Social Icons

Renungan Bulan Katekese Liturgi Hari ke 4, 5, 6, dan 7

Merenungkan AKLAMASI-AKLAMASI

Hari ke-7

Perayaan Ekaristi selalu dibuka dengan Tanda Salib yang dij awab oleh umat dengan kata “Amin”. Nah, Amin ini merupakan salah satu aklamasi dalam perayaan liturgi. Namun sayangnya, banyak dari kita yang salah menyanyikan kata Amin menurut TPE baru. Yang betul itu A-nya pendek, min-nya yang panjang; dan bukan A-nya yang panjang dan min-nya pendek. Silahkan latihan!

Masih banyak aklamasi lain dalam Misa Kudus. Misalnya: Alleluia, klamasi sebelum dan sesudah bacaan Injil, dialog pembuka prefasi, Kudus, aklamasi anamnese, Amin untuk doksologi, aklamasi untuk embolisme, aklamasi sebelum berkat. Bila aklamasi-aklamasi tersebut tidak dinyanyikan dengan benar, Misa menjadi tampak kurang bersemangat dan panjang; apalagi bila dinyanyikan dengan nada dasar yang terlalu rendah. Memang berbunyi, bersuara, namun tidak ada greget atau semangat.

Rasanya sebuah Misa sungguh tanpa gairah atau greget, ketika tidak ada yang dinyanyikan dalam seluruh bagian Misa. Alasannya biar cepet, kan Misa harian. Namun menurut norma liturgi, aklamasi-aklamasi sebenarnya menduduki tingkat pertama yang semestinya dinyanyikan. Tentu tidak dilarang untuk didaraskan atau diucapkan, tetapi tetaplah yang paling ideal: dinyanyikan. Secara khusus, Alleluia atau bait pengantar Injil mesti dinyanyikan oleh petugas dan bukan imam! Bila tidak dinyanyikan, Alleluia atau Bait Pengantar Injil dilewati saja. Cukup banyak paroki yang belum mencoba semua alternatif nyanyian aklamasi-aklamasi dalam Misa. Ada paroki yang bisanya cuma satu macam aklamasi sesudah Injil atau aklamasi anamnese; yang itu itu saja. Waduh!

Merenungkan CARA MEMILIH NYANYIAN

Hari ke-6



Lima menit sebelum Misa di lingkungan, seorang Rama mendekati seseorang dan berkata: “Tolong pilih dan sekaligus pimpin nyanyian ya!” Orang itu kaget dan sebelum sempat memberi jawaban, Rama tadi sudah meninggalkannya. Lalu orang tadi langsung membuka buku Puji Syukur (PS) bagian “Pembukaan”(sekarang nyanyian “Pembuka”). Anda bisa melihat pada buku PS no. 319-338. Nah, langkah begini betul tidak? Sebagai langkah darurat, jawabannya: ya betul! Idealnya, sudah ada petugas yang telah mempersiapkan pilihan nyanyiannya.

Di bawah ini diberikan langkah-langkah memilih nyanyian untuk hari Minggu atau Hari Raya. Untuk Misa harian atau di lingkungan, pesta, ulang tahun dsb. bisa menyesuaikan langkah-langkah di bawah ini juga.

1. Membaca bacaan Injil, bacaan pertama, dan Mazmur Tanggapan. Dari bacaan-bacaan itu, carilah inti sarinya.

2. Dari inti sari itu kita lalu mencari nyanyian-nyanyian pembuka, persiapan persem bahan, komuni, dan penutup yang sesuai. Paling tidak ada satu yang sesuai dengan tema bacaan atau intisari bacaan tersebut. Untuk itu kita tidak perlu terikat dengan pengelompokkan nyanyian yang ada pada buku-buku Puji Syukur, Madah Bakti atau buku lainnya. Gunakan juga macam-macam indeks yang ada di bagian belakang buku Puji Syukur sebagai alat bantu mencari nyanyian yang sesuai tema.

