Kehadiran Allah

Oleh: Romo A. Mangunhardjana, SJ

Peristiwa penyelamatan Allah bagi manusia, yang dilakukan melalui wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke sorga, merupakan 3 rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan satu sama lain tanpa jarak waktu. Wafat-bangkit-naik ke sorga merupakan kesatuan peristiwa yang tak terputus. Hal ini tercermin pada sabda Yesus sebelum wafat:
"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk 23:46) dan kepada penjahat yang disalib bersama-Nya: "Aku berkata kepada-Mu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama Aku di dalam Firdaus" (Luk 23:43).

Namun dalam liturgi wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga kita rayakan sendiri-sendiri secara terpisah. Pemisahan ketiga peristiwa itu dilakukan berdasarkan Kitab Suci. Sebab dalam Kitab Suci dikatakan Yesus wafat pada hari Jumat, yaitu hari sebelum hari Sabat (Yoh 19:31). Yesus
"akan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Mat 16:21; Mat 17:23; Mat 20:19). Yesus naik ke sorga, sesudah "selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang kerajaan Allah" (Kis 1:13).

Jika dikatakan Yesus bangkit pada hari ketiga, kata-kata itu hanya mau menekankan bahwa Yesus sungguh-sungguh wafat dan sungguh-sungguh bangkit dari mati. Dan jika dikatakan Yesus baru naik ke sorga sesudah berada di dunia selama 40 hari, kata-kata itu mau menyatakan bahwa sesudah bangkit Yesus terus menyertai pengikut-pengikut yang percaya kepada-Nya. Karena itu baiklah kita merenungkan kehadiran Yesus di tengah-tengah hidup kita di dunia ini, terutama dalam Sakramen Ekaristi melalui Komuni.

Sebelum naik ke sorga Yesus berkata kepada rasul-rasul-Nya:
"Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:20). Ada 7 (tujuh) cara Yesus hadir di dunia:

  1. Yesus hadir diuraikan dalam Kitab Suci: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia..... menerangkan Kitab Suci?" (Luk 24:32)
  2. Yesus hadir dalam sakramen-sakramen, karena sakramen merupakan tanda lahiriah karya penyelamatan Allah melalui Yesus. Setiap kali sakramen dirayakan, Kristus hadir untuk melaksanakan karya penyelamatan-Nya.
  3. Yesus hadir di dalam diri orang yang sudah dibaptis: "Karna kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus" (Gal 3:27). Dasar kehadiran itu adalah iman: "Oleh iman Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar dan berdasar di dalam kasih" (Ef 3:14.17).
  4. Yesus hadir dalam Sakramen Ekaristi dengan seluruh diri-Nya di dalam orang yang menerima-Nya. Kristus yang diterima dalam Komuni bukanlah Kristus seperti yang bekerja di Palestina, melainkan Kristus yang sudah bangkit dari alam maut dan jaya serta mulia. "Waktu Yesus sudah makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata kedua murid itu dan mereka mengenal Dia." (Luk 24:30).
  5. Yesus hadir di tengah-tengah umat yang berkumpul: "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka" (Mat 18:20).
  6. Yesus hadir di dalam hidup umat sehari-hari seperti dilakukan-Nya dengan menyertai kedua murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35). "Aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman." (Mat 28:20).
  7. Yesus hadir pada orang-orang yang terlantar. "Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan ....." (Mat 25:31-46).
Jika Yesus, Allah yang menjadi manusia, senantiasa hadir di tengah-tengah hidup kita, kita juga dapat hadir terus di hadapan Allah. Ada beberapa tingkat kehadiran manusia di hadapan Allah.

  1. Kita tidak hadir, meski berada di hadirat-Nya, karena pikiran, hati dan perhatian kita tidak ikut hadir;
  2. Kita setengah hadir: secara formal dan demi basa-basi kita menyapa-Nya, lalu tidak memperhatikan-Nya;
  3. Kita hadir dengan pikiran kita saja. Kita menyapa dan saling membicarakan masalah dengan-Nya, tetapi kita hanya terpusat pada hal yang kita bicarakan dan tidak pada Yesus yang kita ajak bicara.
  4. Kita hadir secara pribadi: kita menyapa-Nya, membicarakan masalah dengan-Nya, dan melibatkan seluruh diri dan hati kita.
  5. Kita hadir penuh di hadapan-Nya: kita menyapa-Nya, membicarakan masalah dengan-Nya, dan menyediakan diri untuk ikut terlibat di dalam kehendak dan kerja-Nya mendatangkan kerajaan Allah. Kehadiran di hadapan Allah tingkat ke-5 itulah kehadiran yang seharusnya kita usahakan dalam hidup kita.
Tingkat-tingkat kehadiran kita di hadirat Tuhan ini merupakan gejala kualitas sikap dan iman kita kepada-Nya.


Share
|