Bartimeus

Oleh: Albert Alamsah Suhardi

Dalam injil sinoptik, Bartimeus termasuk sosok yang istimewa. Ia adalah satu-satunya karakter yang mengalami mukjizat penyembuhan dari Yesus yang disebut dengan nama. Secara harafiah namanya berarti: “anak (Bar) kehormatan (Time)”.

Sebagai pengemis buta yang berdiam di pinggir jalan dekat kota Yerikho, Bartimeus mungkin cuma pernah mendengar tentang Yesus dari mulut orang lain. Hebatnya, ia bisa percaya dan memanggil-Nya “Anak Daud”, sebutan lain untuk Mesias bagi kaum Israel. “Iman timbul dari pendengaran” (Rom 10:17a) demikian menurut St Paulus. Iman yang ditandai pula dengan kerendahan hati sehingga sebelum datang kepada Yesus, Bartimeus mau terlebih dahulu memohon belas kasih. Itulah Kyrie yang juga kita senantiasa serukan sebagai bagian dari proses perjumpaan kita dengan Kristus dalam Ekaristi.

Bartimeus mau menanggalkan jubah, boleh jadi satu-satunya yang dimilikinya, untuk datang kepada Yesus. Ia tidak minta yang muluk-muluk kecuali hanya untuk bisa melihat. Dan karena iman, ia pun mendapatkannya. Sikapnya kontras dengan si kaya, yang merasa layak selamat karena perbuatan baik tetapi tidak rela melepaskan kelekatan pada hartanya yang berlimpah, ataupun dengan Yakobus dan Yohanes yang mencari kedudukan tanpa sepenuhnya mengerti apa yang mereka minta dan apa yang mereka sanggupi. Kisah Bartimeus, menurut Bapa Suci, adalah model dari tahapan perjalanan inisiasi kaum Kristiani yang dibentuk dalam Gereja sebagai persiapan bagi sakramen baptis, krisma, dan Ekaristi. “Iman adalah penapakan dalam terang (path of illumination) yang berangkat dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa setiap kita membutuhkan keselamatan dan tiba pada perjumpaan pribadi dengan Kristus yang memanggil kita untuk mengikuti-Nya dalam perjalanan kasih” (Khotbah saat Doa Angelus di Vatikan, 30 Okt 06).

Mari kita meneladani Bartimeus, percaya sekalipun tidak melihat. Dengan rendah hati mau datang kepada Yesus, melangkah keluar dari keterasingan dosa, lepas dari daya tarik dunia. Meminta apa yang bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kemuliaan-Nya. Semoga terang jasmani kita terpancar pula dalam terang spiritual, menyinari setiap langkah kita mengikuti Yesus menuju Kerajaan Allah. Menerima apa yang kita tidak layak dapatkan berkat rahmat, dan diluputkan dari apa yang kita layak terima berkat pengampunan. Kalau saja Bartimeus bisa bersenandung mengungkapkan keindahan semua ini, niscaya inilah pula lantunannya:



Amazing Grace, how sweet the sound

That saved a wretch like me

I once was lost, but now I’m found

Was blind, but now I see


Baca selengkapnya....

3 in 1

Oleh: Albert Alamsah Suhardi

Masih ingat “cerita” tentang Santo Agustinus dan seorang anak kecil di tepi pantai? Cerita yang membandingkan pemahaman atas misteri Tritunggal dengan upaya memindahkan air laut ke dalam suatu lubang tersebut menggambarkan Tritunggal sebagai misteri yang terlalu kompleks untuk dicerna dengan akal budi, sekalipun bagi seorang cendikiawan besar gereja seperti Santo Agustinus.

Tritunggal adalah misteri tentang sang Pencipta sendiri, sumber dari segala sesuatu, maka ia pada hakekatnya merupakan sumber dari segala misteri iman. Kekal adanya. Tidak untuk dipecahkan, tapi untuk diimani. Ia berpijak pada pengakuan iman akan Allah yang esa, yang telah diwahyukan lewat perantaraan Musa dalam shema Israel: “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!” (Ul 6:4), dan dinyatakan pula oleh Yesus dalam hukum kasih-Nya (Mrk 12:29). Iman yang juga meyakini bahwa Allah hadir dalam 3 pribadi terpisah, dengan peran yang berbeda-beda: Allah Bapa sebagai Sumber, Allah Putra sebagai Penebus, dan Allah Roh Kudus sebagai Penasihat atau Pembimbing. Mengapa 3 pribadi, tidak ada yang tahu. Itulah misteri. Yang pasti, manusia tidak bisa mengatur atau membatasi bagaimana Allah hendak menyatakan diri-Nya.

Meski istilah Tritunggal tidak ditemukan dalam alkitab, ia bukan konsep yang spekulatif, tetapi merupakan kebenaran berdasarkan kitab suci yang dirumuskan menjadi doktrin iman oleh para bapak leluhur Gereja kita. Konsep Tritunggal terutama bersumber pada Perjanjian Baru. Khusus dalam injil Matius, pewartaan Tritunggal bahkan sudah dimulai dari bagian awal, saat Yesus dibaptis, dan mencapai puncaknya pada bagian akhir, saat Perutusan Agung.

Akhirnya, Allah adalah kasih. Dan kasih tidak bisa berdiri sendiri. Ia senantiasa mengalir, tak berkesudahan. Kata “Kita” dalam kisah penciptaan manusia oleh karenanya seakan dari semula telah mengandung pesan bahwa Allah adalah pertukaran kasih yang sempurna antara Bapa, Putra dan Roh Kudus di dalam surga. Dan manusia diciptakan, menurut gambar dan rupa Allah, untuk turut mengalami kemuliaan kasih tersebut di atas bumi. Karena dosa, manusia tersesat dan terputus dari Allah. Tetapi karena kasih, Putra pun diutus ke dunia untuk memulihkan. Dan setelah menyelesaikan tugas-Nya, Ia kembali kepada Bapa, mewariskan Roh Kudus yang senantiasa menuntun kita untuk tidak lagi mau menjadi budak dosa melainkan anak-anak Allah. Hingga pada akhirnya genaplah pula doa-Nya: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita” (Yoh 17:21). Amin.

Baca selengkapnya....

HOMILI: Senin, 31 Mei 2010: Pesta SP Maria Mengunjungi St Elisabet.

BACAAN I: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b
MAZMUR TANGGAPAN: Yes 12:12-13.4bcd.5-6; R:6b
I N J I L: Luk 1:39-56


"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”

Kunjungan atau kunjung-mengunjungi memang merupakan tindakan yang membahagiakan, meskipun untuk itu butuh pengorbanan, entah waktu, tenaga atau dana/uang. Orang-orang Jawa memiliki kebiasaan ini pada umumnya di sekitar Hari Raya Idul Fitri. Kunjungan keluarga, sanak saudara dan sahabat terhadap saudaranya yang sakit dan dirawat di rumah sakit kiranya merupakan kebahagiaan dan mendorong proses penyembuhan pasien yang bersangkutan. Kunjungan atau sapaan singkat sering dilakukan kepada saudara kita yang berulang tahun. Para petinggi/atasan sering berkunjung ke daerah, bawahan atau anak buah Paus Yohanes Paulus II alm. kiranya merupakan Paus, Gembala, yang begitu banyak mengunjungi domba-dombanya di seluruh dunia, sehingga Yang Mulia pernah diberi pangkat ‘The flying Pope’, dan kunjungan pastoralnya memang sungguh membahagiakan dan menguatkan domba-dombanya. Apa yang terjadi dalam kunjungan atau perjumpaan kiranya sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata saja: kegembiraan hati dan kegairahan jiwa. Maka pada pesta SP Maria mengunjngi Elisabeth hari ini, marilah kita mawas diri perihal keutamaan kunjungan.

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.” (Luk 1:42-44)

Apa yang keluar dari mulut begitu bertemu dengan sahabat atau saudara pada umumnya saling memberi salam: Selamat Datang, Selamat Pagi, Selamat Malam dst.. Memberi atau meneruskan ‘selamat’ itulah yang pertama-tama terjadi dalam perjumpaan antar sahabat, sebagaimana dilakukan oleh SP Maria kepada Elisabeth. Baik Maria maupun Elisabeth di dalam rahim masing-masing sedang tumbuh berkembang karunia Roh Kudus, mereka berdua penuh dengan Roh Kudus, maka ketika bertemu saling memberi salam dan pujian serentak menyadari dan menghayati kerapuhan dan kelemahan dirinya. Salam yang keluar dari pribadi yang penuh Roh Kudus memberi kegembiraan total pada yang menerimanya, sebagaimana dialami oleh Elisabeth :”Sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan”. Bagaimana kita saling memberi salam atau pengalaman kita menerima salam dari sesama/saudara?

Orang penuh dengan Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah Roh, yaitu: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal5:22-23), maka ketika memberi salam atau menyapa saudara dan sesamanya dijiwai oleh keutamaan-keutamaan tersebut, terutama dengan kelemahlembutan alias tidak dengan kasar dan seram menakutkan. Salam yang dijiwai dengan kelemahlembutan memang menghanyutkan dan mengharukan, sehingga yang mendengar salam tersebut betekuk lutut dan merendahkan diri. Cara yang demikian ini juga dimanfaatkan oleh para penjahat atau penipu terhadap korban-korbannya. Karena para penjahat atau penipu sering juga bertindak dan menyapa dengan lemahlembut, maka sering muncul kecurigaan atau kehati-hatian menanggapi orang yang baru dikenal yang memberi salam dengan lemah lembut. Namun jika kita sendiri penuh dengan Roh Kudus kiranya dapat membedakan mana salam sejati yang lahir dari ketulusan atau kesucian hati dan pura-pura atau sandiwara yang lahir dari kebusukan hati. Maka ketika kita menerima salam yang lemah lembut, baiklah kita tanggapi dengan rendah hati seperti Elisabeth menanggapi salam Maria; dengan cara ini kiranya para penjahat atau penipu akan kelihatan boroknya dan mereka akan mundur teratur dengan malu. Dalam kerendahan hati kiranya kita juga tidak mudah tertipu oleh rayuan-rayuan gombal atau jahat, karena kita tidak akan mudah percaya pada kegembiraan yang mereka tawarkan dan kita sudah bergembira sampai lubuk hati atau rahim.

