Misa Kudus Peringati HUT Ke-70 Keuskupan Agung Semarang, Dimeriahkan Arak-arakan Boyong Dewi Maria Tani


Misa Kudus dalam rangka puncak HUT Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang ke-70 dilakukan ribuan umat Katolik di Halaman Gereja Santo Antonius Muntilan, kemarin. Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Leopoldo Girelli dan Kardinal Indonesia, Mgr Julius Darmaatmadja SJ, ikut memimpin misa. Tak hanya itu, sebanyak 13 uskup di Indonesia juga hadir.

MISA dimeriahkan dengan arak-arakan ‘Boyong Dewi Maria Tani’ yang dilakukan sekitar 500 umat dari Halaman SMA Van Lith Muntila ke halaman gereja. Mereka berasal dari berbagai paroki di wilayah KAS, seperti Paroki Sumber, Tumpang dan Salam di Kabupaten Magelang, Proki Boro, Promasan dan Nanggulan di Kulon Progo, Kalasan, Klepu dan Pakem di Sleman dan Paroki Sedayu di Kabupaten Bantul.

Pada arak-arakan itu, mereka membawa berbagai bibit tanaman, sejumlah alat pertanian seperti sabit, cangkul dan garpu tanahserta beberapa ekor kambing etawa. Tumpeng raksasa berupa hasil bumi dan makanan dengan tinggi sekitar 2,5 meter juga diikutsertakan. Selama prosesi, mereka diiringi alat musik dari beberapa grup kesenian tradisional dari beberapa desa baik di Jateng maupun Jogja.

Sesampainya di halaman gereja, mereka langsung menggelar rosario yang dipimpim Romo Banu Kurniawan, Pr. Lima peristiwa dalam perenungan dilakukan dengan cara ala peristiwa pertanian. Meliputi ‘Ngetung Mangsa’ yang maksudnya menghitung waktu secara tepat sebelum petani menanam padi, ‘Labuh’, menggarap tanah di sawah sebelum ditanami, ‘Tandur’, mulai menanam bibit padi, ‘Ngopeni’, memelihara tanaman supaya panen melimpah, dan ‘Manen’, memanen padi.

Dijelaskan Darmaatmadja, bahwa keputusan Roma untuk memisahkan Keuskupan Agung Semarang dari Keuskupan Agung Jakarta tahun 1940 lalu. Apalagi, dengan seorang pribumi sebagai uskupnya. “Saya nilai tepat, karena pada tahun itu terjadi pergolakan akibat penjajahan Jepang dan proses kemerdekaan Indonesia. Di sinilah peran seorang uskup pribumi sangat penting dalam membangun gereja Indonesia menyatu dengan bangsanya yang sedang mencari kemerdekaan itu," katanya.

Dalam pergolakan itulah, Presiden Soekarno pernah mengambil tempat di Jogja sebagai Ibu Kota Negara dan pada saat itulah Albertus Soegijapranata sangat dekat dengan pemerintah. Selanjutnya menjadi sejarah baru bagi gereja Indonesia yang semakin Indonesia mulai saat itu. Gereja Indonesia didahului para misionaris, Franciscus Georgius Josephus van Lith dengan para calon guru mendukung kemerdekaan Indonesia. "Sifat universal itulah mendukung kelokalan gereja itu sendiri, gereja Indonesia yang semakin Indonesia," tegas Darmaatmadja,

Sementara dalam homilinya, Coajutor Keuskupan Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Pr mengharapkan umat Katholik semakin dewasa dan terlibat berbagi berkat sesuai tema HUT KAS ke-70. Artinya, umat harus bisa membaca tanda-tanda zaman dengan terlebih dahulu merdeka. “Merdeka disini artinya umat sudah sadar dan yakin akan Allah sebagai asal dan tujuan manusia. Jika sudah demikian, maka kita harus bisa membaca tanda-tanda kehidupan dengan melakukan berbagai kebaikan kepada sesama,” tandas Suharyo. ***RADAR JOGJA


Baca selengkapnya....

Paus Kabulkan Pengunduran Diri Uskup Agung Jakarta

KOMPAS.com - Paus Benediktus XVI mengabulkan permohonan pengunduran diri Julius Kardinal Darmaatmadja SJ sebagai Uskup Agung Jakarta. Informasi yang diperoleh melalui surat elektronik dari Pastor Vikaris Episkopalis Keuskupan Agung Jakarta (Vikep KAJ) Andang L Binawan SJ pada Senin (28/6/2010) menunjukkan, Tahta Suci mengumumkan hal tersebut, Senin, pada pukul 12.00 waktu Roma atau pukul 17.00 WIB.

Menurut Hukum Kanonik Gereja Katolik, usia maksimal seorang uskup adalah 75 tahun. Lantaran sudah menempuh umur tersebut, Julius Kardinal, kelahiran Muntilan, Magelang, Jawa Tengah pada 20 Desember 1934 ini harus mengundurkan diri.

Terkait dengan peresmian tersebut, Monsinyur (Mgr) I. Suharyo yang sebelumnya menjabat sebagai uskup koajutor atau uskup pengganti sejak 28 Oktober 2009 lalu, menjadi Uskup Agung Jakarta. Suharyo, mantan Uskup Agung Semarang ini menjadi uskup yang ke-14 di KAJ.

Lebih lanjut, Andang menulis, pada Selasa (29/6/2010), pukul 18.00 WIB di Gereja Katedral Jakarta akan dilaksanakan perayaan ekaristi syukur berkenaan dengan keputusan tersebut.

Siapakah Mgr Suharyo?

KOMPAS.com — Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Benediktus XVI pada tanggal 25 Juli 2009 lalu telah menunjuk Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo Pr sebagai Uskup Koajutor pada Keuskupan Agung Jakarta.

Setelah tiga bulan menunda keberangkatannya ke Jakarta, Rabu (28/10) pagi tadi, ia secara resmi diterima sebagai Uskup Koajutor di KAJ. Penerimaan itu dilakukan dalam sebuah Misa Agung di Gereja Katedral Jakarta, dan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Julius Kardinal Darmaatmaja.

Lalu siapa sebenarnya Mgr Suharyo Pr?

Ignatius Suharyo lahir dari pasangan Florentinus Amir Hardjodisastra (alm) dan Ibu Theodora Murni Hardjodisastra di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada 9 Juli 1950. Ia memiliki 9 orang saudara, yaitu 3 perempuan dan 6 laki-laki. Satu dari 9 saudaranya telah meninggal.

Keluarga ini merupakan keluarga Katolik yang taat sehingga panggilan untuk hidup membiara tumbuh subur di keluarga ini. Selain Suharyo, seorang saudara laki-lakinya juga menjadi imam dan dua dari tiga saudarinya menjadi suster (biarawati). Mereka adalah Pastur Suitbertus Sunardi OSC, Sr Marganingsih, dan Sr Sri Murni.

Riwayat Pendidikan:
- SMA Seminari Mertoyudan, Magelang (1968)
- Sarjana Muda Filsafat/Teologi (1971)
- Sarjana Filsafat/Teologi FKSS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (1976)
- Doktor Theologi Biblicum Univ Urbaniana, Roma, Italia (1981)

Pengalaman :
1981-1991: Pengajar Sekolah Tinggi Kateketik STFK Pradnyawidya, Yogyakarta
1983-1993: Ketua Jurusan Filsafat dan Sosiologi-FIP IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta
1993-1997: Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1994-1996: Pengajar Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dan pengajar di Unika Parahyangan Bandung

1996-1997: Direktur Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1997: Ketua Konsorsium Yayasan Driyarkara

Karya penggembalaan:

- Dosen Pengantar dan Ilmu Tafsir Perjanjian Baru pada Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta (1989)
- Dosen di Sekolah Tinggi Kateketik Kotabaru
- Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang (sampai dengan 1997)
- Ketua UNIO (Persaudaraan Imam Imam Praja Keuskupan Agung Semarang)
- Penulis buku, artikel, penerjemah/penyadur.

Pada 21 April 1997, Bapa Sri Paus Yohanes Paulus II mengumumkan pengangkatannya menjadi Uskup Agung Semarang, menggantikan Julius Kardinal Darmaatmaja, SJ yang diangkat menjadi Uskup Agung Jakarta.

Suharyo ditahbiskan sebagai Uskup Agung Semarang di GOR Jatidiri Semarang dengan semboyannya: Serviens Domino Cum Omni Humilitate Act 20:19 yang artinya “Aku Melayani Tuhan dengan Segala Rendah Hati” (Kisah Para Rasul 20:19).

Pada 26 Januari 2006, Suharyo ditetapkan sebagai Uskup Militer, juga menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja SJ.

* Penulis: XVD
* Editor: primus/KOMPAS
* Penulis: C15-09
* Editor: msh /KOMPAS


Baca selengkapnya....

Tahbisan Imam Congregatio Missionarioum a Sacra Familia dan Societatis Jesu

A. Pada tanggal 20 Juli 2010 di Wisma Nazareth, Skolastikat MSF Banteng, Yogyakarta dari tangan Mgr. FX Prajasuta, MSF, Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin, 1 orang Frater Diakon Congregatio Missionariorum a Sacra Familia:

1. Albertus Feri Asmarajati dari Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Muntilan.

B. Pada tanggal 28 Juli 2010 di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta dari tangan Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta, 6 orang Frater Diakon dari ordo Societatis Jesu:

1. Albertus Buddy Haryadi dari Paroki Santo Lukas, Sunter, Jakarta.
2. Justinus Sigit Prasadja dari Paroki Santo Yohanes Rasul, Wonogiri.
3. Christoforus Kristiono Puspo dari Paroki Santo Robertus Bellarminus, Cililitan Jakarta.
4. Vincentius Seno Hadi Prakoso dari Paroki Santo Fransiskus, Cibadak, Bogor.
5. Paulus Bambang Irawan dari Paroki St Maria Lourdes, Sumber, Muntilan.
6. Stefanus Aris Budiyanto dari Paroki St Maria Assumpta, Klaten.

Sesuai dengan ketentuan hukum Gereja yang berlaku (KHK, kan. 1051| 2) informasi yang menyangkut sifat calon tertahbis tersebut, merupakan masukan bermanfaat bagi Administrator Diosesan.






Baca selengkapnya....

