bahwa yang abadi di dunia ini adalah perubahan, maka barangsiapa tidak berubah akan ketinggalan dan tergilas oleh aneka perubahan yang sedang dan terus berlangsung. Perubahan atau pembaharuan diri hendaknya dimotori atau diawali oleh mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, entah di dalam keluarga, masyarakat, bangsa atau Negara, mengingat dan memperhatikan sikap feodal atau paternalistik begitu menjiwai hidup kita. Mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama ini antara lain: bapak/ibu, para pemuka agama, para pejabat pemerintah dari lurah sampai presiden beserta para pembantunya, dst..

Jujur atau kejujuran hemat kami merupakan nilai atau keutamaan ke arah mana kita harus berubah, sehingga kejujuran sungguh menjiwai kita semua. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahann, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Kami berharap jujur ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan bimbingan dan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu dan kemudian ditindak-lanjuti dan diperdalam di sekolah-sekolah dengan bimbingan dan teladan para guru/pendidik. Jika kita semua hidup dan bertindak dengan jujur kapanpun dan dimanapun, maka "Terang yang besar" menyinari kita semuanya, sehingga semua orang hidup dalam kebenaran serta tanpa takut memerangi aneka kebohongan dan kecurangan. Kepada mereka yang masih berbohong dan bertindak curang kami dambakan segera bertobat. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat atau memperbaharui diri.

"Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir" (1Kor 1:10)

Hidup persaudaraan atau persahabatan sejati sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan kita bersama masa kini dimanapun dan kapanpun, mengingat dan memperhatikan aneka macam bentuk percekcokan dan permusuhan atau saingan yang tidak sehat masih marak di sana-sini. Kita semua diharapkan `erat bersatu dan sehati sepikir', dalam kesatuan hati dan budi meskipun tindakan konkret dapat berbeda atau beraneka macam. Sebagai warganegara Indonesia marilah kita hayati motto `bineka tunggal ika', keragaman dalam kesatuan atau kesatuan dalam keragaman.

Dalam menghayati atau membangun persaudaraan atau persahabatan sejati kiranya kita dapat berpedoman pada saran atau nasihat Paulus ini, yaitu : "Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita."(1Kor 12:12-26)

Dalam hidup bersama hendaknya tidak ada iri hati, dan masing-masing pada tempatnya berfungsi seoptimal mungkin. Masing-masing dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan bekerja dan berfungsi sesuai dengan tugas, pekerjaan dan kewajibannya. Hendaknya mereka yang nampak lemah dan kurang dihormati lebih diperhatikan dan dihormati, yang dalam anggota tubuh kita tidak lain adalah alat kelamin, lemah namun terhormat. (Ingat memperkosa gadis berarti merampas kehormatannya!). Hendaknya masing-masing dari kita menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga tidak merangsang orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan.

"Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"
(Mzm 27:13-14)

Jakarta, 23 Januari 2011


Romo Ign Sumarya, SJ