“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” (Rm12:9-1016)

Sapaan atau nasihat Paulus kepada umat di Roma ini kiranya baik kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari. Maka perkenankan saya uraikan secara sederhana nasihat tersebut:

· “Hendaknya kasih itu jangan pura-pura!”. Pura-pura atau permainan sandiwara dalam kehidupan sehari-hari rasanya masih marak pada masa kini. Tindakan pura-pura atau sandiwara hemat saya mununjukkan bahwa yang bersangkutan tidak percaya diri, tidak bahagia dan nikmat atas dirinya yang unik saat ini. Dengan kata lain ada irihati yang hidup dalam dirinya. Nasihat Paulus ‘hendaknya kasih itu jangan pura-pura’, hemat saya pertama-tama kita harus bahagia dan damai atas diri kita sendiri apa adanya. Ingat: orang bermain sandiwara atau bertindak pura-pura tidak berlangsung lama dan hanya sebentar saja serta mahal beayanya, sementara itu hidup kita berlangsung begitu lama. Bertindak pura-pura atau sandiwara dalam hidup sehari-hari akan segera hancur alias bangkrut dalam segala hal. Marilah kita bertindak apa adanya sesuai kemampuan, kesempatan dan kemungkinan kita masing-masing.

· “Saling mengasihi sebagai saudara dan mendahului memberi salam”. Kita semua adalah saudara, sama-sama ciptaan Allah, sama-sama manusia yang lemah dan rapuh, tak dapat berbuat apa-apa tanpa campur tangan atau kasih Allah. Yang membuat kita dapat hidup seperti saat ini adalah Allah yang mengasihi kita dengan murah hati, maka jika kita dapat mengasihi itu semua karena Allah. “Kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”(1Yoh4:7), maka Allah telah mengasihi kita lebih dulu sebelum kita dapat mengasihi. Maka sekiranya kita sungguh beriman kepada Allah kiranya kita tidak akan membeda-bedakan saudara atau sesama kita, dan kita akan berlomba mendahului memberi salam.

· “Arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana” . Yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari adalah perkara atau hal-hal sederhana bukan yang muluk-muluk atau tinggi. Untuk hidup sehat dengan bermotto ‘Empat sehat lima sempurna’, hemat saya apa yang perlu dimakan adalah yang sederhana-sederhana, biasa-biasa saja. Sapaan-sapaan sederhana setiap hari atau bertemu rasanya juga membahagiakan dan menyegarkan. Ada rumor: ” Orang pandai/cerdas sejati adalah orang yang dapat membuat apa yang sulit dan berbelit-belit menjadi sederhana dan dapat diketahui serta dinikmati oleh semua/banyak orang”. Demikian juga “orang suci sejati adalah yang dapat mewujudkan kasih yang begitu indah dan mulia ke dalam hal-hal sederhana”. Maka ajakan atau nasihat Paulus “Arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana”, kiranya layak kita hayati dalam hidup dan cara bertindak kita setiap hari, entah di dalam keluarga, tempat kerja/kantor, masyarakat maupun pergaulan-pergaulan.

Pada pesta SP Maria mengunjungi Elisabeth ini kiranya baik kita refleksikan juga cara bertindak, berkarya atau berpastoral kita. Teladan SP Maria mengujungi perlu kita tiru, dan apa yang dihayati SP Maria juga dihayati oleh Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia dan tinggal bersama dengan kita, ‘melepaskan ke-Allah-an atau kebesaran-Nya’. Mengunjungi atau mendatangi rasanya merupakan cara bertindak, berkarya dan berpatoral yang perlu kita tingkatkan dan perdalam.

“Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi! Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!" (Yes 12:2-6)

Ignatius Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

HOMILI: Sabtu-Minggu, 29-30 Mei 2010 Hari Raya Tritunggal Mahakudus

BACAAN I: Ams 8:22-31
MAZMUR TANGGAPAN: Mzm 8:4-5.6-7.8-9
BACAAN II: Rm 5:1-5
I N J I L: Yoh 16:12-15

“Kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rm 5:1-2)

Iman memang merupakan anugerah Allah, dan sebagai anugerah Allah juga sulit dijelaskan atau dimengerti dengan akal sehat secara tuntas, melainkan lebih dihayati di dalam hidup sehari-hari. Beriman antara lain berarti mempercayakan diri kepada sesuatu ‘yang tidak kelihatan’ sebagaimana dialami oleh Bapa Abraham, bapa umat beriman, ketika kepadanya dijanjikan keturunan sebanyak bintang di langit namun harus mengorbankan anaknya yang tunggal. Tritunggal Mahakudus adalah misteri, artinya memang tidak dapat dijelaskan atau diungkap secara tuntas atau penuh. “Misteri Tritunggal Mahakudus adalah rahasia sentral iman dan kehidupan Kristen. Itulah misteri kehidupan batin ilahi, dasar pokok segala misteri iman yang lain dan cahaya yang meneranginya. Inilah yang paling mendasar dan hakiki dalam ‘hierarki kebenaran iman’. ‘Seluruh sejarah keselamatan tidak lain dari sejarah jalan dan upaya, yang dengan perantaraannya Allah yang satu dan benar – Bapa, Putera dan Roh Kudus – mewahyukan Diri, memperdamaikan diri-Nya dengan manusia yang berbalik dari dosa, dan mempersatukan mereka dengan Diri-Nya” (Katekismus Gereja Katolik no 234).

Tritunggal Mahakudus sebagai misteri antara lain adalah misteri cintakasih atau kasih karunia, maka siapapun yang menghayati cintakasih atau kasih karunia hemat saya akan mampu menghayati makna atau arti Tritunggal Mahakudus meskipun secara logis tidak dapat memahami dan menjelaskannya. Maka marilah kita hayati cintakasih atau kasih karunia secara mendalam dan konsisten dalam aneka macam situasi kehidupan kita sehari-hari. Cintakasih atau kasih karunia ini hemat saya paling kentara dan muda dihayati dalam relasi antara bapak, ibu dan anak, karena keberadaan mereka laki-laki dan perempuan menjadi bapak dan ibu karena atau oleh cintakasih dan kasih karunia, demikian juga anak ‘diadakan dan dilahirkan’ karena atau oleh cintakasih dan kasih karunia. “Tritunggal”: bapak, ibu dan anak rasanya sungguh menjadi perwujudan bagaimana cintakasih dan kasih karunia menjadi nyata. Dengan kata lain keluarga yang menjadi dasar dan kekuatan hidup bersama di masyarakat merupakan ‘lahan’ cintakasih dan kasih karunia yang subur. Kami percaya jika hal itu menjadi nyata di dalam hidup berkeluarga, maka keimanan kita kepada Tritunggal Mahakudus semakin dapat dinikmati dan dihayati. “Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah”, demikian kesaksian iman Paulus.

“Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku” (Yoh 16:14-15).

Dari kutipan sabda Yesus di atas ini kiranya sangat jelas bagaimana kesatuan Tritunggal Mahakudus. Kehadiran dan karya Tritunggal Mahakudus dalam hidup sehari-hari dapat kita terima dan hayati dalam dan melalui karya Roh Kudus, yang memberitakan kepada dan mengingatkan kita apa yang telah kita dengar tentang Yesus Kristus. Tanda bahwa kita sungguh mendengarkan dan melaksanakan kehendak atau karya Roh Kudus adalah “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya….Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh15:1012-13)

Hidup saling mengasihi merupakan tanda bahwa kita beriman pada Tritunggal Mahakudus. Kebersama-an hidup yang saling mengasihi kiranya dapat digambarkan sebagaimana kehidupan jemaat purba ini: “Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kis2:44-47). Secara sederhana cara hidup bersama tersebut untuk masa kini kiranya dapat dihayati demikian:

· Dalam kehidupan bersama tidak ada satu orangpun yang berkekurangan dalam hal kebutuhan pokok sehari-hari. Maka sekiranya dalam kebersamaan hidup kita masih kita temukan mereka yang bekekurangan, marilah kita perhatikan dan tolong dengan ‘harta milik’ kita. Untuk itu memang diharapkan tidak ada orang yang serakah dengan menumpuk ‘harta milik’ untuk diri sendiri sebanyak mungkin dan orang lain tidak memperoleh bagian. Baiklah kita mencukupi diri sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan atau nafsu, sebagaimana sering kita doakan dalam doa Bapa kami : “Berilah kami rezeki hari ini secukupnya”, bukan sebanyak-banyaknya.

· Kehidupan bersama yang dijiwai oleh solidaritas dan keberpihakan pada mereka yang miskin dan berkekurangan ini perlu dilengkapi dan dijiwai dengan doa dan ibadat bersama, entah di dalam keluarga atau tempat kerja. Marilah dalam hidup bersama kita “bertekun dan sehati berkumpul, makan bersama dengan gembira dan tulus hati sambil memuji Allah”.


“Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mzm 8:4-6)

Jakarta, 3 Juni 2007


Baca selengkapnya....

Launching Flexi Kristiani Meriahkan Hari komunikasi Sedunia ke-44

24 Mei 2010 16:08

(Manado 17/5)Rangkaian perayaan hari komunikasi sosial sedunia ke-44 yang diselenggarakan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI tahun ini dipusatkan di keuskupan manado. Diawali seminar bertema komunikasi organisasi bagi para imam se-Keuskupan Manado tanggal 10-12 Mei 2010, dilanjutkan dengan lokakarya penyadaran bermedia bagi mudika, siswa dan guru tanggal 13 Mei serta pelatihan pengenalan internet tanggal 14-15 Mei.

Seminar komunikasi organisasi yang diikuti dengan antusias oleh para para imam dibuka oleh Uskup Manado, Mgr.Josef Suwatan dan Ketua Komisi Komsos Manado, Pastor Rhein Saneba, Pr dengan menghadirkan narasumber tunggal Errol Jonathans.

Rm saneba Pastor Saneba, dalam kata pembukaan mengharapkan agar para rekan imamnya bersinergi penuh mendukung perayaan hari komunikasi sosial. Ia juga berharap, khususnya pada tahun imam ini para imam di keuskupan manado digital dalam pelayanan mereka.