HOMILI: Hari Raya St Petrus dan St Paulus

HR St Petrus dan St Paulus : Kis 12:1-11; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya”

“Uskup Gereja Roma, yang mewarisi secara tetap tugas yang secara istimewa diberikan kepada Petrus, yang pertama di antara para rasul, dan harus diteruskan kepada para penggantinya, adalah kepala Dewan Para Uskup, Wakil Kristus dan Gembala Gereja universal di dunia ini, yang karenanya berdasarkan tugasnya mempunyai kuasa jabatan, tertinggi, penuh, langsung dan universal dalam Gereja yang selalu dapat dijalankannya dengan bebas” (KHK kan 331)

“Hidup yang dibaktikan dengan pengikraran nasihat-nasihat injili adalah bentuk kehidupan tetap di mana orang beriman, dengan mengikuti Kristus secara lebih dekat atas dorongan Roh Kudus, dipersembahkan secara utuh kepada Allah yang paling dicintai, agara demi kehormatan bagiNya dan demi pembangunan Gereja serta keselamatan dunia mereka dilengkapi alasan baru dan khusus, mengejar kesempurnaan cintakasih dalam pelayanan Kerajaan Allah, dan sebagai tanda unggul dalam Gereja mewartakan kemuliaan surgawi” (KHK kan 573 $ 1).

Kutipan dari Kitab Hukum Kanonik di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi dalam rangka merayakan St.Petrus dan St.Paulus, paus pertama dan rasul agung/ulung: Petrus yang duduk di tahta kepausan dan Paulus yang berkeliling dunia untuk mewartakan kabar baik kepada segala bangsa.

“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."(Mat 16:19)

Kutipan di atas ini adalah sabda Yesus kepada Petrus, paus pertama. Paus sebagai “Wakil Kristus dan Gembala Gereja universal di dunia ini” mengemban ‘kunci Kerajaan Sorga’, maka sungguh memiliki tugas mahaberat dan mulia. Meskipun Paus mempunyai kuasa jabatan tertinggi, Yang Mulia senantiasa menyatakan diri sebagai ‘servus servorum’ (hamba dari para hamba). Kepemimpinan di dalam Gereja memang kepemimpinan partisipatif, dimana sang pemimpin senantiasa mendengarkan yang dipimpin dengan rendah hati dan sepenuh hati agar pelayanannya sesuai kebutuhan yang dipimpin dalam rangka mengusahakan keselamatan jiwa. Maka meskipun memiliki kebebasan penuh, Paus tak pernah menggunakan kebebasan seenaknya, menurut keinginan pribadi, apalagi Paus adalah ‘kepala Dewan para Uskup’, yang berarti harus menghayati jabatan atau fungsinya dalam kolegialitas. Para Uskup juga memiliki kuasa tertinggi di wilayah keuskupannya, maka para Uskup mengambil bagian dalam jabatan kepemimpinan Paus, penerus.tahta St.Petrus.

Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya

(2Tim 4:17)

Kutipan di atas ini adalah pengalaman atau kesaksian Paulus yang disampaikan kepada Timotius dan kita semua. Paulus tergerak untuk meneladan Yesus ‘yang berkeliling dari desa ke desa, kota ke kotauntuk mewartakan Injil atau Warta Gembira. Paulus tanpa kenal lelah mewartakan Warta Gembira ke seluruh dunia, tanpa takut dan gentar menghadapi aneka tantangan, masalah, ancaman serta kesulitan. Paulus percaya sepenuhnya bahwa “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku”, maka bersama dan bersatu dengan Tuhan tiada ketakutan dan kegentaran sedikitpun. Apa yang dikerjakan oleh Paulus ini dalam perjalanan sejarah Gereja sampai kini dilakukan oleh aneka lembaga hidup bakti, biarawan-biarawati, sesuai dengan charisma atau spiritualitas pendiri mereka masing-masing. Maka terjadilah keaneka-ragaman pelayanan pastoral di dalam mewartakan Warta Gembira.

Konggregasi Suci untuk Lembaga Hidup Bakti dan Institut Sekuler bersama dengan Konggregasi Suci untuk Para Uskup : “DIRECTIVES FOR THE MUTUAL RELATIONS BETWEEN BISHOPS AND RELIGIOUS IN THE CHURCH” (1978)

Di dalam sejarah Gereja pernah terjadi ketegangan antara uskup dan pemimpin lembaga hidup bakti setempat atau pastor paroki dan paguyuban gerejani seperti Gerakan Kharismatik, Legio Mariae, Pemuda Katolik, PMKRI, dll.. Konggregasi Suci untuk Lembaga Hidup Bakti bersama Konggregasi Suci untuk Para Uskup pada tahun 1978 menerbitkan Arahan untuk Hubungan Timbal Balik (“Mutuae Relationis”) antara para uskup dan lembaga hidup bakti. Isi dokumen ‘Mutuae Relationis’ ini kiranya baik sekali kita hayati dalam rangka merayakan pesta St.Petrus dan St.Paulus, dua pribadi yang berbeda satu sama lain namun bekerjasama dengan baik.

Kerjasama kiranya merupakan keutamaan yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan semakin maraknya permusuhan, pertentangan, cekcok dst.. dalam kehidupan dan kerja bersama. Bekerjasama berarti saling memberi dan menerima, melayani, mendengarkan, memperhatikan, mengasihi dst.. , sebagaimana terjadi dalam umat Gereja Purba, dimana “semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.”(Kis 2:44-47)

Cara hidup umat Gereja Purba tersebut kiranya dapat menjadi inspirasi atau teladan bagi kita semua pada masa kini dalam rangka memperkuat dan mengusahakan kerjasama baik dalam hidup bersama maupun kerja. Sikap mental kerjasama hemat saya sedini mungkin hendaknya dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga serta kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah. Kerjasama di tingkat paroki maupun keuskupan hendaknya juga diperkuat dan diperdalam terus menerus. Salah satu usaha memperkuat dan membangun kerjama antara lain dimulai dengan menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam bersama-sama, sehingga apa yang berbeda di antara kita akan fungsional memperteguh atau memperkuat kerjasama. Dengan kata lain hendaknya jangan membesar-besarkan perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada di antara kita bersifat fungsional agar pelayanan pastoral Gereja dapat menjangkau semua kalangan atau tingkat kehidupan yang ada. Marilah kita belajar bekerjasama dari anggota-anggota tubuh kita, yang bekerjasama dengan baik, dimana masing-masing anggota di tempat masing-masing dan fungsional sepenuhnya bagi kebutuhan seluruh tubuh. Tidak ada iri hati di antara anggota tubuh kita.

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.” (Mzm 34:2-7)

Jakarta, 29 Juni 2010


Ign Sumarya, SJ


Share|

Baca selengkapnya....

Warta Gereja 26-27 Juni 2010

WARTA GEREJA SANTO ANTONIUS PURBAYAN

PANITIA PEMBANGUNAN WISMA USKUP KAS

Pada hari Sabtu dan Minggu ini dibuka Stand Pembangunan Wisma Uskup Keuskupan Agung Semarang. Bagi umat yang secara khusus hendak mendukung pembangunan tersebut, silahkan menghubungi panitia pada stand di depan Gereja setelah misa atau melalui rekening BCA Cabang Ungaran No Rekening: 222.77.88.999 atas nama TP Wisma Uskup & Kantor KAS.

MISA WILAYAH

Selasa, 29 Juni 2010 Misa Wilayah Kronelan dan Ngrayapan
Kamis, 01 Juli 2010 Misa Wilayah Bangunharjo dan Kampung Sewu


JUMAT PERTAMA

Jumat, 02 Juli 2010 adalah Jumat Pertama dalam bulan. Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan kepada Hati Yesus. Perayaan Ekaristi pagi hari pukul 05.30 dan 06.15, sore hari pukul 17.00 dilanjutkan dengan Adorasi.


DONOR DARAH


Minggu, 27 Juni 2010, Donor Darah bertempat di SD Kanisius Keprabon 2 Pukul 08.00 - 12.00. Seluruh umat diundang berpartisipasi.

SOUVENIR TAHUN SYUKUR KAS

Setelah Misa Sabtu dan Minggu di Gereja dijual souvenir Tahun Syukur KAS.

CREDIT UNION


Seluruh umat diundang untuk menjadi anggota Credit Union Cempaka Purbayan
untuk melayani simpan pinjam. Keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi Kantor CU di depan Toko Buku Purbayan.

KOLEKTE KEDUA

Kolekte Kedua, Sabtu dan Minggu, 26 dan 27 Juni 2010 untuk Perawatan Gereja Santo Antonius Purbayan.

LOWONGAN KERJA SEKRETARIAT PURBAYAN

Sekretariat Paroki Purbayan membutuhkan tenaga keuangan dengan syarat-syarat sebagai berikut: 1) Pria (max. 35 tahun), 2) Katolik, 3) D3/S1 Akuntansi, 4) Berpengalaman di bidangnya, 5) Paham dan terampil dalam aplikasi komputer dasar dan keuangan umum. Lamaran diajukan kepada DEWAN PAROKI ST. ANTONIUS PURBAYAN, JL ARIFIN 1, SURAKARTA. Lamaran diperpanjang hingga 12 JULI 2010.


PDKK OMK MISSIO DEI ST ANTONIUS PURBAYAN

Kegiatan: Aula Atas Gedung Paroki Gereja Katolik St. Antonius, Purbayan, Solo.
Waktu :
Tiap Rabu minggu ke-2, Pukul 18.45 WIB
Tiap Rabu minggu ke-4, Pukul 18.45 WIB

TAHBISAN IMAM

A. Pada tanggal 29 Juni 2010 di Kapel Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta akan menerima Tahbisan Imam dari tangan Mgr Johannes Pujasumarta, Uskup Keuskupan Bandung, 9 Frater Diakon Diosesan Keuskupan Agung Semarang:
1. Aloysius Triyanto dari Paroki St. Theresia Lisieux, Boro, DIY
2. Dominikus Kristiono dari Paroki SPM Bunda Penasihat Baik, Wates, DIY
3. Antonius Hadi Cahyono dari Paroki St Aloysius Gonzaga, Mlati, DIY
4. Yohanes Gunawan dari Paroki SP Maria Bunda Kristus, Wedi, Klaten
5. Aloysius Dwi Prasetyo dari Paroki St. Theresia, Salam, Magelang
6. Agustinus Agus Widodo dari Paroki SPM Lourdes Promasan, DIY
7. Yoseph Nugroho Tri Sumartono dari Paroki St. Theresia, Salam, Magelang
8. Yuvensius Deny Sulistiawan dari Paroki SPM Bunda Penasihat Baik, Wates, DIY
9. Vincentius Bondhan Prima Kumbara dari Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus, Pugeran, Yogyakarta.