3. Bisa juga – bila kesulitan dengan bacaan di atas – bacaan kedua kita pakai. Mengapa? Karena bacaan kedua pada masa biasa diurutkan begitu saja. Lain halnya bila Pesta dan Hari Raya, ketiga bacaan berhubungan.

4. Pada masa-masa khusus (Adven, Natal, Prapaska dan Paska) kita bisa saja mengambil nyanyiannya nyian pada kelompok masa biasa, asalkan sesuai dengan langkah 1-3 di atas. Demikian juga sebalik nya. Pada masa biasa, kita bisa memakai nyanyian-nyanyian pada kelompok masa khusus. Perlu diingat, pada masa Prapaskah, Alleluia tidak dinyanyikan.

5. Ada dua antifon, yaitu Antifon Pembuka dan Komuni. Kedua antifon itu bisa membantu untuk

mencari nyanyian pembuka dan komuni. Sedangkan nyanyian komuni bisa mengulangi tema mazmur

tanggapan hari yang bersangkutan. Selain catatan di atas, perlu diperhatikan: masa liturgi yang sedang dirayakan, siapa yang datang dalam perayaan Ekaristi, kemampuan umat yang berliturgi, tempat nyanyian dalam liturgi, serta lama perayaan liturginya bila semua lagu dinyanyikan.


Merenungkan RUMAH TUHAN

Hari ke-5


Bila kita masuk ke sebuah rumah, tentu kita memperhatikan ini rumah siapa, bagaimana bentuk dan jenis bangunan dan perabotannya. Kalau lantainya bagus dan bersih, kita mungkin akan melepas sepatu atau san dal kita. Nah, bila kita masuk ke gedung gereja, bukankah kita akan lebih menaruh hormat lagi? Kenapa? Ya karena gereja itu Rumah Allah, Rumah Tuhan. Memasuki ke rumah seorang pembesar atau atasan kita saja, kita sudah sangat sopan, apalagi ini memasuki Rumah Tuhan, mestinya kita lebih sopan lagi. (Gedung) gereja disebut Rumah Tuhan karena gedung tersebut telah diberkati dan dikhususkan sebagai tempat pertemuan Tuhan dan umat-Nya dan terutama karena di dalam rumah tersebut Tuhan hadir secara istimewa, yakni dalam Ekaristi Kudus. Karena gedung itu menjadi tempat dirayakannya kehadiran Tuhan dalam Ekaristi, tempat itu menjadi tempat yang kudus. Yang kudus pertama-tama adalah Tuhan sendiri yang hadir; dan selanjutnya umat Allah atau umat beriman yang berkumpul disebut juga orang-orang kudus karena mereka ambil bagian dalam kekudusan Allah sebagaimana dialami dan diterima melalui Ekaristi Mahakudus. Secara lahiriah kekudusan gereja sebagai Rumah Tuhan tampak dalam adanya Sakramen Mahakudus yang disimpan di dalam tabernakel. Apabila di tabernakel ada Sakramen Mahakudus, maka lampu abadi menyala!



Justru karena gereja adalah Rumah Tuhan, marilah kita memasuki gereja dengan penuh hormat dan khidmat. Kita mengambil air suci dengan jari-jari kita dan membuat tanda salib sambil memandang ke altar dan salib, dan menunduk. Apa arti air suci di sini? Untuk mengenangkan sakramen baptis kita! Kita melangkah menuju ke tempat duduk dengan tenang dan jangan lupa berlutut dahulu di hadapan Sakramen Mahakudus. Barulah kita duduk dan berdoa untuk mempersiapkan hati sebelum Misa dimulai.