Puncak perayaan hari komunikasi tanggal 16 Mei dirayakan dengan misa kudus di Gereja Katedral Manado dengan selebran misa Mgr.Petrus Turang, Mgr.Josef Suwatan, Romo Agus Alfons Duka SVD, Pastor Rheinner Saneba Pr dan Pastor Herman Umbas Pr

Malam harinya, bertempat di Megamall Manado, Komisi Komsos Manado bekerjasama dengan Telkom Flexi flexi meluncurkan Flexi Kristiani, sebuah perangkat selular yang berisikan bacaan dan renungan iman bagi umat Kristiani. Launching tersebut dihadiri Walikota Manado dan Uskup Manado dan turut dimeriahkan oleh Indonesian Idol: Dirly, Wilson serta Angel (Idola Cilik).

(Mirifica/R)


Viewed: 110 ; Printed: 12


Baca selengkapnya....

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Pemecahan Hosti dan Pencampuran Pecahan Kecil Hosti Suci ke Darah Kristus (21)

Pemecahan Hosti

Pemecahan hosti atau pemecahan roti merupakan tindakan yang penuh simbol. Yesus juga melakukannya saat perjamuan malam terakhir, sebelum Ia membagi-bagikan roti, roti itu dipecah-pecah dulu karena roti itu berukuran besar. Roti yang dipecah-pecah melambangkan kesatuan kita dengan Tuhan Yesus Kristus dan umat beriman lainnya. Santo Paulus berkata: “Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan Tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17).

Dalam tulisan Lukas, kita mengenal istilah “pemecahan roti” yang menunjuk kepada Perayaan Ekaristi. Di jaman para rasul, Perayaan Ekaristi disebut Pemecahan Roti, sebab kegiatan pemecahan roti itu melambangkan persatuan umat dalam satu roti. Selain itu juga melambangkan cinta persaudaraan, sebab roti yang satu dan sama itu dipecah-pecah dan dibagikan antara saudara seiman. Praktek pemecahan roti ini masih dipertahankan sampai saat ini. Pemecahan roti menandakan bahwa umat beriman menjadi satu (1Kor 10:17), karena menyambut komuni dari roti yang satu.

Kenyataan sekarang ini, untuk komuni umat kita menggunakan hosti yang kecil-kecil; maka tidak ada lagi pemecahan roti yang kecil-kecil. Paus Paulus VI dalam pembaruan menyatakan bahwa hosti suci hendaknya dibuat agar dapat dipecah-pecahkan oleh imam; dan bagian-bagian itu hendaknya juga diberikan kepada beberapa orang beriman. Pada dasarnya, penggunaan hosti kecil tetap dapat dipertahankan.



Pencampuran Pecahan Kecil Hosti Suci ke Darah Kristus

Setelah imam memecah-mecahkan hosti suci, ia memasukkan pecahan kecil hosti suci ke Darah Kristus dalam piala. Makna ini tak mudah dijelaskan. Para ahli berpendapat: (1) praktek ini merupakan kebiasaan ritus Romawi kuno. Waktu itu ada kebiasaan, Paus mengirim potongan hosti suci, yang disebut fermentum, kepada imam-imam di gereja sekitar. Para uskup di kota lain ikut membuat praktek serupa. Ini untuk melambangkan persaudaraan dengan paus atau uskup, dan simbol kesatuan dengan kurban Kristus, (2) Ritus ini diambil dari ritus liturgi yang berkembang di Siria. Pencampuran hosti suci ke Darah Kristus melambangkan kebangkitan Kristus dan kehadiran-Nya di altar. Dengan hosti suci yang dimasukkan ke Darah Kristus, ingin mengungkapkan kehadiran Kristus yang mulia di atas altar.

Pada saat imam memasukkan pecahan kecil hosti suci ke piala yang berisi Darah Kristus, imam berdoa dalam hati: “Semoga pencampuran Tubuh dan Darah Tuhan kita Yesus Kristus ini memberikan kehidupan abadi kepada semua yang akan menyambut-Nya”.
Sumber : Fr. Antonius Pramono
Martasudjita,E.Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.

Baca selengkapnya....

26 Mei: Peringatan Wajib St. Filipus Neri


Santo Philipus Neri, Pengaku Iman Riwayat hidup Philipus Neri ini menggembirakan karena sifat dan kepribadiannya yang menarik. Pippo Buono, yang berarti Pippo yang baik adalah nama panggilan Philipus semasa kecilnya. Ia lahir di Florence dari sebuah keluarga Notaris. Ia mendapat pendidikan yang baik terutama dalam sastra latin. Pada tahun 1534 ia tiba di Roma. Ia bermaksud melanjutkan perjalanannya ke India tetapi Allah memilihnya menjadi Rasul di kota Abadi itu. Philipus yang pada saat itu masih berstatus awam memberikan pengajaran kepada beberapa orang anak untuk memperoleh sedikit biaya hidup. Karyanya ini membuat banyak orang mengenal dia terutama di kalangan para pemuda. Banyak pemuda diundangnya ke rumahnya. Disana mereka berdiskusi, menyanyi, berdoa, dan kadang-kadang berlatih pidato singkat mengenai sesuatu pokok masalah tertentu. Pada mulanya tidak terlintas keinginan untuk membentuk suatu perkumpulan tetap. Tetapi kemudian mereka berkeputusan untuk membentuk suatu perkumpulan di bawah perlindungan Suci Bunda Maria. Mereka hidup bersama dalam satu rumah tanpa mengikrarkan kaul-kaul. Setelah Philipus Neri ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1551, perkumpulan ini berkembang meluas ke seluruh Roma. Philipus terus meningkatkan perlayanan kepada pemuda-pemuda itu. Kini ia menuntut agar para muridnya benar-benar menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Ia tidak mengharapkan banyak dari para muridnya, kecuali kerendahan hatinya kepada Tuhan saja. Meskipun demikian perkumpulannya tidak terlalu keras. Philipus Neri bukanlah seorang pemulih ketertiban, bukan juga seorang Teolog kenamaan atau seorang politikus. Ia, orang biasa, tetapi hidupnya merupakan rentetan mukzijat yang tidak henti-hentinya. Tidaklah jarang ia mengalami ekstase. Ia dapat membaca suasana batin orang lain dan mengenal rahasia-rahasia pribadi orang. Ia dapat meramalkan masa depan seseorang dan apa yang akan terjadi atas dirinya. Untuk menyembuhkan orang dari sakitnya, cukuplah ia menyentuh orang itu. Demikian juga semua orang yang gelisah dan susah hatinya karena berbagai masalah. Beliau tetap riang-gembira, jujur, ramah kepada setiap orang. Ia memberi semangat dan harapan kepada orang-orang di sekelilingnya dengan kepercayaan, cinta kasih dan kegembiraannya, sehingga banyak orang terhibur karenanya. Setiap hari di tempat pengakuannya dikerumuni oleh orang banyak, bahkan kardinal-kardinal pun datang meminta nasehat dan bimbingan. Ia dijuluki ‘Pelopor Anti Reformasi’. Pada tanggal 26 Mei 1595 Philipus Neri meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Ia dihormati gereja sebagai Rasul kota Roma. Sumber: http://www.imankatolik.or.id/


Share|

Baca selengkapnya....

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Agnus Dei atau Anak Domba Allah; Doa Persiapan dan Undangan untuk Komuni

Agnus Dei atau Anak Domba Allah



Anak Domba Allah dinyanyikan/didaraskan untuk mengiringi upacara pemecahan roti. Bila tidak dinyanyikan, Agnus Dei didaraskan dengan suara lantang. Yang menyanyikan atau mendaraskan bisa paduan suara atau solis, dan yang menjawab umat. Karena sifatnya mengiringi, maka nyanyian Anak Domba Allah (khususnya dua bagian pertama) dapat diulang-ulang sampai pemecahan roti selesai. Pengulangan terakhir ditutup dengan seruan: berilah kami damai.

Rumusan Anak Domba Allah ini diambil dari teks Perjanjian Baru (Yoh 1:29,36). Gelar “Anak Domba Allah” diucapkan Yohanes Pembaptis untuk Yesus. Yohanes memandang Yesus sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan bagi keselamatan dunia.

Seruan Anak Domba Allah ini ingin menyampaikan pujian umat beriman kepada Kristus yang telah mengurbankan diri-Nya untuk kita, dan kini hadir sebagai Tuhan yang mulia di atas altar.

Doa Persiapan dan Undangan untuk Komuni

Sebelum memasuki komuni, imam melakukan doa persiapan dalam hati. Umat menggabungkan diri dengan sikap doa pribadi dan hening. Setelah berlutut, imam mengundang umat untuk menyambut komuni sambil memegang hosti suci di atas patena atau piala dan memperlihatkannya kepada umat, dengan berkata: “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya”. Kata-kata: “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” berdasarkan Injil Yohanes 1:29. Kata-kata: “Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya”, dikutip dari Wahyu 19:9. Dari kutipan ini jelas bahwa umat diundang untuk menyambut Komuni dengan melihat ke depan – perspektif eskatologis* [zaman akhir]. Yang penting lagi bahwa penerimaan Komuni merupakan tindakan partisipatif dalam perjamuan surgawi, yaitu suatu antisipasi dalam perjamuan di surga.

Umat beriman, baik imam dan umat, menjawab: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”. Kata- kata ini seperti kata-kata perwira yang penuh iman dan percaya, yang rumahnya akan didatangi Tuhan Yesus (Mat 8:8).

Sumber :
Fr. Antonius Pramono
Martasudjita,E.Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.


Catatan: * Eskatologi dari bahasa Yunani: eskhata (hal-hal terakhir) dan logos (pembicaraan). Eskatologi adalah pembicaraan tentang hal-hal terakhir; hal-hal yang berkaitan dengan akhir dunia; tentang hari-hari terakhir (2Tim 3:1); tentang suatu Hari terakhir (Yoh 6:39—40.44.54); tentang zaman akhir (1Ptr 1:5). Eskatologi juga berarti zaman akhir, yakni zaman yang dimulai dengan kedatangan Yesus yang pertama, dan berakhir dengan kedatangan Yesus yang kedua dalam kemuliaan.


Baca selengkapnya....

Kembali Ke Jiwa Musik Liturgis



SKU: 40210003

Harga Rp 22.000,-
Ukuran: 14 x 21 cm; 120 hlm

Buku ini dapat digunakan sebagai dasar pemikiran dan petunjuk praktis atau pedoman dasar yang benar tentang Musik Liturgi dalam Perayaan Ekaristi dan ibadat-ibadat Gereja Katolik lainnya. Dengan demikian, siapa saja, terutama yang bergabung dalam kelompok paduan suara gerejawi, baik sebagai anggota, dirigen, maupun organis, tidak akan ragu-ragu lagi dalam memilih nyanyian Liturgi, menyanyikannya dan menjiwainya dengan baik dan benar sesuai kaidah-kaidah Liturgi yang dikehendaki Gereja dan seluruh umat beriman.