B. Pada tanggal 20 Juli 2010 di Wisma Nazareth, Skolastikat MSF Banteng, Yogyakarta dari tangan Mgr. FX Prajasuta, MSF, Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin, 1 orang Frater Diakon Congregatio Missionariorum a Sacra Familia:

1. Albertus Feri Asmarajati dari Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Muntilan.

C. Pada tanggal 28 Juli 2010 di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta dari tangan Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Koajutor Keuskupan Agung Jakarta, 6 orang Frater Diakon dari ordo Societatis Jesu:

1. Albertus Buddy Haryadi dari Paroki Santo Lukas, Sunter, Jakarta.
2. Justinus Sigit Prasadja dari Paroki Santo Yohanes Rasul, Wonogiri.
3. Christoforus Kristiono Puspo dari Paroki Santo Robertus Bellarminus, Cililitan Jakarta.
4. Vincentius Seno Hadi Prakoso dari Paroki Santo Fransiskus, Cibadak, Bogor.
5. Paulus Bambang Irawan dari Paroki St Maria Lourdes, Sumber, Muntilan.
6. Stefanus Aris Budiyanto dari Paroki St Maria Assumpta, Klaten.

Sesuai dengan ketentuan hukum Gereja yang berlaku (KHK, kan. 1051| 2) informasi yang menyangkut sifat calon tertahbis tersebut, merupakan masukan bermanfaat bagi Administrator Diosesan.


PETUGAS KOR DAN ORGANIS
Sabtu, 26 Juni:
Sore:
Misa I pk. 16.30 Keprabon, Keprabon
Misa II pk. 18.00 Ngrayapan, Rini

Minggu, 27 Juni:
Pagi:
Misa I pk. 05.30 Purwodiningratan, Purwodiningratan
Misa II pk. 07.00 Bangunharjo, Lingsih
Misa III pk. 08.30 PD St Antonius, PD St Antonius

Sore:
Misa I pk. 16.30 Kampung Sewu, Handoko P.
Misa II pk. 18.00 Gandekan, Ika

PETUGAS LEKTOR
Sabtu, 26 Juni:
Sore:
Misa I pk. 16.30 Eva, Shelvy
Misa II pk. 18.00 Nila, Gina
Minggu, 27 Juni:
Pagi:
Misa I pk. 05.30 Hengky, Kartini
Misa II pk. 07.00 Shinta, Wiwik
Misa III pk. 08.30 Reno, Cicilia
Sore:
Misa I pk. 16.30 Ajeng, Sapto
Misa II pk. 18.00
Okta, Inung

PENGUMUMAN PERKAWINAN
Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan:
A. Pengumuman Pertama
1. Caesar Indra dengan Fransiska Yusnani S.
2. Patrick Andrias M.T dari Kedunglumbu dengan Paramita Dewi dari Klaten.

B. Pengumuman Kedua
1. Thomas Raden Teguh dari Bekasi dengan Theodora Tulussiana dari Sangkrah.
2. Laurentius Verry dari Sudiroprajan dengan Magdalena Indriati dari Ngrayapan.
3. Mikael Heru Kartanto dari Kebalen dengan Ika Yunita.
4. Brawara Gyantarta dari Purwokerto dengan Irene Junita dari Kemlayan.
5. Lukas Andi Kristianto dari Grobogan dengan Fransiska Novi dari Ketelan.
6. Yosef Tondo dengan Syenni Sicilia keduanya dari Kartasura.
7. Stefanus Tek Oen dari Tegalharjo dengan Florentina Pamela dari Kemlayan.
8. Robby Bachtiar dari Purwodiningratan dengan Kiki Septiani dari Nusukan.
9. Ignatius Adek Lekmana dengan Fransiska Agusti Dwi keduanya dari Mojosongo.

C. Pengumuman Ketiga
1. Christian Andhi Nugroho dari Jebres dengan Margareta Herlina dari Gandekan.
2. Yohanes Yuntha Erry Praba dengan Angelia Sophia Dewi keduanya dari Ketelan.
3. Yohanes Dwidjo Lukito dengan Theresia Herida Halim keduanya dari Sudiroprajan
4. Rendy Hendro Kuncoro dari Nusukan dengan Angela Agnes Suci Dewi dari Gandekan.
5. Fajar Listiyono dengan Yosepha Rosalia Susanti keduanya dari Sudiroprajan.

Barangsiapa mengerti halangannya wajib memberitahukan kepada Romo Paroki.

TUGAS MENGATUR BUNGA:
Sabtu, 03 Juli 2010; Ibu-ibu Wilayah Kedung Lumbu mendapat tugas mengatur bunga di Gereja.

MINGGU YANG AKAN DATANG, 04 JULI 2010
HARI MINGGU BIASA XIV


BACAAN LITURGI
28 Juni 2010 : Pw S. Ireneus
Am. 2:6-10,13-16; Mzm. 50:16bc-17,18-19,20-21,22-23; Mat. 8:18-22; atau dr RUybs

29 Juni 2010 : HARI RAYA ST PETRUS dan ST PAULUS
Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19

30 Juni 2010 : Hari Biasa
Am. 5:14-15,21-24; Mzm. 50:7,8-9,10-11,12-13,l6bc-17; Mat 8:28-34

1 Juli 2010 : Hari Biasa
Am.7:10-17, Mzm.19:8,9,10,11; Mat.9:1-8

2 Juli 2010 : Hari Biasa
Am. 8:4-6,9-12; Mzm. 119:2,10,20,30,40,131; Mat. 9:9-13

3 Juli 2010 : Pesta S. Tomas
Ef. 2:19-22; Mzm. 117:1,2; Yoh. 20:24-29

4 Juli 2010 : Hari Minggu Biasa XIV
Yes. 66:10-14c; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20; Gal. 6:14-18; Luk. 10:1-12,17-20 (Luk. 10:1-9)


Baca selengkapnya....

Saran Nyanyian Juni-Juli 2010

Minggu, 20 Juni 2010
HARI MINGGU BIASA XII
Tema : Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.
PS. 325, 538 (bait 4-7), 539, 546, 548, 684, 843, 961.
349, 350, 391, 412


Minggu, 27 Juni 2010
HARI MINGGU BIASA XIII, MISA SYUKUR KAS
Tema : Pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.
PS 682, 683, 688, 690, 693, 697, 840, 960.
351, 352, 392, 413

Minggu, 04 Juli 2010
HARI MINGGU BIASA XIV
Tema: Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit.
PS. 323, 591, 688, 677, 703, 830, 952.
585/592, 358, 395, 416

Minggu, 11 Juli 2010
HARI MINGGU BIASA XV
Tema : Siapakah sesamaku?
PS. 337, 366, 368, 663, 701, 702, 818, 961.
359, 360, 396, 417

Minggu, 18 Juli 2010
HARI MINGGU BIASA XVI
Tema : Menerima, mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya.
PS. 335, 384, 430, 432, 549, 696, 848, 956.
359, 361, 399, 417


Baca selengkapnya....

Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem. Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi

Sabtu Sore 26 Juni, dan Minggu 27 Juni 2010

HARI MINGGU BIASA XII/C

1Raj 19:16b.19-21; Mzm 16:1-2a.5.7-11; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62.


TUJUAN PERJALANANNYA

Rekan-rekan yang baik!
Bacaan dari Luk 9:51-62 bagi hari Minggu Biasa XIII tahun C berawal dengan kalimat "Ketika sudah hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, ia mengarahkan pandangannya untuk pergi ke Yerusalem." Dalam Injil Lukas perjalanan dari Galilea menuju ke Yerusalem melewati Samaria (Luk 9:51-19:28) mendapat perhatian istimewa dan membingkai pengajaran serta tindakan-tindakan Yesus selama perjalanan tadi. Banyak bahan dalam sepuluh bab ini hanya ditemukan dalam Injil Lukas. Marilah kita dekati beberapa gagasan khas dalam bagian itu.

KE YERUSALEM

Ungkapan "mengarahkan pandangan" di sini artinya "berkeputusan/bertekad". Jadi ditegaskan Yesus bertekad pergi ke Yerusalem. Dalam Luk 9:51 kota itu dieja sebagai "Ierousaleem". Ini cara Lukas membicarakan kota itu dalam hubungan dengan mereka yang menolak kedatangan Yesus. Bila ditulis sebagai "Hierosolyma", kota itu tampil sebagai tempat yang bersedia menerimanya. Pada awal perjalanan ini kota itu disebut "Ierousaleem", tapi nanti menjelang akhir perjalanan, Luk 19:28, kota itu ditulis sebagai "Hierosolyma". Di sana Yesus menjumpai ke dua sisi kota itu. Para pemimpin menolaknya, tetapi di kota itu pula nanti ia diterima sepenuhnya oleh Bapanya.

Kedua sisi kota itu menyertainya di sepanjang perjalanannya. Dikatakan dalam Luk 13:22, Yesus mewartakan kebaikan Tuhan dengan mengajar dari kota ke kota dan dari desa ke desa dalam perjalanan menuju ke "Hierosolyma". Tetapi dalam Luk 17:11-19 dari sepuluh orang kusta disembuhkannya hanya satu kembali memuliakan Tuhan. Ini diceritakan terjadi dalam perjalanan menuju ke "Ierousaleem". Tidak semua orang yang memperoleh kebaikan dapat sungguh-sungguh menerimanya.

