Waktu Liturgi

Waktu liturgi melambangkan misteri sejarah keselamatan Allah yang memuncak dalam Misteri Paskah Yesus Kristus. Tata waktu liturgi tampak jelas dalam pengaturan Tahun Liturgi, yang dibuka dengan Minggu Adven I, memuncak dalam perayaan Paskah dan diakhiri dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Sebagai pilar penyangga tahun liturgi adalah Natal dan Paskah. Kedua Hari Raya itu didahuli dan diakhiri masa khusus.

Liturgi kita juga mengenal hari-hari raya, hari pesta, hari peringatan baik wajib maupun fakultatif dan hari biasa. Semua hari itu dengan caranya masing-masing ingin menjelaskan dan menguraikan mister Yesus Kristus. Dalam siklus mingguan, hari Minggu menjadi puncak dan memulai pekan mingguan. Hari Minggu adalah hari Tuhan (Portugis: Dominggo, Latin: Dominus) sebab pada hari itu Tuhan bangkit.

Masa atau Tahun Liturgi Gereja. Sangat lama dalam sejarah liturgi Gereja, keseluruhan perayaan pesta liturgi dalam peredaran tahun tidak dilihat dan dipahami sebagai satu kesatuan. Dengan demikian, konsepsi dan istilah “Tahun Liturgi” lama tidak dikenal. Bahkan, buku Missale Romanum 1570 pun juga belum mengenalnya. Istilah Tahun Liturgi pertama kali digunakan dalam dokumen resmi Gereja Katolik baru pada tahun 1948 dalam Mediator Dei. Dengan Konstitusi Liturgi dari Vatikan II, pengertian Tahun Liturgi disusun dan dikembangkan. Sejak itu Tahun Liturgi dimengerti sebagai Perayaan Gereja yang mengenangkan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus dalam rangka perjalanan peredaran lingkaran tahun. Proses terbentuknya perayaan liturgi Kristiani dalam peredaran waktu berakar dalam tahun pesta Yahudi. Ada dua akar pokok yang berasal dari tradisi Yahudi bagi pembentukan masa liturgi Kristiani.

  • Lingkaran perayaan liturgi mingguan: yakni siklus tujuh hari menurut pola hari Sabat Yahudi.
  • Lingkaran perayaan liturgi tahunan: yakni hari-hari raya dan pesta Kristiani menurut pola hari-hari raya Yahudi.

Orang-orang Kristen yang bukan Yahudi tentu saja tidak terlalu merasa terikat dengan siklus hari raya Yahudi. Namun, siklus mingguan tetap berlaku, di mana kini hari pertama minggu itu, yakni hari Minggu sebagai hari Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, dipandang sebagai hari yang lebih penting daripada Sabat Yahudi. Sedangkan, lingkaran hari-hari raya Yahudi dikristenkan seperti hari raya Paskah, hari raya Pentakosta, dll. Perayaan liturgi mingguan dan tahunan ini merupakan masa liturgi tertua. Baru pada abad ke-4 misalnya, muncul hari raya Natal, tgl. 25 Desember, yang sebelumnya merupakan pesta kafir yakni pesta dewa matahari yang tak terkalahkan. Dalam perkembangan sejarah liturgi, muncul aneka macam hari raya dan pesta peringatan untuk Tuhan maupun orang-orang kudus.

Teologi Tahun Liturgi

a.) Misteri Paskah sebagai Pusat dan Jantung Tahun Liturgi. Bertolak dari pengertian dasar, bahwa misteri Paskah menjadi pusat seluruh liturgi Gereja (bdk. SC 5-6) kita dapat pula menyatakan bah misteri paskah adalah pusat dan jantung hati Tahun Liturgi. Sebagaiman suatu rangkaian acara rapat, pertemuan ataupun perayaan pesta apa pun selalu mempunyai inti acara, demikian pula rangkaian perayaan liturgi sepanjang tahun inti acara juga. Inti acara tahun liturgi ilah perayaan misteri wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Misteri Paskah menjadi inti acara atau pusat dan jantung hati tahun liturgi, karena perayaan liturgi, dirayakan sepanjang tahun selalu merupakan perayaan kenangan penuh syukur atas karya keselamatan Allah yang terlaksana dalam wafat dan kebangkitan Kristus. Kita tahu bahwa Misteri Paskah ini pula yang menjadi pangkal tolak seluruh iman Kristiani. Dengan istilah jantung hati, kami memang dengan sengaja mau menunjuk aspek pentingnya Misteri Paskah sebagai pusat seluruh Tahun Liturgi.