"Patut kita syukuri peran kor-kor atau paduan suara-paduan suara di paroki-paroki kita. Namun disesalkan juga karena ada paduan suara yang telah memilih lagu-lagu yang tidak liturgis atau melatih dan menyanyikan hampir semua bagian nyanyian dalam perayaan Liturgi... Selain itu, ada pula banyak paduan suara yang sangat bagus, tetapi tidak atau belum mengetahui dan mempelajari dokumen-dokumen Gereja mengenai Liturgi dan musik Gereja. Dalam rangka membantu paduan suara untuk melaksanakan perannya sebaik mungkin, catatan-catatan yang terdapat dalam buku kecil ini perlu mendapat perhatian karena hampir semuanya didasarkan pada dokumen-dokumen Gereja mengenai Liturgi dan musik Liturgi."

- Bernardus Boli Ujan, SVD
(Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI, 2002-2008)

Jika anda berminat silahkan kunjungi toko buku rohani Katolik terdekat atau www.obormedia.com

Baca selengkapnya....

Memulai dan Mengelola Media Gereja dalam Terang Inter Mirifica




Pengarang:
R. Masri Sareb Putra

SKU: 40910003
Harga Rp. 30.000

Buku pegangan dalam mengelola media Gereja, agar sungguh-sungguh menjadi medium warta gembira dan karya kerasulan yang visioner, berkualitas, berdaya pikat, smart, tahan banting dan mandiri di era the new media.

Berisi antara lain:
* Bagaimana mengelola rubrik
* 30 Tips Menulis Berita dan Feature
* Kode Etik Jurnalisitk
* 10 Pedoman Penulisan Bidang Agama
* Dekrit Inter Mirifica
* Pesan Bapa Suci Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia ke 44

Harga Normal Rp 30.000,-
ukuran 14 x 21; 200 hlm

Jika anda berminat silahkan kunjungi toko buku rohani Katolik terdekat atau www.obormedia.com


Baca selengkapnya....

HOMILI: Sabtu-Minggu, 22-23 Mei 2010

HARI RAYA PENTAKOSTA

BACAAN PERTAMA: Kis 2:1-11
MAZMUR TANGGAPAN: Mzm. 104:1ab,24ac,29bc-30,31,34
BACAAN KEDUA: Rm 8:8-17/ 1Kor. 12:36-7,12-13
I N J I L: Yoh 14:15-1623b-26


“Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita”

Partai Komunis pernah menjadi partai terbesar di Indonesia: anggota serta simpatisan partai terdiri dari golongan tingkat atas/pejabat sampai rakyat kecil. Pengaruh partai ini terhadap rakyat kecil dan miskin sungguh luar biasa, antara nampak dalam tarian-tarian rakyat yang sangat populer dan memasyarakat pada masa jayanya. Namun partai ini tidak abadi, kejayaannya hancur dalam waktu ‘sesaat’. Kelompok atau organisasi yang dijiwai oleh Marxisme ini tidak tahan lama. Entah ada berapa organisasi politik atau kemasyarakatan di dunia ini, ada berapa LSM atau NGO (Lembaga Sosial Masyarakat atau Non Government Organization), mungkin sulit didata atau dihitung. Ada yang timbul dan ada yang tenggelam, tetapi juga nampaknya ada yang terus bertahan hidup, bahkan berkembang meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta penindasan. Gereja dalam arti tertentu juga merupakan organisasi kemasyarakatan atau memiliki warna organisatoris. Gereja semula hanya satu yaitu Gereja Yesus Kristus, artinya ‘paguyuban orang yang beriman pada Yesus Kristus’, namun mungkin karena warna organisatoris pernah mendominasi dalam kehidupan Gereja, maka tidak mengherankan kemudian terjadi perpecahan sebagaimana kita lihat saat ini ada macam-macam Gereja. Ada Gereja Katolik, Gereja Protestan/Reformasi (ada macam-macam Gereja Reformasi), Gereja Ortodoks dst.. , namun semuanya tetap beriman pada Yesus Kristus. Ada yang mengatakan bahwa Hari Raya Pentakosta ini merupakan ‘Hari Pendirian Gereja’, dimana orang-orang dari berbagai suku dan bangsa waktu itu, peristiwa Pentakosta, yang berbeda satu sama lain disatukan oleh ‘anugerah Roh Kudus’ , yang nampak ketika Petrus dan para rasul berkotbah “kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita”. Maka baiklah di Hari Raya Pentakosta ini kita mawas diri perihal persaudaraan atau persahabatan kita dalam Yesus Kristus dan oleh Roh Kudus.

“Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1Kor 12:4-6)

Keragaman dalam kesatuan atau kesatuan dalam keragaman itulah kiranya cirikhas kehidupan bersama kita di dalam Gereja, sebagaimana dikatakan oleh Paulus : “Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan”. Dari milyard-an manusia di bumi ini tidak ada yang sama persis alias identik meskipun ada yang disebut kembar, tetapi semuanya diciptakan oleh Tuhan yang satu dan sama. Tetapi justru karena berbeda satu sama lain itulah ada saling ketertarikan, yang menjadi kekuatan orang untuk saling mendekat dan melengkapi. Kiranya kita dapat membayangkan betapa menjemukan hidup ini jika semua sama tiada perbedaan satu sama lain. Maka baiklah jika kita mengalami atau menghadapi perbedaan-perbedaan antar kita janganlah menjadi kecewa atau putus asa melainkan syukurilah hal itu sebagai anugerah Tuhan.

Kebersamaan hidup kita ini kiranya bagaikan ‘karangan bunga yang terdiri dari berbagai jenis dan warna bunga disusun sedemikian rupa sehingga menarik dan indah’. Masing-masing dari kita memperoleh kasih karunia Allah yang luar biasa, antara berupa bakat, kemampuan, keterampilan, kekayaan dst.., yang memang harus kita terima dengan penuh syukur dan terima kasih dengan memfungsikan kasih karunia tersebut demi kepentingan semua orang. Maka baiklah kasih karunia tersebut kita perdalam dan tingkatkan agar kita semakin mampu membantu kepentingan umum atau orang banyak. Tentu saja ketika kita sampai pada puncak pengembangan kasih karunia tersebut antara lain dengan menjadi sangat terampil, sangat cerdas, sangat kaya dst.. hendaknya jangan menjadi sombong, melainkan menjadi rendah hati sebagaimna pepatah Jawa berkata :”batang padi semakin berisi semakin menunduk’. Rasanya semakin orang memperdalam suatu ilmu pengetahuan atau keterampilan juga akan semakin menyadari keterbatasan atau kelemahan dirinya, dan dengan demikian memang menjadi terbuka terhadap yang lain atau sesama. Sekiranya ketika semakin pandai, cerdas, kaya, berpengetahuan, terampil dst.. kita tidak menjadi rendah hati, marilah kita renungkan pesan Yesus di bawah ini, ada kemungkinan kita lupa akan pesan atau ajaran utama Yesus untuk saling mengasihi.

“Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh14:26)

Roh Kudus dianugerahkan kepada para rasul sehingga para rasul dengan tegar dan tanpa takut mewartakan apa yang telah mereka terima dari Yesus Kristus. Kita semua juga menerima anugerah Roh Kudus ‘yang mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu’. Maka marilah di Hari Raya Pentakosta ini kita mawas diri: sejauh mana kita menghayati dan mensyukuri anugerah Roh Kudus tersebut dalam hidup kita sehari-hari. Jika kita sungguh menghayati anugerah Roh Kudus tersebut kiranya apa yang kita katakan dan kerjakan dapat diterima oleh siapapun serta membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati sebagaimana dialami oleh umat yang berkumpul saat itu: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita” (Kis2:7-8).

Apa yang telah diajarkan atau dikatakan oleh Yesus kepada kita kiranya terangkum dalam ajaran atau perintah ini: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh13:34-35). Saling mengasihi itulah tanda bahwa kita menghayati anugerah Roh Kudus, sehingga cara hidup atau cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh,yaitu : “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri” (Gal5:22-23). Keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh inilah kiranya yang menjadi kekuatan, jiwa atau bekal untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati, yang menjadi dambaan atau kerinduan semua orang. Memang kita tidak mungkin menghayati keutamaan-keutamaan tersebut secara unggul bersama-sama, tetapi hemat saya jika kita unggul dalam salah satu keutamaan tersebut kiranya keutamaan-keutamaan lain secara inklusif dan integratif juga dihayati. Maka perkenankan di sini saya mengajukan salah satu keutamaan yaitu ‘penguasaan diri’. Menguasai diri sendiri rasanya lebih sulit daripada menguasai orang lain, artinya jika orang tidak dapat menguasai diri sendiri maka tindakan terhadap yang lain akan berupa penindasan atau pelecehan, sedangkan orang yang dapat menguasai diri maka tindakan terhadap yang lain berupa pelayanan-pelayanan dengan rendah hati. Untuk dapat menguasai diri memang perlu mengenal diri secara mendalam dan tepat. Marilah kita kenali diri kita sebagai yang telah memperoleh anugerah Roh Kudus, yang memampukan kita untuk mewartakan ajaran dan nasihat Yesus “saling mengasihi”. Kesetiaan kiranya juga merupakan tantangan dalam hidup masa kini, maklum cukup banyak suami-isteri tidak/kurang setia kemudian bercerai atau pisah ranjang, imam, bruder atau suster kurang setia pada charisma pendiri atau konstitusi, para pelajar/mahasiswa kurang setia untuk belajar dst..

“Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi. Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya! Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena TUHAN” (Mzm104:30-3134)

23 Mei 2010,

Rm. Ign Sumarya, SJ

Baca selengkapnya....

Bagaimana mengikuti Misa Kudus yang benar?