Merenungkan MISA KOK PINDAH-PINDAH PAROKI

Hari ke-4

Ada umat yang suka mengikuti Misa di paroki lain dari pada di parokinya sendiri. Bahkan tidak hanya ke satu paroki namun mereka suka berpindah-pindah dari paroki yang satu ke paroki yang lain. Ada umat yang sama sekali tidak mau Misa di parokinya sendiri. Ada juga umat yang lebih memilih menjadi pengurus di paroki lain. Berbagai macam alasan diajukan, entah karena di paroki lain parkirnya luas, Misanya cepat, homilinya menarik, bisa bertemu umat lain dari berbagai tempat dan seribu macam alasan yang lain.

Sikap seperti ini sebenarnya kurang bijaksana. Mengikuti Perayaan Ekaristi tidak hanya sekedar selera atau karena pertimbangan senang atau tidak senang, menarik atau tidak menarik. Mengikuti Ekaristi berarti mengembangkan nilai ekklesial atau paguyuban gerejawi. Dan nilai ekklesial atau paguyuban gerejawi itu paling tampak dalam hidup berparoki. Untuk itu, kita diajak untuk mencintai paroki sendiri, mengembangkan nilai sense of belonging, rasa memiliki atau menjadi bagian paroki dimana kita tinggal. Entah paroki kita jelek atau baik, pendek kata seperti apapun keadaan paroki kita, itulah paroki yang wajib kita cintai. Mencintai yang benar biasanya bukan atas pertimbangan senang dan tidak senang, amun atas dasar kerelaan berkurban. Amat tidak pas bila Misa mingguannya di paroki lain, sedangkan urusan-urusan lain seperti kalau ada perlu (pernikahan, kematian saudara) baru di parokinya sendiri. Saat senang orang pergi ke paroki lain, saat sedih atau mempunyai kebutuhan orang baru mengadu pada tempatnya sendiri. Rasanya sikap seperti ini kurang bijaksana.

Marilah kita mencintai paroki kita masing-masing, entah sesuai atau tidak sesuai dengan selera kita. Suka dan duka paroki kita merupakan suka dan duka kita. Paroki kita adalah harta yang tak ternilai dalam kehidupan menggereja kita. Paroki kita adalah keluarga yang harus kita cintai dan kembangkan.


Kamis, 13 Mei 2010: HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

HARI RAYA KENAIKAN TUHAN


Purbayan, 13 Mei 2010

RITUS PEMBUKA

LAGU PEMBUKA PS. 532 / MB. 445

TANDA SALIB

PENGANTAR:

SERUAN TOBAT (Tuhan Kasihanilah Kami PS. 353)
I. Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah manusia pertama yang naik ke surga dan ikut, serta dalam kemuliaan dan kekuasaan Bapa.
K. Tuhan, kasihanilah kami.
U. Tuhan, kasihanilah kami.
I. Engkau telah bangkit dan naik ke surga, agar kami dapat ikut serta dalam kekuasaan yang mengalahkan maut dan dosa.
K Kristus, kasihanilah kami
U. Kristus, kasihanilah kami
I. Engkaulah jaminan, bahwa kami Gereja-Mu, akan mengikuti kemuliaan-Mu, karena Engkau kepalanya, sudah mendahului masuk ke surga.
K.Tuhan, kasihanilah kami.
U.Tuhan, kasihanilah kami.
I. Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, - mengampuni dosa kita, - dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U. Amin

KEMULIAAN PS. 354

DOA PEMBUKA
I. Marilah kita berdoa:
I. Allah Bapa yang mahakuasa, kami bergembira dan bersyukur kepada-Mu, karena dengan kenaikan Putera-Mu ke surga Engkau meninggikan martabat kami. Sebagai kepala kami Ia telah mendahului mencapai kemuliaan. Maka dibangkitkan-Nyalah pada kami, anggota-anggota tubuh-Nya, harapan yang mantap. Sebab Dialah Tuhan pengantara kami, yang hidup berkuasa, bersama Bapa dan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.
U.Amin.

LITURGI SABDA

BACAAN I [Kis 1:1-11]

Yesus terangkat surga disaksikan para rasul.