Itu berarti, puncak pesta perayaan liturgi Gereja adalah Tri Hari Suci, ketiak Kristus menyerahkan diriNya, menderita, wafat, dimakamkan, dan bangkit dari kematian, yakni Kamis Putih hinggu Minggu Paskah. Lalu Malam Paskah tentu saja menjadi puncak dari segala puncak pesta. Maka, liturgi malam Paskah merupakan liturgi Gereja yang hingga kini paling meriah, menurut tata urutan, banyaknya bacaan, melimpahnya simbol, dan lamanya liturgi. Demikianlah dari pengalaman kita sendiri menjadi jelas, bagaimana perayaan liturgi Tri Hari Suci selalu terasa khusus dan meriah.

b.) Tahun Liturgi Menghadirkan Seluruh Misteri Kristus. Apabila Misteri Paskah Kristus menjadi pusat dan jantung hati seluruh perayaan liturgi sepanjang tahun, maka itu bukan berarti, bahwa misteri Kristus yang lainnya tidak menjadi penting lagi. Tahun Liturgi bagaimanapun juga selalu menghadirkan seluruh misteri Kristus. Dalam teologi, misteri Kristus dipahami sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tahap perutusan Sang Sabda menjadi manusia (inkarnasi) dan kelahiran, hidup tersembunyi di Nazaret dan hidup publik-Nya, penderitaan dan wafat-Nya, kebangkitan dan peninggian-Nya memang secara historis merupakan kejadian yang tidak bersamaan, namun selalu terentang dalam fase-fase historis. Akan tetapi, sebagai suatu karya keselamatan Allah, seluruh misteri peristiwa Kristus itu hanyalah satu realitas, satu realitas tindakan penyelamatan Allah melalui Kristus dalam Roh Kudus.

Demikian pula setiap kali kita merayakan liturgi, entah kapan dan dengan ujub dan tema apa pun, kita sebenarnya merayakan dan menghadirkan seluruh misteri Kristus itu. Dengan amat indah dan urut, Tahun Liturgi Gereja menghadirkan aspek-aspek misteri Kristus itu, seolah-olah satu persatu, agar umat beriman terbuka kepada kekayaan, keutamaan, dan pahala Tuhannya dan dengan demikuan misteri-misteri Kristus itu dapat hadir dengan cara tertentu (SC 102)

Struktur dan Susunan Pokok Tahun Liturgi

a.) Struktur Dasar Tahun Liturgi. Tahun liturgi dibuka dengan hari Minggu Adven I. Pada mulanya waktu awal Tahun Liturgi tidaklah selalu sama. Hal ini berkaitan juga dengan soal: kapan awal tahun masing-masing bangsa terjadi. Baru mulai abad ke-10-11 ketika buku-buku liturgi selalu membuka lingkaran perayaan tahunnya pada hari Minggu Adven I, maka pelan-pelan hari Minggu Adven I semakin dipandang sebagai awal masa Liturgi Gereja. Apabila masa adven menjadi persiapan Gereja menantikan kedatangan Sang Penyelamat Yesus Kristus ke dunia yang puncaknya dirayakan dalam Hari Raya Natal, maka Tahun Liturgi diakhiri dengan hari Minggu Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Suasana Hari Raya Kristus Raja ialah suasana penyelesaian keselamatan Allah dalam Kristus yang masih menjadi harapan kita. Kita menantikan langit dan dunia yang baru, di mana Kristus Sang Raja datang kembali sebagai Hakim untuk menyelesaikan segala sesuatunya dan menaklukkan segala sesuatu, sehingga “Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28). Inilah tujuan seluruh sejarah manusia dan seluruh Gereja. Dalam rentang waktu antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua kalinya nanti itu hiduplah Gereja. Gereja hidup, bergerak, dan berziarah menuju kepada janji kepenuhan hari penyelamatan Allah yang di satu pihak sudah terlaksana dalam Kristus dan di lain pihak bergerak kepada penyelesaian akhirinya. Dalam rentang waktu itulah Gereja berliturgi untuk pemuliaan Allah dan dengan demikian juga pengudusan manusia.

Sebagai pilar dan tiang penyangga Tahun Liturgi itu adalah lingkaran Paskah dan Lingkaran Natal. Lingkaran Paskah dipersiapkan dengan Masa Prapaskah dan diikuti Masa Paskah yang diakhiri dengan hari raya Pentakosta. Lingkaran Natal dipersiapkan dengan Masa Adven dan dilanjutkan dengan Masa Natal hingga Pesta Pembaptisan Tuhan.

Di antara dua pilar penyangga utama “bangunan Tahun Liturgi” dipenuhi dengan oleh Masa Biasa, selama 33-34 pekan, yang senantiasa berpuncak dalam setiap hari Minggu (Biasa) yang merupakan peryaan klasik dan awali Gereja atas Misteri Paskah dan berbagai hari raya dan pesta dan peringatan oran-orang kudus.

b.) Hari Minggu sebagai Perayaan Awali Gereja akan Misteri Paskah. Lama dalam sejarah liturgi, makna dan kedudukan hari Minggu dalam perayaan liturgi tidak diperhatikan. Dulu orang selalu disibukkan dengan aneka pesta khusus entah untuk Tuhan, Bunda Maria, ataupun para kudus lainnya. Suatu kecenderungan yang masih sering kita rasakan hingga kini ialah hobi begitu banyak panitia dan komisi gerejawi yang membuat tema-tama khusus pada hari Minggu. Akibat yang kurang baik ialah bahwa rangkaian bacaan migguan dikorbankan dan makna hari Minggu sebagai perayaan awali Gereja akan Misteri Paskah kurang diperhatikan. Sebab dari tradisi hari Minggu menjadi hari pertemuan jemaat Kristiani untuk memuji dan bersyukur atas karya keselamatan Allah, sebagaimana dinampakkan dalam wafat dan kebangkitan Kristus. Acara utama pertemuan jemaat Kristiani pada hari Minggu itu adalah Perayaan Ekaristi dan mendengarkan Sabda Tuhan.