Beberapa tips untuk mengikuti Perayaan Ekaristi atau Misa Kudus:

1. Berpuasalah 1 jam sebelum mengikuti Misa Kudus.

2. Hadir lebih awal dengan pakaian pantas.

3. Persiapkan diri dengan menciptakan waktu teduh di dalam gereja.

4. Sadari dan mohon ampun atas kesalahan dan dosa.

5. Ikut terlibat dalam menyanyi dan menjawab ajakan Imam.

6. Dengarkanlah apa yang Allah ingin beritakan lewat bacaan-bacaan Kitab Suci dan Khotbah Imam.

7. Mempersatukan persembahan diri kita dengan roti dan anggur yang akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

8. Sembahlah Dia di saat konsekrasi dengan segenap hati dan budi kita.

9. Sampaikanlah Salam Damai kepada saudara-saudari kita dengan tulus.

10. Terimalah Hosti Kudus (Komuni Kudus) dan sapalah Dia secara pribadi dalam hati dan budi kita.

11. Ciptakan saat teduh dan doa pribadi setelah menyambut Komuni Kudus.

12. Jangan tinggalkan Perayaan Ekaristi sebelum mendapat berkat penutup dari Imam.

13. Bersiaplah menjalani hidup harian kita dengan membagi-bagikan berkat Ekaristis yang kita dapatkan.

14. Kita diutus untuk membawa damai. Jadilah saksi-saksi Kristus di tengah masyarakat.

(sumber: Ekaristi – Mane Nobiscum Domine, Komisi Liturgi, Keuskupan Agung Jakarta)




Baca selengkapnya....

Mengapa Berdoa Rosario?

"Berdoalah Rosario setiap hari agar kalian memperoleh perdamaian untuk dunia dan berakhirnya peperangan," demikian kata Bunda Perawan Maria kepada ketiga anak muda pada tanggal 13 Mei 1917. Dalam penampakannya, Bunda Allah juga selalu menegaskan permintaannya itu, "Aku ingin kalian berdoa Rosario setiap hari." Memang, inilah salah satu inti pesan penting Bunda Maria pada penampakan di Lourdes dan Fatima, yakni supaya berdoa Rosario untuk pertobatan orang-orang berdosa.

"Jika umat manusia tidak bertobat dan memperbaiki hidupnya, Bapa akan mengirimkan hukuman yang dahsyat terhadap umat manusia. Hukuman ini akan lebih dahsyat dari air bah. Api akan turun dari langit dan akan memusnahkan sebagian besar umat manusia. Maka mintalah, mintalah dengan tekun, dan berdoalah Rosario untuk pemurnian setiap Sabtu Pertama." (Pesan Fatima, yang dituliskan kembali di Akita, Jepang, 1973-1981).

Santo Louis de Monfort menyatakan: "Rosraio suci yang didaraskan dengan hikmat berulang kali disertai tindakan pertobatan yang baik tidak akan pernah layu dan mati dan mawar merah kita itu akan tetap elok mempesona selama beribu-ribu tahun terhitung dari sekarang. Dan, jika Anda setia mendaraskan Rosario Suci sampai mati, saya dapat memastikan kepada Anda bahwa betapa pun beratnya dosa-dosa Anda, Anda akan menerima suatu mahkota kemuliaan yang tak akan pernah pudar dan hilang," demiikian meminjam kata-kata Beato Alan de la Roche bahwa Rosario Suci merupakan akar dan gudang berkat yang tak terhitung jumlahnya karena melalui doa Rosario Suci, orang-orang berdosa bertobat dan diampuni, jiwa-jiwa yang dahaga disegarkan, mereka yang terbelenggu akan dilepaskan ikatannya, mereka yang menangis menemukan kebahagiaan, mereka yang dicobai menemukan kedamaian, mereka yang miskin mendapat bantuan, hidup beragama diperbaharui, mereka yang bodoh diajar, manusia belajar mengatasi keangkuhannya serta orang mati dihapus penderitaannya.

Paus Pius XI mengatakan, "Doa Rosario adalah senjata amat efektif untuk mengusir setan, untuk memelihara kesucian hati, untuk mendapatkan keutamaan dengan lebih mudah atau dengan kata lain untuk menganjurkan pertobatan dan menegakkan perdamaian di antara umat manusia. Doa Rosario tidak hanya mengalahkan merek ayang menghina Allah dan musuh-musuh agama, tetapi juga melatih diri kita untuk memperoleh keutamaan-keutamaan Injil yang kita butuhkan.." (Ensiklik Ingravescentibus Malis, 29 September 1973).

Doa Rosario, jika direnungkan dengan kesalehan akan membawa kita kepada pengenalan penuh akan Yesus Kristus, membersihkan jiwa kita dari dosa-dosa, menganugerahkan kepada kita kemenangan atas semua musuh kita, mempermudah kita untuk melatih keutamaan-keutamaan kristiani, memperkaya kita dengan rahmat dan karunia Allah, menjadi sarana yang ampuh untuk melakukan silih atas segala dosa kesalahan kita pada Allah dan sesama serta membantu kita memperoleh segala macam rahmat dari Allah berkat daya kuasanya.

Perlu juga diingat bahwa yang paling inti dari doa Rosario ialah bahwa setiap sepuluh doa Salam Maria dirangkai oleh sebuah doa Bapa Kami dan sebuah doa Kemuliaan serta sekaligus diantar dengan renungan akan peristiwa misteri kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Terdapat 6 kekayaan Rosario, antara lain:

1. Berdoa bersama Maria menjadi sarana menjalin hubungan personal dengan Maria.

2. Berdoa bersama Maria yang ditujukan kepada Allah.

3. Berdoa bersama Santa Bernadette Soubirous. (yang mendapat penampakan Bunda Maria di Lourdes - red)

4. Bercorak repetisi sehingga menekankan sifat meditatif.

5. Masuk dalam titik-titik penting seluruh karya penyelamatan Allah.

6. Memuat seluruh isi iman Gereja.

Di tengah keseibukan dan rutinitas harian kita, sudakah kita berdoa Rosario juga bagi keluarga kita sendiri?

(Enam Kekayaan Rosario, Rm. Jost. Kokoh, Pr, Tanda - Kata, Angka, dan Nada, Kanisius, 2009)




Baca selengkapnya....

HOMILI: Sabtu-Minggu, 15-16 Mei 2010

1HARI MINGGU PASKAH VII - HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE 44

BACAAN I: Kis. 7:55-60
MAZMUR TANGGAPAN: Mzm. 97:1,2b,6,7c,9; R: 1a.9a
BACAAN II: Why. 22:12-14,16-17,20
I N J I L: Yoh. 17:20-26


"Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku”

Kisah singkat yang saya tulis ini sungguh nyata, dimana saya terlibat di dalamnya, namun demi menjaga kerahasiaan saya beritahukan bahwa nama-nama yang tercantum di sini adalah nama samaran. Pada suatu hari saya diminta untuk membantu memecahkan masalah keluarga, dimana seorang ibu bernama Anna merasa terpukul atas berita yang diterima perihal anaknya bernama Maria, karena tidak lama lagi anak gadisnya itu akan melahirkan seorang anak. Terjadi ketegangan antara Anna dan Maria. Untuk membantu mereka saya minta ceritera dari Anna perihal pengalamannya. Konon sekitar 5 (bulan) yang lalu Maria, yang sedang belajar di sebuah perguruan tinggi di salah satu kota di Jawa, pulang ke rumah orangtuanya yang tinggal di sebuah kota di luar Jawa. Anna begitu gembira melihat anaknya tampak lebih gemuk dan gembira, setelah lebih dari satu tahun tidak pulang, menengok orangtuanya. Maka ketika Maria minta pamit kembali ke tempat belajar disambut gembira juga oleh Anna. Bagaikan petir di siang panas terik menyambar dirinya ketika kurang lebih lima bulan kemudian (dua hari yang lalu sebelum pertemuan dengan saya) memperoleh berita dari temannya bahwa anaknya, Maria, tidak lama lagi akan melahirkan anaknya, dan yang bersangkutan saat ini berada di sebuah panti asuhan, dalam persiapan melahirkan anaknya. Mendengar berita itu Anna sungguh terpukul dan marah, demikian juga perasaan kecewa dan malu ada pada suaminya serta dua adik Maria. Setelah mendengarkan cerita dan keluh kesah serta kekecewaan yang disampaikan Anna dengan panjang lebar, saya bertanya kepadanya: “Bagaimana komunikasi atau curhat antar anggota keluarga anda?”. Dari tanggapan atau penjelasannya nampak bahwa di dalam keluarga tidak ada komunikasi yang baik, yang terjadi adalah kediktatoran orangtua, sehingga anak-anak dalam kepatuhan semu terhadap orangtuanya. Sarana komunikasi serperti HP, email dst.. berkembang pesat tetapi komunikasi dari hati ke hati alias curhat mengalami erosi, itulah yang terjadi, maka baiklah di Hari Komunikasi Sedunia hari ini marilah kita mawas diri perihal berbagai macam sarana komunikasi dan penghayatan komunikasi kita dalam hidup sehari-hari.

“Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku” (Yoh 17:24)

Kutipan di atas ini adalah doa Yesus bagi para murid agar para murid senantiasa berada bersamaNya, dan tentu saja dalam kebersamaan tersebut terjadilah komunikasi satu sama lain. Dalam doa ini kiranya juga tersirat bahwa sebagai umat beriman atau beragama hendaknya kita menjalin komunikasi yang erat dan mesra dengan Tuhan. Jika kita sungguh akrab dan mesra dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur, maka juga dengan mudah untuk berkomunikasi dengan akrab dan mesra kepada saudara-saudari kita. Dengan rendah hari kami berharap pada para orangtua atau bapak-ibu untuk menjadi teladan dalam hal komunikasi yang akrab dan mesra bagi anak-anaknya, dan untuk itu antar suami-isteri hendaknya berani saling memboroskan waktu dan tenaganya untuk saling berkomunikasi dengan akrab dan mesra. Komunikasi akrab dan mesra di dalam keluarga antara lain dapat dibina dan diperdalam dengan acara-acara bersama, misalnya makan bersama, berdoa bersama, rekreasi bersama entah di dalam rumah atau di luar rumah, dimana dalam kebersamaan tersebut terjadi curhat satu sama lain. Pengalaman komunikasi yang akrab dan mesra di dalam keluarga akan menjadi modal atau kekuatan untuk membangun komunikasi dengan orang lain di dalam masyarakat atau tempat tugas/kerja sehari-hari.