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:
Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang--demikian kata-Nya--"telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

MAZMUR TANGGAPAN PS. 825
Reff. Allah telah naik, diiringi sorak-sorai. Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala.
Ayat Mazmur:
1.Hai segala bangsa bertepuk tanganlah, Elu-elukan Allah dengan sorak sorai. Sebab Tuhan, yang maha tinggi adalah dahsyat. Raja agung atas seluruh bumi.
2.Alla telah naik diiringi soraksorai, Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, kidungkanglah mazmur bagi Raja kita, kidungkan mazmur.

BACAAN II [Ibr 9:24-28; 10:19-23]

Kristus masuk ke dalam surga sendiri.

Pembacaan dari Surat Kepada Umat Ibrani:
Saudara-saudara, Kristus telah masuk ke dalam tempat kudus bukan yang buatan tangan manusia, yang hanya merupakan gambaran dari tempat kudus yang sejati, tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah demi kepentingan kita. Ia pun tidak berulangulang masuk untuk mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagaimana Imam Agung setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus mempersembahkan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab kalau demikian, Kristus harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

BAIT PENGANTAR INJIL PS. 962
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya
Solis: Pergilah dan ajarlah semua bangsa, sabda Tuhan, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.

INJIL [Luk 24:46-53]

Ketika sedang memberkati mereka, Yesus terangkat ke surga.

I. Tuhan bersamamu
U. Dan bersama rohmu

I. Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:
U. Dimuliakanlah Tuhan.

Sesudah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada para murid. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakan-Nya..
U.Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

HOMILI

AKU PERCAYA

DOA UMAT
I. Yesus yang telah mengalami kelemahan kita telah naik ke surga. Maka marilah kita panjatkan doa dengan perantaraan-Nya kepada Bapa:

L.Bagi Sri Paus, para uskup, dan segenap pejabat Gereja:
Ya Bapa, curahkanlah, Roh-Mu kepada Sri Paus, para uskup dan segenap pimpinan Gereja, agar dengan semangat penuh dan mantap membangun Gereja untuk masa depan. Marilah kita mohon.
U.Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L.Bagi para pemimpin bangsa-bangsa:
Ya Bapa, doronglah para pemimpin bangsa-bangsa agar benar-benar melayani keadilan dan membantu rakyat memperkembangkan diri mereka. Marilah kita mohon.
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L.Bagi para penderita:
Ya Bapa, semoga para penderita terhibur serta tumbuh harapannya berkat kenaikan Putera-Mu ke surga. Marilah kita mohon.
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L.Bagi kita disini:
Ya Bapa, dampingilah kami, agar kami yang berharap pada suatu waktu akan mencapai kemuliaan bersama Kristus, sanggup melaksanakan tugas di dunia ini dengan tabah dan mantap. Marilah kita mohon.
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

I. Allah Bapa kami yang mahamulia, melalui Yesus Putera-Mu kami diberi kesempatan menghadap takhta rahmat-Mu. Perkenankanlah kami melihat kebaikan-Mu dan pada suatu waktu ikut serta dalam kemuliaan Putera-Mu, sebab Ia telah mendahului kami memasuki hidup kekal di sisi-Mu. Dialah Tuhan pengantara kami.
U.Amin.

LITURGI EKARISTI

LAGU PERSIAPAN PERSEMBAHAN PS. 540 / MB. 446

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN
I. Marilah kita berdoa:
I. Allah Bapa yang mahamulia, dengan rendah hati kami mempersembahkan korban ini untuk memuliakan Putera-Mu yang naik ke surga. Kamii mohon, tukarlah persembahan kami dengan anugerah-Mu dan antarlah kami menuju kemuliaan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin

PREFASI

KUDUS PS. 393

DOA SYUKUR AGUNG

BAPA KAMI MB 144

ANAK DOMBA ALLAH PS. 414

PERSIAPAN KOMUNI
3 4 / 5 6 5 1 / 1 7 7 1 / 2 4 6 5 / 3 . 3
I. I-ni-lah Sang A-nak Domba, yang menghapus do-sa du-nia.
3 4 / 5 5 1 7 7 / 6. 6 6 / 5 1 7 2 / 1. 0 //
Berbahagi-a-lah ki-ta, di-un-dang me-nyam-but-Nya
34 / 5 6 5/ 1 1 7 71/ 2 4 6 5 / 3 . 3
U. Tu-han a-ku tak pan-tas, Tu-han masuk ji-wa-ku
34 / 5 5 1 7 / 6 . 6 / 5 1 7 2 / 1 . 0 //
Ber-sab-da-lah sa-ja, ji-wa-ku' kan sem-buh.

KOMUNI

DOA SESUDAH KOMUNI
I. Marilah kita berdoa:
Allah Bapa kami yang mahakuasa dan kekal, jadikanlah bumi ini tempat kediaman-Mu, dimana Roh Yesus Putera-Mu mengarahkan kata dan karya kami kepada keadilan, kedamaian serta kebebasan. Bimbinglah dengan demikian semua orang untuk hidup yang benar. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin

RITUS PENUTUP

BERKAT PENGUTUSAN
I. Tuhan bersamamu U. Dan bersama rohmu

I. Semoga Saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa: Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U. Amin.
I. Saudara sekalian, Perayaan Ekaristi sudah selesai.
U. Syukur kepada Allah.
I. Marilah kita pergi! Kita diutus.
U. Amin.


LAGU PENUTUP PS. 541 / MB. 447



Sabtu-Minggu, 01-02 Mei 2010 Hari Minggu Paskah V


"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

BACAAN I: Kis. 14:21b-27
MAZMUR TANGGAPAN: Mzm. 145:8-9,10-11,12-13ab
BACAAN II: Why. 21:1-5a
INJIL: Yoh. 13:31-33a,34-35

Bapak Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr, alm. sebagai klerus atau imam, telah membuat wasiat di hadapan Notaris perihal pembagian kekayaan yang dimiliki jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Surat wasiat tersebut disimpan di Keuskupan, yang secara kebetulan saya sebagai Ekonom Keuskupan harus merawatnya. Dari akte notaris yang saya baca antara lain tertulis bahwa jika Bapak Kardinal dipanggil Tuhan maka mohon agar 75% kekayaan dipersembahkan ke Keuskupan, sedangkan 25% dibagikan kepada keluarganya alias adik-adiknya. Namun pada jam-jam terakhir hidupnya, ketika Yang Mulia terbaring di rumah sakit, Bapak Uskup Julius Darmaatmaja SJ dalam kunjunganya di rumah sakit kepada Bapak Kadinal dan dihadapan saudara-saudarinya yang berkumpul pada waktu itu bertanya “Apa yang dikehendaki Bapak Kardinal dengan kekayaan atau uang yang akan ditinggalkan?”. Bapak Kardinal memberi jawaban yang isinya sangat berbeda dengan apa yang pernah dinyatakan dihadapan Notaris dan tertulis di akte notaris, dan apa yang dikatakan pada saat-saat terakhir hidupnya inilah yang akhirnya menjadi kebijakan atau keputusan untuk dilaksanakan. Kata-kata atau nasihat orangtua atau tokoh pada saat-saat terakhir hidupnya pada umumnya sungguh bermakna serta menjadi pegangan atau pedoman cara hidup dan bertindak bagi mereka yang ditinggalkan. Yesus yang telah bangkit dari mati sering menampakkan diri kepada para murid dan sebelum naik ke sorga Ia juga memberi nasihat-nasihat kepada para rasul, antara lain :”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”., maka marilah kita renungkan dan hayati perintah atau nasihat Yesus ini.


“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34).