“Berdasarkan Tradisi para Rasul yang berasal mula pada hari kebangkitan Kristus sendiri, Gereja merayakan misteri Paskah sekali seminggu, pada hari yang tepat sekali disebut Hari Tuhan atau Minggu. Pada hari itu umat beriman wajib berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah dan ikut serta dalam Perayaan Ekaristi, dan dengan demikian mengenangkan sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah, yang melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan yang berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati (1Ptr 1:3). Demikianlah hari Minggu itu pangkal segala hari pesta. Hari itu hendaknya dianjurkan dan ditandaskan bagi kesalehan kaum beriman, sehingga juga menjadi hari kegembiraan dan bebas dari kerja. Kecuali bila memang sungguh sangat penting, perayaan-perayaan lain jangan diutamakan terhadap hari Minggu, sebab perayaan Minggu memang merupakan dasar dan inti segenap tahun Liturgi” (SC 106).

c.) Penghormatan Kepada Orang-Orang Kudus. Perayaan liturgi untuk menghormati orang kudus tidak pernah merupakan perayaan liturgi demi kejayaan dan kehebatan dan kekudusan orang-orang suci itu. Gereja selalu merayakan liturgi penghormatan orang kudus dalam rangka mengungkapkan imannya kepada Yesus Kristus. Meski pernah ada praktek yang berlebih-lebihan dalam menghormati orang suci, Gereja sendiri secara resmi tidak pernah melupakan inti imannya, yang memandang Yesus Kristus sebagai satu-satunya pengantara Allah dan manusia (1Tim 2:5-6). Apa bila Gereja menghormati orang kudus, itu selalu berarti: Gereja merayakan rahmat kemenangan satu-satunya Penebus dan Pengantara kira: Yesus Kristus dan di situ Gereja bersyukur atas buah penebusan Kristus yang kini telah dinikmati oleh para kudus.

Masuknya peringatan orang-orang kudus dalam liturgi Gereja memuat tiga makna.

Pertama: dalam diri orang kudus Gereja mengagumi dan memuliakan buah penebusan yang unggul dan dengan gembira merenungkan apa sepenuhnya dirindukan dan dicita-citakan sekarang (bdk. SC 103). Di situ Gereja mewartakan Misteri Paskah yang telah dihidupi oleh para kudus itu.

Kedua: Gereja menggabungkan diri dengan para kudus dalam memuji dan memuliakan Allah serta memohon mereka menjadi pendoa kita di surga.

Ketiga: Kepada orang beriman Gereja menyajikan hidup orang kudus sebagai teladan hidup beriman.

Bacaan Misa Dalam Perayaan Ekaristi. Pada semua hari Minggu dan hari raya selalu ada tiga bacaan misa: bacaan pertama Perjanjian Lama, yang kedua dari Surat Perjanjian Baru, dan yang ketiga Injil. Agar umat beriman dapat mendengarkan bacaan Kitab Suci selengkapa dan seluas mungkin (hampir seluruh bagian Kitab Suci), maka untuk hari Minggu dan hari raya ini bacaan misa dibagikan menurut Tahun A, B dan C. Cara mengenali cukup mudah, yakni tahun yang habis dibagi tiga pasti tahun C; lalu tahun yang lain dihitung dari sana.

Ada dua prinsip pemilihan bacaan yakni,
- Prinsip kesesuaian tema. Prinsip kesesuain tema berarti prinsip pemilihan bacaan menurut isi tema yang sesuai satu sama lain. Prinsip ini diterapkan untuk lingakaran masa Natal dan Paskah, termasuk Minggu Adven dan Prapaskah. Untuk hari Minggu, bacaan I dan Injil juga manganut prinsip kesesuain tema.
- Prinsip lintasan atau urutan. Prinsip urutan berarti prinsip pemilihan bacaan menurut urutan bagian kitab yang sedang dibacakan. Prinpsip urutan tema diterapkan untuk bacaan II pada hari Minggu Biasa. Artinya, bagian Kitab Suci yang dibacakan sebagai bacaan II pada hari Minggu Biasa diambil dari bagian prikop berikut dari bagian Kitab Suci yang dibacakan sebagai bacaan II pada hari Minggu Biasa sebelumnya. Itulah sebabnya bacaan II tidak selalu sesuai dengan Injil dan bacaan I.

Tahun A bacaan Injil diambilkan dari Matius, Tahun B dari Markus, dan Tahun C dari Lukas. Injil Yohanes digunakan untuk minggu-minggu terakhir Masa Prapaskah dan Masa Paskah. Sedangkan Kisah Para Rasul selalu dipakai untuk bacaan I dalam masa Paskah. Pada umumnya ketiga bacaan misa pada hari Minggu dan hari raya selalu dibacakan. Konferensi Wali Gereja Indonisa memberi kemungkinan dua bacaan saja pada hari Minggu, apabila secara pastoral itu dirasakan manfaatnya.

Bacaan pada hari biasa pada umumnya selalu dua buah. Untuk bacaan I ada dua rangkaian Tahun, yaitu Tahun I dan Tahun II. Tahun I dipakai untuk tahun-tahun ganjil dan Tahun II tahun-tahun genap. Bacaan II selalu merupakan bacaan Unjil yang selalu diulang untuk setiap tahun. Bacaan Unjil untuk hari-hari biasa dibagi sbb.: pekan 1-9 Markus, pekan 10-21 Matius, pekan 22-34 Lukas.