Disebutkan juga dalam Luk 9:51 bahwa hampir tiba waktunya ia "diangkat ke surga". Dalam teks Yunaninya, pengertian ini diungkapkan dengan kata "analeempsis", harfiahnya "pengangkatan ke atas". Ini terjadi nanti setelah mengalami penderitaan, wafat, dan kebangkitan berkat kemurahan dan perhatian Yang Mahakuasa yang disebutnya Bapa dan yang diajarkannya kepada orang banyak. Gagasan "analeempsis" menjadi lebih jelas bila dijajarkan dengan "exodos", yakni "tujuan perjalanan" yang disebut dalam Luk 9:31 dalam peristiwa penampakan kemuliaan di gunung Luk 9:28-36. (Lihat Dag-dig-dug...Byaar! [Yogyakarta:Kanisius 2004] hal. 177-182.) Tujuan perjalanan yang dimaksud di situ ialah kota Yerusalem, ditulis dalam bentuk "Ierousaleem", sama seperti Luk 9:51, yakni kota yang akhirnya kurang bersedia menerimanya. Namun demikian, ia malah diangkat ke atas, ke surga, justru ketika orang-orang yang didatanginya makin keras menolaknya! Inilah pokok pikiran yang hendak disampaikan Lukas kepada pembaca Injilnya.

Menuju Yerusalem yang tampil dengan dua sisi itu memberi arti lebih kepada semua kisah dan pengajaran yang disampaikan Lukas dalam Luk 9:51-19:28. Pembaca zaman kini sebaiknya memakai gagasan "menuju ke tempat ia ditolak orang-orangnya, tetapi diluhurkan Bapanya" itu sebagai makna dasar dari tiap kejadian dan pengajaran yang disampaikan sepanjang perjalanan tadi.

MENYAMPAIKAN "AJARAN YANG BENAR"?

Pada awal perjalanan tadi diceritakan Yesus mengutus beberapa murid mendahului ke sebuah desa di Samaria untuk mempersiapkan kedatangannya di situ. Lukas memakai motif tentang utusan mengabarkan kedatangan tokoh keramat atau Tuhan sendiri. Motif ini juga dijumpai dalam pengisahan Injil-Injil mengenai Yohanes Pembaptis yang datang mendahului Yesus. Pembaca dari zaman dulu yang masih peka akan motif ini langsung mengerti bahwa Yesus yang kedatangannya didahului pewartanya itu ialah seorang tokoh keramat. Nanti sebelum mengadakan perjamuan terakhir, Yesus mengutus dua orang muridnya untuk menyiapkan ruang perjamuan (Luk 22:8-13, lihat Mrk 14:13-16, Mat 26:18-20). Sekali lagi, pembaca diajak memahami peristiwa perjamuan malam itu sebagai peristiwa keramat.

Bagaimana dengan kedatangan Yesus ke sebuah desa di Samaria? Di situ orang Samaria tidak mau menerimanya. Mereka menolak. Dalam alam pikiran dulu, penolakan terhadap tokoh keramat serta-merta mendatangkan kutukan. Karena itu Yakobus dan Yohanes ingin berbuat seperti yang lazim dilakukan, yakni mengucapkan kutukan terhadap orang Samaria (ayat 54). Dalam pandangan umum orang Yahudi, orang Samaria memang patut dikutuk karena tidak lagi memeluk "ajaran yang benar", maksudnya, ajaran agama Yahudi (entah yang di Galilea atau yang ada di Yudea/Yerusalem sendiri). Orang Samaria yang tinggal di antara kedua wilayah tadi dianggap murtad. Dalam Perjanjian Lama diceritakan orang Samaria memusuhi Nabi Elia sang utusan Tuhan dan oleh karenanya dua kali pasukan yang dikirim raja untuk menangkapnya hancur binasa kena kutukan api yang datang dari langit! (2 Raj 1:10 dan 12). Yakobus dan Yohanes berpikir dengan cara itu. Orang Samaria mereka anggap tak mau "menerima ajaran yang benar" yang dibawakan Guru mereka dan oleh karenanya patut dikutuk seperti dulu. Tetapi sikap intoleran ini tidak disetujui Yesus. Ia malah menegur mereka.

Berpikir dalam kerangka menyampaikan "ajaran yang benar" dengan sikap intoleran mengurung orang dalam angan-angan "mempertobatkan", "mengancamkan kutukan". Sering maksud baik berakhir dengan mengutuk orang yang tak berpendapat sama, terang-terangan atau secara tak langsung menjelek-jelekkan keyakinan orang lain. Dalam bacaan hari ini dikisahkan Yesus melepaskan ikatan-ikatan seperti itu. Ia mengajak orang mengikuti dia untuk mewartakan Kerajaan Allah. Ia mengajarkan Tuhan itu Maharahim. Oleh karenanya orang yang mau mengabarkan kehadiranNya tidak boleh mengancamkan hukuman, apalagi mengutuk orang atas namaNya.

MENGIKUTI PANGGILAN DENGAN HATI MENDUA?

Bagian kedua dari petikan hari ini (ayat 57-62) menceritakan tiga pembicaraan perihal mengikuti Yesus dan mengabarkan Kerajaan Allah. Rasa-rasanya mengikuti Kristus dan mengabarkan Kerajaan Allah itu menuntut penyerahan diri total sejak awal. Betulkah demikian?

Orang yang pertama dalam kisah itu memang menyatakan diri ingin mengikutinya. Yesus menegaskan, mengikutinya berarti bersedia berjaga terus-menerus tanpa mengharapkan istirahat. Suatu perkara yang melampaui kemampuan manusiawi? Nanti ketiga murid yang diajak menemaninya di Getsemani jatuh tertidur dan baru bangun ketika para penangkap datang. Memang mengikuti dia tak dapat dijalankan sebagai ikhtiar manusiawi belaka. Maka mengikutinya hanya dapat terjadi bila ada kekuatan dari atas sana dan yang bersangkutan membiarkan diri dibawa kekuatan ini. Yesus sendiri disertai Roh ketika berada di padang gurun ketika menghadapi pilihan hidup: ikut Tuhan atau mengabdi Iblis (Luk 4:1; lihat Dag-dig-dug...Byaar! [Yogyakarta: Kanisius 2004] hal. 171-176).

Orang yang kedua bersedia mengikuti, tetapi minta kelonggaran waktu karena ada kewajiban mendesak, yakni menguburkan ayahnya. Maksudnya masih ada kewajiban moral dan sosial yang sulit dielakkan. Orang ini mau mengikutinya tetapi nanti saja bila sudah bebas dari kewajiban yang tak dapat ditinggalkan begitu saja. Jawaban Yesus berupa pepatah, "Biarlah orang mati menguburkan orang mati". Apa arti pepatah ini? Orang mati kan tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi mengubur. Jadi dengan pepatah itu hendak dikatakan, "Nonsense! Jangan berpikir begitu! Kalau engkau menunggu, bisa-bisa kehilangan kesempatan dan malah ikut mati dan tidak bisa berbuat bagi orang yang sebetulnya mau kau perhatikan. Lakukan kewajibanmu dan buatlah itu sebagai cara mengikuti aku sehingga sekarang juga engkau bisa mulai. Demikian juga engkau dapat mengabarkan Kerajaan Allah!" Kewajiban manusiawi tidak dilepaskan, melainkan dijadikan bagian dalam mengikuti dia dan mewartakan Kerajaan Allah, yakni panggilan mewartakan iman bahwa Tuhan itu Maharahim.

Dua pembicaraan di atas terdapat juga dalam Injil Matius (Mat 8:19-22) dengan pengertian yang sama. Yang ketiga, Luk 9:61-62, hanya ada dalam Injil Lukas. Seperti halnya yang pertama, orang yang ketiga ini menyatakan diri mau mengikuti Yesus, tetapi ingin berpamitan terlebih dahulu dengan keluarganya. Sekali lagi jawaban Yesus berupa pepatah yang intinya mengatakan orang yang mendua perhatiannya tidak cocok bagi Kerajaan Allah. Bagaimana penjelasannya?

Perhatian mendua memang tidak membuat orang tenang, khususnya dalam mengikuti panggilan. Namun penyelesaiannya bukanlah dengan cara menyingkirkan salah satu. Memang untuk sementara waktu bila yang satu dilepas orang akan merasa dapat lebih memusatkan diri. Tetapi nanti akan muncul perkara lain yang lambat laun akan membelah perhatian. Penyelesaian yang diajarkan dalam dialog ini bukan ditujukan untuk menghilangkan perhatian yang sudah ada dan mengisi dengan kepedulian baru, dengan tekad mengikuti Yesus dan niatan mengabarkan Kerajaan Allah. Yang diajarkan ialah menyatukan perhatian dan kepedulian yang sudah ada dan membuatnya makin menjadi bentuk nyata mengikuti Yesus dan mengabarkan Kerajaan Allah. Kata orang sekarang, mengintegrasikan kehidupan dengan panggilan mengikuti Kristus dan wartanya tentang Kerajaan Allah.

Ikut mewartakan Kerajaan Allah berarti juga mulai belajar mengenali kerahiman Tuhan dari dalam, dari kenyataan sehari-hari yang ada dalam hidup ini dengan mengikuti jejak dia yang menjadi utusannya, langkah demi langkah. Dibaca dengan latar teguran Yesus kepada murid yang mau mengutuk orang Samaria, langkah pertama dalam mengikuti jejaknya ialah menjauh dari sikap dan perbuatan intoleran. Menjauhi sikap intoleran itu menghormati hak manusia untuk memperoleh ruang hidup yang leluasa. Juga menaruh orang lain pada kedudukan yang setara, bukan hanya memberi konsesi, bukan sekadar mentolerir perbedaan.

Salam hangat,
A. Gianto





Share|

Baca selengkapnya....

Tahun Syukur 70 Tahun KAS

Kepada Yth.

Seluruh Umat dan Yang Mencintai KAS

di manapun berada.

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan.

Para Saudara-saudari yang terkasih,

Bersama ini kami memberitahukan bahwa pada tanggal 27 Juni 2010 Keuskupan Agung Semarang akan menyelenggarakan puncak perayaan Ekaristi Syukur 70 tahun KAS di Kompleks Gereja Katolik Muntilan dan Musium Misi Muntilan. Misa Syukur akan dilaksanakan di Kompleks Gereja Katolik Muntilan dan Musium Misi, Jl. Kartini 3, Muntilan.

Umat dan peserta misa yang bisa ditampung di halaman dan kompleks Gereja Muntilan dan Musium Misi sejumlah 6.000 orang. Undangan sudah tersebar di setiap Paroki. Tentu tidak semua umat KAS bisa mengikuti puncak perayaan syukur ini. Bagi para Saudara yang tidak bisa terlibat langsung, kami tetap memohon dukungan dan doanya supaya perayaan syukur ini bisa berlangsung dengan kidmat, agung, lancar dan aman. Kami juga akan menyediakan dokumentasi acara ini. Bagi teman-teman media yang ingin meliput acara ini bisa berkomunikasi dengan saya lewat email saya.