Tolok ukur atau barometer saling mengasihi adalah sebagaimana Yesus telah mengasihi kita. Yesus mengasihi kita dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada kita, antara lain sampai wafat di kayu salib. Ia menghayati apa yang pernah disabdakanNya yaitu "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Luk 10:27), maka marilah kita salng mengasihi satu sama lain ‘dengan segenap hari, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh’.

Saling mengasihi sebagaimana disabdakan oleh Yesus diatas kiranya pernah dihayati oleh para suami-isteri atau orangtua, yang antara lain memuncak dalam hubungan seks, maka kami berharap para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan hidup saling mengasihi bagi anak-anaknya. Kami mengingatkan juga hendaknya hubungan seks antar suami isteri sungguh merupakan perwujudan kasih, bukan sekedar mengikuti hawa nafsu saja, yang pada umumnya muncul dari pihak suami, sehingga isteri merasa diperkosa alias dipaksa. Hidup saling mengasihi buahnya adalah kebahagiaan dan kebebasan sejati serta memperteguh kebebasan dan kebahagiaan.

Yesus juga mengajarkan bentuk kasih yang lain serta telah menghayatinya yaitu “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5:44), maka marilah kita hayati ajaran kasih ini. Kami percaya bahwa kita semua memiliki ‘musuh’ yaitu apa-apa atau siapa saja yang kurang berkenan di hati atau selera pribadi saya atau yang tidak kita sukai atau senangi alias kurasakan sebagai yang mengganggu atau menghambat. “Musuh” itu antara lain berupa makanan, minuman, cuaca, lingkungan hidup, barang, orang, pekerjaan atau jabatan dst… Sekali lagi kami ingatkan disini perihal makanan. Dalam hal makan hendaknya berpedoman sehat dan tidak sehat, bukan nikmat dan tidak nikmat atau suka dan tidak suka. Hendaknya jenis makanan apapun asal sehat santap dan nikmati saja, nikmat dan tidak nikmat, enak dan tidak enak dalam hal makanan itu hanya sesaat saja, yaitu di lidah. Jika kita dalam hal makanan yang sehat tidak ada masalah, maka kami percaya kita juga akan dengan mudah mengasihi atau menikmati cuaca, lingkungan hidup, pekerjaan, jabatan atau barang dan orang yang mungkin tidak sesuai dengan selera pribadi.

“Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22)

Paulus dan Barnabas ‘menguatkan hati murid-murid, menasihati mereka supaya bertekun dalam iman, dan mengingatkan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus mengalami banyak sengsara’. Marilah kita renungkan dan hayati bersama apa yang dinasihatkan dan dikatakan oleh para rasul ini:

· “Bertekun dalam iman”. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada ‘yang tak kelihatan’ alias masih menjadi harapan, cita-cita atau dambaan. Secara konkret ‘bertekun dalam iman’ antara lain dapat kita hayati dalam tekun bekerja, bertugas maupun berdoa serta panggilan. Apa yang menjadi panggilan dan tugas pengutusan atau pekerjaan kita masing-masing? “Tekun adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahun dan terus-menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 27). Kepada mereka yang sedang bertugas belajar, para peserta didik, pelajar maupun mahasiswa kami harapkan sungguh tekun dalam belajar; demikian juga para pekerja dimanapun kami harapkan tekun dalam bekerja. Untuk memperteguh dan memperkuat ketekunan belajar maupun berdoa, hendaknya juga tidak dilupakan tekun berdoa setiap hari atau kesempatan penting.