Bacaan untuk pesta atau peringatan santo-santa selalu dipilihkan secara tematis, sesuai dengan hidup dan kekhasan santo atau santa yang diperingati.

Manusia Sebagai Simbol Liturgis --- E. Martasudjita, Pr

Baca selengkapnya....

Memahami Masa Adven dan Natal

MEMAHAMI MASA ADVEN DAN NATAL

ImageArtikel ini menguraikan soal : Arti ‘Natal’, Masa Natal dan warna liturginya, Kapan Yesus lahir?, Mengapa dirayakan tanggal 25 Desember?, Bagaimana dengan 1 Masehi?, Tempat Yesus lahir, Gua Natal, Pohon Natal: kisah Bonifacius, Pohon Natal: hadiah natal, Orang Majus, dan tentang Sinterklas.

A. MEMAHAMI MASA ADVEN

1. Beberapa pengertian

· Kata ‘adven’ berasal dari kata Latin ‘adventus yang berarti kedatangan. Maka ‘masa adven’ berarti masa untuk menunggu kedatangan Tuhan Yesus.

· Masa adven berlangsung selama 4 minggu, yakni dari Minggu Adven I sampai dengan Minggu Adven IV.

· ‘Adventis’ adalah julukan untuk umat yg menantikan kedatangan (adventus; Lat) kembali Kristus dalam waktu dekat (A. Heuken SJ, 2004. Ensiklopedi Gereja, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, hal. 25).

o Suatu gerakan adventis yang terorganisasi dimulai oleh W. Miller (+1849), seorang pengkotbah di Amerika Serikat. Atas dasar Kitab Daniel (8, 14) Miller meramalkan kedatangan Kristus kembali pada tahun 1843 atau 1844. Ketika ramalannya meleset total, Miller menyerah. Tetapi orang lain percaya, bahwa pada tahun tersebut Kristus masuk surga kedua (menurut Ibr 8, 1) dan kedatangannya ke bumi ini dihambat, antara lain, karena orang Kristen menggantikan hari Sabat (=hari ke 7) dengan hari Minggu (=hari ke 1). Atas dasar ini, Ellen G. White bersama suaminya mengorganisasikan ‘Gereja Adven Hari Ketujuh’ (1860), yang paling berkembang dari Gereja-gereja Adven. Kedatangan Kristus kedua akan terjadi, apabila Gereja Adven tersebar ke seluruh bumi dan mencapai jumlah anggota tertentu. Karena umat manusia sekarang tidak hidup sesuai dengan amanat Kristus, karena senjata nuklir dan karena alasan lain, maka kedatangan Kristus dianggap tidak jauh lagi.

o Gereja Adven mengakui: inspirasi Alkitab, Allah Tritunggal, keilahian Kristus dan perlunya pembaptisan dengan menenggelamkan orang dewasa ke dlm air. Mereka menghormati hari Sabat sebagai hari raya; menolak perceraian dan mengimani penciptaan kembali sesudah kematian. Mereka tidak makan babi, tidak merokok, tidak minum minuman keras atau teh; mengutuk judi, kosmetik dan penggunaan hiasan. Semangat berkorban para anggota memungkinkan proyek-proyek kesehatan, pendidikan, literatur dan misi yg luas dan bermutu tinggi.

o Di Indonesia umat Adven mulai di Padang (1900), mendirikan rumah sakit dan percetakan di Bandung; pusatnya di Jakarta; pusat seluruh dunia di Washington (AS).

2. Perkembangan tradisi adven

· Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat.

· Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari.

· Pada tahun 380-381, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani.

· Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.

· Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. The Gelasian Sacramentary, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu.

· Praktek adven semakin melembaga sejak abad ke 7, yakni pada aat Paus Gregorius Agung berkuasa (590-604). Adven ditetapkan berlangsung selama 4 minggu dan diisi dengan puasa.

· Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja.

3. Tradisi adven

· Pada awalnya tradisi adven sebenarnya tidak berasal dari Gereja Katolik Roma, tetapi merupakan tradisi Gereja Timur untuk mempersiapkan Epifani, yang jatuh pada tanggal 6 Januari. Pada peristiwa tersebut kanak-kanak Yesus dikunjungi oleh orang majus dari timur. Bagi Gereja Timur itulah Natal. Maka mereka merayakannya secara meriah.

· Tradisi Katolik menghayati masa adven dengan melakukan ibadat bersama dan puasa. Selain itu juga mulai diciptakan symbol-simbol yang disebut dengan Korona Adven (lingkaran Adven). Kebiasaan membuat Korona Adven berasal dari Eropa Utara, khususnya dari Skandinavia.

· Korona Adven berbentuk sebuah lingkaran yang diuntai dengan daun-daun pinus atau cemara dan diatasnya dipasang empat lilin (tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah); selain itu juga masih diberi asesoris lain seperti pita berwarna ungu dan merah.