Adapun rangkaian acara yang akan dilangsungkan:

08.00 – 11.00: Para liturgi (lih attachment)

1. Prosesi seni budaya kadang tani di bawah koordinasi Rm. V. Kirjito Pr.

2. Rosario petani

3. Puji-pujian Rohani

11.00 – 13.00: Ekaristi Syukur dipimpimpin oleh Julius Kardinal Darmaatmaja (Uskup KAJ) didampingi Mgr. Leopoldo Girelli (Nuntius), Mgr. I. Suharyo (Uskup Coajutor KAJ), Rm. P. Riana P (Administrator KAS) dan uskup-uskup yang berasal dari Wilayah KAS. Ada 13 Uskup yang telah mengonfirmasi datang pada acara tersebut.

13.00 – selesai: Pentas budaya

20.00 – 21.00: Temu kasih dengan jajaran pemerintah di Kabupaten Magelang

21.00 – 04.00: Wayang Kulit bersama Ki Dalang Sugiyono, dengan lakon: “Pendowo mBangun Papan Pasucen”

Demikianlah beberapa hal yang kami haturkan sebagai informasi untuk mengungkapkan kasih dan perhatian pada pesta 70 tahun KAS, dalam semangat Terlibat Berbagi Berkat. Inilah ungkapan kasih dan tanggungjawab kita dalam memaknai pesta 70 tahun KAS.

Salam kasih dan berkat Tuhan melimpah bagi kita semua.

Hormat saya,

Noegroho Agoeng SP, Pr

Sie Dokumentasi dan Publikasi.



Share|

Baca selengkapnya....

Warta Gereja 19-20 Juni 2010

PENGUMUMAN GEREJA PURBAYAN

BINCANG-BINCANG
BERSAMA RM. AM. MANGUNHARDJANA, SJ


Karena adanya hal mendesak yang tidak dapat ditinggalkan, maka rencana bincang-bincang rohani bersama Paguyuban Pecinta Kitab Suci, Pamong Wilayah/Lingkungan, Katekis dan Prodiakon bulan ini ditunda. Mohon maaf kepada seluruh paguyuban dan semoga berkenan.

LEKTOR

Minggu 20 Juni pukul 10.15, pertemuan & penjadwalan untuk bulan Juli. Seluruh anggota paguyuban lektor diharap hadir.

PELEGRINA

Telah terbit buletin Pelegrina Edisi Juni 2010. Dapat diperoleh di Toko Buku Purbayan.

PANITIA PEMBANGUNAN WISMA USKUP KAS

Pada hari Sabtu dan Minggu ini dibuka Stand Pembangunan Wisma Uskup Keuskupan Agung Semarang. Bagi umat yang secara khusus hendak mendukung pembangunan tersebut, silahkan menghubungi panitia pada stand di depan Gereja setelah misa atau melalui rekening BCA Cabang Ungaran No Rekening: 222.77.88.999 atas nama TP Wisma Uskup & Kantor KAS.

MISA WILAYAH

Selasa, 22 Juni 2010 Misa Wilayah Sudiroprajan dan Gandekan.
Kamis, 24 Juni 2010 Misa Wilayah Sangkrah dan Kedung Lumbu.


DONOR DARAH


Minggu, 27 Juni 2010, Donor Darah bertempat di SD Kanisius Keprabon 2 Pukul 08.00 - 12.00. Seluruh umat diundang berpartisipasi.

CREDIT UNION

Seluruh umat diundang untuk menjadi anggota Credit Union Cempaka Purbayan
untuk melayani simpan pinjam. Keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi Kantor CU di depan Toko Buku Purbayan.

TAHBISAN IMAM

A. Pada tanggal 29 Juni 2010 di Kapel Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta akan menerima Tahbisan Imam dari tangan Mgr Johannes Pujasumarta, Uskup Keuskupan Bandung, 9 Frater Diakon Diosesan Keuskupan Agung Semarang:
1. Aloysius Triyanto dari Paroki St. Theresia Lisieux, Boro, DIY
2. Dominikus Kristiono dari Paroki SPM Bunda Penasihat Baik, Wates, DIY
3. Antonius Hadi Cahyono dari Paroki St Aloysius Gonzaga, Mlati, DIY
4. Yohanes Gunawan dari Paroki SP Maria Bunda Kristus, Wedi, Klaten
5. Aloysius Dwi Prasetyo dari Paroki St. Theresia, Salam, Magelang
6. Agustinus Agus Widodo dari Paroki SPM Lourdes Promasan, DIY
7. Yoseph Nugroho Tri Sumartono dari Paroki St. Theresia, Salam, Magelang
8. Yuvensius Deny Sulistiawan dari Paroki SPM Bunda Penasihat Baik, Wates, DIY
9. Vincentius Bondhan Prima Kumbara dari Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus, Pugeran, Yogyakarta.

B. Pada tanggal 20 Juli 2010 di Wisma Nazareth, Skolastikat MSF Banteng, Yogyakarta dari tangan Mgr. FX Prajasuta, MSF, Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin, 1 orang Frater Diakon Congregatio Missionariorum a Sacra Familia:

1. Albertus Feri Asmarajati dari Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Muntilan.

C. Pada tanggal 28 Juli 2010 di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, Yogyakarta dari tangan Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Koajutor Keuskupan Agung Jakarta, 6 orang Frater Diakon dari ordo Societatis Jesu:

1. Albertus Buddy Haryadi dari Paroki Santo Lukas, Sunter, Jakarta.
2. Justinus Sigit Prasadja dari Paroki Santo Yohanes Rasul, Wonogiri.
3. Christoforus Kristiono Puspo dari Paroki Santo Robertus Bellarminus, Cililitan Jakarta.
4. Vincentius Seno Hadi Prakoso dari Paroki Santo Fransiskus, Cibadak, Bogor.
5. Paulus Bambang Irawan dari Paroki St Maria Lourdes, Sumber, Muntilan.
6. Stefanus Aris Budiyanto dari Paroki St Maria Assumpta, Klaten.

Sesuai dengan ketentuan hukum Gereja yang berlaku (KHK, kan. 1051| 2) informasi yang menyangkut sifat calon tertahbis tersebut, merupakan masukan bermanfaat bagi Administrator Diosesan.


PETUGAS KOR DAN ORGANIS
Sabtu, 19 Juni:
Sore:
Misa I pk. 16.30 Kemlayan, Mona
Misa II pk. 18.00 Gaudette, Gaudette

Minggu, 20 Juni:
Pagi:
Misa I pk. 05.30 Caecilia, Caecilia
Misa II pk. 07.00 Kampung Baru, Santosa
Misa III pk. 08.30 Albertus, Oeke

Sore:
Misa I pk. 16.30 Unisono, Rujito
Misa II pk. 18.00 Kedung Lumbu, Elly

PETUGAS LEKTOR
Sabtu, 19 Juni:
Sore:
Misa I pk. 16.30 Dea, Gracia
Misa II pk. 18.00 Roby, Vero
Minggu, 20 Juni:
Pagi:
Misa I pk. 05.30 Yani, Anik
Misa II pk. 07.00 Anna, Novi
Misa III pk. 08.30 Nanik, Nining
Sore:
Misa I pk. 16.30 Ridwan, Clara
Misa II pk. 18.00 Ratri, Kinky


PENGUMUMAN PERKAWINAN
Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan:
A. Pengumuman Pertama
1. Thomas Raden Teguh dari Bekasi dengan Theodora Tulussiana dari Sangkrah.
2. Laurentius Verry dari Sudiroprajan dengan Magdalena Indriati dari Ngrayapan.
3. Mikael Heru Kartanto dari Kebalen dengan Ika Yunita.
4. Brawara Gyantarta dari Purwokerto dengan Irene Junita dari Kemlayan.
5. Lukas Andi Kristianto dari Grobogan dengan Fransiska Novi dari Ketelan.
6. Yosef Tondo dengan Syenni Sicilia keduanya dari Kartasura.
7. Stefanus Tek Oen dari Tegalharjo dengan Florentina Pamela dari Kemlayan.
8. Robby Bachtiar dari Purwodiningratan dengan Kiki Septiani dari Nusukan.
9. Ignatius Adek Lekmana dengan Fransiska Agusti Dwi keduanya dari Mojosongo.

B. Pengumuman Kedua
1. Christian Andhi Nugroho dari Jebres dengan Margareta Herlina dari Gandekan.
2. Yohanes Yuntha Erry Praba dengan Angelia Sophia Dewi keduanya dari Ketelan.
3. Yohanes Dwidjo Lukito dengan Theresia Herida Halim keduanya dari Sudiroprajan
4. Rendy Hendro Kuncoro dari Nusukan dengan Angela Agnes Suci Dewi dari Gandekan.
5. Fajar Listiyono dengan Yosepha Rosalia Susanti keduanya dari Sudiroprajan.

C. Pengumuman Ketiga
1. Epafroditus Dicky Hari Purnomo dari Sudiroprajan dengan Elisabeth Paramitha dari Ambarawa.
2. Heribertus Agung Dwi Prasetya dengan Veronica Sri Rahayu keduanya dari Kebalen.
3. Emanuel Arvi Kristian dari Magelang dengan Eulatia Anita dari Jebres.
4. Agus Prasetyo dengan Lenny Christinawati keduanya dari Sragen.
5. David Winarno dari Jagalan dengan Sri Wardani Kurniawati dari Yogyakarta.


Barangsiapa mengerti halangannya wajib memberitahukan kepada Romo Paroki.

TUGAS MENGATUR BUNGA:
Sabtu, 26 Juni 2010; Ibu-ibu Wilayah Bangunharjo mendapat tugas mengatur bunga di Gereja.