· “Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus mengalami banyak sengsara”. Masuk ke dalam Kerajaan Allah berarti dikuasai atau dirajai oleh Allah, dan dengan demikian senantiasa setia melaksanakan kehendak dan perintah Allah dalam situasi dan kondisi apapun, dimanapun dan kapanpun. Kehendak dan perintah Allah yang utama dan pertama-tama adalah hidup saling mengasihi. Rasanya jika kita sungguh hidup saling mengasihi pasti harus menghadapi penderitaan atau kesengsaraan. Saling mengasihi berarti saling memberi dan menerima: nasihat, sapaan, sentuhan, kritikan, saran, pujian, dst.. Hemat saya yang sulit bagi kebanyakan orang adalah dikasihi, yang berarti diberti dan menerima. Kalau menerima ciuman, pujian, sentuhan kasih, hadiah dst. mungkin dengan senang hati kita menerimanya, tetapi bagaimana dengan saran, kritik, ejekan, cemoohan, peringatan dst…; hendaknya semuanya ini diterima dan dihayati sebagai kasih juga. Ingat jika orang tidak mengasihi kita pasti tidak akan mengritik, memberi saran, mengejek, mencemooh atau mengingatkan kita dengan keras, melainkan akan mendiamkan kita. Memang menerima dan dikasihi harus berani sengsara dan menderita, derita dan sengsara yang lahir dari kesetiaan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati. Sikapi dan hayati aneka macam sapaan, sentuhan atau perlakuan orang lain terhadap diri kita sebagai kasih, dan tanggapi dengan singkat ‘terima kasih’.

“TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu.” (Mzm 145:8-12)

<>




Share|

RENUNGAN: Menyambut Kristus

Penyatuan kia dengan Kristus, yang dihasilkan oleh baptisan, terus-menerus diperbaharui dan dimantapkan dengan ambil bagian dalam Kurban Ekaristi, terutama lewat persekutuan penuh yang terjadi dalam komuni sakramental. Kita dapat berkata bahwa bukan saja kita masing-masing menyambut Kristus, tetapi juga Kristus menyambut kita masing-masing. Ia menjalani persahabatan dengan kita, "Kamu adalah sahabat-sahabat-Ku" (Yoh 15:14). Sungguh justru Dia, kita memiliki hidup, "Yang makan tubuh-Ku akan hidup dalam Aku" (Yoh 6:57). Komuni Ekaristi mewujudkan jalan luhur untuk "tinggal" bersama antara Kristus dan sahabat-sahabat-Nya. "Tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu" (Yoh 15:4).

Berkat persekutuan dengan Kristus, Umat Perjanjian Baru- yang sama sekali tidak menutup diri - menjadi "sakramen" bagi umat manusia, tanda dan sarana penyelamatan yang diperoleh Kristus, terang dan garam dunia (lih Mat 5:13-16), demi penyelamatan semua orang. Misi Gereja melanjutkan misi Kristus, "Seperti Bapa telah mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus kami" (Yoh 20:21). Lewat pengabadian kurban salib dan persekutuan Gereja dengan tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi, Gereja menarik daya rohani yang dibutuhkannya untuk mewujudkan misinya. Demikianlah Ekaristi muncul serentak sebagai sumber dan puncak segala evangelisasi, justru karena tujuannya adalah persekutuan umat manusia dengan Kristus, dan di dalam Dia dengan Bapa dan Roh Kudus.

(Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 22)


Bulan Katekese Liturgi Hari ke 2 dan 3

Merenungkan: EKARISTI SEBAGAI SYUKUR ATAS KETERLIBATAN UMAT

Hari ke-2

Hari ini hari Minggu Paskah V. Hari ini juga menjadi Novena Tahun Syukur KAS yang kedua, yang erenungkan tema Pewartaan Injil di Jawa. Kebetulan pula hari ini adalah hari kedua dari bulan Mei, bulan Maria, yang di Keuskupan Agung Semarang sejak tahun 1999 telah dij adikan Bulan Katekese Liturgi atau BKL. BKL di KAS telah berjalan persis 12 tahun pada tahun 2010 ini. Akan tetapi herannya, dari evaluasi ternyata masih sebagian besar umat beriman di KAS ini yang tidak mengenal apa itu BKL? Kasihan deh Komisi Liturgi… atau…kasihan deh umat yang belum kenal BKL? Atau kasihan deh kita semua yang kurang memperkenalkan apa itu BKL ya?