· Apa makna dari Korona Adven tersebut? Korona Adven adalah symbol yang mau menunjukkan pesan-pesan tertentu, yakni:

a. Korona Adven berbentuk suatu lingkaran. Lingkaran adalah suatu bentuk tanpa awal dan akhir.

o Lingkaran ini melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

o Kita juga diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga.

b. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

o Warna hijau merupakan symbol pengharapan.

o Selain itu juga dipilih daun pinus atau cemara yang tahan pada bermacam-macam musim. Daun cemara tidak rontok dan tetap hijau pada musim gugur dan musim dingin. Ungkapan pengharapan yang tidak kunjung putus.

o Warna hijau juga melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.

c. Tiga batang lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda.

o Warna ungu melambangkan tobat, keprihatinan, matiraga atau berkabung, persiapan dan kurban; warna ini juga dipakai pada masa Prapaskah, tidak hanya untuk warna lilin, tetapi juga pakaian liturgy lain.

o Warna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Selain itu warna merah juga merupakan tanda cinta kasih.

d. Lilin juga sebagai simbol terang.

o Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran.

o Gerak maju penyalaan lilin (setiap minggu satu lilin) menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus.

o Persiapan, kerinduan dan harapan kita tidak terjadi serta merta, tetapi tahap demi tahap. Kerinduan kita yang semakin besar akan Yesus yang datang sebagai Terang Dunia, dilambangkan dengan menyalakan lilin satu demi satu.

o Penyalaan lilin secara bertahap ini rupanya juga dipengaruhi oleh tradisi Yahudi, khususnya pentahbisan Bait Allah (Hanukkah). Pesta Hanukkah dirayakan selama delapan hari. Delapan lilin dinyalakan satu per satu setiap hari hingga genap delapan lilin pada hari ke delapan.

o Jumlah lilin ada 4 batang mengungkapkan lama masa adven berlangsung, yakni 4 minggu .

o Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.

e. Selain Korona Adven, Gereja Katolik juga tidak mengumandangkan madah kemuliaan atau Gloria; madah yang berkaitan dengan nyanyian para malaikat saat kelahiran Yesus, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2, 14). Madah ini akan dikidungkan pada saat Natal. Maka juga tidak tepat kalau umat Katolik merayakan Natal pada masa adven.

B. MEMAHAMI MASA NATAL

1. Arti ‘Natal’: Natal berasal dari kata Latin ‘natus’, yang berarti lahir atau kelahiran; yakni kelahiran Yesus Kristus. Orang Inggris menyebut Christmas; orang Belanda menyebut Kerstmis; orang Perancis menyebut Noel.

2. Masa Natal dan warna liturgy:

· Masa Natal berlangsung mulai dari tanggal 25 Desember sampai dengan Hari Minggu Pesta Pembaptisan Tuhan Yesus. Hari ini mulai dengan Minggu Biasa I.

· Warna liturgy Natal adalah putih atau kuning atau krem. Warna ini mengungkapkan kegembiraan. Maka kelahiran Yesus merupakan peristiwa yang membawa kegembiraan bagi banyak orang.

3. Kapan Yesus lahir?

· Kelahiran Yesus tidak diketahui dengan pasti tanggal, hari dan bulan serta tahunnya. Diperkirakan Yesus lahir sekitar tahun 6 SM, pada jaman Kaisar Agustus berkuasa (63 SM-14 M); atau pada jaman Herodes Agung berkuasa (73-4 SM) di Bethlehem dan tanah Yehuda.

· Perkiraan ini diambil berdasarkan kematian Herodes Agung pada tahun 4SM atau 750 tahun sejak kota Roma didirikan. Kalau Herodes meninggal tahun 4 SM dan pada waktu itu Yesus kurang lebih berumur 2 tahun, maka diperkirakan Yesus lahir tahun 6 SM.

4. Mengapa dirayakan tanggal 25 Desember?

· Pada abad pertama, orang Kristiani belum merayakan kelahiran Yesus. Yang dirayakan adalah Paskah dan wafat para martir. Wafat para martir merupakan hari kelahiran di surga.

· Orang Kristiani merayakan Natal sejak abad keempat (tahun 336 M) pada tanggal 25 Desember.

· Penetapan tanggal 25 Desember dipengaruhi oleh agama Mitra yang dianut orang-orang Romawi; mereka menyembah Dewa Mitra sebagai ‘Tuhan’, ‘Pencipta’ alam semesta. Oleh orang Iran kuno Dewa Mitra dianggap sebagai Dewa Terang, yang dihubungkan dengan Dewa Matahari. Mereka merayakan kelahiran Dewa Mitra tanggal 25 Desember. Pada tahun 274 M, Kaisar Aurelianus menetapkan bahwa perayaan kelahiran Dewa Matahari yang tak terkalahkan ini sebagai pesta kekaisaran Romawi.

· Agama Mitra dibawa oleh tentara Romawi, setelah Jendral Pompeius dari kekaisaran Romawi memperluas serangan sampai ke Siria dan Asia kecil pada abad I SM. Agama Mitra berasal dari sini dan dibangun oleh orang Aria Kuno yang tinggal di Iran dan bagian utara India.