Komunikasi berasal dari akar kata bahasa Latin communicare, yang dapat berarti saling berbagi atau saling memberi dan menerima. Pengamatan dan pengalaman kami untuk menerima dari orang lain pada umumnya lebih sulit daripada memberi, tentu saja dalam hal nasihat, kritik, saran, koreksi, tegoran, dst.. Untuk dapat menerima hal-hal itu kiranya membutuhkan keutamaan kerendahan hati, dan memang agar dapat berkomunikasi dengan baik dengan siapapun atau apapun butuh kerendahan hati. Maka baiklah ketika saling berkomunikasi marilah kita juga saling merendahkan diri dan meninggikan yang lain, bukan meninggikan diri dan merendahkan yang lain. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit : Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).

"Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” (Kis 7:60)

Kutipan di atas ini adalah doa Stefanus sebelum meninggal dunia, suatu bentuk kerendahan hati luar biasa dimana ia memohonkan kasih pengampunan Tuhan bagi orang-orang yang memusuhi dan melemparinya dengan batu. Ia tidak melawan mereka yang memusuhinya melainkan mengajak berdamai antara lain dengan berdoa bagi mereka. Dengan kata lain hemat saya Stefanus menghayati cara berpikir positif dalam berkomunikasi dengan yang lain, senantiasa melihat dan mengakui apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam diri orang lain. Di dalam derita ia masih mampu berbuat baik bagi orang lain, yang telah mencelakakannya. Marilah kita meneladan sikap Stefanus dalam berkomunikasi dengan orang lain dimanapun dan kapanpun.

"Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang." Roh dan pengantin perempuan itu berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma” (Why 22:16-17). Kutipan dari Kitab Wahyu di atas ini kiranya isinya senada degan doa Stefanus di atas. “Marilah” adalah kata-kata selamat datang, suatu ungkapan atau perwujudan diri yang siap sedia untuk didatangi dan diperlakukan apapun, siap sedia menerima segala kemungkinan. Orang yang sering berkata ‘marilah’ atau yang senada dengan kata itu ‘selamat datang’ pada umumnya adalah penerima tamu, yang bersifat komunikatif, menarik dan mempesona serta memikat, sehingga siapapun merasa enak dan nikmat berkomunikasi dengannya.

Kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah entah secara pribadi atau bersama (keluarga , kantor, tempat kerja dst..) kita senantiasa bersikap ‘selamat datang’. Dengan kata lain siapapun yang mendatangi diri kita, rumah atau tempat kerja kita merasa nyaman, nikmat dan kerasan, dan tidak merasa terancam sedikitpun. Marilah kita ramah dan gembira terhadap siapapun yang mendatangi, menyapa atau menegor kita. Marilah kita bangun dan perdalam hidup persaudaraan kita dengan siapapun, antara lain dengan saling berkomunikasi dengan akrab dan mesra. Marilah kita berantas dan hancurkan aneka usaha permusuhan dan pertikaian, yang membawa ke perpecahan dan kehancuran. Marilah kita saling mengasihi dan mengampuni; kita imani dan hayati bahwa kasih pengampunan dapat mengalahkan kebencian dan balas-dendam.

“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.” (Mzm 97:1-2.6)

Romo Ign Sumarya SJ







Baca selengkapnya....

Panduan Novena Tahun Syukur ke 5: Syukur atas Semangat Misioner Gereja Keuskupan Agung Semarang, HR Pentakosta

HARI RAYA PENTAKOSTA
Novena Tahun Syukur ke 5: Syukur atas Semangat Misioner
Gereja Keuskupan Agung Semarang

Purbayan, 22-23 Mei 2010

PENGANTAR
L: Pada Novena kelima ini kita diajak untuk menyadari panggilan dan perutusan kita sebagai Gereja KAS. Inilah hal penting yang juga dibuat oleh Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono, yaitu menjadikan Gereja KAS sebagai Gereja yang misioner. Sampai sekarang, KAS pun mengembangkan semangat misi ini, misalnya melalui uskup, imam, biarawan/wati, dan awam dari KAS yang diutus untuk melayani keuskupan-keuskupan lain di Indonesia atau yang diutus sebagai misionaris dan pimpinan tarekat internasional. Kita bersyukur karena Gereja KAS selalu membuka diri akan dorongan dan bimbingan Roh Kudus. Semoga, kita pun semakin terbuka akan bimbingan Roh Kudus itu, yang merupakan Roh Misioner bagi kita. Roh Kudus senantiasa menyertai kita dalam bersaksi dan menjalankan tugas perutusan kita sehingga kita tetap mempunyai keberanian dan kebijaksanaan kendati ada aneka macam hambatan dan tantangan.

RITUS PEMBUKA

LAGU PEMBUKA PS. 575

TANDA SALIB

SERUAN TOBAT (Tuhan Kasihanilah Kami PS. 353)
I. Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah yang berdoa mengutus Roh Kudus, pemberi hidup, untuk menghidupkan dan menghidupi Gereja-Mu.
K. Tuhan, kasihanilah kami
U. Tuhan, kasihanilah kami
I. Engkaulah yang mengutus Roh Kudus, untuk memberikan kuasa mengampuni dosa kepada Gereja-Mu.
K Kristus, kasihanilah kami
U. Kristus, kasihanilah kami
I. Engkaulah yang mengutus Roh Kudus, Roh Kebenaran, untuk memberikan kesaksian tentang diri-Mu.
K.Tuhan, kasihanilah kami
U.Tuhan, kasihanilah kami.
I. Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, - mengampuni dosa kita, - dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U. Amin

KEMULIAAN PS. 354

DOA PEMBUKA
I. Marilah berdoa:
(hening sejenak)
I. Allah Bapa mahabaik, kami bersyukur atas karya para gembala kami, khususnya Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono yang membawa kami untuk semakin menjadi Gereja yang misioner. Semoga karena Roh Kudus yang telah Engkau curahkan, kami tergerak untuk selalu mewartakan karya kasih dan penyelamatan-Mu sendiri, sebagaimana telah nyata dalam diri Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, Allah, kini dan sepanjang segala masa..
U.Amin.

LITURGI SABDA

BACAAN I [Kis 2:1-11]
Pembacaan dari Kisah Para Rasul
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."
L. Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN PS 828
Refr. Utuslah Roh-Mu ya Tuhan dan jadi baru seluruh bumi.
1. Allahku nama-Mu hendak kupuji. Engkau amat agung berdandan sinar kebesaran.
2. Ya Tuhan berselubungkan cahaya. Bagai jubah raja langit Kaupasang bagai kemah.
3. Firman-Mu disampaikan oleh angin. Api yang berkobar tunduk pada-Mu bagai hamba.

BACAAN II [Rm 8:8-17]
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Roma:
Saudara-saudara, mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
L. Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

BAIT PENGANTAR INJIL PS. 954
Refr. Alleluya
Solis: Datanglah, hai Roh Kudus, penuhilah hati kaum beriman dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati mereka.

INJIL [Yoh 14:15-16.23b-26]
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:
Pada perjamuan malam terakhir Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."
I: Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan, dan tekun melaksanakan-Nya..
U: Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

HOMILI

AKU PERCAYA

DOA UMAT
I. Allah Bapa telah mengutus Roh Kudus kepada seluruh Gereja demi keselamatan umat manusia. Roh Kudus selalu menyertai setiap perjuangan kita dalam mewartakan sabda kebenaran Allah. Maka marilah kita berdoa kepada Allah Bapa kita:

L. Bagi para gembala Gereja dan segenap imam, biarawan dan biarawati:
Bapa, dorong dan teguhkanlah iman dan kepercayaan segenap gembala Gereja dan biarawan-biarawati dalam mewartakan sabda-Mu dimanapun mereka berkarya.
Marilah kita mohon:
U. Utuslah Roh Kudus-Mu ya Tuhan, berkatilah mereka agar setia pada-Mu.

L. Bagi segenap pemimpin bangsa dan pemerintahan:
Bapa, dorong dan mantapkanlah hati segenap pemimpin bangsa dan pemerintahan agar selalu mengusahakan dan membina damai sejahtera serta kerukunan di tengah masyarakat.
Marilah kita mohon:
U. Utuslah Roh Kudus-Mu ya Tuhan, berkatilah mereka agar setia pada-Mu.

L. Bagi semua orang yang hidup dalam situasi memprihatinkan, di tengah bencana alam, peperangan, atau konflik:
Bapa, anugerahkanlah kepada mereka keteguhan iman, pengharapan dan kasih untuk selalu menghadirkan kasih keselamatan-Mu bagi sesama.
Marilah kita mohon:
U. Utuslah Roh Kudus-Mu ya Tuhan, berkatilah mereka agar setia pada-Mu.

L. Bagi segenap umat Allah Keuskupan Agung Semarang yang berkarya di luar wilayah Keuskupan Agung Semarang:
Bapa, kobarkanlah selalu semangat misioner dalam diri mereka demi semakin banyaknya jiwa-jiwa yang diselamatkan.
Marilah kita mohon:
U. Utuslah Roh Kudus-Mu ya Tuhan, berkatilah mereka agar setia pada-Mu.

L. Kami berdoa bagi kami segenap umat Allah Keuskupan Agung Semarang yang berkumpul di sekitar Altar ini:
……………………hening sejenak……………………
Marilah kita mohon:
U. Utuslah Roh Kudus-Mu ya Tuhan, berkatilah kami agar setia pada-Mu.

I. Allah Bapa yang Mahakudus, dengarkanlah dan kabulkanlah permohonan kami segenap umat Gereja Keuskupan Agung Semarang. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk selalu menjiwai setiap langkah kami. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.
U. Amin.