Sesuai dengan fokus pastoral KAS yang menjadikan tahun 2010 ini sebagai Tahun Syukur, tema BKL tahun 2010 ini ialah Syukur atas Keterlibatan Umat dalam Ekaristi. Mengapa keterlibatan umat dalam Ekaristi perlu disyukuri? Ya, karena keterlibatan umat dalam Ekaristi termasuk hakekat liturgi sendiri. Dari sononya (istilah kerènnya: dari hakekatnya) liturgi menuntut partisipasi seluruh umat beriman sepenuhnya, secara sadar dan aktif (Konstitusi Liturgi dari Konsili Vatikan II: Sacrosanctum Concilium no. 14), mengingat liturgi selalu erupakan perayaan seluruh Gereja (bdk. Sacrosanctum Concilium no. 26). Demikianlah, Perayaan Ekaristi adalah perayaan seluruh Gereja yang menuntut keterlibatan seluruh umat. Misa Kudus itu bukan hanya urusan Pastor Paroki, Tim Liturgi Paroki, para Prodiakon, Lektor, dan para petugas lainnya. Apa jadinya liturgi yang digarap dengan apik, para petugasnya dilatih bagus, tetapi umat yang hadir banyak yang terlambat, selama Misa ber-SMS ria, kalau ada telepon masuk ke HP diterima sambil bilang: “Sebentar ya, aku lagi Misa….”.

Pokoknya sebagus apapun liturginya dan petugasnya, tetapi kalau umatnya tidak terlibat dengan seluruh hati, budi dan pikiran, ya sama saja. Itulah sebabnya, keterlibatan umat dalam Ekaristi mesti diupayakan dan disyukuri!

* * *

Merenungkan MOTIVASI EKARISTI

Hari ke-3

Umumnya umat Katolik rajin Misa setiap hari Minggu. Benar kan? Tetapi ada juga yang rajin Misa setiap hari. Hanya saja, saking rutinnya merayakan Misa Kudus,selalu ada godaan Misa asal jalan, sekali lagi ya karena rutinitas. Ada yang Misa karena demi kewajiban, demi tugas, atau sedang membutuhkan Tuhan mengingat besok ujian akhir, atau karena kangen ama Tuhan. Hari ini sebaiknya kita merenungkan motivasi kita mengikuti Misa Kudus.

Dari hari pertama renungan BKL ini, kita merenungkan makna Ekaristi sebagai perayaan pujian syukur. Maka motivasi untuk mengikuti Misa mestinya bertolak dari keinginan untuk bersyukur. Bukankah Tuhan telah begitu baik kepada kita, keluarga kita. Kita diberi keluarga yang baik, umat lingkungan dan paroki yang baik. Kita diberi pekerjaan dan kawan-kawan yang baik. Dst. Kita merayakan Ekaristi karena ingin bersyukur sekaligus mengenang karya penebusan Tuhan yang kini hadir dalam hidup kita. Dengan Misa Kudus, kita menerima berkat berlimpah dari Tuhan sendiri. Sikap mana yang paling pantas kita buat untuk mengungkapkan rasa syukur tersebut? Ya marilah, untuk Misa kita tidak datang terlambat ataupun ngepas waktunya. Bagus sekali jika kita datang 30 atau 15 menit sebelum Ekaristi dimulai, agar kita masih sempat untuk doa pribadi. Jangan lupa, kita matikan HP kita.

Lalu kita duduk bersama dengan keluarga. Kalau mungkin, kita juga saling sapa dan senyum kanan kiri secara sopan sambil berbisik. Kita sempatkan pula untuk membaca teks Kitab Suci yang akan dibacakan nanti. Inilah persiapan-persiapan batin yang perlu dilakukan agar Ekaristi dapat dirayakan secara lebih bermakna dan berdayabuah.