· Ketika orang-orang Romawi menjadi Kristen, sejak tahun 336 M, mereka sepakat merayakan natal pada tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Yesuslah Sang Matahari Sejati, Sang Terang Sejati (bdk Maleakhi 4, 2: surya kebenaran; Yoh 1, 5: Terang itu bercahaya; Yoh 8, 12; 9, 5)

· Selain itu pada tanggal 25 Desember bertepatan dengan peralihan musim gugur ke dingin. Di belahan bumi utara (Eropa) pada musim ini siang hari lebih panjang dibanding 6 bulan sebelumnya yg lebih pendek. Mereka mengalami kemenangan matahari atas kegelapan.

5. Bagaimana dengan 1 Masehi?

· Pandangan bahwa Yesus lahir pada tahun 1 Masehi berdasarkan perhitungan Diakon Dionisius tahun 525 Masehi. Dionisus menetapkan tahun 753 sejak kota Roma didirikan sebagai tahun 1 Masehi, tahun kelahiran Yesus. Namun dalam perjalanan waktu perhitungan Dionisius ini tidak tepat.

· Pada jaman itu, tahun dalam kekaisaran Romawi dihitung dari tahun berdirinya kota Roma. Tahun Romawi disebut AUC, singkatan dari Ab Urbe Condita, yang berarti ‘sejak berdirinya kota’. Kemudian pada abad ke-6, atas perintah Kaisar Justinian, seorang rahib bernama Dionisius Exigius membuat kalender baru. Ia mengganti perhitungan tahun Romawi dengan tahun Masehi, yang dimulai dari kelahiran Yesus. Tetapi di kemudian hari barulah diketahui bahwa ia membuat kekeliruan hitung. Ia menempatkan kelahiran Yesus pada tahun 753 AUC, padahal seharusnya pada tahun 749 atau 747 AUC. Kekeliruan ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dan sampai sekarang kita pun sudah terlanjur menggunakan tahun hasil perhitungan Dionisius itu, yang sebetulnya empat atau lima tahun terlambat dari kenyataan kelahiran Yesus.

6. Tempat Yesus lahir:

· Yesus lahir di Bethlehem di daerah Yudea (Luk 2, 4: Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea yang bernama Bethlehem)

· Baik Bethlehem maupun Yerusalem sering disebut kota Daud; Bethlehem merupakan kota kelahiran raja Daud (bdk. 1Sam 16, 1) dan Yerusalem merupakan kota pemerintahan Raja Daud dan didirikan oleh Raja Daud.

· Yesus lahir di kandang hewan dan dibaringkan di palungan (Luk 2, 6; 16)

7. Gua Natal

· Tradisi membuat kandang dan gua natal berasal dari St. Fransiskus Asisi, yang punya perhatian mendalam terhadap kelahiran Yesus. Saat tinggal di Greccio, ia menyuruh membuat suasana kandang Bethlehem dengan palungan, keledai, sapi, lengkap dengan jeraminya. Mereka adalah binatang sungguhan. Banyak orang mengikuti Misa Malam Natal dengan nyanyian yg mengharukan. St. Fransiskus bertindak sebagai diakon. Sejak itu di semua gereja setiap tahun dipertontonkan drama yang sederhana namun mengharukan. Ini terjadi pada tahun 1223 M di Greccio, Italia. Peristiwa ini terjadi 3 tahun sebelum Santo Fransiskus Asisi meninggal.

· Kebiasaan ini akhirnya berkembang ke seluruh Italia dan sampai penjuru dunia. Banyak orang Katolik membuat kandang dan gua natal di rumah atau gereja setiap perayaan kelahiran Yesus Kristus.

· Gua Natal dilengkapi dengan patung kanak-kanak Yesus, Maria, Yusuf, malaikat dan binatang. Kemudian ditambah dengan patung para gembala, binatang ternak, orang-orang majus dengan persembahan mereka.

· Gambaran ini menunjukkan adanya keselarasan antara alam, dunia hewan, manusia dan Tuhan. Kelahiran Yesus ke dunia hendak memulihkan hubungan keselarasan yang telah rusak sejak dosa Adam.

8. Pohon Natal: kisah Bonifacius

· Kebiasaan untuk membuat pohon natal berkaitan dengan kisah Santo Bonifasius di Jerman sekitar abad 8. Suatu saat Bonifacius sedang dalam perjalanan pulang dari pelayanan melalui pinggir hutan. Di sana ia melihat ada seorang anak kecil yang diikat di sebuah pohon, dikelilingi oleh Suku Druid dengan wajah yang menyeramkan karena coretan arang dan kapur. Mereka membawa kapak untuk membunuh anak tersebut sebagai korban bagi Dewa Thor, yang diam di pohon Ek itu.

· Bonifacius berusaha membebaskan anak itu dengan mengatakan bahwa Dewa Thor tidak ada di pohon itu. Namun penjelasan ini dibantah oleh orang-orang tersebut, sehingga Bonifacius mengajak untuk membuktikannya. Ia akan menebang pohon itu: jika tidak terjadi apa-apa, maka Dewa Thor tidak ada; namun jika Bonifacius mati, berarti Dewa Thor ada. Mereka setuju.

· Bonifacius menebang pohon itu dan tidak terjadi apa-apa. Suku Druid heran dan percaya bahwa orang ini lebih kuat dari Dewa Thor. Bonifacius akhirnya mewartakan kabar gembira kepada mereka.