LITURGI EKARISTI

LAGU PERSIAPAN PERSEMBAHAN PS. 571

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN
I. Marilah berdoa:
I. Allah Bapa sumber kedamaian, berkenanlah menerima persembahan ini sebagai lambang kesediaan kami untuk saling melayani menurut teladan Putra-Mu yang telah wafat dan bangkit guna menganugerahkan kedamaian kepada kami. Sebab Dialah Tuhan dan Pengantara kami.
U. Amin

PREFASI

KUDUS PS. 393

DOA SYUKUR AGUNG

BAPA KAMI PS 404

ANAK DOMBA ALLAH PS. 414

KOMUNI

DOA TAHUN SYUKUR

Allah Bapa Maha Pemurah,
kami bersyukur kepada-Mu
sebab Engkau senantiasa membimbing kami,
seluruh umat-Mu di Keuskupan Agung Semarang,
untuk bersahabat dengan-Mu,
mengangkat martabat pribadi manusia,
dan melestarikan keutuhan ciptaan.
Terlebih kami bersyukur kepada-Mu
atas habitus baru dalam paguyuban-paguyuban di tengah umat-Mu,
yang menumbuhkembangkan semangat berbagi.
Kami juga bersyukur atas keluarga-keluarga
yang menjadi basis hidup beriman,
atas anak-anak, remaja dan kaum muda
yang semakin terlibat dalam pengembangan umat,
dan segala upaya pemberdayaan saudara-saudari kami
yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
Bersama Bunda Maria, hamba-Mu dan bunda kami,
kami mohon, utuslah Roh Kudus-Mu
untuk melanjutkan pekerjaan baik yang telah Engkau mulai di tengah kami agar kami dapat menjadi saksi budaya kasih dan kebenaran-Mu bagi masyarakat dan lingkungan hidup kami. Doa syukur dan permohonan ini kami hunjukkan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

DOA SESUDAH KOMUNI
I. Marilah berdoa:
I. Allah Bapa maha pengasih, kami mengucap syukur atas perayaan sakramen cinta kasih ini. Semoga berkat Ekaristi ini, kami didorong oleh daya Roh Kudus untuk tekun berjuang dan bersemangat misioner dalam mewartakan karya penyelamatan-Mu. Perkenankanlah kami pada akhirnya nanti ikut menikmati keselamatan-Mu yang abadi. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin

RITUS PENUTUP

BERKAT MERIAH
I. Saudara-saudari terkasih, Allah mencurahkan Roh Kudus untuk menyalakan api semangat baru serta menghimpun orang yang serba berbeda bahasa dan budayanya menjadi Gereja Kristus, umat Allah. Maka marilah kita mengakhiri perayaan ekaristi ini dengan mohon berkat:
I. Tuhan bersamamu
U. Dan bersama rohmu.
I. Semoga Allah sumber cahaya abadi, menjadikan terang benderang hati dan budi kita berkat kurnia-kurnia Roh Kudus.
U. Amin.
I. Semoga api semangat ilahi yang tampak pada para murid menyucikan hati dan budi kita serta menghalau segala kegelapan dosa.
U. Amin.
I. Semoga Roh Kudus, pemersatu umat yang telah ditebus, senantiasa membina iman kepercayaan kita sampai memandang kemuliaan Allah.
U. Amin.
I. Dan semoga saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa; Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U. Amin.
I. Saudara sekalian, Perayaan Ekaristi sudah selesai.
U. Syukur kepada Allah.
I. Marilah pergi! Kita diutus,
U. Amin.

NYANYIAN PENUTUP PS. 565

Baca selengkapnya....

Bulan Katekese Liturgi Hari ke 8 - 14

Merenungkan RITUS PEMBUKA

Hari ke-8



Setelah membuat tanda salib, seorang anak usia kelas6 SD bertanya kepada ibunya, “Bu, kok Ramanya sudah kotbah, ya? Ibu sich kelamaan. Jadinya kan kita terlambat!” Ibunya kebingungan menjawab pertanyaan itu. “Adik jangan ribut, ya! Nanti dimarahi Rama, lho!” Si ibu jelas bingung karena ia tahu bahwa sebenarnya Perayaan Ekaristi baru dimulai. Tanda salib tersebut bukan tanda akhir kotbah tetapi tanda salib awal Misa Kudus. Selidik punya selidik, Ramanya ternyata suka mengawali dan mengakhir kotbah dengan tanda salib, sehingga anak itu berkomentar begitu. Tanda Salib mengawali bagian Ritus Pembuka dan tanda salib yang sama akan kita buat saat kita menerima berkat imam di akhir Misa Kudus. Secara liturgis, tanda salib yang resmi hanya sebanyak dua kali tersebut. Homili atau kotbah imam mestinya tidak perlu dibuka dan diakhiri dengan tanda salib. Memang kalau ada orang yang berulang-ulang membuat tanda salib selama Misa Kudus ya tentu tidak berdosa. Namun kebiasaan tersebut dipandang sebagai devosi pribadi.

Inti pokok makna Ritus Pembuka ialah mempersiapkan hati dan diri kita sebelum menerima Sabda Tuhan dan Ekaristi Kudus nantinya. Meski namanya Ritus Pembuka, bagian ini tetaplah penting. Jangan lalu menganggap, aah masih boleh terlambat. Ritus Pembuka itu penting, karena di situ kita diajak untuk bertobat setelah disapa dengan salam dan pengantar singkat. Menurut Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR), pengantar semestinya pendek saja dan tidak perlu menjadi homili atau kotbah pertama. Kyrie atau Tuhan kasihanilah kami dapat diucapkan atau dinyanyikan; dan kemuliaan sebaiknya dinyanyikan pada hari Minggu dan hari raya. Ritus Pembuka diakhiri dengan Doa Pembuka yang termasuk doa presidensial; artinya hanya diucapkan oleh imam.

Merenungkan MENCIUM ALTAR

Hari ke-9

Sesaat sesudah perarakan masuk pada awal Misa Kudus, imam dan para petugas liturgi membungkuk atau berlutut di depan altar. Kalau di sana ada Sakramen Mahakudus, para petugas liturgi hendaknya berlutut; tetapi kalau tidak ada Sakramen-nya, ya cukup membungkuk yang dalam kearah altar. Sesudah itu imam menuju altar dan mencium altar. Kenapa altar dicium? Apa karena altarnya wangi? Tentu bukan karena itu. Imam mencium altar untuk menghormati altar. Altar itu dihormati karena altar adalah simbol Tuhan Yesus Kristus sendiri yang senantiasa hadir pada saat perayaan Ekaristi. Altar adalah tempat kurban Yesus Kristus yang tersalib dikenangkan dan dihadirkan kembali di tengah kita, yang kini dalam rupa roti dan anggur! Justru karena simbol Kristus sendiri, altar menjadi pusat panti imam dan bahkan pusat seluruh gedung gereja. Altar adalah meja perjamuan Tuhan, di sekelilingnya umat Allah berhimpun dan saling berbagi. Altar menjadi pusat kegiatan bersyukurnya umat. Sebagai meja perjamuan kudus, altar menjadi tempat yang sangat mulia dan perlu dihormati. Itulah sebabnya, bila kita memasuki gedung gereja dan mengambil air suci dengan jari-jari kita, hendaklah kita menghadap altar sambil membuat tanda salib. Menurut tradisi kuno, altar didirikan di atas se buah makam seorang martir atau orang kudus. Kemudian karena makam seorang martir atau orang kudus tidak selalu ada atau mudah, muncul kebiasaan untuk menempatkan relikwi salah seorang kudus di meja altar. Relikwi itu haruslah asli. Sekarang ini pemasangan relikwi tidak diharuskan, tetapi masih dianjurkan. Maka dengan mencium altar, seorang imam menyatakan hormat dan cintanya kepada Kristus dan siap bersaksi demi Kristus sampai mati seperti martir atau orang kudus yang dihormati di altar tersebut! Dengan demikian, mencium altar itu penuh makna dan bukan sekedar gaya-gayaan belaka. Sedangkan umat yang menghormati altar ingin mengikuti teladan imam yang mencium altar tersebut!

Hari ke-10
Merenungkan DOA-DOA PRESIDENSIAL


Meskipun TPE baru sudah diberlakukan selama 5 tahun,ya masih saja ada satu-dua paroki atau komunitas yang

memiliki kebiasaan: mendoakan doa-doa presidensial bersama-sama! Bahkan ada imam muda yang belum

lama tahbisan yang mengajak umat untuk mendoakan doa-doa presidensial itu. Aduh Tuhan, kasihanilah kami! Dalam hal ini biasanya bukan umatnya yang memulai, tetapi Tim Liturginya atau imamnya yang memang

sengaja melibatkan umat dalam mengucapkan doa-doa tersebut. Semoga kebiasaan ini tidak dilanjutkan

lagi, dan kita kembali pada semangat taat asas tanpa kehilangan semangat kasih dan persaudaraan.

Yang dimaksud dengan doa-doa presidensial ialah: Doa Syukur Agung atau DSA (ini yang terpokok),

lalu juga: Doa Pembuka, Doa Persiapan Persembahan, dan Doa Sesudah Komuni. Doa-doa presidensial

disampaikan oleh imam kepada Allah atas nama seluruh umat kudus dan semua yang hadir, dan melalui dia, Kristus sendiri memimpin himpunan umat. Maka doa-doa presidensial ini perlu dibawakan dengan suara lantang dan diucapkan dengan jelas oleh imam, sehingga mudah ditangkap oleh umat. Ketika imam mendoakan doa-doa presidensial ini, umat memadukan hati dan menjadikan doa ini doa dalam hati mereka.

Kritik yang biasa diajukan ialah bukankah kalau hanya didoakan umat, lalu partisipasi umat terasa kurang? Jawabannya ialah: bukankah partisipasi tidak selalu berarti serba ikut mengucapkan doa? Dan lagi bukankah sejak awal, yakni nyanyian pembuka, tanda salib, salam, doa tobat, Kyrie, Kemuliaan dst hingga akhir Misa, umat sudah sahut-sahutan gantian mengucapkan doa/nyanyian dengan imam atau petugas? Apa ya masih kurang? Bukankah ada saat tertentu seorang pemimpin harus berbicara atau membawakan tugasnya yang khas? Dan tugas membawakan doa-doa presidensial itu memang tugas khas imam yang diperoleh dari kuasa tahbisannya menurut tradisi suci Gereja!



Hari ke-11

MERENUNGKAN:

LITURGI SABDA: BACAAN HARUS KITAB SUCI


Suatu kali dalam sebuah EKM (Ekaristi Kaum Muda), bacaan pertama diganti dengan puisi Kahlil Gibran! Banyak anak muda yang senang, tetapi beberapa juga bertanya-tanya: bolehkah bacaan Misa diganti dengan bacaan yang non-Kitab Suci! Jawaban Gereja resmi mantap sekali: tidak boleh! Norma liturgi menyatakan bahwa saat bacaan Misa umat mendengarkan Sabda Allah. Nah yang diakui resmi sebagai Sabda Allah kan hanya Kitab Suci? Maka yang harus dibacakan juga mesti kutipan dari Kitab Suci. Melalui OLM (Ordo Lectionum Missae), Gereja mengatur agar dalam waktu 3 tahun, umat dapat mendengarkan Sabda Tuhan dari hampir seluruh bagian Kitab Suci. Untuk hari Minggu dan hari raya, bacaan-bacaan dibagi ke dalam tahun A, B, dan C.