MINGGU YANG AKAN DATANG, 27 JUNI 2010
HARI MINGGU BIASA XIII


BACAAN LITURGI
21 Juni 2010 : Pw S. Aloisius Gonzaga
2Raj. 17:5-8,13-15a,18; Mzm. 60:3,4-5,12-13; Mat. 7:1-5; atau dr RUybs

22 Juni 2010 : Hari Biasa
2Raj. 19:96-11,14-21,31-35a,36; Mzm. 48:2-3a,36-4,10-11; Mat. 7:6,12-14

23 Juni 2010 : Hari Biasa
2Raj. 22:8-13; 23:1-3; Mzm. 119:33,34,35,36,37,40; Mat. 7:15-20

24 Juni 2010 : HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS
Yes. 49:1-6; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15; Kis. 13:22-26; Luk. 1:57-66,80

25 Juni 2010 : Hari Biasa
2Raj. 25:1-12; Mzm. 137:1-2,3,4-5,6; Mat.8:1-4.

26 Juni 2010 : Hari Biasa
Rat. 2:2,10-14,18-19; Mzm. 74:1-2,3-5a,56-57,20-21; Mat. 8:5-17

27 Juni 2010 : EKARISTI SYUKUR 70 TAHUN KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
1Raj. 19:16b,1921; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Gal. 5:1,13-18; Luk. 9:51-62

Baca selengkapnya....

Kedatangan Yesus disiapkan oleh Yohanes

24 Juni: Pesta Kelahiran St Yohanes Pembaptis
Yes. 49:1-6; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15; Kis. 13:22-26; Luk. 1:57-66,80

Rekan-rekan lama yang baik!

Kemarin Gus mampir ke sini dan minta saya sendiri sajalah yang menjelaskan seluk beluk kelahiran Yohanes Pembaptis. Peristiwa itu memang banyak diceritakan orang sehingga saya ikutsertakan dalam buku saya yang pertama. Kalian tentunya masih ingat latarnya. Yohanes Pembaptis kan anaknya Zakharia yang hingga hari tuanya belum mendapatkan keturunan. Istrinya, Elisabet, tidak bisa mengandung dan ketika itu juga sudah lanjut usianya. Satu hari sewaktu Zakharia sedang menjalankan giliran ibadat, Malaikat Gabriel tiba-tiba menampakkan diri dan memberitakan bahwa sang istri akan melahirkan anak lelaki yang mesti dinamai Yohanes. Ketika Zakharia mempertanyakan bagaimana mungkin ini bisa terjadi, Gabriel pun membuatnya tidak lagi bisa berkata-kata sampai isi kabar itu dipenuhi. Sang Malaikat juga meramalkan Yohanes nanti akan sepenuhnya mengabdi Tuhan dan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya dan akan menyiapkan jalan bagi Tuhan yang segera akan mendatangi umatNya.

ARTI NAMA-NAMA ITU

Bagian yang kalian bacakan kali ini menceritakan peristiwa lahirnya Yohanes. Ketika Elisabet tiba waktunya bersalin, para tetangga serta sanak saudara berkumpul di rumah Zakharia untuk ikut bergembira. Mereka ingin agar namanya sama dengan nama bapaknya yang telah lama menanti-nantikan keturunan, yakni Zakharia. Eh, kalian tahu, nama Zakharia itu ada artinya, yakni "Tuhan ingat". Orang-orang mau agar anak yang baru lahir ini menjadi tanda bahwa Tuhan tidak melupakan janjiNya. Tetapi Elisabet mengatakan, nama anak itu ialah Yohanes. Dan mereka bertanya-tanya dari mana sih nama itu. Maklum dalam keluarga besar ini tak ada yang bernama demikian. Dan Elisabet pun menyuruh mereka bertanya sendiri kepada Zakharia. Maka ia pun menuliskan, "Namanya ialah Yohanes". Orang-orang tentunya pada mengerti nama itu artinya "Tuhan berkenan", lebih jelasnya, "Tuhan memberi rahmat". Jadi anak ini menandai perkenan serta rahmat yang dilimpahkan Tuhan.

Tentu kalian ingin tahu lebih lanjut, perkenan atau rahmat bagi siapa? Pada hemat saya yang dimaksud bukannya pertama-tama rahmat bagi suami istri Zakharia dan Elisabet, melainkan bagi seluruh umat. Kehidupan Yohanes nanti menjadi tanda bahwa Tuhan bukan hanya ingat, akan tetapi sungguh melimpahkan rahmatnya bagi siapa saja yang mau menerimanya. Kita lihat, orang-orang sebetulnya sudah puas bila tidak dilupakan Tuhan, tetapi justru Tuhan bertindak lebih jauh. Ia memberi rahmat berlimpah. Kalau kalian simak dan baca dialog penamaan antara Elisabet, tetamu, serta Zakharia maka akan jelas inilah yang kiranya sedang terjadi. Rasanya-rasanya Tuhan itu selalu mendahului kita. Bener kagak? Tanyakan kepada Gus; ia boleh jadi bisa kasih uraian panjang lebar. Tapi biarkan dia sekadar istirahat karena baru kembali dari perjalanan jauh dari benua kalian dan masih terserang kantuk. Cara membaca yang kusarankan tadi mestinya cukup jelas dan malah bisa kalian ceritakan ke kawan-kawan lain.

Gampang pula dihomilikan. Juga bikin orang kreatif berpikir dan merasa-rasakan gerak gerik Tuhan yang mendahului langkah kita itu supaya kita jangan salah langkah kali!

Tadi Yohanes diramal Malaikat Gabriel sebagai yang sudah penuh dengan Roh Kudus mulai dari kandungan. Memang pada bagian akhir petikan ini disebutkan Yohanes Pembaptis demikian adanya. Tak usah kita berpanjang-panjang wacana mengenai Roh Kudus. Kita akui saja memang Yohanes begitu. Selagi ia masih ada dalam kandungan Elisabet, kita ingat, datanglah Maria menyambangi sanaknya ini. Saat itulah Yohanes melonjak kegirangan dalam rahim. Ia mengenali siapa yang datang ini. Inilah kepekaan batin yang ada dalam diri Yohanes, bahkan sebelum ia lahir dan besar. Malah karena itu dikatakan Elisabet yang sedang mengandungnya dipenuhi pula oleh Roh Kudus dan mulai berseru mengucapkan berkat bagi Maria (Luk 1:42-25)

ZAKHARIA KEMBALI BISA BERBICARA

Kita tengok kembali Zakharia. Ia tadinya kan tak bisa bicara. Kini, serta merta selesai menuliskan nama Yohanes, ia langsung bisa bicara lagi. Dan ketika ia mulai bicara, yang pertama kali keluar ialah pujian bagi Tuhan, yang kemudian juga dapat kalian baca dalam ujud Kidung Benediktus dari Zakharia (Luk 1:68-79). Kita ingat pula, lidahnya justru terlepas ketika ia selesai menyuratkan huruf-huruf nama anaknya itu "Tuhan berkenan...melimpahkan rahmat", yakni arti nama Yohanes. Zakharia kini dapat plong mengakui serta mengungkapkan pujian bagi Tuhan. Ia tidak lagi butuh bertanya-tanya apa bener ya, kok gitu ya seperti sebelumnya, tapi berani memuji kebesaran Tuhan.

Kita amati orang-orang yang menyaksikan Zakharia bisa berbicara kembali. Mereka jadi ketakutan tapi juga bercerita ke mana-mana tentang kejadian itu di seluruh kawasan provinsi. Mereka bertanya-tanya, akan jadi seperti apa anak ini. Mereka yakin, "tangan" Tuhan - kuasaNya menyertai anak ini. Kalian bisa jadi belum paham seluk beluk ketakutan tadi. Yang jelas mereka tidak gemeteran dan terbirit-birit. Kalau begitu mereka takkan bisa bercerita dan hanya akan bungkam seribu bahasa. Tapi mereka bahkan menjadikan peristiwa itu buah tutur di mana-mana. Jadi jelas bukan takut mengkeret, melainkan terpana akan hebatnya peristiwa yang mereka saksikan. Bukan peristiwa lumrah. Luar biasa! Ini tanda besar dari atas sana. Orang mulai sadar bahwa Tuhan sungguh hadir dan berkenan melimpahi rahmat. Inilah yang dulu lazim diungkapkan orang Yahudi dengan gagasan "takut" akan Tuhan. Lebih dari itu, ada sisi pengertian yang mendalam akan pengalaman ini. Dulu aku bercerita kepada orang yang berpikir dalam kerangka itu. Jadi seperti mendapat pencerahan dari atas, menjadi bijak dan karenanya bisa menengarai gerak gerikNya . Itulah arti ketakutan dalam peristiwa ini.

MAKIN KUAT ROHNYA

Yohanes pergi ke padang gurun dan tinggal di sana. Dijalaninya hidup seperti nabi zaman Perjanjian Lama seperti Elia yang mencari kehadiran ilahi di dalam kesunyian. Di sana ia berlatih mendengarkan suara Tuhan. Begitulah ia makin menjadi bijaksana, dan dikatakan "kuat rohnya". Memang kekuatan kebijaksanaan roh ini perlu agar ia nanti dapat membuka jalan bagi dia yang bakal datang, yakni Yesus yang akan memperkenalkan siapa sesungguhnya Tuhan itu.

Tapi apa ya makna kisah kelahiran Yohanes serta arah kehidupannya ini bagi pembaca zaman modern? Jangan kita cari-cari dan pasang-pasangkan begitu saja ke masa kini. Jangan sekali-sekali kalian ingin jadi kayak Yohanes Pembaptis, pasti gagal dan malah runyam hidup kalian. Ia itu begitu karena dipilih Yang Mahakuasa. Jangan beranggapan kalian bisa paksa roh memilih kalian lho, nanti malah jadi majenun. (Sudah banyak cerita begituan, aku beberapa kali cerita perkara itu dalam jilid dua bukuku.) Cara terbaik mendapati relevansi kisah itu ialah menikmatinya sebagai kisah tokoh Yohanes Pembaptis yang dipilih Tuhan sejak awal dan cerita tentang Zakharia yang kini melangkah maju dari sekadar mengingat-ingat kebaikan Tuhan menjadi berani mempersaksikan bahwa Ia betul-betul melimpahkan rahmatNya! Ia menyuratkan nama anaknya, Yohanes, yang artinya ya Tuhan berkenan begitu. Peristiwa dan kisah ini mengajarkan, Yang Mahakuasa itu pandai mendahului langkah kita. Ia bukan Tuhan yang gemar mendengar orang sadar bahwa Ia selalu mengingat (atau bersedia diingatkan oleh manusia!). Ia sudah lebih duluan mencurahkan rahmat dan tuntunanNya, Ia berkenan kepada manusia. Yang perlu, manusia - eh kita-kita ini - mau lepas dari ikatan-ikatan yang membuat kucuran rahmatNya seret dan kurang melegakan. Kita tinjau riwayat masing-masing yang boleh jadi sulit diceritakan. Boleh jadi kita akan menemukan kenyataan "Yohanes" - Tuhan berkenan merahmati - dalam cara yang paling dalam dan amat pribadi yang belum dapat kita rumuskan. Jadi kayak Zakharia, masih belum bisa bicara meski sadar sudah menerima karunia rahmat. Yang bisa terjadi ialah mengakui dan menyuratkan, seperti Zakharia menuliskah kenyataan itu. Dan saat itu juga akan lepaslah ikatan yang menghalang kita ke jalan yang betul: memujiNya. Satu tambahan. Zakharia tidak mendaftar kebaikan ilahi baginya;dalam kidungnya ia memuji kebesaran Tuhan yang berani turun mendatangi umatNya. Itulah cara memujiNya. Ia tidak mengharap kita seperti pencatat kebaikan satu persatu kayak bikin neraca. Yang diinginkanNya, rasa-rasanya, yakni agar kita melihat dan tahu apa yang sudah mulai diperbuatNya bagi kemanusiaan. Itulah makna kisah ini.