· Selang beberapa waktu Bonifacius melihat sebatang pohon cemara tumbuh dekat pohon ek yang telah ditebang tersebut. Daunnya membentuk kerucut menjulang ke atas seolah menyapa Yang Mahatinggi.

9. Pohon Natal: hadiah natal

· Kisah seputar pohon natal juga terjadi di Jerman sekitar abad ke 16 dan 17 di pinggir Sungai Rein. Dahulu setiap tanggal 24 Desember umat biasa merayakan pesta Adam dan Hawa dengan menghiasi rumah mereka. Ada sebuah pohon yang dihiasi buah apel sebagai peringatan tentang ‘pohon di tengah Taman Firdaus’.

· Pada sore harinya disiapkan piramida natal, yaitu tangga-tangga kecil yang digantungi lampu-lampu dan aneka hadiah untuk anak-anak. Inilah awal dari kebiasaan saling memberi hadial natal.

10. Orang Majus

· Kata ‘majus’ berkaitan dengan ‘magos’ (Yunani) berarti ahli nujum (astrolog). Maka orang majus adalah orang yang pandai atau ahli perbintangan. Mereka bisa meramalkan peristiwa yang akan terjadi di bumi dengan mempelajari gerak bintang di langit. Diyakini bahwa kejadian di dunia merupakan pantulan apa yang terjadi di langit.

· Disebutkan bahwa mereka berasal ‘dari timur’. Yang dimaksud mungkin sebelah timur Israel, yakni daerah Persia atau Babel. Babel merupakan kerajaan kuno di daerah sungai Efrat dan Tigris yang sering mengancam Israel. Babel merebut Yerusalem tahun 586 SM dan mengangkut sebagian penduduknya ke sana. Daerah itu sekarang menjadi wilayah Irak.

· Mereka mengetahui dan menemukan kanak-kanak Yesus (‘raja orang Yahudi’) dengan petunjuk bintang. Bintang fajar pagi menjadi lambang pengharapan (bdk. Wahyu 2, 28). Mereka disebut sebagai ‘raja’, selaras dengan apa yang dikatakan dalam Yesaya 52, 15: Demikianlah mereka akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia.

· Menurut tradisi Gereja Barat, mereka adalah:

o Caspar: berasal dari India; berwajah bersih kemerah-merahan. Ia mempersembahkan kemenyan kepada Yesus. Kemenyan dalam Perjanjian Lama dipergunakan dalam konteks ibadat. Kemenyan yang dibakar melambangkan doa para kudus. Persembahan kemenyan melambangkan Allah. Yesus setara dengan Allah. Dia adalah Allah yang tampak dalam rupa manusia.

o Balthasar berasal dari Arab dan berkulit hitam serta berjanggut lebat. Ia mempersembahkan mur kepada Yesus sebagai Anak manusia. Mur adalah dammar yang berbau harum dan berasal dari pohon balsam. Mur dicampur dengan anggur menjadi mnuman yang memabukkan; sedangkan kalau dicampur dengan minyak zaitun akan menjadi parfum yg harum. Mur dipakai untuk persembahan (Mat 2, 11), untuk obat (Mrk 15, 23) dan untuk persiapan jenasah yg akan dikubur (Yoh 19, 39). Mur melambangkan manusia. Mala persembahan ini merupakan pengakuan bahwa Yesus adalah manusia seperti kita, kecuali dalam hal dosa.

o Melchior berasal dari Persia dan berambut putih. Ia mempersembahkan emas kepada Yesus. Emas merupakan barang mahal dan berharga; merupakan logam mulia yang mahnal disbanding dengan perak dan perunggu, timah dan besi. Zaman itu yang biasa mempunyai emas adalah raja. Maka persembahan ini merupakan pengakuan bahwa Yesus adalah raja.

o Artaban? (orang sakit di tengah jalan, bayi yang mau dibunuh, gadis yg mau dijual)

· Berapa jumlah orang majus? Menurut tradisi sekitar abad 7, jumlah orang majus 3 orang. Sekalipun Injil tidak menyebutkan jumlah dan namanya; tetapi ini disimpulkan dari persembahan mereka kepada Yesus.

11. Sinterklas

· Tradisi sinterklas berkaitan dengan kisah Santo Nikolas. Nikolas lahir di Parara, Asia Kecil (sekarang Turki) sekitar tahun 300 M; dari sebuah keluarga kaya raya. Kemudian ia menjadi imam dan ditahbiskan menjadi uskup. Nikolas sebagai pelindung banyak paroki, kota, provinsi dan keuskupan; bahkan sebagai pelindung nasional Rusia. Ia pernah menghadiri Konsili Nicea (325 M); menjadi perantara mukjizat pembebasan 3 opsir yang ditahan secara tidak adil; membebaskan 3 pemuda yang tidak bersalah dari hukuman mati; suka menolong orang miskin, anak-anak dan kaum tertindas.

· Santo Nikolas meninggal di Myra sekitar tahun 350 M. Pestanya diperingati setiap tanggal 6 Desember.

· Kebaikan hati Nikolas yang suka menolong juga nampak dalam peristiwa sebuah keluarga yang tidak mampu menikahkan 3 anak gadisnya, karena sangat miskin. Nikolas menolong keluarga ini dengan melemparkan tidak kantong berisi uang emas secara diam-diam, sehingga 3 gadis terhindar dari dosa pelacuran dan bisa menikah.

