HOMILI: Pw. St. Vinsensius de Paul, imam

27.09.2010



“Timbullah pertengkaran di antara para murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka

(Ayb 1:6-22; Luk 9:46-50)

“Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Vinsensius de Paul, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Cekcok, pertengkaran, tawuran sampai saling membunuh masih terjadi di sana-sini dalam kehidupan sehari-hari, yang antara lain disebabkan oleh aneka perbedaan yang ada. Di bumi ini kiranya tidak ada manusia yang identik, sama persis satu sama lain, meskipun dilahirkan kembar pasti tetap ada perbedaan satu sama lain. Salah satu perbedaan yang mencolok adalah laki-laki dan perempuan, yang diciptakan oleh Allah berbeda satu sama lain serta dianugerahi kerinduan, dambaan, gairah, nafsu untuk saling mendekat, mengenal dan mengasihi, menjadi suami isteri. Dengan kata lain apa yang berbeda menjadi daya tarik, daya pikat, daya pesona untuk saling mendekat, mengenal dan mengasihi, maka baiklah hal ini kita hayati dalam hidup kita sehari-hari. Salah satu yang menyamakan kita yang berbeda satu sama lain adalah sama-sama berkehendak baik, namun ketika menjadi tindakan dapat berbeda. Maka baiklah kita saling mengkomunikasikan, menjelaskan dan membeberkan kehendak baik kita kepada saudara-saudari kita untuk diinerjikan sehingga kita bersama memiliki kehendak baik bersama. Memang untuk itu kita harus siap sedia untuk saling terbuka satu sama lain, tiada yang ditutupi sedikitpun di antara kita, bagaikan sepasang suami-isteri yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh dalam keadaan sama-sama telanjang bulat tidak malu dan tidak saling melecehkan. Hidup dalam dan oleh kasih memang tidak ada perbedaan sama sekali, karena kasih itu bebas, tak terbatas. Dalam warta gembira hari ini kita juga diingatkan bahwa “barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu”, maksudnya jika ada orang yang melakukan sama seperti apa yang kita lakukan, hendaknya tidak marah atau iri hati, melainkan berterima kasih dan bersyukurlah.

· "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayb 1:8), demikian firman Tuhan kepada Iblis. Kutipan ini mengingatkan kita akan Ayub ‘yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan’. Kiranya Vinsensius de Paul yang kita kenangkan hari ini, sebagai seorang imam, berusaha hidup dan bertindak seperti Ayub tersebut. Maka baiklah dengan ini kami mengingatkan dan mengajak rekan-rekan imam khususnya maupun umat beriman pada umumnya, untuk meneladan sikap hidup Ayub sebagaimana difirmankan Tuhan di atas. Kita semua dipanggil untuk hidup suci, yang antara lain ditandai hidup saleh dan jujur serta tak pernah berbuat jahat sedikitpun. Sebagai orang yang telah dibaptis marilah kita hayati rahmat dan janji baptis, dimana kita pernah berjanji ‘untuk hanya mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan’ dalam hidup sehari-hari. Jika rahmat dan janji baptis ini dapat kita hayati dengan baik, maka penghayatan janji-janji yang mengikutinya, seperti janji perkawinan atau imamat dan kaul, akan lebih mendalam dan handal. Sebaliknya jika rahmat dan janji baptis tidak dihayati dengan baik, maka hidup terpanggil sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster pasti akan amburadul, kacau balau, dst.. Dengan kata lain jika ada suam-isteri katolik, imam, bruder atau suster saling bertengkar atau bermusuhan, hendaknya yang bersangkutan ditanya dengan rendah hati “apakah anda pernah dibaptis?”. Jika mendengar pertanyaan ini mereka semakin marah, berarti dengan jelas yang bersangkutan tidak menghayati rahmat baptisan, apalagi hidup terpanggil berikutnya. Keungulan hidup beriman atau beragama adalah dalam perilaku atau tindakan yang baik, berbudi pekerti luhur atau bermoral.

“Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu. Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman: mata-Mu kiranya melihat apa yang benar. Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur.” (Mzm 17:1-3)

Jakarta, 27 September 2010


Romo. Ign. Sumarya, SJ