Salam hangat,
Luc

NB: Omong-omong tadi kita juga singgung tentang Oma Miryam. Bukankah dalam adat gereja kalian para kudus biasanya diperingati pada hari mereka meninggal dunia? Tapi dua tokoh kita ini, Yohanes Pembaptis dan Maria, dirayakan kelahirannya. Apakah gereja kalian hendak mengatakan, memang orang kudus masuk hidup abadi pada saat meninggal dunia - tapi Yohanes Pembaptis dan Maria sudah sejak lahir amat dekat dengan Tuhan?



Baca selengkapnya....

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku"

19 JUNI: HR MINGGU BIASA XII

Za. 12:10-11; 13:1; Mzm. 63:2abcd,2e-4,5-6,8-9; Gal. 3:26-29; Luk. 9:18-24


"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku"

"Jumlah perceraian di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Data terakhir hasil perhitungan Kementrian Agama RI mencatat terjadinya 250 ribu kasus perceraian di Indonesia pada tahun 2009. Angka ini setara dengan 10% dari jumlah pernikahan di tahun 2009 sebanyak 2,5 juta. Jumlah perceraian tersebut naik 50 ribu kasus dibanding tahun 2008 yang mencapai 200 ribu perceraian. "Jumlah perceraian di Indonesia terus menunjukkan peningkatan," tutur Direktur Jenderal Bimbingan Islam Kementerian Agama, Nasaruddin Umar di Jakarta, Kamis (25/2). Pada periode 5-10 tahun lalu, di Indonesia hanya terjadi 20 ribu hingga 50 ribu kasus perceraian per tahun. Fakta lain dari kasus perceraian yang tercatat pun menunjukkan adanya pergeseran bentuk perceraian. Sekitar 70 persen perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama adalah cerai gugat. "Data tersebut juga menunjukkan trend pergeseran kasus cerai di mana istri yang menggugat cerai," tutur Nasaruddin. Meningkatnya angka perceraian ini disebabkan oleh 14 faktor. Di antaranya cerai karena pilkada dan politik, perselingkuhan oleh istri yang angkanya naik drastis, kawin di bawah umur, dan kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan kasus cacat karena kecelakaan sepeda motor juga menjadi salah satu dari 14 faktor penyebab perceraian di Indonesia. (republika.co.id, 26/2/2010). Saya kutipkan berita di atas ini sebagai jalan masuk untuk merenungkan sabda Yesus dalam Warta Gembira hari ini. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya." (Luk 9:23-24)

Pada saat orang berjanji untuk mengakui jati dirinya yang baru, misalnya menjadi suami-isteri, imam, bruder atau suster, dengan saling berjanji atau berjanji kepada Tuhan dan pembesar, pada umumnya bangga dan mantap. Calon suami-isteri berjanji saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, imam berjanji untuk hidup tidak menikah dan hanya mau mengabdi Tuhan saja melalui GerejaNya, sedang para anggota Lembaga Hidup Bakti berkaul untuk hidup murni, miskin dan taat. Ketika mengakui atau menyatakan dengan kata-kata sungguh mantap, namun seiring dengan perjalanan waktu apa yang dijanjikan tersebut mengalami erosi, karena orang tidak bersedia untuk `menyangkal diri atau kehilangan nyawanya' .

Setia pada iman dan panggilan memang tidak mudah, sarat dengan godaan, tantangan, masalah dan hambatan. Senjata untuk menghadapi godaan, tantangan, masalah dan hambatan tidak lain adalah `menyangkal diri dan kehilangan nyawa', yang berarti hidup dan bertindak tidak mengikuti keinginan dan selera pribadi, melainkan mengikuti kehendak Ilahi, yang antara lain tercermin dalam aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing atau spiritualitas/charisma/visi pendiri. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka, Jakarta 1997, hal 24). Marilah kita angkat dan kenangkan kembali perjanjian-perjanjian yang telah kita buat! Hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa ditatapkan pada perjanjian yang telah kita buat, entah janji baptis, perkawinan, imamat, membiara maupun pekerja atau pelajar. Kita semua mendambakan keselamatan atau kebahagiaan sejati selama di dunia ini maupun di akhirat nanti. Kami mengajak kita semua untuk saling membantu dan mengingatkan perihal penghayatan atau pelaksanaan janji masing-masing. Pada kesempatan ini kami juga mengingatkan kepada para pakar dalam ilmu atau pengetahuan apapun, hendaknya dengan rendah hati berusaha menghayati apa yang dipelajari dan dikuasainya secara intelektual. Jangan sampai terjadi; mengaku pakar komunikasi tetapi tak komunikatif, mengaku pakar pendidikan tak mampu mendidik, mengaku pakar budi pekerti tak bermoral, dst… Semoga para pekerja sungguh bekerja, para pelajar sungguh belajar, dst… "Jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Gal 3:29)

Bapa Abraham adalah bapa umat beriman, maka bagi umat beriman tidak ada perbedaan dalam penghayatan hidup sehari-hari, apalagi iman lebih dihayati daripada dibicarakan atau menjadi bahan diskusi. Keunggulan hidup beriman terletak pada penghayatan bukan wacana atau omongan. Sabda Yesus hari ini juga mengingatkan kita semua agar kita `memikul salib kita masing-masing setiap hari', artinya melakukan tugas pekerjaan atau kewajiban kita masing-masing setiap hari sebaik mungkin dan sampai tuntas, selesai atau sukses. Untuk itu kita memang harus siap sedia disalibkan, antara lain dengan mempersembahkan pikiran, tenaga, derap langkah seutuhnya pada tugas pekerjaan maupun kewajiban kita masing-masing, tidak menyeleweng atau berselingkuh.

"Kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah", demikian peringatan Paulus kepada umat di Galatia, kepada kita semua umat beriman, keturunan Abraham. Marilah kita ingat dan kenangkan bahwa bapa Abraham antara lain bertindak tanpa dasar pikiran yang kuat atau tak dapat dimengerti oleh akal sehat, melainkan bertindak atas dasar harapan, sesuatu yang tak kelihatan dan menjanjikan. Memang apa yang menjanjikan dan belum/tak kelihatan pada umumnya menggairahkan hidup dan bertindak seseorang, dengan kata lain orang yang bersangkutan sungguh memiliki dan menghayati keutamaan harapan dalam cara hidup dan cara bertindak. Berharap untuk menjadi kaya pada umumnya orang bekerja keras dan bergairah, berharap bertemu yang terkasih pada umumnya orang gembira dan bergairah, dst.., namun setelah menjadi kaya atau bertemu dengan yang terkasih dapat menjadi lain, mungkin lesu dan tak bergairah lagi.

Janji Allah tidak pernah mengecewakan dan ketika terlaksana tidak akan membuat kita lesu atau tak bergairah, yaitu keselamatan jiwa kita. Maka marilah kita persembahkan pikiran, tenaga dan langkah kita demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun sesama atau saudara-saudari kita. Dengan kata lain hendaknya keselamatan jiwa menjadi barometer atau ukuran kesuksesan pelayanan, kerja atau pelaksanaan tugas dan kewajiban kita sendiri maupun bersama-sama. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita mengimani Yesus yang telah mempersembahkan hidupNya dengan wafat di kayu salib demi keselamatan jiwa kita semua, keselamatan seluruh dunia. Ia tidak memikirkan kepentingan pribadi, apalagi mengutamakan diri pribadi. Janji Allah adalah keselamatan jiwa atau hidup mulia selamanya di sorga, dan janji tersebut akan terwujud atau menjadi nyata jika kita siap sedia bekerja sama dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dalam hidup sehari-hari, senantiasa berusaha hidup suci dan berkenan pada Yang Ilahi.

"Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji…. sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku " (Mzm 63:5-6.8-9) .

Jakarta, 20 Juni 2010


Ign Sumarya

Baca selengkapnya....

Warta Paroki 12-13 Juni 2010

PAGUYUBAN KESEHATAN

Tim Kerja Kesehatan Purbayan berkerjasama dengan Rotary Club, Lion Club, dan PMI Surakarta akan mengadakan pemeriksaan kanker leher rahim, pada hari Sabtu, 19 Juni 2010 mulai jam 07.00-selesai di Aula Paroki. Bagi Para Ibu dan Kaum Perempuan pada umumnya silahkan mendaftarkan diri di depan Gedung Paroki sehabis misa Sabtu Sore/Minggu atau di Ruang Pelayanan Kesehatan. Pelaksanaan ini tidak dipungut biaya dan dikerjakan oleh dokter dan para bidan secara profesional.

KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN

Kursus Persiapan Perkawinan diadakan pada hari Sabtu dan Minggu, 19-20 Juni dan 26-27 Juni 2010. Biaya kursus sebesar Rp 100.000/orang.

MISA WILAYAH

1. Selasa, 15 Juni 2010 Wilayah Kebalen dan Setabelan.
2. Kamis, 17 Juni 2010 Wilayah Kepatihan dan Purwodiningratan.
3. Jumat, 18 Juni 2010 Wilayah Kemlayan

BINCANG-BINCANG BERSAMA RM. AM. MANGUNHARDJANA, SJ

SARASEHAN KITAB SUCI

Minggu, 20 Juni 2010, Pukul 10.00 dengan tema: "Roh Kudus: Hakekat, dan Kegiatannya."