· Juga saat Asia Kecil dilanda paceklik dan kekurangan makan. Uskup Nikolas mencari bantuan ke tempat lain dan mendapatkan banyak gandum dan buah-buahan. Ia mengangkutnya dengan kapal. Namun tanpa diketahuinya, beberapa setan hitam bersembunyi dalam kantong-kantong gandum itu. Sebelum membuka kantong, Uskup Nikolas membuat tanda salib atas kantong-kantong itu dan setan-setan itu berbalik menjadi pembantunya.

· Sejarah hidup Santo Nikolas sering dihubungkan dengan tokoh rekaan Santa Klaus atau Sinterklas. Sinterklas berkaitan dengan sebutan Sinter Klass, yang diucapkan orang-orang Belanda yang beremigrasi ke Amerika sekitar abad 18; ini sebutan untuk menghormati Santo Nikolas. Sedangkan orang Amerika menyebutnya St. A. Claus, yang kemudian menjadi Santa Claus.

· Tahun 1823 berkembang cerita mengenai kunjungan Sinterklas pada malam menjelang Natal. Sinterklas naik kereta salju yang ditarik 8 rusa kutub yang bisa terbang.Ia masuk ke rumah-rumah dengan membawa hadiah untuk anak-anak. Masuk rumah tidak lewat pintu, tetapi lewat cerobong asap.

· Tahun 1863, Thomas Nast, seorang kartunis dari Amerika mengubah St. Nikolas yang asli dengan menjadi orang tua yang berjanggut putih dan berkopiah, dengan tubuh tambun, membawa keranjang hadiah, berpakaian beludru merah, seperti dikenal masyarakat saat ini. Sinterklas ditemani oleh Zwarte Piet (Petrus yang hitam) yang membawa lidi untuk menghukum anak-anak yang nakal.

Purwokerto, 9 Desember 2008

RD. Tarcisius Puryatno

Catatan:

· Bahan ini disusun dari berbagai sumber, seperti: ensiklopedi, buku maupun dari beberapa website.

· Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur adalah Gereja-Gereja partikular otonom dalam persekutuan penuh dengan Sri Paus di Roma. Berbeda dari Gereja Latin atau Barat yang menggunakan bahasa Latin, Gereja-Gereja ini beribadah menurut ritus-ritus liturgis Kristiani Timur yang menggunakan bahasa Yunani. Secara historis, Gereja-Gereja ini berlokasi di Eropa Timur, Asia Timur Tengah, Afrika Utara dan India, namun kini juga dapat dijumpai di berbagai belahan dunia. Banyak di antaranya memiliki struktur eklesiastikal, berdampingan dengan keuskupan-keuskupan Ritus Latin, di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia.

· Istilah-istilah seperti "Umat Katolik Byzantium" dan "Umat Katolik Yunani" digunakan untuk menyebut mereka yang termasuk anggota Gereja-Gereja yang menggunakan Ritus liturgis Byzantium. Istilah-istilah "Umat Katolik Oriental" dan "Umat Katolik Timur" tidak terbatas digunakan untuk menyebut mereka yang termasuk anggota Gereja-Gereja pengguna Ritus Byzantium saja, melainkan juga mencakup umat Katolik yang mengikuti Tradisi Liturgis Alexandria, Antiokhia, Armenia, dan Kaldea. Sebahagian besar Gereja Katolik Timur memiliki padanan dalam Gereja-Gereja Timur lainnya yakni Gereja Assyria, Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental.

· Skandinavia merujuk kepada dua negara, (Norwegia dan Swedia) yang terletak di Tanjung Skandinavia, ditambah Denmark. Tanjung Skandinavia mempunyai populasi yang rendah dan ditutupi dengah hutan pinus, birch dan, cemara. Di bagian barat dan utara terdapat pegunungan. Pegunungan Skandinavia adalah salah satu pegunungan tertua di dunia. Gunung yang tertinggi adalah Galdhøpiggen di Norwegia. Denmark adalah negara Skandinavia yang terkecil, populasinya lebih padat, dan kebanyakan dari lahannya digunakan untuk pertanian. Kopenhagen, ibukota dari Denmark, adalah kota terbesar di Skandinavia. Skandinavia adalah bagian dari Negara Nordik yang juga mencakup Islandia dan Finlandia. Kelima negara ini mengkordinasi aktivitas politik dan kebudayaan di Dewan Nordik. Denmark, Finlandia, and Swedia adalah anggota Uni Eropa. Bahasa-bahasa di Skandinavia sangat berkaitan dan kebanyakan orang Skandinavia bisa mengerti satu sama lain. Bahasa Skandinavia termasuk dalam bahasa Jermanik, sekeluarga dengan bahasa Jerman dan Inggris. Setiap negara mempunyai mata uangnya masing masing, walaupun bernama sama, krona atau krone. Satu krona dibagi lagi menjadi 100 øre atau öre. Nilai dari satu krona kira-kira sekitar 10-15 seneuro. Sepanjang sejarah, negara-negara Skandinavia telah melalui perang dan perbatasannya telah berubah lebih dari sekali, namun sekarang Skandinavia adalah negara yang cukup damai.


Sumber: http://www.katedral-purwokerto.net/

Bagikan

Baca selengkapnya....