Cara menghitungnya mudah sekali: tahun yang habis dibagi 3 pasti tahun C. Tahun 2010 ini dapat habis dibagi 3, makanya tahun ini tahun C. Lalu tahun A dan B tinggal menghitung dari sana; artinya tahun 2011 pasti tahun A, tahun 2012 pasti tahun B.

Bagaimana kalau kita mempunyai bacaan yang bagus untuk renungan di luar Kitab Suci? Ya silahkan saja memasukkannya, tetapi ya jangan sebagai bacaan Misa. Bukankah bacaan yang non-Kitab Suci itu bisa dibacakan saat pengantar? Atau saat homili? Atau saat pengantar sebelum berkat? Begitu pula peragaan!

Peragaan jangan pernah untuk mengganti bacaan Kitab Suci, apalagi bacaan Injil! Peragaan boleh saja asalkan dipersiapkan dan memang sesuai tema, tetapi ditempatkan sesudah Injil, katakanlah sebagai bagian dari renungan dan homili. Ini semua mengabdi pada satu tujuan: agar Misteri Paskah atau karya keselamatan Tuhan benar-benar dirayakan dan dihadirkan kepada umat sesuai dengan apa yang telah ditentukan dengan cermat oleh Gereja, dan bukan oleh selera masing-masing orang!

Catatan Redaksi:
Seringkali terjadi di beberapa paroki yang memotong bacaan hari Minggu atau Hari Raya yang seharusnya 3 bacaan, menjadi 2 bacaan saja, yakni salah satu bacaan oleh lektor, dan bacaan Injil oleh imam. Hal itu sebenarnya tidak diperbolehkan, dan tidak dianjurkan. Maka praktik salah satu atau beberapa paroki tidak serta merta lalu membuat aturan itu berubah dari tidak boleh lalu menjadi boleh, seolah praktik itu melegitimasikan praktik-praktik lanjutan serupa.

Anjuran: Sebaiknya setia ikuti aturan baku yang sudah jelas, sekalian untuk mendidik umat bahwa beribadat pada hari Minggu itu bukan hanya sekedar memenuhi target atau hukum lalu praktiknya disederhanakan sesuai dengan keinginan kita. Kita perlu belajar mempersembahkan seluruh waktu dan perhatian kita hari itu untuk Hari Tuhan itu. Jadi membiasakan diri beribadat serba tergesa dengan alasan praktis demi waktu, dll - adalah tidak mendidik hati dan iman umat untuk memuliakan Tuhan dengan segenap hati, segenap tenaga, akal budi, dan tentu saja akhirnya waktu.


Merenungkan MAZMUR TANGGAPAN DAN BAIT PENGANTAR INJIL

Hari ke-12



Setelah membacakan bacaan pertama dan Mazmur Tanggapan dalam Misa harian di sebuah paroki, lektor atau petugas langsung turun dari mimbar, dan imam menyanyikan Bait Pengantar Injil (BPI) atau Alleluia. Praktek ini sebenarnya kurang tepat. Yang bertugas menyanyikan BPI atau Alleluia mestinya adalah petugas dari paduan suara atau lektor itu sendiri dan bukan imam. Sebab ternyata masih ada yang berpandangan bahwa menyanyikan BPI atau Alleuia itu tugas imam, padahal sebenarnya bukan tugas imam.

Pertama kita pahami dahulu Mazmur Tanggapan. Mazmur Tanggapan umumnya telah disediakan dalam Buku Bacaan Misa atau Lectionarium. Pada hari Minggu atau hari raya dianjurkan agar Mazmur Tanggapan ini dinyanyikan, sekurang-kurangnya bagian ulangan (refren) yang dibawakan oleh umat. Mazmur tanggapan ini bersifat menanggapi Sabda Allah yang baru saja didengarkan. Dari bobotnya yang merupakan bagian dari Kitab Suci, Mazmur Tanggapan sangatlah unggul, oleh karena itu jangan mudah menggantikan Mazmur Tanggapan dengan lagu-lagu lain, apalagi lagunya tidak biblis. Mazmur Tanggapan ini bukan sekedar selingan atau ‘jeda’ dari bacaan pertama dan bacaan lainnya.

Berikutnya: Bait Pengantar Injil (BPI) atau Nyanyian Alleluya.

BPI atau Alleluia tidak untuk menanggapi bacaan sebelumnya. Bait Pengantar Injil atau Alleluya justru mempersiapkan hati umat untuk menyambut Yesus Kristus yang hadir dan bersabda melalui warta Injil. Umat Allah diajak berdiri untuk menyampaikan hormat atas ‘pemenuhan sabda’ yang diwartakan pada Injil. Bila ada perarakan Kitab Injil, selama Alleluya dinyanyikan, diakon tertahbis atau imam mengarak Kitab Injil dari altar ke mimbar dengan agung dan khidmat, sementara misdinar mendupai Kitab Injil tersebut. Akan tetapi, apabila Bait Pengantar Injil atau Alleluya tidak dinyanyikan, maka dilewati saja, diakon tertahbis atau imam langsung membuka pembacaan Injil dengan dialog pembuka Injil. Praktek yang salah ialah: kata Alleluya pada BPI itu dibaca saja dan bukan dinyanyikan. Dari sononya Alleluya selalu dinyanyikan!


Merenungkan HOMILI DALAM MISA BUKAN TUGAS AWAM

Hari ke-13



Ada seorang katekis awam yang diminta oleh imam untuk memberikan homili pada Misa Hari Raya Kenaikan Tuhan. Mengawali homilinya katekis itu menceritakan pengalamannya saat mengajar calon baptis. Ia bertanya, “Para calon baptis yang terkasih, setelah Yesus bangkit dari mati, Ia naik ke mana?” Seorang ibu cepat sekali mengangkat tangannya dan menjawab: “Ke atas pohon pak”. Dan cerita ini membuat umat tertawa. Suasana menjadi segar dan cair. Homili disampaikan secara menarik oleh bapak katekis tersebut.

Pertanyaan kita sederhana saja: Bolehkah awam menyampaikan homili dalam Misa atau Perayaan Ekaristi?

Pedoman Umum Misale Romawi (disingkat: PUMR) dari Tahta Suci menyatakan:

Homili merupakan bagian liturgi dan sangat dianjurkan, sebab homili itu penting untuk memupuk semangat hidup Kristen. Homili itu haruslah merupakan penjelasan tentang bacaan dari Alkitab, ataupun penjelasan tentang teks lain yang diambil dari ordinarium atau proprium Misa hari itu, yang bertalian dengan misteri yang dirayakan, atau yang bersangkutan dengan keperluan khusus umat yang hadir (no.65).

Pada umumnya yang memberikan homili ialah imam pemimpin perayaan. Ia dapat menyerahkan tugas ini kepada salah seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, tergantung situasi, kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang awam.

Dalam kesempatan-kesempatan tertentu atau karena alasan khusus, tugas homili bahkan dapat diberikan kepada seorang uskup atau imam yang hadir dalam perayaan Ekaristi tetapi tidak ikut berkonselebrasi (no.66).

Dengan demikian, awam tidak boleh berhomili dalam Misa Kudus. Lha pada kesempatan khusus misalnya Misa ulang tahun perkawinan, apakah pasutri boleh menyampaikan sharing pengalaman hidup berkeluarganya pada kesempatan homili? Ya boleh saja, akan tetapi sharing tersebut harus ditempatkan dalam suatu homili oleh imam itu. Misalnya imam mengawali dan kemudian menutup sharing pasutri tersebut dengan penegasan dan ajaran iman sebagai pewartaan Sabda Allah.



Merenungkan DOA UMAT YANG KONTEKSTUAL

Hari ke-14



Dari tahun ke tahun, isi maupun rumusan doa umat dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu di banyak paroki tidak berubah. Perubahan terjadi hanya apabila tahun liturginya berubah. Penyebabnya tiada lain karena petugas hanya mengambil rumusan doa yang telah tersedia dalam buku Doa Umat atau buku Misa Hari Minggu dan Hari Raya yang tebal itu. Padahal buku tersebut dibuat puluhan tahun yang lalu dengan konteks waktu itu. Kalau begitu doa umat tersebut cenderung menjadi acara ritualisme atau formalisme belaka, tidak relevan dengan keadaan zaman atau konteks hidup sekarang.

Doa Umat merupakan bagian Liturgi Sabda dalam Perayaan Ekaristi yang justru dapat disesuaikan dengan situasi konkret dan aktual umat saat ini. Inilah kesempatan bagi Tim Liturgi Paroki untuk berkreasi membuat doa yang kontekstual, sehingga segala suka-duka, kegembiraan dan keprihatinan umat dan masyarakat dapat terungkap di situ. Oleh karena itu, marilah Tim-tim liturgi berani membuat Doa Umat yang baik dalam Misa Kudus. Bagaimana menyusun Doa Umat yang kontekstual? Tentu kita harus mengenal keprihatinan Gereja, masyarakat dan paroki kita sendiri. Lalu dari sana kita susun doa umat dengan urutan, misalnya sesuai dengan Pedoman Umum Misale Romawi:

1. Doa untuk Gereja, khususnya para pemimpin Gereja dan dapat juga seluruh umat beriman.

2. Doa untuk masyarakat, misalnya para pemimpin masyarakat dan rakyat pada umumnya

3. Doa untuk mereka yang sedang menderita, misalnya orang-orang kecil, lemah, miskin, tersingkir, korban bencana alam dsb.

4. Doa untuk paroki atau komunitas kita sendiri, termasuk umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi. Pada akhir, Doa Umat dapat diisi kesempatan untuk doa pribadi sejenak. Urutan di atas terutama untuk Doa Umat pada Misa Minggu dan Hari Raya. Tetapi untuk keperluan Misa Khusus, susunan dan urutan doanya dapat disesuaikan.

Sumber: BKL 2010 Komisi Liturgi KAS.




Baca selengkapnya....