PAGUYUBAN KETUA WILAYAH / LINGKUNGAN

Senin, 21 Juni 2010, Pukul 18.30 dengan tema: Kepemimpinan yang berkarakter

PAGUYUBAN KATEKIS PAROKI

Rabu, 23 Juni 2010, Pukul 18.30 dengan tema: Seluk beluk Roh Kudus: Peran serta kegiatannya dalam hidup kita.

PAGUYUBAN PRODIAKON PAROKI

Jumat, 25 Juni 2010, Pukul 18.30 dengan tema: Roh Kudus, kepribadian dan perannya.

BACAAN LITURGI
14 Juni 2010 : Hari Biasa
1Raj. 21:1-16; Mzm. 5:2-3,5-6,7; Mat. 5:38-42

15 Juni 2010 : Hari Biasa
1Raj.21:17-29; Mzm.51:3-4,5-6a,11,16; Mat.5:43-48

16 Juni 2010 : Hari Biasa
2Raj. 2:1,6-14; Mzm. 31:20,21,24; Mat. 6:1-6,16-18

17 Juni 2010 : Hari Biasa
Sir. 48:1-14; Mzm. 97:1-2,3-4,5-6,7; Mat.6:7-15

18 Juni 2010 : Hari Biasa
2Raj. 11:1-4,9-18,20; Mzm. 132:11,12,13-14,17-18; Mat. 6:19-23

19 Juni 2010 : Hari Biasa
2Taw. 24:17-25; Mzm. 89:4-5,29-30,31-32,33-34; Mat. 6:24-34

20 Juni 2010 : Hari Minggu Biasa XII
Za. 12:10-11; 13:1; Mzm. 63:2abcd,2e-4,5-6,8-9; Gal. 3:26-29; Luk. 9:18-24


PETUGAS KOR DAN ORGANIS


Sabtu, 12 Juni 2010
Sore:
Misa I. 16.30 Setabelan, Setabelan
Misa II. 18.00 Sudiroprajan, Sudiroprajan
Minggu, 13 Juni 2010
Pagi:
Misa I. 05.30 Kebalen, Tini
Misa II. 07.00 SMEA Kanisius, Rujito
Misa III. 08.30 SMP Kanisius 1, SMP Kanisius
Sore:
Misa I. 17.00 Gregorius Agung, Gregorius Agung
Misa II. ------------------



Share|

Baca selengkapnya....

Kehadiran Allah

Oleh: Romo A. Mangunhardjana, SJ

Peristiwa penyelamatan Allah bagi manusia, yang dilakukan melalui wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke sorga, merupakan 3 rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan satu sama lain tanpa jarak waktu. Wafat-bangkit-naik ke sorga merupakan kesatuan peristiwa yang tak terputus. Hal ini tercermin pada sabda Yesus sebelum wafat:
"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk 23:46) dan kepada penjahat yang disalib bersama-Nya: "Aku berkata kepada-Mu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama Aku di dalam Firdaus" (Luk 23:43).

Namun dalam liturgi wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga kita rayakan sendiri-sendiri secara terpisah. Pemisahan ketiga peristiwa itu dilakukan berdasarkan Kitab Suci. Sebab dalam Kitab Suci dikatakan Yesus wafat pada hari Jumat, yaitu hari sebelum hari Sabat (Yoh 19:31). Yesus
"akan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Mat 16:21; Mat 17:23; Mat 20:19). Yesus naik ke sorga, sesudah "selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang kerajaan Allah" (Kis 1:13).

Jika dikatakan Yesus bangkit pada hari ketiga, kata-kata itu hanya mau menekankan bahwa Yesus sungguh-sungguh wafat dan sungguh-sungguh bangkit dari mati. Dan jika dikatakan Yesus baru naik ke sorga sesudah berada di dunia selama 40 hari, kata-kata itu mau menyatakan bahwa sesudah bangkit Yesus terus menyertai pengikut-pengikut yang percaya kepada-Nya. Karena itu baiklah kita merenungkan kehadiran Yesus di tengah-tengah hidup kita di dunia ini, terutama dalam Sakramen Ekaristi melalui Komuni.

Sebelum naik ke sorga Yesus berkata kepada rasul-rasul-Nya:
"Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:20). Ada 7 (tujuh) cara Yesus hadir di dunia:

  1. Yesus hadir diuraikan dalam Kitab Suci: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia..... menerangkan Kitab Suci?" (Luk 24:32)
  2. Yesus hadir dalam sakramen-sakramen, karena sakramen merupakan tanda lahiriah karya penyelamatan Allah melalui Yesus. Setiap kali sakramen dirayakan, Kristus hadir untuk melaksanakan karya penyelamatan-Nya.
  3. Yesus hadir di dalam diri orang yang sudah dibaptis: "Karna kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus" (Gal 3:27). Dasar kehadiran itu adalah iman: "Oleh iman Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar dan berdasar di dalam kasih" (Ef 3:14.17).
  4. Yesus hadir dalam Sakramen Ekaristi dengan seluruh diri-Nya di dalam orang yang menerima-Nya. Kristus yang diterima dalam Komuni bukanlah Kristus seperti yang bekerja di Palestina, melainkan Kristus yang sudah bangkit dari alam maut dan jaya serta mulia. "Waktu Yesus sudah makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata kedua murid itu dan mereka mengenal Dia." (Luk 24:30).
  5. Yesus hadir di tengah-tengah umat yang berkumpul: "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka" (Mat 18:20).
  6. Yesus hadir di dalam hidup umat sehari-hari seperti dilakukan-Nya dengan menyertai kedua murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35). "Aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman." (Mat 28:20).
  7. Yesus hadir pada orang-orang yang terlantar. "Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan ....." (Mat 25:31-46).
Jika Yesus, Allah yang menjadi manusia, senantiasa hadir di tengah-tengah hidup kita, kita juga dapat hadir terus di hadapan Allah. Ada beberapa tingkat kehadiran manusia di hadapan Allah.

  1. Kita tidak hadir, meski berada di hadirat-Nya, karena pikiran, hati dan perhatian kita tidak ikut hadir;
  2. Kita setengah hadir: secara formal dan demi basa-basi kita menyapa-Nya, lalu tidak memperhatikan-Nya;
  3. Kita hadir dengan pikiran kita saja. Kita menyapa dan saling membicarakan masalah dengan-Nya, tetapi kita hanya terpusat pada hal yang kita bicarakan dan tidak pada Yesus yang kita ajak bicara.
  4. Kita hadir secara pribadi: kita menyapa-Nya, membicarakan masalah dengan-Nya, dan melibatkan seluruh diri dan hati kita.
  5. Kita hadir penuh di hadapan-Nya: kita menyapa-Nya, membicarakan masalah dengan-Nya, dan menyediakan diri untuk ikut terlibat di dalam kehendak dan kerja-Nya mendatangkan kerajaan Allah. Kehadiran di hadapan Allah tingkat ke-5 itulah kehadiran yang seharusnya kita usahakan dalam hidup kita.
Tingkat-tingkat kehadiran kita di hadirat Tuhan ini merupakan gejala kualitas sikap dan iman kita kepada-Nya.


Share
|

Baca selengkapnya....

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Pengutusan dan Perarakan Keluar (24)

Pengutusan



Rumusan pengutusan dalam teks Latin berbunyi: Ite, missa est, yang artinya: “Pergilah kalian diutus”. Istilah “Misa” berasal dari kata missa. Kata missa berasal dari kata dimissio, yang artinya: pengutusan, pengeluaran, pembebasan. Kata-kata Ite missa est merupakan rumusan umum dalam masyarakat Romawi kuno apabila suatu pertemuan telah selesai dan ditutup.

Dalam Liturgi Timur, seperti Liturgi St. Yohanes Chrisostomus, rumusan pembubaran sedikit lebih panjang, yang dimulai dengan seruan: “Marilah kita pergi dalam damai”. Umat menjawab: “Dalam nama Tuhan”.

Teks Pengutusan dalam TPE 2005 diawali dengan pernyataan: “Saudara sekalian, Perayaan Ekaristi sudah selesai”. Umat menjawab: “Syukur kepada Allah”. Lalu disampaikan pengutusan: “Marilah pergi! Kita diutus”. Umat menjawab: “Amin”.

Perarakan Keluar

Setelah Pengutusan, imam mencium altar sebagai tanda penghormatannya kepada Kristus. Altar adalah simbol Kristus sendiri, sebab Kristus hadir dengan seluruh kurban salib-Nya saat Misa kudus, di atas altar. Tindakan imam mencium altar untuk menghormati Kristus dilakukan sebanyak 2 kali, yakni saat awal dan akhir Misa. Imam menghormati altar dengan menciumnya, dan setelah membungkuk khidmat bersama para pelayan awam, ia meninggalkan ruang ibadat. Jika ada diakon tertahbis yang mendampingi imam, diakon juga ikut mencium altar. Tetapi dalam Misa konselebrasi, hanya imam selebran utama yang menghormati altar dengan menciumnya, sementara para konselebran membungkuk dengan khidmat ke arah altar.

Norma liturgi juga mengatur tata gerak para petugas liturgi kalau ada tabernakel di panti imam. Jika ada tabernakel dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya, maka imam, diakon, petugas liturgi selalu berlutut saat mereka tiba di depan altar, dan saat akan meninggalkan panti imam. Tetapi dalam Misa, mereka tidak perlu berlutut.

Saat perarakan imam dan para petugas lain meninggalkan altar, dinyanyikan lagu penutup. Nyanyian penutup yang mengiringi perarakan keluar ini sangat baik untuk membangkitkan semangat pengutusan. Nyanyian penutup dapat membantu untuk menciptakan suasana perutusan itu dan sekaligus mengantar para petugas keluar dari panti imam atau tempat ibadat, sehingga suasana umat juga terjaga. Sebaiknya umat meninggalkan gedung gereja atau tempat ibadat setelah para petugas masuk ke sakristi atau telah meninggalkan tempat ibadat.


Sumber : Fr Antonius Pramono
Martasudjita,E.Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.

Baca selengkapnya....

Memahami Perayaan Ekaristi

Memahami Perayaan Ekaristi

Baca selengkapnya....