HOMILI: Sabtu-Minggu, 17-18 Juli 2010 Hari Minggu Biasa XVI

Kej 18:1-10a; Kol 1:24-28; Luk 10:38-42

oleh Romo I. Sumarya, SJ

"Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”


Sebut saja namanya ‘Marta’(nama samaran) sebagaimana diwartakan dalam Warta Gembira hari ini. Dalam suatu kegiatan pesta dalam rangka menyambut pesta perak suatu organisasi, Marta dalam kepanitiaan informal memperoleh tugas untuk mengurus konsumsi. Kesibukan mengurus konsumi memang padat dan hal itu terjadi sejak persiapan sampai dengan pemberesan pesta. Marta bekerja giat kesana-kemari untuk mengontrol dan mengawasi anak buahnya maupun memoniotor kebutuhan konsumsi agar semuanya berjalan dengan baik. Ia sering juga sibuk sendiri untuk membeli ini atau itu di toko atau di pasar Pendek kata Marta adalah pekerja keras dan sukses, begitulah penilaian kebanyakan orang, namun tiba-tiba ia marah besar gara-gara kurang memperoleh perhatian atau sapaan dari Ketua Panitia, dan sementara itu Ketua Panitia nampak berbincang-bincang, bersendau-guaru dengan para pekerja lain maupun tenaga relawan lainnya yang datang membantu secara mendadak. Kemarahan Marta membuat ketegangan bagi sementara orang selama persiapan pesta tersebut. Kerja keras dalam melaksanakan tugas pekerjaan atau pengutusan memang baik, namun ketika dalam kerja tersebut kehilangan senyum, keramahan dan kegembiraan maka kerja keras tersebut rasanya hanya untuk menunjukkan kesombongan diri saja, bukan pengabdian atau pelayanan sejati. Marilah kita mawas diri , bercermin pada Marta dan Maria yang memperoleh kunjungan Yesus, Tuhan.

"Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?” (Luk 10:40)

Yesus datang, Marta sibuk mempersiapkan hidangan untuk Yesus sedangkan Maria duduk manis berbicara dengan Yesus. Peristiwa ini sering menjadi inspirasi motto “Ora et labora” = Berdoa dan bekerja. Berdoa dan bekerja memang dapat dibedakan, namun hemat saya tak baik atau tak mungkin dipisahkan; berdoa dan bekerja bagaikan mata uang bermuka dua. Berdoa hendaknya menjiwai bekerja dan sebaliknya bekerja menjiwai berdoa. Pekerja yang dijiwai oleh doa pada umumnya bekerja dengan baik, tenang, tekun, tidak banyak bicara, tidak mengeluh meskipun yang harus dikerjakan cukup berat serta kurang diperhatikan orang lain. Bekerja dihayati bagaikan sedang beribadat, sehingga suasana kerja bagaikan suasana ibadat, rekan kerja bagaikan rekan beribadat, memperlakukan aneka sarana-prasarana bagaikan memperlakukan sarana-prasarana ibadat, sikap kerja bagaikan sikap ibadat, dst…

“Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Luk 10:42), demikian sabda atau tanggapan Yesus terhadap Marta yang mengeluh. Bersama dan bersatu dengan Tuhan, itulah kiranya yang dimaksudkan, tidak hanya selama sedang berdoa, melainkan kapan saja dan dimana saja akrab bersama dan bersatu dengan Tuhan. Dengan kata lain dapat menemukan Tuhan dalam segala sesuatu dan menghayati segala sesuatu dalam Tuhan. “Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Rm 14:8b), demikian kata Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Segala sesuatu adalah anugerah Tuhan yang kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita sampai kini. Karena hidup kita adalah milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita, maka kita tidak mungkin hidup seenaknya, melainkan harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan alias senantiasa berbudi pekerti luhur dan berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Ketika kita berbudi pekerti luhur dan senantiasa berbuat baik, maka kita juga dengan mudah dapat berdoa secara khusuk sendirian dimanapun dan kapanpun.

Pengalaman Marta dan Maria menerima kehadiran Yesus, kiranya juga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua, yaitu bekerja sama dalam pelayanan atau bekerja. Di dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun kita harus dapat bekerjasama dengan baik jika mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera. Kebanyakan dari kita, yaitu para orangtua atau suami-isteri kiranya memiliki pengalaman kerjasama yang indah, mengesan dan membahagiakan, yaitu ketika sedang memadu kasih dalam hubungan seksual sebagai perwujudan saling mengasihi satu sama lain. Maka kami berharap para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan dalam hal kerjasama bagi anak-anaknya serta mendampingi dan mendidik anak-anaknya untuk senantiasa dapat bekerjasama dengan siapapun dan dimanapun. Pengalaman kerjasama di dalam keluarga akan menjadi kekuatan dan modal untuk bekerjasama dalam bidang kehidupan bersama yang lebih luas, seperti di tempat kerja atau belajar atau masyarakat pada umumnya.

“Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,”(Kol 1:24-25)

Menderita karena setia pada tugas pekerjaan atau pengutusan yang membuat bahagia atau sukacita itulah pengalaman Paulus sebagai pelayan jemaat/umat. Paulus merasa berbahagia atau bersukacita karena diperkenankan ambil bagian dalam penderitaan Yesus Kristus. Yesus telah menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan atau kebahagiaan kita semua, umat manusia seluruh dunia. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk meneladan Paulus, yang berbahagia atau bersukacita karena penderitaan dalam pelaksanaan tugas pengutusan atau pelayanan.

Berakit-rakit ke hulu, berrenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” , demikian kata sebuah peribahasa Indonesia, “Jer basuki mowo beyo” = untuk hidup mulia harus berjuang atau berkorban, demikian kata peribahasa Jawa. Berakit maupun berrenang hemat saya tak mungkin dipaksakan kecepatan alias ngebut, melainkan berproses, maju pelan-pelan dan terus-menerus. Maka dengan ini kami mengharapkan entah pada para peserta didik/pelajar/mahasiwa maupun pekerja di tingkat atau bidang pelayanan/pekerjaan apapun, untuk menghayati ‘proses’ dalam belajar maupun bekerja:

- Proses mengajar-belajar itulah yang diharapkan terjadi di klas, ruang kuliah di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Yang perlu digarisbawahi dan sering kurang diperhatikan pada masa kini adalah ‘proses’. Kami berharap dengan menghayati proses para pengajar semakin terampil dalam mengajar dan para pelajar semakin terampil dalam belajar. Ketika para pelajar terampil dalam belajar maka diharapkan mereka dengan mudah untuk mempelajari apapun yang perlu untuk kehidupan mereka masa depan. Memang untuk itu harus setia belajar setiap hari, tidak hanya menjelang ulangan umum atau ujian saja.

- Bekerja agar terampil dalam bekerja itulah yang kami dambakan kepada para pekerja , maka kami berharap para pekerja tidak hanya mencari uang atau demi uang belaka, karena kalau begitu pasti akan mudah/cenderung untuk melakukan korupsi. Utamakan agar terampil bekerja, dan ketika anda terampil bekerja maka selayaknya pada waktu akan menerima imbal jasa atau kesejahteraan yang memadai.

Baik dalam belajar maupun bekerja hindari untuk berhasil dengan cepat dan mudah, karena apa yang diperoleh dengan cepat dan mudah juga akan dengan cepat dan mudah untuk hilang atau musnah.

“Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya “.

(Mzm 15)

Jakarta, 18 Juli 2010




Share|